World Elements

World Elements
istana awan



Di sebuah istana lebih tepatnya lagi di sebuah ruangan tanpa dinding yang hanya memperlihatkan pilar tertata rapi di teras istana dan di tengahnya ada kolam suci dengan pinggirannya di hiasi dengan mutiara awan. Di dalam kolam itu, muncullah Clard, Ezra, Roby, Ragil, Yura, Diah, Novia dan Sesilia. Tepat sekali mereka berada di istana awan dengan kondisi Anita yang masih tidak sadarkan diri.


Ezrapun mengangkat Anita menggunakan kekuatannya dan membaringkannya di lantai istana. Setelah mereka mendapatkan kakinya kembali, Clard melanjutkan menggendong Anita ala bridal sambil melewati pilar yang berbaris dengan rapi.


istana bernuansa putih awan itu, sangat indah dan bahkan dapat melihat pemandangan langit malam yang indah. Langkah mereka terdengar jelas dari dalam istana hingga kedatangan mereka di sambut dengan baik oleh pelayan serta prajurit lainnya.


"Di mana ibu ratu Liana?" tanya Ezra to the point karena tidak ingin mengulur waktu yang sangat genting ini.


"silahkan ikut saya yang mulia" ucap salah satu prajurit yang menghampiri mereka.


Langkah merekapun berlanjut hingga memasuki sebuah ruangan yang sangat besar, dengan aktifitas sesuai dengan jabatan masing-masing, serta fasilitas yang mempesona. Tidak seperti manusia lainnya, karena mereka sudah biasa menatap keindahan ini jadi mereka tidak terlalu menikmatinya.


"ibu Liana" Panggil Yuda yang menggendong Anita ala bridal kepada wanita paruh baya yang mengenakan gaun silver mahkota dan sepasang sayap kuning di pundaknya.


"Yura?" gumam Ibu ratu Liana yang melihat Anita di gendongan Yuda dan segera menghampirinya. Ibu ratu Lianapun membuat teleport menuju kamar agar mempercepat. Tidak lupa dengan Anita, Yuda meletakkannya dengan pelan sambil mencemaskan keadaannya yang lemah bahkan tubuhnya terasa dingin, tatapan Yuda kali itu sangat berbeda hingga memerahkan matanya itu.


"apa yang terjadi padanya?" tanyanya ibu ratu Liana ikut cemas.


"Anita membuat hujan hilang ingatan agar manusia yang mengetahui rahasia kita melupakan apa yang telah terjadi. Dia tidak sendirian Diah, Ezra, dan Ragil juga ikut membantu dalam membuat hujan itu agar lebat. Tapi setelah hujan itu jatuh ke bumi diapun tidak sadarkan diri" ujar Sesilia.


"mengapa kalian membiarkannya melakukan itu? Bukankah di buku petunjuk melarang siapa saja melakukan itu" bantah Ibu Ratu Liana yang tampak kesal. Diapun menghampiri Anita dan sesekali memeriksanya.


Selang waktu bergulir menatap senja di pagi hari, kecerahan istana awan tidak lagi bersinar walaupun mentari bersama mereka saat itu, namun kali ini tidak,, istana terasa sendu dan aneh sementara Anita belum sadar.


Kabar Anita tersebar dengan sendirinya di istana, hingga mereka kedatang lima orang tamu yang ikut serta mengetahui keadaan Anita.


"istana ice telah redup, bahkan pilar-pilarnya mulai mencair" ucap seorang lelaki yang mengenakan mahkota yaitu ayah raja Jack.


"ayah" panggil Yuda kepada lelaki tadi.


"kita semua dalam bahaya, jika Anita tidak sadarkan diri selama satu pekan maka kita semua akan puna dan mati dengan sendirinya" lanjut Wanita paruh baya yang mengenakan mahkota ice biru muda yang indah yaitu ibu ratu Tara.


"apa yang terjadi pada Anita?" tanya Yuda cemas.


"Yura tidak percaya dengan kekuatan yang dia miliki hingga dia menggunakan mutiara pelangi yang ada di tubuhnya demi kita semua, tapi dia tidak tau risikonya. Karena jika mutiara pelangi telah menyatu ke tubuh element storm dan sang pemilik menariknya kembali keluar maka akan terjadi mala petaka untuk dirinya dan semua alam yang menyangkut tentangnya" jelas wanita paruh baya dengan gaun biru tua tak lupa dengan mahkotanya yaitu ibu ratu gloraris.


Mendengar itu, mereka semua pun pergi menuju kamar Anita, yang tak jauh dari tempat mereka bicara. Dalam ruangan itu, terdapat Diah, Sesilia dan juga Novia, kecemasan mereka terlihat jelas, bahkan bekas hujan di pipinya masih terlihat.


"tidak! Tidak mungkin! Jika ini di biarkan maka kita semua akan puna dan kejahatan akan menyelimuti bumi" ucap Diah menyerah karena kekuatannya sudah melemah.


"hanya ada satu cara, kalian harus ke samudera pasifik. Menurut cerita rakyat di sana terdapat mermaids, bahkan mereka memiliki tinta kehidupan yang di buru oleh manusia semoga saja cerita rakyat itu benar, jadi kalian semua harus kesana mendapatkan tinta itu tanpa pengecualian" ucap ibu ratu Gloraris.


"tapi bagaimana caranya?" tanya Yuda yang seperti menyetujui saran ibu ratu Gloraris.


"besok kalian sudah harus berangkat, masalah Anita dan kuliah kalian biar kami yang mengurusnya" ucap Ayah Raja Jack.


"untuk sementara waktu, kita hanya mempunyai rumput laut biru yang hanya bisa memperlambat kehancuran yang akan terjadi" ucap Ibu ratu liana.


"tapi mereka bukanlah mermaids berpendidikan, mereka juga sama liarnya dengan ikan lainnya, ikan buas pemakan daging, mereka bisa saja memangsa kalian. Mereka masih dalam keadaan mermaids kuno, karena mereka tidak berpakaian. Mungkin mereka bisa menyambut kalian jika kalian sopan pada mereka" ucap ibu ratu Tara.


"semakin lama kalian mendapatkan tinta itu maka semakin lemah kekuatan kalian karena jika Yura melemah maka kita akan lemah bahkan bisa saja kita kehilangan kekuatan kita. Karena waktu kita hanya sampai minggu depan. Nanti malam bulan purnama akan datang, saat bulan purna tepat jam dua belas malam kalian harus mulai menjelajah mencari tinta kehidupan itu" ucap Ibu Ratu Gloraris.


"besok kami semua akan pergi mencari tinta kehidupan itu, karena hanya kami yang bisa mendapatkan tinta itu" ucap King Clard yang mendapatkan anggukan dari ke sepuluh teman lainnya.


"yang Clard katakan benar, karena kami para kesatria sudah tugas kami menyelamatkan Yura karena dia juga bagian dari kita" ujar King Dilon setuju.


"kalian tau, aku pernah kehilangannya bukan hanya sekali tapi berkali-kali. Aku tidak ingin dia pergi lagi dari hidupku, aku sudah cukup menahan luka selama ini" ucap King Clard menatap Queen Yura sedalam-dalamnya sambil memegang erat tangannya yang dingin.


"ini adalah takdirnya putraku, kita tidak bisa menghindari apa yang akan terjadi" ucap King Jack.


Sahabat-sahabat King Clard merasa prihatin dan mencemaskan keadaan Queen Yura, karena ini juga termasuk kesalahan mereka karena menyampaikan ide yang membuat dia dan dunia mereka celaka.


Kegelisahan tak tinggal diam, dia selalu menghantui pikiran siapa saja yang mencemaskan dunia. Aktifitas menjadi macet, pekerjaan istana terbengkalai hanya karena mementingkan keselamatan penguasa mereka.


"untuk sementara buat pelindung kehangatan untuk Yura agar tubuhnya tidak membeku" ucap Queen Tara dan mendapatkan anggukan serta keluarnya kekuatan King Clard pada tangannya yang menggenggam erat tangan Queen Yura.


Dalam perbincangan mereka, terasa saja ada yang mengetuk pintu kamar dan meminta izin untuk masuk, untuk sementara perbincangan mereka di heningkan dan mengizinkan orang itu untuk masuk.


Melihat dari penampilannya dia adalah seorang pengawal, dengan wajah yang memucat, serta tubuh yang berkeringat, dan tidak lupa dengan wajah cemas dan takutnya. Entah apa yang ingin dia sampaikan hingga begitu berat di lidahnya, membuat seisi kamar menjadi cemas dan mengulang pertanyaan.


"Ampun yang Mulia, pohon mutiara awan telah layu, bahkan pixie-pixie telah lelah karena kehilangan kekuatannya" ucap pengawal itu dengan kabar buruknya.


Mereka semua sangat-sangat terkejut, karena baru saja beberapa jam pohon mutiara awan sudah layu. Mereka semua panik, sebagian menjenguk pohon mutiara awan dan sebagian menjaga Queen Yura.