World Elements

World Elements
Tour



Terlihat keramaian dimana terlihat empat gadis cantik yang berumur rata-rata tujuh belas tahun : Yura (Gadis cantik yang banyak bicara, memiliki rambut panjang, hitam dan lebat dengan mata berwarna hitam) Novia pacar Ezra (gadis cantik berambut pirang panjang sebahu dengan mata berwarna coklat sedikit lemot) Diah pacar Robi (gadis cantik berambut pendek dengan mata berwarna hitam sedikit cuek) Sesilia pacar Ragil (gadis cantik berambut panjang dengan mata berwarna coklat). Tiga pemuda tampan yang berumur rata-rata tujuh belas tahun : Ezra pacar Novia (cowok tampan dan lucu) Robi pacar Diah (cowok tampan sedikit keras kepala) Ragil pacar Sesilia (cowok tampan dan keren).


Terlihat jelas di keramaian itu posisi mereka menggambarkan tepat di depan sekolah dengan sebuah bus besar yang terparkir di halaman parkir. Tak lupa dengan pemuda pemudi lainnya siap dengan tas yang melekat di masing-masing punggung mereka, namun tak semua siswa-siswi di sana membawa tas bahkan ada yang dengan tangan kosong membawa diri dengan style yang terlihat standar-standar saja.


Setengah jam telah berlalu mereka semua masuk kedalam bus untuk berangkat menuju ketempat tujuan yang mungkin sudah mereka kompromikan sejak lama. Novia duduk di samping Ezra, Diah duduk di samping Roby, Sesilia duduk di samping Ragil, Yura dan yang lainnya duduk dibelakang dengan masing-masing kesibukannya. Ada yang tidur, bermain gitar, mendengarkan lagu menggunakan headset, bercanda tawa, dan banyak lagi. Yura yang duduk sendirian di dekat pintu hanya memandang pemandangan di jalan.


Tiga jam pun sudah berlalu perjalanan masih saja panjang, hampir seluruh yang ada didalam bus itu tertidur dengan pulas menjelajahi dunia mimpi. Tiba-tiba bus itu berhenti di suatu tempat dimana banyak para wisata, di sana terdapat pantai dengan pasir putih dan air laut berwarna biru yang seirama dengan warna langit.


Perjalanan mereka belum selesai, karena tujuan mereka bukan pergi ke pantai, tapi ke pulau tersembunyi. Pak Rino menyewa dua buah kapal kecil untuk murid yang berjumlah tiga puluh tujuh siswa dan mengantarnya ke pulau tersembunyi. Didalam perjalanan mereka semua menikmati pemandangan laut biru yang Indah.


Yura yang duduk di tepi jendela kapal terus saja melihat-lihat air laut yang berwarna biru. Betapa terkejutnya, dia melihat wanita yang mengiringnya didalam air sambil melambaikan tangan dan menghilang seketika dengan menenggelamkan diri ke dalam lautan. Tentu saja melihat hal itu dia merasa terkejut sambil memasang ekspresi yang tak biasa di wajahnya, hingga memancing para sahabatnya untuk menghampirinya dengan menghujaninya pertanyaan-pertanyaan yang masih belum bisa dia jawab. Usai Yura sadar dari lamunannya yang seperti habis melihat hantu, diapun menceritakan apa yang dia lihat tadi. Tentu saja mendengar hal itu mereka tidak percaya layaknya tidak ada logika ada manusia hidup di lautan.


Mereka semua pun kembali melanjutkan keseriusannya terhadap pemandangan. Kini bukan hanya Yura yang melihat wanita itu, sekarang Novia dan Ezra juga melihatnya dan menceritakannya kepada yang lain bahwa yang di katakan Yura itu benar. Meski hal itu sudah dikatakan Novia dan Esra yang lainnya masih saja tidak percaya akan hal itu. Hingga memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan mereka dan kembali menikmati pemandangan bersama. Kali ini mereka bertujuh melihat air laut bersamaan. Untuk membuktikan hal mustahil itu, pada akhirnya mata mereka terbelalak ketika mereka melihat wanita itu mendekati mereka seperti ingin naik ke kapal. Melihat itu, merekapun berteriak meminta bantuan hingga membuat wanita itu menghilang seketika dengan meninggalkan cahaya.


Teriakan mereka mengundang amarah dari ketua kelas yang terbilang sangat sombong dengan gayanya yang sangat angkuh. Perkataannya yang sangat kasar kepada Ragil membuat mereka di kuasai emosi hingga menciptakan suasana yang menegangkan ketika kerah baju milih Ragil di tarik dengan kuat oleh Gizi yang menjabat ketua kelas mereka. Melihat yang terjadi, perdebatanpun mulai terjadi dimana mereka mencoba untuk melerai perkelahian antara Ragil dan Fizi. Hingga mengundang perempuan yang mengaku pacar dari Fizi yang bernama Fenny.


"Sayang, kamu kok mau menyentuh mereka dan berbaur sama mereka? Ayo kita pergi. Mereka itu tidak layak di sentuh, mereka hanya akan menghilangkan bau harumnya parfum kita yang mahal" ucap gadis itu dengan sombong sambil melangkah pergi menuju depan kapal.


"Dasar tu anak sok banget" sengit Ezra.


"Udah ah jangan dibahas lagi. Yang penting mereka berdua tidak beradu tinju" kata Diah.


"Eh tunggu dulu!" kata Sesil yang merentangkan tangannya. "Bukannya kita melihat wanita didalam air?" tanya Sesil sambil memandang serius ke-5 sahabat dan pacarnya.


Mendengar perkataan Sesilia, mereka bertujuh kembali melihat suasana laut untuk memastikan sosok wanita misterius itu. Sementara teman mereka yang berada didepan, sibuk dengan halnya masing-masing.


Beberapa menit kemudian, Yura, Novia, Ezra, Diah, Roby, Sesilia, dan Ragil mendengar suara sorakan didepan. Mereka semua pun memalingkan matanya melihat ke depan. Ternyata pulau tersembunyi telah berada didepan mata.


"Sayang, lihat pulau itu" kata Fenny yang duduk di samping Fizi yang di sambut dengan senyuman sok coolnya.


"Pulau ini..." kata Yura yang menggantung ucapannya.


"Apa?" tanya Diah


"Aku merasa..." jawab Sesilia yang ikut menggantung ucapannya. "Apa kalian merasakannya?" tanya Sesilia.


"Ya. Aku rasa begitu" ucap ke enam sahabatnya yang mengetahui maksud dari Sesilia.


Dua kapal yang sedari tadi berlayar kini memutuskan untuk mengakhiri kemudinya dan menjatuhkan jangkar agar kapal itu tidak terhanyut di bawa laut. Murid yang berjumlah tiga puluh tujuh siswa dua guru dan dua pengemudi kapal turun dari sana menggunakan pelampung yang muat sekitar enam atau tujuh orang.


Sesampainya di pesisir pantai dengan pasir putih, panas yang sedikit menyengat, pohon-pohon yang tertata rapi, hingga langit dan lautan membuat pulau tersembunyi itu indah. Mereka semua memasuki pulau itu lebih dalam untuk mencari tempat beristirahat.


"Ezra! Roby! Ragil!" panggil Novia, Diah, dan Sesilia yang sedikit takut sambil merangkul salah satu lengan pacarnya.


Mereka semua terus berjalan dan menemukan tanah yang sedikit lapang untuk mereka beristirahat. Masing-masing dari mereka membangun tendanya sendiri, karena mereka berencana untuk menginap di pulau tersembunyi selama tiga hari sampai tujuan mereka berhasil dan membuahkan hasil.


"Anak-anak! Dalam satu tenda muat untuk tiga Samia empat orang. Tenda berwarna kuning khusus wanita dan biru untuk pria. Mengerti!" seru Pak Rino yang berdiri diantara Tuan Riyan, Tuan Tio (pengemudi kapal) dan Bu Murni sambil dilihat serius oleh murid-muridnya.


"Karena kita menginap disini selama tiga hari, sebelumnya saya sudah mengingatkan untuk menyiapkan peralatan-peralatan memasak dan bahan-bahan makanan. Apa kalian membawanya?" tanya Bu Murni yang berdiri di samping Pak Rino.


"Sudah Bu" jawab mereka serempak.


"Team penjelajah!" panggil Pak Rino.


"Iya Pak" jawab Yura, Novia, Ezra, Diah, Roby, Sesilia, dan Ragil serempak sambil memisahkan diri.


"Team Peneliti!"


"Iya Pak" jawab Melly, Yudi, Deri, dan Ayu, serempak sambil memisahkan diri.


"Iya Pak" jawab Korin, Tasya, Kelvin, Ricky, Clara, dan Nadia, serempak sambil memisahkan diri.


"Kalian tidak lupa membawa perlengkapan kalian bukan?" tanya Pak Rino melangkahkan kakinya menuju ke tiga team itu.


Sementara Bu Murni sibuk dengan dua belas murid lainnya untuk menyiapkan makanan. Begitu juga dengan kelompok sok cool, Fizi, Fenny, Tiara, Riko, Risky, Nanda, Leo, dan Ririn, mulai menyibukkan diri.


Tiga team yang siap dengan peralatannya mulai bergegas untuk melihat-lihat disekitarnya, dengan mata yang menari-nari berharap menemukan sesuatu. Dalam beberapa menit perjalanan Team Peneliti yaitu Deri, dia menemukan sekelompok tumbuhan aneh yang menumpuk di tengah-tengah antara pohon yang sedikit tinggi.


"Team Peneliti! Lihat tanaman ini!" seru Deri yang menghentikan langkah yang lainnya.


"Sebaiknya Team penjelajah dan PMI melanjutkan perjalanan kalian, Team peneliti akan melihat tanaman yang baru saja ditemukan" seru Yudi.


"Ya kamu benar, setelah itu kita akan bertemu kembali di tenda. Ok" balas Yura.


Team Penjelajah dan PMI melanjutkan perjalanan dan meninggalkan Team Peneliti di sana. Mereka kini melanjutkan langkahnya maju kedepan dan terus berjalan tanpa team peneliti. melewati pohon-pohon yang tinggi dan sedikit luka di sekujur kaki karena semak-semak berduri.


Satu jam telah berlalu, dalam perjalanan team PMI menemukan satu tanaman obat yang sangat langkah. Hal itu membuat mereka menghentikan perjalanan mereka untuk melihat tanaman itu. Sementara dengan Team Penjelajah tetap dalam perjalanan mereka. Rasa takut sama sekali tidak dirasakan oleh ke tujuh siswa itu, melainkan rasa penasaran dan tekad yang terus berkobar. Langkah demi langkah mereka terus berjalan. Pohon demi pohon mereka beri tanda merah untuk arah pulang.


Matahari yang terik tidak membuat disekitar hutan itu panas, melainkan udara yang dingin karena pohon yang berbaris dengan rapi. Sampai di suatu tempat, terlihat sebuah Batu raksasa berbentuk pintu di antara dua pohon yang aneh. Mereka sangat pernasaran akan batu besar di hadapan mereka, hingga menarik kaki mereka untuk lebih dekat dan menerawang batu itu.


Di lokasi perkemahan...


Team Peneliti dan PMI sudah berada ditempat kecuali Team Penjelajah, karena masih berada ditengah hutan. Pak Rino, Tuan Riyan, Tuan Tio dan Bu Murni sedikit cemas karena keterlambatan Team Penjelajah kembali ke lokasi mereka.


"Sudah lah Bu, mereka murid kesayangan ibu tidak akan terluka. Bukankah mereka sudah di bekalkan ilmu!" seru Fenny dengan sengit yang tidak mendapatkan respon dari Bu Murni.


Kembali kelokasi dimana Team Penjelajah berada....


"Bukannya itu pohon?" tanya Novia dengan sifap lemotnya.


"Ya ampuuunn Ezra! Pacar kamu ini lemot banget ya, bukannya tadi sudah Ragil..." seru Yura sambil menepuk keningnya dan menggantung kata-katanya.


"Heheeee" tawa Ezra.


"Sudah-sudah, sebaiknya kita lihat lebih dekat lagi batu itu!" ajak Sesilia dengan langkahnya dan diikuti oleh sahabatnya.


Mereka bertujuh membentuk vertikal. Sebelum itu, mereka meletakkan tas yang telah di bawa sedari tadi yang sudah terasa berat di punggung mereka. Mereka terus berjalan mendekati batu raksasa yang berbentuk pintu di tengah-tengah antara dua pohon yang sama tingginya dengan batu itu.


Mereka kini sangat dekat dengan Batu itu dengan jarak satu langkah. Yura yang sedari tadi mengamati Batu itu, kini mulai mengulurkan tangannya menyentuh batu itu. Saat bertemunya telapak tangan dengan batu, tiba-tiba cahaya putih keluar dengan hawa sedingin es sehingga membuat yang lainnya terkejut.


"Cahaya?" Ucap mereka serempak.


"Aw... Dingin" ucap Yura kembali menarik tangannya.


"Yura???" tanya yang lainnya sambil menatap serius Yura dengan penuh tanda tanya.


"Aku tidak tahu dengan ini" jawab Yura sambil mengangkat kedua bahunya. "Coba kalian!" lanjut Yura.


Mendengar perkataan Yura, Novia dan Ezra mengulurkan telapak tangannya kedepan menyentuh Batu raksasa itu. Hal yang terjadi pada Yura tadi juga terjadi pada mereka berdua. Tapi cahaya mereka berbeda-beda warna. Novia berwarna pink dan Ezra bewarna abu-abu .


"Apa ini? Aku tidak mengerti" seru Novia.


"Coba kami berempat" usul Diah sambil mengajak Roby, Sesilia dan Ragil dengan masing-masing posisinya.


Mereka berempatpun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Yura, Novia dan Ezra. Pada akhirnya cahaya biru keluar dari telapak tangan Diah dan menyemburkan sedikit air, cahaya hijau keluar dari telapak tangan Roby, cahaya kuning keluar dari telapak tangan Sesilia dan cahaya ungu keluar dari telapak tangan Ragil dan merasakan sedikit panas. Mereka bertujuh terheran-heran karena cahaya yang berbeda-beda warna itu. Hingga membuat mereka sekali lagi menyatukan telapak tangan mereka secara bersamaan kebatu raksasa itu. Perlahan cahaya yang masing-masing berbeda warna itu mulai terang terus terang sangat menyilaukan. Karena cahaya yang sangat silau dan merasakan suhu yang berbeda-beda mereka hendak menarik tangannya kembali, tapi tidak kunjung lepas. Teriakan mereka mulai terdengar, sambil berusaha menarik diri seakan-akan ada yang menarik mereka dari batu tersebut, dalam hitungan detik merekapun lenyap hanya menyisakan hembusan angin.