
Semua orang bubar sementara Pangeran Clard yang setia menunggu gadis berambut biru itu. Suara pedang, langkah, dan suara gadis berambut biru itu terdengar oleh Pangeran Clard.
Hari sudah semakin sore, gadis yang telah lama di tunggi memutuskan untuk menghentikan latihannya.
"Putri! Akhirnya kamu selesai juga" seru Pangeran Clard.
"Putri?" batin Yura.
"Ternyata kamu ahli juga ya dalam memainkan pedang" pujian Pangeran Clard yang membuat Yura sedikit malu. "Apa kita bisa jalan-jalan?" ajak Pangeran Clard yang disambut Anggukan Yura.
Merekapun mulai mengitari istana, tawa bahagia telah mereka rasakan.
"Istana ini sangat indah, aku merasa seperti mimpi disini" ucap Yura yang mendapatkan tatapan kebingungan dari Pangeran Clard.
"Maksudmu?" tanya Pangeran Clard.
Mereka berdua saling menatap satu sama lain. Entah apa yang mereka pikirkan saat ini hanya mereka yang tahu.
Hening. Tak ada yang mereka katakan saat berada ditaman. Karena lelah setelah mengitari halaman istana dan berhenti di taman yang sangat luas dikelilingi bunga yang penuh warna, merekapun memutuskan untuk membaringkan tubuh mereka di rumput yang sangat lembut itu.
Saling membalas tatapan dan penuh tanya saat wajah mereka bertemu. Rasa ingin mengatakan sesuatu tapi tetap dirahasiakan darinya.
"Entah apa yang ku rasakan saat ini, aku belum pernah merasakannya sebelumnya. Apa aku jatuh cinta kepada Clard?" batin Yura menatap wajah Pangeran Clard.
"Gadis dari keturanan penhendali air, apa kami bisa bersatu? Saat ini aku benar-benar terjebak. Tak ada satu wanitapun didunia ini yang bisa membuatku terkesan kecuali dia." batin Pangeran Clard yang menatap Yura.
Karena kelelahan Yura pun menutup kedua mata tak sadarkan diri. Melihat wajah polos Yura yang sedang tidur, Pangeran Clard terus saja tersenyum dan mulai meletakkan tangan kanannya diatas tubuh Yura dan memeluknya.
Perlahan Pangeran Clard juga mulai menutup wajahnya dan mulai terlelap untuk menyusul mimpi Yura.
***
"King Jack!" panggil Queen Ororo.
"Ya yang Mulia" jawan King Jack sopan.
"Dimana Putramu?" tanyanya dengan tenang.
"Dia berada ditaman bersama Yura yang Mulia" jawab King Jack.
"Hm kamu boleh pergi" ucap Queen Ororo.
King Jackpun pergi meninggalkan Queen Ororo di ruang tengah kerajaan.
***
"Hiks... Hiksss... Hiks... Ayah... Ibu..." panggil seorang gadis dan pemuda menangiskan kematian Ayah dan Ibu mereka masing-masing.
"Ibu... Hiks... Hikss..." panggil ke 3 gadis itu.
"Ayah..." panggil ke 4 pemuda itu.
Keringat yang bercucuran dan memasang wajah takut di wajah gadis berambut biru yang baring disamping pemuda berambut merah.
Kegelisahan, ketakutan, dan sedih terlihat di raut wajah gadis itu. Pergerakan tubuhnya membuat pemuda yang berada disampingnya terbangun.
"Putri? Putri? Apa yang terjadi? Putri bangun? Putri... Putri" cemas Pangeran Clard yang melihat Kegelisahan Yura saat sedang tidur.
"Rrrrrgggg... Tolong..." suara yang keluar dari seorang gadis yang tubuhnya setengah monster.
"Claaaarrdd..." teriak Yura yang tersadar dari mimpi buruknya.
Yurapun bangkit dari baringnya langsung memeluk Pangeran Clard yang duduk dengan wajah cemas disampingnya.
"Putri tenanglah, aku ada disini" ucap Pangeran Clard mengusap lembut rambut Yura.
Saat memeluk Pangeran Clard tiba-tiba terlintas sesuatu yang mengerikan di benaknya.
"Clard" panggil Yura lemah dan pingsan tak sadarkan diri dipelukan Pangeran Clard.
"Put? Putri? Apa yang terjadi padamu?" ocehan cemas Pangeran Clard.
Pangeran Clard pun memutuskan untuk membawa Yura masuk kedalam istana. Tapi untuk sesaat dia pun membatalkan pemikirannya untuk masuk ke istana dengan membawa Yura.
Tanpa berfikir panjang Pangeran Clard menggendong Yura ala bridal menuju tempat rahasia yang tersembunyi dihalaman belakang istana yang hanya diketahui orang tinggi terpenting di istana.
Tempat Rahasia itu terdapat air terjun dan pemandangan yang sangat indah.
Dahi Yura perlahan mengeluarkan cahaya hitam dan membentuk mata seperti yang dia alami di kamarnya saat dia tak sadarkan diri melihat seorang pemuda di cermin.
Cahaya hitam yang ada didahi Yura tidak diketahui Pangeran Clard, karena Pangeran Clard memandang lurus kedepan dengan wajah cemasnya.
Sebelum sampai di air terjun cahaya hitam itupun menghilang. Yurapun kembali sadar.
"Aakkhh..." rintih Yura sambil memegang kepalanya.
"Putri?" ucap Pangeran Clard sambil berjalan menuju air terjun. "Tenanglah, sebentar lagi kita akan sampai di air terjun" ucap Pangeran Clard kembali fokus kepada jalan.
Yura terdiam menatap Pangeran Clard. Tatapannya melihatkan bahwa dia terpesona kepada Pangeran Clard.
Tiba di air terjun, Pangeran Clard meletakkan Yura ke tepian air terjun yang hawa dinginnya sudah terasa di kulit mereka.
Yura dan Pangeran Clard duduk di tepian. Karena merasa dingin, Pangeran Clard terlihat sedikit lemah karena kelemahannya adalah air terjun itu. Air terjun yang dibuat oleh elemen Frozen yang telah lama punah. Satu-satunya kenangan terakhir dari elemen Frozen.
"Putri, minumlah air itu agar kamu segera sembuh" ucap Pangeran Clard tanpa menatap Yura untuk menyembunyikan wajah pucatnya.
Tanpa berfikir panjang Yurapun meminum air itu. Setelah meminumnya, seluruh tubuh Yura mengeluarkan cahaya Biru mudah. Cahaya yang melambangkan elemen Frozen.
"Aku merasakan kekuatannya" ucap Yura.
Tiba-tiba Pangeran Clard yang duduk disampingnya kini terbaring tak sadarkan diri.
"Clard?" gumam Yura dan segera menghampiri tubuh Pangeran Clard. "Tubuhnya dingin sekali. Air ini, air ini yang membuatnya lemah" batinnya.
Panik, pikiran yang bercampur aduk dan buntu.
"Apa yang harus ku lakukan? Bahkan untuk mengangkatnya aku tidak memiliki kekuatan pengendali udara. Bagaimana ini?" ocehan cemas Yura. "Ibu... Ibu... Guys... Tolong aku" teriaknya yang bergema terdengar di istana.
"Yura? Apa yang terjadi padanya?" batin Queen Ororo.
Mendengar teriakan Yura, Queen Ororo dan yang lainnya berlari menuju halaman belakang.
"Ibu... Aku disini" jawab Yura dengan suara bergema.
Mendengar panggilan Yura Queen Ororo pun berlari menuju tempat rahasia itu dan diikuti yang lainnya. Sementara Yura yang ketakutan melihat keadaan Pangeran Clard bingung harus berbuat apa.
Dengan menunggu selama beberapa menit akhirnya Yura mendengar suara langkah sekelompok orang yang menuju kearahnya.
"Yura" panggil Queen Ororo yang tiba disana.
"Ibu..." balas Yura. "King Jack tetaplah disana" perintah Yura yang melihat King Jack berada disana.
Merekapun berlari kecil menghampiri Yura tanpa King Jack yang tetap berada di posisi mereka tadi.
"Ibu... Clard" cemas Yura yang memangkui kepala Pangeran Clard yang tidak sadarkan diri.
"Oh tidak. Ini pasti gara-gara air terjun ini" ucap Queen Irridesa.
"Disini dingin sekali" gumam Novia, Ezra, Diah, Roby, Sesilia dan Ragil yang merasa kedinginan karena hawa air terjun yang ada dihadapan mereka.
Dengan elemen Air Queen Ororo dan King Calvin mengangkat tubuh Pangeran Clard ke udara dan membawanya masuk ke istana menuju kamarnya.
Dengan perlahan Queen Ororo dan King Calvin meletakkannya di atas tempat tidurnya yang empuk.
"Tinggalkan kami disini, kecuali King Calvin. Dan Yura kembali kekamar mu dan pakai kembali jubah itu" perintah Queen Ororo yang di turuti yang lainnya.
Dengan wajah sedikit cemas Yura keluar dari kamar itu. Sementara sahabatnya yang lainnya membawa wajah kebingungan karena air terjun itu.
"Yura, apa yang terjadi padanya? Dan tempat apa itu?" tanya Novia.
"Apa kamu gila? Sedangkan kita saja tidak tahu tempat apa itu dan kamu malah nanya Yura" ketus Diah yang mulai jengkel kepada Novia.
"Clard, aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Tapi tubuhnya sangat dingin. Mungkin karena air terjun yang di buat Para elemen Frozen" jawab Yura meneteskan air mata.
"Tu kan Yura tau" ucap Novia dengan senyuman kemenangannya.
"Ah biasa aja kali" ketus Diah.
"Eh... Kalian berdua kok berantem sih?" tegur Ragil.
Ezra dan Roby hanya terdiam dan membawa wajah bingung karena sikap Novia dan Diah.
"Sudahlah Diah, Noviakan sahabatmu juga" kata Roby mencoba membujuk Diah.
"Ah kalian ini lebay amat si, kitakan hanya adu mulut aja gak marahan beneran" ketus Diah sekali lagi kepada teman-temannya.
Dengan sekejap suasana yang ramai karena ocehan mereka menjadi hening melihat Yura yang terus berjalan tanpa menunggu mereka.
Melihat tingkah Yura, mereka semuapun lari kecil menghampiri Yura untuk mensejajarkan langkahnya.
"Yura lo kenapa?" tanya Sesilia yang melihat air mata Yura meleleh.
Mendengar ucapan Sesilia, dia pun mendapatkan tatapan pertanyaan kepada teman-temannya.
"Ini semua salah gue. Coba aja..." kata Yura menggantungkan akhir dari perkataanya. "Pasti dia gak bakalan seperti ini" sambungnya.
"Udahlah Yur... Disanakan ada Ibu lo dan Ayahnya" seru Ezra mencoba untuk menenangkan Yura.
"Lo mandi aja dulu terus pake aja tu jubah. Udah itu baru lo jenguk Clard" bujuk Sesilia.
***
"King Jack cobalah panaskan suhu tubuh Clard dengan apimu di bagian telapak kakinya" perintah Queen Ororo yang di sambut anggukan King Jack.
Queen Ororopun mulai membaca mantra cahaya putihpun keluar dari telapak tangannya dan mulai mengarahkannya keseluruh tubuh Pangeran Clard. Sementara King Jack masih tetap pada posisinya untuk menghangatkan Putranya.
Pengendali elemen Storm memiliki keistimewaan pada dirinya yaitu kekuatan medis. Elemen Storm dapat menyembuhkan semua penyakit kecuali menghidupkan orang yang sudah mati. Maka dari itulah elemen Storm hanya memiliki satu keturunan. Jika ada dua keturunan yang sama-sama memiliki elemen Storm maka salah satunya akan mati. Itulah yang tertulis di buku Petunjuk.
Masa penyembuhanpun berakhir tapi Pangeran Clard belum membuka matanya karen efek dari air terjun itu.
"Sebentar lagi dia akan sadar" ucap Queen Ororo melangkah pergi.
"Putraku, sudahku katakan jangan pernah kesana. Jika kamu berada disana terlalu lama, maka kamu akan..." kata King Jack yang berbicara kepada Pangeran Clard yang masih belum sadar.
"Cklek" terdengar suara pintu yang terbuka dana melihatkan seorang gadis dengan jubah putih tak lupa denan penutup kepalanya yang menyembunyikan wajahnya.
"Yura?" panggil King Jack.
"King Jack, apa aku juga boleh berada disini?" tanyanya.
"Kamu tidak perlu bertanya Yura, karena kamu..." ucap King Jack yang menggantungkan ucapannya. "Jika kamu berada disini, maka aku akan pergi. Jagalah dia" sambung King Jack yang melangkah pergi.
Yura yang melihat pundak King Jack yang mulai menjauh dan menghilang di balik pintu langsung duduk diatas tempat tidur Pangeran Clard tepatnya di samping Pangeran Clard.
"Clard, sadarlah" panggil Yura sambil memegang lembut pipi Pangeran Clard dan mulai meneteskan airnya matanya jatuh tepat dipipi Pangeran Clard.
Tiba-tiba Clardpun merespon tetesan air mata Yura, dengan mulai membuka perlahan matanya.
Melihat Pangeran Clard yang mulai mengedip-ngedipkan matanya, Yurapun dengan segera beranjak dari duduknya dan berdiri.
"Aakkhh..." rintihan Pangeran Clard segera bangkit dari baringnya. "Dikamar? Tapi Putri? Dimana Putri?" batin Pangeran Clard yang melihat bahwa dia berada dikamarnya tapi dia melihat Yura berada disana.
Dengan tergesah-tergesah Pangeran Clard membuka selimut yang menutupinya dan segera beranjak dari tempat tidurnya.
"Yura?" kaget Pangeran Clard yang melihat sosok Yura yang berdiri di samping tempat tidurnya. "Sejak kapan kamu ke sini?" tanya Pangeran Clard bingung.
"Sejak tadi" jawab Yura.
"Oh maaf, aku pikir kamu tidak ada disini tadi"
"Istirahatlah disini. Kamu itu butuh istirahat" ucap Yura yang dituruti Pangeran Clard.
"Mengapa suaramu sedikit bergetar? Apa kamu sakit?" tanya Pangeran Clard.
Hening. Pertanyaan Pangeran Clard tidak mendapatkan jawaban sama sekali.
"Entah bagaimana perasaannya terhadapku? Begitu juga denganku. Mungkin aku..." batin Yura
"Entah apa yang terjadi saat aku tidak sadarkan diri tadi. Putri..." batin Pangeran Clard.