
Seperti biasa, matahari pagi mulai menyinari istana megah itu. Hingga menerobos masuk saat jendela terbuka.
"Clard..." panggil seorang gadis yang sedang memegang lembut wajah Pangeran Clard.
Dalam beberapa menit karena sentuhannya membuat Pangeran Clard tersadar dari tidur lelapnya.
"Putri" ucapnya yang keluar dari mulutnya.
Saat dia benar-benar sadar sosok Putripun menghilang.
"Putri? Apa yang terjadi? Selama ini aku mulai memikirkannya" batin Pangeran Clard.
"Hey Clard!" panggil sesorang yang berada didalam kamarnya.
"Ezra? Roby? Ragil? sejak kapan kalian disini?" tanyanya bingung.
"Kami baru saja masuk" jawab Roby.
"Tadi kami mengetuk-ngetuk pintumu. Tapu tidak mendapatkan respon. Kami masuk aja" sambung Ragil.
"Oh iya, dimana yang lainnya?" tanya Pangeran Clard beranjak dari tempat tidurnya.
"Mereka berada di kamar Yura" jawab Roby.
"Oh... Kalau begitu aku siap-siap dulu ya" kata Pangeran Clard memegang pundak Ezra.
Sambil menunggu Pangeran Clard, mereka bertiga pun mulai mengutak atik seisi kamar Pangeran Clard (Mengutak atik yang positif, bukan negatif).
"Eh kalian ini seperti anak wanita saja, mengapa kalian membereskan kamarku?" seru Pangeran Clard yang baru saja keluar dari kamar mandi dan siap dengan pakaiannya.
"Heheee" tawa mereka.
"Never mind... Ayo kita turun!" ajak Pangeran Clard.
***
"Ciak-hiak... Sring-sring... Ciuuu... Glug-glug... Zzrriiikk... Sssaaak" suara campuran yang terdengar di lokasi latihan.
Selama 1 minggu mereka para manusia bumi itu dapat mensejajarkan latihannya dengan Yura begitu juga dengan Pangeran Clard.
"Akhirnya dalam 1 minggi kita bisa bersama" kata Diah yang dipeluk ke-7 temannya.
"Sriiingg... Sriiinnggg" suara benturan pedang mereka.
Yura berhadapan dengan Pangeran Clard, Novia bersama Ezra, Diah bersama Roby, dan Sesilia bersama Roby. Latihan pertarungan mereka sangatlah imbang.
Di saat mereka merubah posisi dengan masing-masing mengganti pasangan, saat itulah terluhat ada yang menang dan ada yang kalah.
"Hentikan! Ini sudah cukup! Sekarang anggap saja masing-masing dari kita bermusuhan" seru Pangeran Clard yang mendapatkan tatapan tajam dari yang lainnya.
Satu-persatu diantara mereka membuat pedang dari elemennya, kecuali Yura, dia hanya menggunakan 2 pedang yang dia gunakan saat latihan.
"Ciak-ciah... Hiak-hiak... Srinnggg... Sringgg..." terdengar suara pertarungan mereka.
Semua yang berada disana menghentikan latihannya untuk melihat adegan para kesatria ini. Hening, kecuali suara pedang mereka yang bertarung.
Satu jam kemudian, masing-masing dari mereka belum mendapatkan kemenangan.
"Hhmmm..." senyum Queen Ororo dan yang lainnya datang untuk melihat pertunjukan itu.
"Masing-masing dari mereka sangat kuat" seru Queen Claudia.
"Sepertinya kamu salah Queen, Yuralah yang terkuat disana. Lihat tak satupun yang bisa menyerangnya melainkan dia yang menyerang mereka" kata King Fitz.
Perubahan penyeranganpun dimulai. kini semua pedang tertuju pada Yura dan membuatnya menekukkan kaki kanannya menahan serangan dari teman-temannya. Semakin rendah, semakin rendah Yurapun siap dengan posisinya dan kembali berdiri dengan sekuat tenaga. Pemilik pedang yang mengarah padanya kini terlempar ke udara. Energi yang kuat dapat dirasakan para Raja dan Ratu masing-masing Ibu dan Ayah dari para kesatria.
Angin yang tenang berhembus sangat kencang membuar rambut mereka semua bertebaran.
"Putri?" panggil Pangeran Clard disambut dengan redahnya angin yang kencang tadi. "Kamu memang sangat hebat" sambungnya.
"Apa kalian ingin beristirahat?" tanya Queen Ororo yang disambut anggukan 8 kesatria itu.
Disaat Yura ingin melangkahkan kakinya maju, tiba-tiba ada seseorang yang berbicara di pikirannya.
Pandangan Yura mulai goyah, sekelilingnya mulai berputar. Lagi-lagi kejadian aneh seperti yang ada dimimpi buruknya terlintas dibenaknya.
"Put...ri..." panggil Pangeran Clard yang tidak melihat sosok Yura di belakangnya. "Dimana Putri?" batinnya.
***
"Aaakkhhh..." teriak Yura yang menahan sakit kepalanya.
Langkah yang mulai goyah menuju kamarnya.
"Jubahku?" gumamnya sambil mengarah kelemari pakaian.
Dengan sigap dia pun mengenakan jubah putih itu dan membaringkan tubuhnya.
"Yura..." panggil seseorang yang terlintas dibenaknya.
Wajah yang mulai pucat, keringat dingin, dan bibir yang bergetar seperti menggigil.
"Ibuuuuuuuuuuuu...." teriak Yura sekencang-kencangnya yang membuat kaget semua orang.
Karena kegelisahan tubuhnya menahan sakit, tempat tidur yang dia baringi sudah tak tertata rapi.
Sekelompok langkah orang mulai terdengar di telinga Yura.
"Ibuuuuuuuuuuuuuuuu..." teriakan terakhirnya dan tak sadarkan diri.
"Cklek... Yura?" panggil mereka semua yang melihat keadaan Yura.
"Kalian semua tetaplah diluar kamar. Jika kalian tetap menerobos masuk, maka kalian tidak dapat melihat hari esok" perintah Queen Ororo.
Queen Ororo dan Para Raja dan Ratu lainnya berlari kecil meninggalkan Pangeran Clard, Novia, Ezra, Diah, Roby, sesilia dan Ragil di luar kamar menuju Yura yang terbarik tidak tepat pada posisinya.
"Yura?" panggil Queen Ororo membuka penutup kepalanya itu. "Oh tidak! Odin si iblis itu menggunakan telepati. Dahi ini sudah meliatkan semuanya" sambung Queen yang melihat dahi Yura mengeluarkan aura hitam.
Queen Ororo pun memegang dahi Yura mengalihkan telepati ke dirinya.
"Apa yang kamu inginkan Odin Orac Putra King Zigaz Orac?" tanya Queen Ororo memejamkan mata yang menggunakan telepati.
"Yang Mulia, aku hanya ingin Putrimu. Sambutlah kedatanganku nanti" jawab Odin memutuskan telepatinya.
Kecemasan saat itu terlihat jelas diwajah Queen Ororo. Dia mengunakan kekeuatannya untuk menyadarkan Yura. Dengan sigap kekuatannya membuat Yura tersadar dengan posisinya.
"Ibu? Suara pemuda itu terus saja menghantuiku, entah siapa dia. Bahkan aku tidak bisa melihat jelas wajahnya" keluh Yura bangkit dari baringnya memeluk Queen Ororo.
"Itu telepati Putriku, kamu hanya bisa mendengarnya tapi tak bisa membalasnya. Karena identitasmu belum sempurna" kata Queen Ororo mengusap lembut rambut Yura dengan menenangkannya.
"Kamu tidak perlu takut, kami semua begitu juga dengan sahabatmu akan melindungimu" sambung King Jack.
"Kamu beristirahatlah" ucap Queen Ororo melepaskan pelukannya.
Mereka semuapun pergi meninggalkan Yura sendirian dikamar.
"Yang Mulia?" seru mereka serempak.
"Kalian bisa melihatnya" jawab Queen Ororo yang mengetahui apa yang di inginkan sahabat Yura itu.
Tanpa berpikir panjang mereka ber-7 masuk kekamar Yura untuk melihatnya.
"Yura?" panggil Novia.
"Guys" saut Yura yang melihat semua teman dan Pangeran Clard masuk. "Tenanglah aku baik-baik saja" sambungnya.
"Kasihan Yura, dia dia berada disini seperti di penjara. Hanya berada di kamar seharian" batin Pangeran Clard. "Yura, kami adalah temanmu. Jika kamu membutuhkan sesuatu tinggal bilang tidak perlu sungkan" kata Pangeran Clard.
"Tenanglah, Yura tidak akan menyusahkan kita. Aku tau itu" seru Ezra.
__________________________________
Hay guys chapter yang ini sedikit pendek ya...
Jangan lupa votment yaa 😘