
Di keramaian. Di mana terdapat para penduduk berambut perak menyibukkan dirinya masing-masing dengan membeli sesuatu yang di butuhkan dan menjual sesuatu.
Kesibukan mereka terhentikan saat melihat 7 orang dengan pakaian kerajaan dengan warna rambut yang berbeda-beda yang terdiri dari 4 pemuda dan 3 gadis. Mereka mendapatkan sorotan akibat warna rambut yang mereka miliki, yaitu ke-7 warna rambut yang di miliki ke-7 elemen yang berbeda-beda itu telah lama hilang. Bukan hanya warna rambut, lambang di dahi mereka juga mengejutkan penduduk desa berambut perak itu.
"Mereka kenapa?" tanya Novia bingung.
"Mereka sepertinya terkejut melihat kedatangan kita di sini dengan membwa kabar baik dari masing-masing elemen yang kita miliki" jawab Ezra.
"Permisi Tuan, kami dari kerajaan viore di kirim dari Queen Ororo. bisakah tunjukan kami kemana arah istana bangsa Frozen?" tanya Diah sangat sopan.
"Apa kalian para kesatria itu? Apa elements lainnya bersama kalian?" tanya lelaki yang di tanya Diah sebelumnya.
"Tentu saja, ke-7 elements aman di sana bersama pasukan dan rakyat" jawab Pangeran Clard dingin tentu saja tanpa ekspresi.
"Lurus saja, kalian akan menemukan gerbang istana Zenna" jawab wanita paruh baya yang berada di belakang mereka.
Tidak lupa akan kata terima kasih dari mereka dan kemudian melanjutkan langkah kaki mereka menuju istana Zenna.
"Kalau tidak salah, Pangeran berambut merah itu, dia Putra dari King Jackson keturunan element fire" kata salah satu penduduk.
"Ya, itu benar sekali"
Dua bangunan selebar 35cm di sisi kiri dan kanan. Tidak lupa akan bagian pintu gerbang di antara bangunan itu dan di dampingi pagar yang terbuat dari es, ya tentu saja es abadi atau es yang tidak dapat meleleh. Pagar es itu sengaja di buat agar para penyusup tidak dapat melewatinya karena terdapat pelindung yang barang siapa yang menyentuhnya akan membeku tidak akan dapat mencair tanpa bantuan dan kebaikan dari Queen Tara Crossiana.
"Biarkan kami masuk! Kami ingin bertemu dengan ratu kalian" tegas Pangeran Clard yang di turuti dua pengawal di depannya.
Langkah mereka dengan bersamaan memasuki area kerajaan. Begitu juga dengan liontin yang ada pada Sesilia, liontin itu bersinar menandakan bahwa orang yang mereka cari selama ini berada dalam istana Zenna.
"Yura berada di sini, lihat liontin ini! Dia memberitahukan kita" ucap Sesilia saat melihat liontin miliknya bersinar.
"Sepertinya kamu benar, ku harap kita benar-benar menemukannya" balas Pangeran Clard memalingkan pandangannya dari Sesili ke istana Zenna.
Setiap langkah mereka menuju istana di sambut dengan tatapan mengagetkan dari awak istana, begitu juga dengan Langkah mereka yang di buntuti oleh prajurit/pengawal istana di belakang mereka. Bisikan dari prajurit yang mengagumi mereka mulai terdengar di indra hingga membuat mereka merasa nyaman dan aman.
Langkah merekapun terhentikan saat melihat tangga yang terbuat dari es di depan mereka dengan jarak 1 meter kedepan. Di ujung tangga terdapat 4 pengawal di masing-masing bagian sudut tangga.
"Silahkan yang mulia" ucap prajurit itu dengan sangat sopan kepada pahlawan mereka.
Tepat di depan pintu istana seorang wanita yang mengenakan mahkota es di bagian kepala yang di iringi dengan pemuda perak yang berada di sisi kanannya, gadis emas dan gadis coklat. Gadis biru dan pemuda coklat di sisi kirinya.
Pertemuan ini menjadi catatan besar di seluruh kerajaan World Elements, karena kembalinya persatuan suku element yang terpisahkan dan berbagai keturunan bangsa yang berbeda. Bagian yang sangat pentingnya lagi adalah bersatunya kesatria-kesatria yang telah di ramalkan atau di takdirkan menjadi pelindung dan penyelamat makhluk hidup di sana.
"Perkenalkan, aku namaku Clard Jackson Fire" ucap Pangeran Clard sedikit menghormat dengan tangan di bagian depan perut yang langsung di kenali oleh wanita Perak dengan mahkota di kepalnya.
"Aku Novia Pinkki Clarice Blink" kata gadis berambut Pink.
"Aku Ezra Calvin Ranking Air" kata pemuda berambut abu-abu.
"Aku Diah Claudia Aqua" kata gadis berambut biru.
"Aku Roby Glend Alexander Plant" kata pemuda berambut hijau.
"Aku Sesilia Irridesa Sun Light" kata gadis berambut biru.
"Dan Aku Ragil FitzherBert Electrik" kata pemuda berambut ungu.
Usai perkenalan pemuda dan pemudi dari kerajaan Viore, ratu dari kerajaan itupun membalas perkenalan mereka.
"Aku Queen Tara Crossiana Sahabat dari ayah dan ibu kalian semua" kata wanita bermahkota itu.
"Aku Dilon putra dari Queen Tara" kata pemuda Perak yang termasuk 1 di antara 10 kesatria.
"Aku Vera dari kerajaan Jochas yang di pimpin oleh raja Reggie" kata gadis berambut coklat yang termasuk dari 1 di antara 10 kesatria.
"Aku Kenny bangsa mermaid putri dari Queen Gloraris Meldi sea" kata gadis berambut biru.
"Dan Aku Aries, Putri dari 4 kerajaan tertinggi di daerah ini" ucap gadis emas yang mendapatkan lototan dari ke-6 Sahabat Pangeran Clard.
Angin yang menghembus membuat rambut mereka sedikit melayang-layang dan memperlihatkan tanda-tanda di dahi para kesatria. Begitu juga dengan Aries, tanda di dahinya mengagetkan ke-7 orang tadi.
"Kamu Storm yang sangat sempurna, bahkan kamu memiliki lambang di dahi mu. Apa kamu juga salah satu dari kami?" tanya Novia.
Tiba-tiba saja, Aries tidak sadarkan diri dan terjatuh di pelukan Pangeran Clard yang berada Tepat di depannya. Mereka semua panik melihat Aries yang tiba-tiba saja pingsan.
"Yura? Dia seperti Yura" batin Diah.
***
"Aries? Aku melihatnya, dia itu seperti Yura kami. Apa benar dia Yura? Tapi jika benar dia, mengapa dia? Oh Tuhan bantu kami. Bahkan dia juga Storm" batin Diah yang merasa Aries adalah Yura.
"Dear? Apa yang kamu fikirkan?" tanya Roby yang melihat Diah merenungi Aries yang terbaring di tempat tidurnya.
"Hm? Tidak" jawab Diah.
"Lihat dia! Wajah polosnya? Dia seperti Yura bukan? Hanya saja penampilan dan wajahnya yang berbeda. Saat Yura meninggalkan kita, dia berambut putih bukan emas." kata Roby mengatakan apa yang ada di fikirannya.
"Ya... Sepertinya apa yang kamu fikirkan sama denganku" jawab Diah.
Semua orang, maksudku orang terpenting istana beserta ke-7 orang dari istana Viore berada di dalam kamar Aries menunggu kesadarannya. Sementara Pangeran Clard masih terjebak dalam rangkulan tangannya kepada Aries, akibat beberapa aksesoris jubah milik mereka saling mengait dan sulit di lepaskan. Begitu juga dengan liontin Sesilia yang bersinar tiada redup di kamar itu.
"Aku merindukanmu Yura, di mana kamu? Aku sudah lelah mencarimu kemana-mana. Dan ini, ini adalah tempat terakhir, wilayah terakhir pencarianku. Jika aku tidak menemukanmu, aku tidak tahu lagi harus berbuat apa? Kunci teleport berada padamu untuk mengembalikan teman-temanmu ke Bumi" batin Pangeran Clard sambil merenungi sosok Aries yang terbaring di depannya.
"Clard?" panggil seseorang di fikiran Pangeran Clard.
"Yura? Apa itu dia?" batin Pangeran Clard menerawang seisi kamar milik Aries yang hanya memperlihatkan ke resahan semua orang.
"Clard, ini aku. Aku tidak kemana-mana, aku di sini. Hanya saja aku belum tahu arah untukku pulang. Saat ini aku tersesat. Temukan aku secepatnya Clard, bantu aku, bantu aku, bantu aku, bantu aku..." kata gadis yang berbicara di fikiran Pangeran Clard.
Matanya kembali menerawang seisi kamar, barangkali melihat sosok Yura disana. Pandangannya terhenti saat melihat semuanya mengarah pada dirinya, sepertinya bukan melihat dia, melainkan melihat sang gadis emas yang bernama Aries yang mulai sadar. Lagi-lagi pemuda yang tanpa ekspresi itu melihat ke arah Aries.
Perlahan Aries membuka matanya dan memberi respon pada pergerakan tanggannya ke arah kepala. Jika di lihat-lihat, sepertinya kepala Aries kembali sakit sebelumnya tanpa mereka semua ketahui.
Saat mata yang sepenuhnya terbuka, Aries di kagetkan saat pandangannya bertepatan dengan pandangan Pangeran Clard. Tatapan mereka berlangsung selama sekitar kurang lebih 10 detik saat Putri Kenny memanggil Aries.
"Kakak, tenanglah, aku baik-baik saja" ucapnya mencoba untuk menghilangkan kekhawatiran dari sosok kakak angkatnya.
"Ehem... Maaf, aksesorismu menjebakku Aries" seru Pangeran Clard memotong pembicaraan Putri Kenny dan Aries.
"Oh, maaf. Maafkan aku. Aku akan melepaskannya" ucap Aries tulus dan mencoba melepaskannya. "Siapa dia? Pemuda ini membuatku sakit" batin Aries.
Malam hari...
Setelah semuanya makan malam, mereka berkumpul di mana tempat khusus untuk orang penting istana bersantai maupun mengobrol tentang sesuatu yang membelok dari kerajaan. Di sana mereka membagi cerita dan sedikit mulai akrab. Mereka saling memperlihatkan sedikit dari atraksi element mereka. Di sana mereka yang berjumlah 12 orang tertawa dan bercanda. Hal itu membuat mereka semakin akrab dan mulai menjadi teman dan juga Sahabat.
"Oh iya, guys aku mau ke luar sebentar" ucap Aries langsung menghilang menggunakan teleport.
Di suatu tempat dimana sebuah ombak terdengar sangat jelas, angin malam yang sangat dingin mulai menyelimuti tubuh pemuda berambut hitam itu yang sejak tadi menunggu seseorang yang akan datang. Tatapan yang lurus ke depan kaki yang basah terkena ombak pantai tidak membuatnya menyerah akan pemamtiannya malam itu. Hingga lamungannya goyah ketika seorang gadis memanggilnya dari belakang pundaknya. Sudut bibir pemuda itu mulai terangkat dan berpaling ke arah gadis itu.
"Yu... maksudku Aries, akhirnya kamu datang" ucap pemuda itu menghampirinya.
"Maaf kerena menunggu terlalu lama" ucap Aries. "Duduklah, aku sangat senang melihat ombak malam karena ingin mencari teka-teki masa laluku yang telah hilang di benakku" sambung Aries. "Aku ingin mengatakan sesuatu aku tertarik padamu, tertarik akan masa laluku. Aku rasa aku bisa mendapatkan ingatanku kembali bersamamu dengan memulai persahabatan. Apa kamu?" Ucap Aries sambil mengacukan jari kelingkingnya.
"Ya, tidak masalah" jawab Pangeran Odin menautkan jari kelingkingnya.
"Tapi, hal ini harus di rahasiakan. Aku tidak ingin mereka tahu tentangmu. Jangan tanyakan alasannya" ucap Aries menyenderkan kepalanya ke pundak Pangeran Odin.
Malam itu adalah malam pertama, dimana mereka memulai persahabatan dengan saksi ombank laut, pasir putih, air asin, bulan, bintang, pohon-pohon bahkan Tuhan. Persahabatan itu di rahasiakan hanya Aries yang tahu, bahkan Pangeran Odin sendiri tidak mengetahuinya.
Malam semakin dingin, membuat pertemuan mereka berakhir dan pulang ke tempat mereka masing-masing. Salam perpisahan dan lambaian tangan, itu yang mereka lakukan. Hanya saja Pangeran Odin sepertinya tidak begitu senang karena ikatan persahabatan. Dia menginginkan lebih dari Sahabat, namun Aries tidak mengetahuinya. Perasaan itu dia rahasiakan untuk sementara bila ada saatnya di akan mengutarakan isi hatinya.