
"deg... Deg.... Deg.... Deg...." tumpahan dara kini di lengkapi dengan perginya Yura dari sisi mereka, para ratu dan raja hanya menyaksikan para kesatria bertarung membalaskan dendam yang telah gugur terutama Yura. Tentu saja melihat sosok yang dicintainya pergi, pangeran Odin mengamuk membabi buta menyerang lawannya seakan-akan tidak terima kepergian Yura padahal penyebab di balik itu adalah dia dan adiknya yaitu Putri Olin.
Kepergian Yura membuat suasana World Elements menghilang dan leyap, matahari meredup layaknya gerhana matahari dengan di hiasi darah segar, mayat yang berserakan, dan desingan pedang. Tiba pada serangan yang pangeran Clard terima membuatnya terbanting mendekati Yura. Surai emas yang melambai dengan tubuh hitam yang mematung tak bernyawa, melihat itu mata pangeran Clard berlinang air mata dan mencium kening Yura hingga tetesan air matanya mengenai lambang permata di dahi Yura. Setelah kecupan itu berakhir pangeran Clard bangkit dari baringnya dan melanjutkan pertarungan.
Air mata milik pangeran Clard tidak di sangka meresap dan sedikit mengeluarkan cahaya merah. Cahaya merah itu kembali bersinar dengan rangkaian emas bergabung membuatnya jadi sempurna, perlahan cahaya itu mengangkatnya ke udara semuanya terkejut hingga membuat pertarungan berhenti melihat aksi yang ada di depan mata. Terlihat cahaya emas dan merah itu mengelilingi tubuh Yura dengan cepat sangat cepat hingga menutupi seluruh tubuhnya, hingga pada akhirnya mengeluarkan suara ledakan manik-manik emas dan hilangnya Yura. Ledakan cahaya itu membuat hujan manik-manik emas yang indah menguburi mayat yang berserakan, memperbaiki yang rusak, menghidupkan tanaman yang mati, menyembuhkan yang terluka, hingga menambah energi mereka.
Rasa akan tidak percaya membuat mereka semua ternganga dan bahkan ada yang menangis, hingga lemas tak berdaya menghempaskan lutut ketanah.
"Yura" gumam pangeran Clard dengan rasa bersalah.
Kemarahan Pangeran Odin melenyap seketika tanpa suara mereka tertunduk lemas, tidak ada satu katapun keluar dari bibir mereka dua sisi merebutkan sosok Yura, satu sisi para elementer menginginkan world elements ini selamat dan di sisi lain pangeran Odin ingin menguasai World elements berada di genggamannya. Angin yang pelan kini bertiup kencang, debu pasir kini menaik ke atas, awan menjadi gelap, petirpun mulai bersahutan. Bahkan world elementspun tidak mengikhlaskan kepergian Yura.
Suara mengerikanpun mulai terdengar dari ujung dunia, pelarian burung seperti akan terjadi bencana alam, fairys dan meids mungil kini berlindung di tubuh yang lebih besar dari mereka. Di tengah-tengah badai dimana terlihat khawatir kini membulatkan mata ketika sisa manik-manik emas yang berserakan ketanah kini melayang ke udara dan berkumpul menjadi satu membentuk manusia layaknya seorang perempuan. Manik-manik itu bercahaya sangat terang hingga menyilaukan dan kemudian menghilang seketika.
"tak... Tok... Tak... Tok" terdengar suara langkah di antara kesunyian membuat badai berhenti. Matapun mengarah ke arah sumber suara dan mendapati sosok gadis serba emas dengan sayap di pundaknya, dan sebuah benda bulat berwarna emas di bagian atas kepalanya layaknya seorang angel. Langkah kaki gadis itu terhenti ketika berada di ambang antara kebaikan dan kebatilan.
"Yu-yura" gumam mereka melukiskan senyum di sudut bibir mereka.
"Yura" panggil Pangeran Odin bahagia dengan langkah kaki menujunya.
Tangan Yura bergerak tak lupa cahaya emas yang menyelimuti tangannya dan mengarahkan kekuatan itu kearah pangeran Odin hingga membuatnya melayang ke udara dan terhempas sangat kuat.
"Aku bukan Yura! Tapi aku Storm. Aku adalah penguasa di dunia ini, kalian sudah memperbudak ku sebelumnya, menarik ku ke sana sini membuat ku terombang ambing dan sekarang aku akan membuat kalian bertanggung jawab atas kesalahan kalian" ucapnya dengan ribuan suara yang ramai padahal dia sendiri. "yang telah terjadi harus dipertanggungjawabkan" lanjutnya bergema dengan ribuan suara.
Yura memerangi Pangeran Odin dan Putri Olin, pertarungan mereka sangat dahsyat karena kekuatan mereka bertiga dapat dikatakan sama rata karena Yura telah memberi kekuatannya. Pertarungan mereka membuat world elements hancur dengan tanah yang tidak merata, badai dimana-mana pertarungan pedang, dan elements telah terbentuk di antara mereka bertiga.
Desingan pedang, ledakan kekuatan, kini bercampur aduk. Yura mengeluarkan semua senjata sakti milik elements storm, dengan tangan yang tiba-tiba menjadi banyak atas bawah semuanya. Mata tatapan tajam dengan ambisi membunuh, raut wajah yang benar-benar marah, bahkan pangeran Odin dan Putri Olin sesekali melarikan diri ke ujung dunia, tapi Yura masih bisa mengejar dan memuaskan dirinya yang penuh emosi.
Puncak pertarungan menjadi menegangkan saat Yura menjadi banyak (3 kali lipat), saat suara tusukan pedang terdengar mereka semua memandang ke arah tersebut ternyata lagi-lagi dada Pangeran Odin tertusuk pedang anti Dark, dimana pedang itu menyerap energi bangsa dark ketika mengenai mereka. Tak lupa dengan darah segar yang pangeran Odin muntahkan di ikuti dengan tetasan air matanya.
"Yu-yura, kamu te-telah merusak cinta suciku. Aku memang terlahir dari bangsa dark tapi setidaknya ci-cintaku ini murni" ucapnya dengan tetesan air mata.
"cintamu penuh dengan kebohongan, cintamu penuh dengan ketamakan akan kekuasaan apa itu dinamakan suci?" tanya Yura sambil memutarkan pedang yang menancap di dada pangeran Odin.
Pedang itu adalah pedang pembasmi bangsa dark di buat khusus oleh bangsa angle untuk memusanahkan kebatilan, tapi saat bangsa angle tidak lagi di world elements karena bangsa angle telah berpindah alam karena tugas-tugas mereka maka kebatilanpun semakin tumbuh bahkan pedang anglepun ikut hilang dan kembali muncul sekarang berada bersama Yura, entah dimana dia mendapatkannya tapi dia sekarang storm yang sempurna.
Pedang yang tertancap di dada Pangeran Odin kini di tarik Yura, dan mendorong pangeran Odin hingga terbanting jauh darinya. Melihat sang kakak tak berdaya putri Olin pun mengahmpirinya.
"kakak" panggilnya hingga berderai air mata. "kak, bertahanlah"ucapnya sambil meletakkan kedua telapak tangan miliknya ke arah luka Pangeran Odin mencoba untuk menyembuhkan kakaknya.
Pedang yang berlumuran darah itu, Yura putar dan pergi menuju Putri Olin menggunakan elements elektriknya, dengan sekejap dia sudah berada di belakang putri Olin. Mata yang berlumuran air mata menatap tajam kearah Yura, pedang ditangan mulai di ayun dan mengarahkan ke Putri Olin tapi serangan itu meleset karena Putri Olin terlebih dahulu menghindar. Putri Olin menggunakan bayangannya untuk mentransferkan kekuatan kakaknya ketubuhnya agar lebih kuat hingga dapat mengalahkan Yura. Asappun mulai bermunculan di tubuh Pangeran Odin dan disusuli percikan api hingga mengubahnya menjadi debu, debu itu Putri Olin ambil menggunakan kekuatannya dan memasukannya kedalam peti ajaibnya.
"aku tidak akan membiarkanmu hidup Yura" teriak Putri Olin.
Pertarungan pedang kembali terjadi, serangan demi serangan terlempar, hingga pada akhirnya putri Olinpun berlumuran darah tak berdaya duduk di tanah. Langkah Yura semakin dekat padanya dengan pedang di tangannya. Tepat berada di depan Putri Olin di paksa berdiri dengan kondisi yang sangat layak dia dapatkan. Rambut hitam miliknya mulai ditarik agar dia berdiri menghadap Yura.
"dimana kekejamanmu, keganasanmu, dan kesombongan mu?" tanya Yura kembali menghempaskan tubuh putri Olin ketanah.
"ini pembalasan mereka yang telah tiadaaaa..... Srik" ribuan vairy dengan pedangnya menancap keseluruh tubuh Yura karena Putri Olin menggunakan pengendali darah ke mereka, mereka semua digunakan untuk melindungi dirinya yang tidak berdaya.
Satu persatu vairy mati karena efek dari pengengendali darah, melihat itu Yurapun membuat bayangan dirinya menjadi lima kali lipat. Serangannya kini di lima penjuru telah berdatangan satu persatu bayang telah musnah dan pada akhirnya sebuah anak panah emaspun tertancap pada perut Putri Olin hingga membuatnya terjatuh lemas.
"kamu tidak akan bisa menghindari mautmu sekarang" ucap Yura sambil mengangkat pedangnya. Tiba-tiba Putri Olin menghilang meninggalkan asap hitam dan tidak bisa di lacak keberadaannya.
"Yura" panggil mereka sambil berlari kecil menghampiri sosok Yura.
Mata emas Yura kini berlinang hingga tak ditahan lagi membuat pipinya basah. Karena kekuatan besar telah dia keluarkan pandangan Yurapun mulai tidak stabil dan terjatuh tepat dipelukan Pangeran Clard.
"Yura... Yura..." panggil mereka panik.
"sebaiknya kita bawa dia ke istana Zenna dia sepertinya kelelahan setelah seluruh tenaganya terkuras" usul Queen Tara.
***
Senyum kembali menghiasi world elements, udara di sana menjadi berbeda dan menyegarkan, wewangian bunga segar telah terhirup sedap di indera penciuman mereka, para kesatria berada tepat di sebuah ruangan yang sangat besar menunggu seorang gadis yang terbaring di tempat tidur, sudah 2 hari tidak sadarkan diri.
Kerutan pada kening gadis emas itu mulai terbentuk hingga di susuli mata yang sesekali berkedip dengan perlahan melihatkan mata berwarna kuning emas. Satu persatu dia lihat di sekelilingnya terdapat pangeran Odin, Ezra, Roby, Ragil, Novia, Diah, dan Sesilia. Rindu yang tidak tertahankan membuat para wanita menaiki ranjang yang empuk dan memeluk Yura.
"Vera, maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu berpisah dengan kakakmu" ucap Yura memeluk Vera dengan sangat kuat.
"tidak Yura, kamu tidak perlu meminta maaf, ini sudah takdirnya" balas Vera yang dengan sifatnya.
"dimana Clard?" tanya Yura yang sejak tadi mencari pemuda merah itu.
"Clard di utus Ibu dan elementer untuk memperbaiki world elements dan kami di utus menjagamu" jawab Pangeran Dilon.
"oohh begitu" jawabnya singkat.
Mereka semuapun beranjak di tempat tidur menikmati kemenangan dan melupakan kesedihan, tawa telah mengiasi wajah penduduk mereka semua juga mendapatkan hormat para penduduk karena telah memenangkan kebenaran.
Kemenangan itu membuat Queen Tara mengundurkan diri dari jabatannya dan menobatkan para kesatria menjadi raja dan ratu di periode berikutnya. Tepat malam nanti acara penobatan akan diadakan. Pangeran Clard yang mendapat pesan dengan cepat kembali menggunakan teleportnya. Satu senyuman lagi dia dapatkan dari Yura.
"Clard" panggil Yura sambil berlari kecil membuat gaunnya menari kesana kemari begitu juga dengan rambut emas yang dia biarkan terurai dengan style kiriting gantung. Tepat berada di depan pangeran Clard menahan rindu hingga air matapun tak terasa jatuh. Melihat itu, Pangeran Clard langsung memeluk Yura dan membelai kepala Yura.
"Apa kamu baik?" tanya Pangeran Clard.
Saat Yura hendak menjawab diapun dihentikan oleh para lelaki yang termasuk sahabatnya juga menyambut kedatangan Pangeran Clard. Walaupun begitu pangeran Clard sempat memegang pipi Yura dan tersenyum kepadanya. Sudut bibir Yurapun terangkat, sayapnya mulai melebar sambil memegang pipinya yang dipegang Pangeran Clard tadi. Senyumannya tidak hilang dan berlari keluar istana sendirian.
"hey Yura mau kemana" teriak mereka yang ditinggal pergi oleh Yura.
Langkah Yura semakin laju dan membentuk sayap di pundaknya membawanya melayang keudara, terbang kesana kemari dan menyeburkan dirinya kelaut, kaki putihnyapun mulai bersisik dan berubah menjadi ekor. Kepakan ekornya membawanya ke arah istana piston sea.
"Ibu....." panggilnya tanpa jawaban langsung memeluk ibunya. "malam ini datang ke daratan yaaa daaaaaaa" ucapnya mengecup pipi Queen Gloraris dan kembali pergi.