
Mereka semuapun mengistirahatkan kaki yang telah pegal sambil meminum sedikit air dan memakan makanan sisa yang mereka bekal kemudian membaringkan tubuh mereka ke tanah yang terasa kering dan gersang. Begitu juga dengan Pangeran Clard meletakkan Yura dengan hati-hati di dekat pohon agar Yura dapat bersandar tidak lupa dengan Pangeran Clard yang duduk di sampingnya dengan tujuan menjaga. Melihat Pangeran Clard yang kelelahan, Yurapun menyediakan pangkuannya sebagai alas kepala Pangeran Clard. Tanpa berfikir panjang Pangeran Clardpun meletakan kepalanya sambil di elus-elus lembut oleh Yura. Suasana menjadi hening, tidak terdengar lagi suara mereka karena telah terlelap tidur dengan posisi mereka masing-masing.
Setelah sedikit lama tertidur, merekapun tersadar saat mereka di bangunkan oleh seseorang dengan nada bicara yang terdengar sangat panik dan terengah-engah seperti Habis berlari jauh saja. Tentu saja setiap orang yang baru saja bangun tidur merasa lemas apa lagi tidur dalam keadaan yang sangat melelahkan bahkan pandanganpun belum stabil, dalam keadaan kusut dengan pandangan sedikit demi sedikit kembali stabil mereka di kagetkan oleh berdirinya sosok Vera, Ragil dan Novia di hadapan mereka.
"Kalian?" Gumam mereka langsung bergegas dari baringnya.
"Dari mana saja kalian?" Tanya Roby.
"Sebaiknya kita bahas itu nanti! Jadi kita harus segera pergi meninggalkankan tempat ini sebelum Troll..." ujar Ezra terhenti saat mendapatkan bumi yang bergetar seperti akan terjadi gempa bumi ya bukan akan lagi, tapi sudah terjadi.
Melihat ekspresi dari ke-tiga sahabat mereka yang baru saja datang merekapun lari dari tempat mereka beristirahat sebelumnya tanpa banyak tanya. Mengingat akan kejadian sebelumnya dan tidak ingin kejadian itu terulang kembali, merekapun berpegangan secara berpasangan-pasangan. Larian mereka sedikit terhambat karena pohon-pohon yang menyibukkannya karena area yang sedik demi sedikit menjadi sempit, hingga membuat salah satu dari mereka terjatuh karena tersandung sesuatu.
"Dear! Tolong!" Rintihan Novia kesakitan dan mendapatkan bekas biru di bagian lutut.
"Novia! Cepat bangun! Bahaya sudah semakin dekat!" Paksa Daih yang langsung menghampiri dan menarik-narik Novia sambil menolak Ezra pacar Novia.
Diah terus-menerus menarik lengang Novia yang sangat kesulitan bangun hingga meninggalkan bekas memar, sementara Pangeran Dilon, Vera, Pangeran Clard, Yura, Ragil dan Sesilia masih melanjutkan larian mereka karena tidak mengetahui keadaan Novia, Diah, Ezra dan Roby. Ezra yang dalam keadaan panik langsung menarik lengan Diah yang membuat suasana semakin kacau karena tingkah laku konyolnya itu. Novia saat ini duduk di tanah kini di gendongnya ala bridal dan kembali berlari.
"Kemana yang lainnya?" Gumam Roby menjadi kalut.
"Entahlah, aku harap mereka tidak jauh dari kita" jawab Roby yang mendengar gumaman Ezra.
Jauh di depan di mana yang lainnya masih berlari dengan ekspresi wajah yang bercampur aduk. Hingga tersadar mereka kehilangan 4 sahabat mereka, tidak lain adalah ke empat orang yang tertinggal jauh di belakang mereka.
"Hey! Dimana yang lainnya?" Tanya Ragil menyadari hingga memberhentikan lariannya yang di ikuti oleh sahabat-sahabatnya.
"Sebaiknya kita tunggu mereka di sini!" Ucap Vera.
"Ya, sepertinya kamu benar! Kita harus menunggu mereka di sini, walau apapun yang terjadi!" Setuju Ragil.
Merekapun memutuskan untuk menunggu yang lainnya saat itu. Setelah menunggu sedikit lama yang di tunggu-tunggupun akhirnya tiba dengan keringat yang bercucuran dengan nafas yang terengah-engah. Tanpa berfikir panjang merekapun kembali melanjutkan larian untuk menyelamatkan diri dari bahaya di belakang mereka yang sedari tadi membuat bumi bergetar.
Terlihat jelas di wajah Yura yang saat ini tangannya di genggaman oleh Pangeran Clard dengan pandangan kosong mengarah kedepan.
"Cukup!" Teriak Yura sambil menghempaskan pegangan Pangeran Clard padanya sambil menghentikan lariannya dan di ikuti yang lainnya dalam keadaan bingung terhadap tingkah laku Yura.
"Apa yang terjadi?" Tanya mereka serempak.
"Tapi Yura, yang mengejar kita saat ini adalah sekumpulan Troll yang kelaparan" kata Novia.
"Troll? Tapi dari mana kamu tahu?" Tanya Ezra kurang yakin.
"Yang di katakan Novia memang benar! Kami hilang karena di culik mereka dengan jebakan-jebakan yang telah di pasang. Bahkan kami hampir di bakar hidup-hidup, jika kami tidak melarikan diri" ujar Vera.
"Iya, jika aku tidak di culik para Troll mungkin mereka tidak bersama kita lagi" ujar Ragil.
"Sudahlah, bukankah senjata para kesatria lengkap saat ini bukan? Sebaiknya kita tunggu mereka di sini!" Ucap Yura.
"Tapi ingat! Jangan melukai mereka!" Pesan Pangeran Clard yang di setujui yang lainnya kecuali Yura.
"Bagaimana bisa? Bukankah mereka mencoba untuk memakan kita?" Tanya Yura tidak setuju.
"Yura! Apa kamu lupa? Penghuni hutan ini dulunya juga baik-baik, tapi semenjak kejadian itu..." ucapnya terpotong oleh Yura.
"Dulu dan sekarang itu berbeda!" Ketus Yura mendapatkan tatapan heran dari sahabatnya.
Sedikit perselisihan pendapat mulai terjadi, namun mereka berusaha untuk menutupinya dengan hati-hati agar Yura tidak tersinggung oleh keadaan yang mulai berbeda ini. Senjata mulai di keluarkan dari tempatnya dan memperbaiki Kilauan dari senjata itu sendiri.
Dalam penantian yang tidak lama itu, merekapun di kagetkan dengan sekumpulan Troll yang bahkan wajahnya sangat mengerikan, wujud yang berbagai jenis rupa, liur yang menetes-netes membuat mereka sedikit geman dengan penampilan sekumpulan Troll itu, tinggi badan yang kira-kira 50 kaki, tidak lupa dengan senjata tajam maupun tumpul di tangan mereka.
Melihat Troll yang berada di depan, Yura dan yang lainnya pun siap pada posisi mereka masing-masing untuk melindungi satu sama lain dengan tidak melukai sekumpulan Troll yang terlihat ganas itu.
Suara berisik dari salah satu perut milik Troll mulai terdengar, suara itu sangat keras hingga membuat mereka menutup indera pendengar mereka.
"Dasar Troll! Penampilan yang menjijikkan, akan ku buat dia menjadi budakku!" Gumam Yura yang terdengar oleh Pangeran Clard.
"Apa aku tidak salah dengar? Yura berniat menjadikan Troll-Troll ini budaknya? Dia memang telah berubah. Dulu jangankan seperti ini, memerintahkan seseorang saja dia tidak mau! Apa Yuraku yang dulu telah di renggut oleh Yura yang dulunya pernah hilang ingatan?" Batin Pangeran Clard heran.
Terlihat jelas di wajah Yura, dia memiliki sebuah rencana tanpa ada seorangpun yang tahu. Dia mulai memainkan jari-jarinya sambil menaikkan alis kirinya yang terlihat ingin berniat buruk. Lima detikpun berlalu Yura maju terlebih dahulu tanpa memberitahu yang lainnya, dengan cahaya hitam di sekujur jari tangannya.
"Apa yang Yura lakukan?" Gumam mereka dan teriak histeris menyebutkan nama Yura.