World Elements

World Elements
war



Arena pertarungan di buat oleh Diah dengan Element Aquanya dan di bantu oleh Yura menggunakan element yang sama. Arena itu mereka berdua bentuk lingkaran yang di dalamnya terdapat Pangeran Clard dan Tuan Gara, dan di batasi dengan air, di mana nantinya akan menjadi kekalahan bagi mereka yang menyentuh air itu.


Pertarungan akan segera di mulai, Pangeran Clard telah siap pada posisinya dan tidak lupa dengan pedang kemampuan elementnya, begitu juga sebaliknya dengan Tuan Gara.


Penyerangan pertama di mulai dengan serangan cahaya merah dari Tuan Gara yang mengarah ke Pangeran Clard dan meleset hingga musnah terkena perisai air yang tinggi ± 3 M.


Mencari ide, ya itulah yang di lakukan Pangeran Clard bagaimana caranya dia mengalahkan kerlipan itu. Bahkan di sentuh saja itu sangat mustahil. Tidak lupa dengan penyerangan sebelumnya yang gagal kepada dia, Pangeran Clardpun memutuskan untuk membalas serangan dari Tuan Gara. Sedangkan yang lainnya sangat bingun dan juga berfikir keras agar mereka bisa memasuki hutan  kutukan itu.


Hutan kutukan, yang bahkan dilihat dari luar, hutan itu sangat mengerikan bahkan tidak dapat di lukis dengan kata-kata. Tekad yang kuat, dan semangat api yang tidak pernah padam, hal itu yang membuat mereka tidak akan pernah menyerah.


.


Karena di serang, Pangeran Clardpun tidak tinggal diam, dia membalas serangan menggunakan pedang yang dia tarik dari pelindungnya dan kemudian di belahnya kerlipan (Tuan Gara). Al hasil, bukan mengeluarkan darah, melainkan berpisahnya kerlipan itu dan kemudian kembali menyatu membentuk Tuan Gara.


"Mustahil mengalahkannya" keluh batin Pangeran Clard.


1001 cara dia pikirkan agar memenangkan pertarungan itu dan memasuki hutan kutukan sambil bertarung dengan Tuan Gara. Yang hanya pangeran Clard lakukan hanyalah menangkis cahaya bola-bola menggunakan pedang miliknya.


"Ayo Clard, menangkan pertarungan ini, agar kita dapat dengan cepat mendapatkan permata kehidupan dan menghancurkan permata milik bangsa dark" batin mereka resah.


Keresahan mereka akan pertarungan membuat aktivitas yang berbeda-beda. Diah, Roby, dan Yura menjaga dari luar perlindungan air yang menjadi batas pertarungan. Novia memandangi Ezra yang sejak tadi mondar-mandir di hadapanya. Ragil menatap kekasihnya yaitu Sesilia yang sedang mengumpulkan energi sinar matahari untuk membuatnya mencapai kekuatan max sedangkan Pangeran Dilon membantu Vera mencoba untuk menerawang seisi hutan kutukan menggunakan element earth. Sesekali Vera di kagetkan dengan serangan kasat mata, dan membuatnya tergeser dari posisinya. Beberapa kali Vera coba dan serangan-serangan itu terus saja menghujaninya saat dia hampir memasuki hutan kutukan.


"Vera, kamu baik-baik saja?" cemas Pangeran Dilon.


"Hutan itu benar-benar tidak dapat di masuki kekuatan lain, lebih tepatnya lagi kekuatan-kekuatan tidak akan berfungsi di sana" ujar Vera menyerah akan penerawangannya.


"Sebaiknya kita bergabung dengan yang lainnya" ajak Pangeran Dilon dan di setujui sang kekasihnya yaitu Vera sendiri.


Kembali di tempat dimana Pangeran Clard dan Tuan Gara bertarung. Semakin lama pertarungan semakin tegang karena tubuh Pangeran Clard yang di penuhi dengan goresan luka dan cairan merah yaitu darah, entah mengapa janji suci mereka tidak berfungsi pada saat itu. Ketakutakan akan kekalahan terlihat di raut wajah Yura yang menyaksikan kejadian itu di balik batas pelindung mereka bertarung. Bukan hanya sayatan luka, tapi Pangeran Clard terus menerus nyaris menyentuh batas yang telah di tentukan.


Entah bagaimana, tapi itu nyata, Tuan Gara seperti di serang oleh sosok tak kasat mata. Serangan itu membuat Tuan Gara kembali bertebaran ke udara. Saat kerlipan-kerlipan itu mencoba untuk kembali kebentuk aslinya, Pangeran Clard memanfaatkan suasana dan kemudian menyerang Tuan Gara hingga menyentuh batas yang di tentukan, teriakan terdengar, namun tidak begitu jelas.


Kemenangan Pangeran Clard di sambut dengan hilangnya batas air dan larian kecil Yura hingga tangan yang terbuka kemudian melingkar di bagian pundak Pangeran Clard hingga membuatnya tersentak mundur ke belakang. 'Deg' Pangeran Clard merasakan sesuatu yang dulu pernah dia miliki namun hilang tanpa jejak. Pelukan Yura semakin erat saat melihat luka di kedua lengan dan bagian pundak Pangeran Clard. Sang pemilik pundakpun merasa pundaknya basah seperti ada air yang menetes dan dengan cepat membalas pelukan dari Yura. Niat untuk membalas pelukan itu tidak di miliki Pangeran Clard, melainkan dia meringankan tangan untuk menenangkan gadis yang memeluknya barusan. Perlahan kedamaian dan ketenangan Pangeran Clard rasakan saat memeluk Yura, dan kemudian di rusakan oleh suasana sahabat-sahabat mereka yang mulai menjahili mereka.


"Apa kamu bisa menepatkan janjimu Tuan Gara?" tanya Ragil.


"Sepertinya begitu, aku tidak bisa menahan kalian lebih lama, karena kalian memang di takdirkan sejak dulu" ujarnya mengizinkan. "Sebelum kalian memasuki hutan, aku ingin memberitahu kalian bahwa hutan kutukan memiliki aura negatif yang sangat kuat, bahkan udara di sana bisa saja menyerang kalian" lanjutnya.


"Do'akan kami selamat sampai tujuan, dan dapat menyelamatkan hutan damai" pinta Roby.


Kerlipan-kerlipan tadipun hilang di arusnya angin yang berhembus kencang. Yura yang merasa cemas langsung memegang erat tangan Pangeran Clard dan menutupi satu persatu luka milik Pangeran Clard menggunakan surai emas panjang miliknya.


"Apa ini?" batin Pangeran Clard bingung dengan jantung yang terasa hampir copot. "Yura, dia gadis yang dulu pernah aku cintai dan kemudian perasaan itu hilang saat aku bertemu dengan Kenny, tapi aku merasakan perasaan itu kembali menerangi hatiku" lanjutnya sambil memandangi Yura.


"Apa yang kamu lihat?" tanya Yura yang tersadar bahwa Pangeran Clard memandanginya sejak tadi.


Saat mendapatkan pertanyaan, ekspresi Yurapun memudar namun dia tetap konsentrasi dengan apa yang dia lakukan saat itu. Rambut-rambut yang menutupi luka Pangeran Clard kini mengeluarkan cahaya untuk menandakan reaksi medis yang di milik Yura dan mengalir pada titik utamanya. Perlahan luka Pangeran Clard pun memudar hingga hilang tidak membekas. Setelah melakukan kewajibanya Yurapun bangkit dari duduknya.


"Yura! Jawab pertanyaanku!" tegas Pangeran Clard mendapatkan tatapan bingung yang lainnya.


"Pertanyaan apa?" tanya Novia yang mendapatkan tatapan sinis dari gadis biru pacar Roby.


"Bukannya kamu belum menjawab ribuan pertanyaanku dulu, saat kamu menjadi gadis biru?" tanyanya lagi.


Hening. Tidak ada jawaban. Mereka semua diam membisu melihat adegan drama di hadapan mereka. Novia yang awalnya banyak bicara ikut membisu mencoba untuk kembali ke masa lalu.


"Itu semua adalah masa lalu, dimana terdapat konflik dan kesalah pahaman 100 tahun yang lalu" jawabnya datar. "Semua pertanyaanmu tidak harua di jawab olehku, melainkan waktu. Bahkan jika kamu mengungkit masa lalu, mengapa kamu bisa melupakannya sebelum ini?" tanya Yura balik sambil memalingkan tubuhnya menghadap Pangeran Clard.


"Kamu menyembunyikan sesuatu dariku!" ucapnya mendapatkan ekspresi takut dari Yura sambil mengerutkan dahinya.


"Me-nyembunyikan a-apa?" tanyanya gugup.


"Mengapa kamu gugup?" tanya Pangeran Clard.


"Clard! Hentikan! Jangan paksa dia untuk mengingat masa lalu!" bentak Diah yang mulai risih akan adegan yang mereka tonton sejak tadi.


Sementara orang yang telah di bela Diah menghembuskan nafas leganya karena selamat dari perdebatan yang menurutnya tidak penting itu.


"Guys! Sebaiknya kita melanjutkan perjalanan kita menuju permata kehidupan!" usul Pangeran Dilon memotong.


"Iya, dari pada buang-buang waktu sebaiknya kita melanjutkan perjalanan" ucap Sesilia menyetujui usul Pangeran Dilon.


Mereka semuapun melanjutkan perjalanan meninggalkan Pangeran Clard dan Yura yang tetap pada posisi mereka. Entah apa yang di pikiran Yura langkahnya mengarah ke depan menuju Pangeran Clard yang menatapnya sejak tadi. Semakin dekat hingga tatapan mereka sama tajamnya. Kepala Yurapun mulai mendekat hingga bibirnya mendekat kuping milik Pangeran Clard.


"Bukannya sebelum ini kamu mengungkapkan perasaanmu kepada kakakku Kenny!?" bisiknya, membuat tatapan kosong Pangeran Clard. "Di balik pertanyaanmu menyimpan ribuan pertanyaan dalam hatiku!" lanjutnya membuat respon cengkraman dari Pangeran Clard. Cengkraman yang bermula kuat kini memelan hingga terlepas meninggalkan bekas merah di bagian lengan Yura.


"Jangan buat hidupku terus-menerus di dalam lautan kesalahan" ucapnya meninggi.


Membuat yang lainnya menghentikan langkah mereka, dan berbalik ke belakang.


"Kalian masih melanjutkan perdebatan itu?" tanya mereka kesal.


"Entahlah, aku sudah muak berada lama-lama di sini" gumamnya yang tidak begitu jelas di indra pendengar Pangeran Clard.


Masalah kecilpun mulai di lupakan dan kembali fokus dengan tujuan mereka sekarang. Namun tetap saja diantara Pangeran Clard dan Yura masih ada jarak.


Langkah semangat dan percaya akan keberhasilan telah mereka perlihatkan bersama-sama dengan saling membentuk rantai tangan sambil melangkah bersama-sama.