
Pagi hari yang melihatkan pukul tujuh pagi, Anita sudah siap dengan pakaiannya berdiri di depan rumah yang di sekelilingnya di penuhi kabut tebal, entah dari mana asal kabut itu padahal hujan kemarin sangat deras dan tidak berhenti hingga subuh tadi. Rumah-rumah tidak terlihat dengan jelas, tidak ada yang beraktifitas, tidak ada yang tahu dari mana asal kabut ini yang tiba-tiba bisa setebal ini.
"apa yang terjadi? Tiba-tiba saja kabut setebal ini dalam sekejap" batin Anita.
Langkahnya menuju luar semakin jauh, Anita mulai menggerakkan tangannya seakan menerawang keadaan kabut itu, menggerakkan tangannya mencoba menggenggam kabut tebal itu hingga dia merasakan sengatan listrik yang membuat tangannya melemah.
"aww" rintihannya begitu sambil melemaskan tangannya. "sakit sekali" lanjutnya lagi, segera masuk ke dalam rumah.
"ada apa nak?" ucap wanita paruh baya yang mengenakan baju layaknya orang sederhana yang melihatnya berlari.
"tidak bu, tadi Anita keluar terus kabutnya terasa menyengat dan sakit sekali" jelasnya begitu.
"jangan keluar lagi, sekarang ayo makan, sudah jam tujuh" ucap wanita paruh baya yang di panggil ibu oleh Anita.
Anita pun menuju meja makan, menyantap makanan di atas meje berdua dengan wanita paruh baya tadi sambil merenungi sesuatu. Aktivitas dihentikan dengan cepat pada saat itu juga, sekolah, kuliah, dan dunia kerja telah di liburkan karena ketebalan kabut melebihi kadar. Anehnya belum saatnya musim kabut terjadi, bahkan baru saja hujan yang sangat lebat dan di sertai badai serta gemuruh petir, sungguh membingungkan. Bahkan kabar kabut asap ini sudah tersebar ke pelosok Indonesia, tidak tau apa penyebabnya, bahkan penelitipun tidak dapat menganalisa kabut asap itu.
Semakin hari, kabut itu semakin tebal, hingga semua orang benar-benar menghentikan aktivitasnya. Semua orang panik, bahkan ada yang mati kelaparan dan kehausan
Jauh dari mereka, di sebuah tepat yang indah dimana terdapat bangunan es campuran kristal yang sangat megah, di sana kepanikan mulai terlihat karena ikut serta memikirkan kabut asap yang ada.
Kabut yang sedikit gelap dan sangat tebal membuat mereka semua bertanya-tanya karena terdapat aura negatif pada kabut itu.
"analisa asal kabut ini, aku merasakan ada yang tidak beres pada kabut ini" perintah seorang lelaki bermahkota dengan didampingin istrinya.
"baik yang mulia" ucap pengawal dan langsung mengerjakan tugas yang di perintahkan.
"dimana mereka semua" ucapnya mengeluh.
Kabut tebal itu tidak kunjung hilang, bahkan hujan telah turun selebat-lebatnya, tidak tahu harus berbuat apa-apa. Orang-orang yang tidak punya harta semakin tersiksa akibat kabut asap itu, sudah satu minggu lamanya, tidak ada yang tahu penyebab kabut asap itu.
"apa yang terjadi pada bumi ini" batin seorang wanita yang mengenakan jubah, wajah bertopeng, dan kepala di tutupi topi jubahnya. Dia mencoba menerawang asap kabut itu, hingga mendapatkan sengatan listrik, betapa terkejutnya kabut asap itu memiliki aura negatif. "bagaimana mungkin elements dark bisa ikut ke bumi" ucapnya bertanya-tanya yang mendapatkan analisa dari kabut asap itu.
Gadis tadi dengan jubahnya kini mulai membentuk sayapnya dan tanpa disengaja, ada seseorang yang melihatnya dan sangat terkejut, saat ingin merekam penampakan itu, gadis itupun secepat kilat menghilang membuat kabut asap itu bertebaran.
"apa itu tadi? Apa aku tidak salah lihat? " ucap orang asing yang berada di depan rumahnya tadi.
Gadis tadi yang terbang dengan sayap besarnya terus melesat keatas, dengan niat mencapai awan dengan bantuan kepakan sayapnya yang lebar dan besar. Sedikit lama namun pasti dia telah melewati awan dan menaburkan butiran cahaya emas pada awan stratocumolus (awan yang menghasilkan hujan nantinya), butiran emas itu dia taburkan dengan rata menggunakan kedua tanganya, entah dari mana dia dapatkan butiran cahaya emas itu dengan tangan kosong. Setelah semuanya telah rata diapun kembali ke bumi dan menghilang seketika tanpa jejak.
Malam telah tiba, suasana bumi dan langit seakan berperang. Kegelapan melanda bumi, petir mulai bergemuruh, angin semakin kencang, di sertakan badai semua orang merasa panik, dengan pikiran buntuh dan pasrah menerima apa yang telah terjadi. Badai itu di susul dengan getaran bumi selama lima detik. Sepuluh menit kemudian getaran kembali terjadi selama tiga detik dan di susul dengan hujan yang sangat deras. Hujan yang deras itu sedikit demi sedikit menghilangkan kabut yang menyelimuti bumi, ya sedikit demi sedikit hingga tidak sedikitpun kabut itu tersisa, semua orang merasa senang dan bersyukur, karena telah terjadi kekeringan selama satu minggu.
"akhirnya hujan turun juga dan menghilangkan kabut asap ini" batin Yuda yang berada di rumah besarnya itu dengan seorang diri. "tunggu dulu" ucapnya menatap diluar jendela. "Hujan dengan butiran cahaya emas, waw" ucapnya begitu, Yudapun keluar dan memastikannya dengan kedua matanya dia melihat butiran cahaya emas jatuh bersamaan dengan air hujan. Butiran cahaya emas itu tanpa sengaja mengenai tubuhnya dan meresap kedalam, entah mengapa tubuhnya menjadi ringan dan enteng bahkan bekas luka ditubuhnya hilang. "Luar biasa, air ini ajaib" ucapnya begitu.
Seluruh kota bahkan ikut menyaksikan keajaiban air hujan itu, termasuk penduduk kota yang kekeringan air, air itu menyembuhkan segala penyakit yang di sebabkan oleh kabut asap itu. Kedamaianpun mulai terasa, suasana menjadi aman dan damai.
"apa hujan ini ada hubungannya dengan apa yang aku lihat tadi" batin lelaki yang melihat perempuan bersayap sebelumnya.
Tidak lupa dengan perkampungan, kebun dan ladang menjadi subur karena hujan itu, karena kabut asap itu kekeringan yang melanda sawah-sawah kering, kebun-kebun membuatnya layu dan mati.
"kurang ajar, siapa yang melakukan ini? Siapa yang melenyapkan kabut asap yang telah aku buat" teriak seorang wanita dengan amarah di sebuah ruangan yang sangat gelap sambil mengobrak-abrik isi ruangan itu. "pasti ini perbuatan dia" ucapnya kesal. "tunggu dan lihat saja ketika kekuatanku memulih, aku akan menghancurkan dia dan sahabat-sahabatnya beserta bumi ini" ucapnya yang hanya melihatkan kedua mata hitamnya dengan amarah yang terlihat jelas dengan sambutan pitir yang bergemuruh.
Hujan pada malam itu sangat normal, membuat suasana menjadi dingin, dingin yang berbeda. Semua orang merasa nyaman, aman dan tenang di terpa tiupan angin yang normol. Suara bisikan rintikan hujan membuat suasa bumi tenang, dengan perlahan menidurkan dan menghentikan kegiatan mereka semua.