World Elements

World Elements
solemn promise



Di istana Gosh...


Pangeran Odin yang kehilangan Yura merasa sangat marah, dan merusak seisi kamar yang sebelumnya Yura tempati.


"Kalian semua bodoh! Bodoh! Tidak bergunaaa..." teriak Pangeran Odin menendang meja yang ada di kamar itu hingga hancur.


Dengan amarah, Pangeran Odin keluar dari kamar menuju tempat King Zigaz dan Queen Tara membuat pasukan iblis yang meninggalkan 15 orang yang dia perintahkan untuk mencari Yura beserta Dian yang kembali dengan kondisi sekarat karena serangan dari Queen Ororo.


Sesampainya disana dia berteriak memanggil King Zigaz dan Queen Tara.


"Ayah! Ibu!" panggil Pangeran Odin dengan penuh emosi. "Aku ingin semua pasukan ini siap sebelum gerhana bulan nanti. Aku ingin menyerang istana Viore, karena mereka telah mengambil kekasihku" kata Pangeran Odin yang mendapatkan anggukan dari kedua orang tuanya.


"Mereka semua harus mati di tanganku! Takkan ku biarkan mereka hidup. Setelah mereka mati, aku akan menikah dengan Yura" batin Pangeran Odin kembali meninggalkan tempat itu.


Di istana Viore...


"Guys! Aku takut saat gerhana bulan nanti" kata Yura kepada Novia, Diah, dan Sesilia.


"Tenanglah, kami akan selalu bersamamu" sahut Novia.


"Sebaiknya kamu pakai kembali jubahmu, dan lepaskan rambut itu. Latihan kita sudah selesai" ucap Diah dan mendapatkan anggukan dari Yura.


Saat Yura ingin pergi ke kamarnya, Pangeran Clard mencegahnya dan mengajak Yura bersantai di taman.


"Hari ini kita latihan hanya setengah hari" keluh Yura.


"Setengah hari? Waktu itu sudah lama bagiku, karena aku tidak bisa berlama-lama untuk bersamamu" kata Pangeran Clard. "Putri berjanjilah untuk tetap bersamaku" kata Pangeran Clard mengacukan kelingkingnya.


"Aku berjanji akan selalu bersamamu, dan juga berhak merasakan susah, pahit dan sakit dari dirimu. Bila perlu luka di dalam tubuhmu berpindah ke tubuhku" jawab Yura menautkan jari kelingkingnya.


Dalam bersantai mereka, tiba-tiba ada seorang pengawal yang menganggu mereka.


"Ssstt... Apa yang kamu katakan? Aku tidak mau kehilanganmu" ucap Pangeran Clard mencubit pelan pipi Yura.


Tanpa sepengetahuan mereka tiba-tiba cahaya putih keluar dari tubuh Yura dan masuk tepat ke hati Pangeran Clard, karena janji yang telah Yura buat.


"Maafkan saya Pangeran, tapi King Jack ingin membicarakan hal yang sangat penting" seru seorang yang tiba-tiba saja datang.


"Putri, maafkan aku. Tapi aku harus pergi" kata Pangeran Clard sambil memeluk Yura.


"Tidak apa-apa" jawab Yura membalas pelukan Pangeran Clard.


Pelukan berlangsung selama beberapa detik. Pangeran Clard meninggalkan Yura dan pengawal tadi di taman.


Setelah Pangeran Clard pergi, pengawal itu juga menyampaikan ke Yura bahwa Queen Ororo juga ingin berbicara kepadanya.


***


"Aku di sini Ibu" ucap Yura yang berada di ambang pintu.


***


"Masuklah Putraku!" perintah King Jack.


Dengan beda ruangan mereka berempat membicarakan hal yang sama. Yura dan Queen Ororo berada di kamar Queen Ororo sedangkan King Jack dan Pangeran Clard berada sangat jauh di kamarnya.


"Putri, Ibu ingin kamu menikah" ucap Queen Ororo menghela napas.


***


"Menikah?" tanya Pangeran Clard yang mendapatkan ke inginan dari Ayahnya yang sama dengan Queen Ororo.


"Iya Putraku, menikah dengan Yura" jawab King Jack lebih jelas lagi.


***


"Clard? Aku saat ini masih sangat muda Ibu, umurku masih 17 tahun. Lagi pula Clard tidak mungkin mencintaiku" jawab Yura yang pergi meninggalkan Queen Ororo sendirian menuju kamarnya sambil menangis.


***


"Yura? Aku tidak bisa menikah dengannya" jawab Pangeran Clard yang tidak ingin menatap wajah Ayahnya.


"Tapi mengapa?" tanya King Jack ingin mendapatkan penjelasan.


"Aku sudah mencintai seseorang" jawab Pangeran Clard.


"Siapa?"


"Putri, keturunan elemen Aqua" jawab Pangeran Clard menghela napas.


"Apa? Apa kamu tahu apa yang kamu katakan? Elemen Aqua dan Fire tidak bisa bersatu. Salah satu dari kalian akan lenyap" kata King Jack.


Dengan sedikit kecewa Pangeran Clard keluar dari kamar ayahnya menuju kamar Yura.


"Yura!" panggil Pangeran Clard yang menerobos masuk membuat Yura kaget yang sedang duduk di depan meja rias.


"Clard?" gumam Yura sambil terburu-buru memasang topi jubahnya.


"Yura? Maafkan aku, tapi aku tidak bisa menikah denganmu" seru Pangeran Clard.


"Hhh... Aku mengambil keputusan yang tepat. Sudah ku duga Clard tidak mungkin mencintaiku" batin Yura.


"Yur? Kamu baik-baik sajakan? Kamu sakit?" tanya Pangeran Clard yang menunggu jawaban.


"Hm? Aku baik-baik saja. Tenang aja, kamu gak boleh meminta maaf. Lagiankan aku masih berumur 17 tahun, umurku masih sangat muda untuk menikah" jawab Yura sambil memegang lembut lengan Pangeran Clard.


"Yura, terima kasih" ucap Pangeran Clard menarik Yura dan memeluknya.


Yura mencoba untuk melepaskan pelukan Pangeran Clard dari pelukannya tetapi Pangeran Clard mencegahnya dan mempererat pelukannya.


"Clard?" Panggil Yura yang mulai lemas.


"Biarkan tetap seperti ini, bukannya kita teman" jawab Pangeran Clard santai dan mendapatkan balasan pelukan dari Yura.


Tanpa sepengetahuan Pangeran Clard, Yura menangis di pelukannya.


"Yura? Tetaplah menjadi sahabatku" seru Pangeran Clard melepaskan pelukannya dan mengacukan jari kelingkingnya.


"Sampai kapanpun kita akan menjadi sahabat" jawab Yura menautkan jari kelingkingnya.


"Ya sudah aku pergi dulu ya" kata Pangeran Clard sambil mengusap puncak kepala Yura dengan sayang.


Melihat pundak Pangetan Clard yang semakin jauh dan menghilang tepat di balik pintu, Yura menghela nafas berat.


"Entah apa yang di pikirkannya tentangku, sebentar di menyayangiku sebagai Putri dan hanya menganggapku teman saat ku menjadi Yura. Aku benar-benar bingung. Sungguh aku mencintaimu Clard, aku mencintaimu" batin Yura tanpa sengaja meneteskan air mata.


Yura menangis semenangisnya, menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya.


"Clard, aku mencintaimu. Sungguh aku mencintaimu" gumamnya sambil menangis tersedu-sedu. "Aakkhh..." rintihan Yura merasa sakit di lengannya.


Sakit itu meninggalakan bekas goresan luka seperti terkena pedang sepanjang 3 cm.


Sementara Pangeran Clard yang sedang latihan bersama Ezra terkejut saat melihat luka di lengan Pangeran Clard saat tidak sengaja terkena pedang Ezra kini menghilang.


"Clard? Lukamu menghilang" kagum Ezra.


"Entahlah Zra, aku juga tidakk tahu. Sebelumnya tidak seperti ini" jawab Pangeran Clard heran.


Kembali kekamar Yura...


"Dari mana aku mendapatkan luka ini ya, aw... Perih. Sebaiknya aku obati sebelum ada yang melihatnya, jika tidak yang lain pasti memperlakukan ku seperti Ratu" kata Yura berbicara sendiri.


"Cklek" suara pintu terbuka dan melihatkan sosok wanita paruh baya dengan jubah berwarna putih.


"Yura? apa yang terjadi?" cemas Queen Ororo yang melihat luka di lengan Yura.


"Entahlah Ibu, tiba-tiba saja luka ini sudah ada di lenganku" jawab Yura dengan penuh kejujuran.


"Kamu menangis? Sini biar Ibu obati"


"Ya, aku menangis karena takut saat gerhana bulan nanti" jawab Yura berbohong.


"Apa rasa sakitnya hilang?"


"Ya sudah" jawab Yura singkat.


"Kamu jangan khawatir, sekarang kamu berada di istana ini" ucap Queen Ororo memegang kepala Yura penuh kasih sayang.


"Yang Mulia" panggil Queen Pinkki panik.


Dengan cepat mereka berdua pun keluar dari kamar menuju ruangan rahasia.


"Apa yang terjadi?" tanya Queen Ororo yang sampai di ruangan rahasia bersama Queen Pinkki.


"Yang Mulia, di istana ini ada yang menggunakan kekuatan terlarang" jawab King Fitz.


"Janji? Maksud kalian? Siapa yang mengucapkan janji di sini?" tanya Queen Ororo lebih jelas lagi.


"Entahlah yang mulia, janji ini memiliki sihir" sambung Queen Claudia.


"Kita harus selidiki, secepatnya janji itu harus di hilangkan sebelum ke duanya terluka" perintah Queen Ororo mengakhiri pembicaraan itu.