
Kembali ke bumi...
"Yuraaaa... Novia... Ezra... Diah... Roby... Sesil... Ragil..." teriak Pak Rino dan yang lainnya.
"Pak hari sudah semakin malam sudah jam 9, mustahil kita menemukannya di hutan yang gelap ini" seru Bu Murni.
"Iya Pak. Lagi pula kita memiliki waktu 2 hari kedepan untuk menemukan mereka. Kita harus memikirkan murid-murid bapak yang sekarang ini" sambung Tuan Tio.
Mereka semuapun memutuskan untuk menghentikan pencarian untuk malam itu dan kembali ke markas tempat mereka membangun tenda.
Mereka semua sangat khawatir terhadap hilangnya team penjelajah.
"Ya... Gue harap sih tu anak gak bakalan ketemu" seru Fizzi yang duduk disamping Fenny yang menghadap api unggun.
"Ya bener kata lu Zi. Udah ngilang malah nyusahin" sambung Riko dengan sengit.
Hening. "Krik krik krik". Suara jangkrik yang terdengar.
"Tu anak bukannya minta yang baik-baik malah keburukan" kesal Melly yang duduk didekat tenda sambil menguping pembicaraan anak terkenal karena nakalnya di sekolah.
"Iya... Entah apa yang terjadi pada mereka? Aku harap mereka baik-baik saja" ucap Yudi.
"Udah ah... Masuk yuk" ajak Ayu yang mulai kedinginan.
Ayupun masuk ke tenda dan di susul oleh Tasya.
"Eh mereka malah masuk" seru Deri. "Lo gak ikut masuk Mel?" tanya Deri yang ditatap tajam Yudi karena Melly adalah pacarnya.
"Ah lu. Udah ah mending gue masuk" kesal Melly yang di tinggal teman-temannya.
"Mel... Mel... Ah lu Der. Dari pada kayak gini gue masuk juga ah. Lu mau masuk gak?" tanya Yudi sedikit kesal yang berdiri di depan tenda tepatnya di samping tenda Melly, Ayu dan Tasya.
Dengan wajah kusut mereka masuk ke tenda dan melihat seorang pemuda yang sedang membaca buku.
"Eh kalian udah masuk" seru Ricky yang tak mendapatkan jawaban dari Yudi dan juga Deri. "Eh kalian kenapa?" tanya Ricky yang melihat Yudi dan Deri mengambil posisinya.
"Lo bisa diem gak!" bentak Yudi dan Deri.
"Huuuufftt..." Ricky menghela nafas karena melihat tingkah kedua temannya.
Satu persatu yang diluar tenda masuk ke tenda masing-masing karena tidak tahan dinginnya hutan disekelilingnya.
Hutan kembali gelap karena cahaya lampu di masing-masing tenda telah di matikan. Kecuali api unggun yang masih menyala pada posisinya.
***
"Kalian sudah selesai?" tanya Queen Ororo yang berada di posisinya saat di meja makan.
"Ya yang Mulia" jawab mereka serempak.
Secara bersamaan mereka meninggalkan meja makan dengan perut yang sudah berisi.
Yura mencoba untuk menenangkan pikirannya dengan berkeliling didalam istana dan menemukan ruangan yang belum pernah Queen Ororo atau yang lainnya memberitahu mereka.
"Ruangan apa ini?" gumam Yura yang mulai masuk membuka dan menutup pintu ruangan itu. "Gelap sekali?"
Yura menerawang dinding-dinding ruangan itu berharap menemukan saklar lampu.
"Ah ini dia" ucapnya yang menemukan saklar.
"Tak" suara saklar yang di tekan.
"Wow ruangan ini penuh dengan buku" kagum Yura.
Saat Yura melangkah maju, tiba-tiba dia terjatuh karena tersandung jubahnya sendiri dan tidak sengaja melihat sebuah kertas yang berada di bawah lemari tepatnya disampingnya. Tanpa berfikir panjang Yurapun mengulurkan tangannya dan mencapai kertas itu.
"Nah dapat"
Yura mulai meniup-niup dan membersihkan kertas itu karena sedikit berdebu.
'Storm yang berasal dari bumi, dia memiliki separuh dari kekuatan kegelapan yaitu Dark. Jika pada bulan purnama dia bertemu bangsa Dark, maka otomatis separuh dirinya akan berbentuk iblis. Cinta sejati akan membantunya untuk mengontrol iblis yang ada dalam dirinya. '
"Kenapa gue bisa baca dan mengerti tulisan di kertas ini ya?" batin Yura. "Tapi sepertinya kertas ini menyindir gue" gumamnya bingung. "Disini tertulis halaman 1785. Pasti kertas ini telah sobek dan menghilang dari bukunya. Gue harus mencari kebenaran dan kepastian tentang ini"
Yurapun mulai mencari buku yang sangat tebal. Di lemari buku dia hanya dapat menemukan buku yang dengan halaman ratusan lebar tidak melebihi itu.
Keringat yang membasahi tubuhnya, panas dan juga berputus asa.
"Yura..." teriakan seorang wanita yang terdengar dari luar.
"Oh tidak itu sepertinya suara ibu" gumamnya sambil melipat selembar kertas yang dia dapatkan di bawah lemari dan menyimpannya tepat disaku kanan.
Dengan hati-hati tanpa sepengetahuan dia keluar dari ruangan itu.
Langkah yang tergesah-gesah dia menuju kekamar. Tiba di kamar dia melihat Queen Ororo yang berdiri di depan jendela.
"Kamu dari mana Yura? Kami semua sangat khawatir padamu?" tanya Queen Ororo memalingkan tubuhnya.
"Aku... Aku... Tadi... Anuuu..." jawab Yura terbatah-batah.
"Sudah lah sebaiknya kamu istirahat" ucap Queen Ororo mengecup kening Putrinya.
Yura menghela nafas saat melihat pundak Queen Ororo yang semakin jauh dan tak terlihat lagi saat di balik pintu.
"Huuufffttt... Hampir saja"
Yurapun kembali mengeluarkan kertas yang berada di saku kanannya. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan maksud dari kertas yang dia pegang saja, dia tidak tahu.
Sampai muncul di pikiranya untuk menanyakan soal kertas ini kepada Pangeran Clard, karena dia juga bagian dari kerajaan Viore itu.
Langkah demi langkah dia melewati lorong dengan berjinjit agar semua orang tidak mengetahui bahwa dia ingin ke kamar Pangeran Clard.
Tiba di pintu kamar Pangeran Clard. Yurapun menerawang disekelilingnya dan tidak menemukan siapapun. Tanpa berpikir panjang dan mengetuk pintu dia menerobos masuk sehingga membuat Pangeran Clard terkejut.
"Yura? Apa yang kamu lakukan?" tanyanya bingung.
"Ssssssstttt" Yura meletakan jari telunjuk tepat di bibirnya menandakan diam. "Sebelumnya maafkan aku telah masuk ke kamar mu tanpa mengetuk dulu, tapi ini sangat penting" sambung Yura dengan suara yang sedikit pelan.
"Mengapa kamu berbisik-bisik gitu?" lagi-lagi Pangeran Clard bertanya dengan nada sedikit keras atau bisa di bilang seperti biasanya.
"Ssssssttt... Pelan-pelan. Coba lihat ini" kata Yura sambil memberikan kertas.
"Apa ini?" Pangeran Clard kebingungan.
"Aku mendapatkan kertas itu di ruangan rahasia yang terletak di bawah tangga. Saat aku berada di dalam ruangan itu...." jawab Yura menjelaskan panjang lebar.
"Kertas ini? Aku tidak tahu apa maksudnya, dan ruangan yang kamu ceritakan bahkan aku tidak tahu jika ada ruangan rahasia di bawah tangga" jawab Pangeran Clard merenungi kertas yang ada di tangannya karena tidak bisa mengerti atau membacanya.
"Apa? Kamu tidak bisa membacanya?" kaget Yura. "Arti dari tulisan itu adalah 'Storm yang berasal dari bumi, dia memiliki separuh dari kekuatan kegelapan yaitu Dark. Jika pada bulan purnama dia bertemu bangsa Dark, maka otomatis separuh dirinya akan berbentuk iblis. Cinta sejati akan membantunya untuk mengontrol iblis yang ada dalam dirinya.' itu yang tertulis di kertas ini. Tapi mengapa kamu tidak mengerti?" Yura tanya balik.
"Sudahlah, sebaiknya kita ke ruangan itu sekarang" ajak Pangeran Clard sambil menarik pergelangan tangan Yura.
Dengan tergesah-gesah mereka berdua berlari menuju ruangan rahasia di bawah tangga yang belum dia ketahui selama ini.
Tiba di bawah tangga, Yura pun kembali memimpin jalan menuju pintu masuk.
"Cklek" suara pintu yang telah di buka Yura.
"Yur, di sini gelap" keluh Pangeran Clard.
"Ayo kesini" ajak Yura yang menarik tangan Pangeran Clard.
"Tok" suara saklar, ruangan itu pun kembali terang.
"Benar-benar aku sama sekali tidak tahu dengan ruangan ini" gumam Pangeran Clard.
"Ya sepertinya ruangan ini memang sangat di rahasiakan" jawab Yura yang mendengar gumaman Pangeran Clard. "Sebelum aku menemukan buku itu, Queen Ororo memanggilku. Sekarang kita harus mencarinya"
Mereka berdua pun mulai mengutak-atik seisi ruangan itu. Al hasil tidak menemukan apa pun.
"Gimana?" tanya Yura.
"Tidak"
Karena merasa lelah, merekapun memutuskan untuk duduk beristirahat di sofa.
"Apa sebaiknya kita beritahu yang lainnya?" tanya Pangeran Clard.
"Tidak perlu" jawab Yura yang menemukan sebuah tombol di dekat lemari.
Dengan cepat dia pun menekan tombol itu. Perlahan lemari itu terbelah menjadi dua dan melihatkan sebuah lemari yang sangat kecil.
"Apa itu?" tanya Pangeran Clard.
Perlahan lemari itu di buka dan melihatkan Sebuah buku yang sangat tebal dan bola pelangi dengan 10 warna.
Mereka berdua saling melempar tatapan tanda tanya.
Buku yang sangat tebal itu di ambil Yura dan bola pelangi di ambil Pangeran Clard.
Yura yang memegang buku itu pun mulai membukanya pada halaman 1786.
***
"Yu... Ra... Loh Yura kemana malam-malam gini?" gumam Novia yang baru saja masuk ke kamar Yura dan tidak melihat siapa-siapa disana. "Apa dia ke kamar Diah ya?"
Noviapun berlari menuju kamar Diah.
"Tok-tok-tok... Diah?" panggil Novia yang berada di luar kamar langsung masuk tanpa izin. "Diah, Yura mana?" tanya Novia to the point.
"Yura? Di kamarnya mungkin" jawab Diah simple yang sibuk membaca buku.
"Gak ada... Gue barusan ke kamarnya, gue pikir Yura ke kamar lo"
"Ha kok bisa? Semalam ini? Kita tanya yang lain aja yuk!" ajak Diah.
"Ezra?" gumam mereka berdua yang melihat Ezra di luar kamar.
"Kalian mau ke mana?" tanya Ezra.
"Kita mau nyari Yura, Yura gak ada di kamarnya" jawab Diah. "Oh iya, Roby mana?"
"Kita ajak yang lain juga yuk, buat nyari Yura" kata Novia.
***
"Jadi... Aku..." gumam Yura setelah membaca 1784-1786.
"Yura? Ada apa? Apa isi buku itu?" tanya Ezra yang kebingungan karena tidak tau apa-apa.
Yura pun menarik nafas yang sangat panjang dan menceritakan apa yang telah dia baca di buku itu.
***
"Ssssttt..." Ragil menyuruh teman-temannya diam saat berada di ujung tangga. "Apa kalian mendengarnya?" tanya Ezra yang mendengar sesuatu.
Novia, Ezra, Diah, Roby, dan Sesilia mencoba untuk mendengar apa yang telah Ragil dengar dan mencari sumber suara itu.