World Elements

World Elements
come back in home



Mereka ber-enampun pamit dengan yang lainnya, penuh isakan karena tidak kembali bersama Queen Yura. Perpisahan yang terjadi membuat mereka lupa dengan kenangan indah di world elements, berlatih pedang, adu kekuatan, bertarung, bahkan mempertaruhkan nyawanya. Kenangan pahit dan manis telah hilang bersama hancurnya world Elements dan Queen Yura.


"Clard, Dilon, Vera! Kami titipkan istana dan para rakyat kami bersamamu" ucap Roby sambil memeluk mereka.


"Para mermaids tidak mungkin bisa bertahan lebih lama di darat, jadi kalian bisa bekerja sama untuk membangun kerajaan laut di arah timur karena di sana ada laut" lanjut Ragil.


"Daaan kalian jangan pernah menggunakan kekuatan kalian di hadapan manusia disini, jika tidak kalian bisa-bisa di bilang penyihir dan sebagainya" pesan Sesilia.


"jika ada kebingungan dengan bumi, kalian bisa menghubungi kami menggunakan telepati, di sini juga ada pasar seperti di world elemets harganya tidak sama seperti di sana, karena koin emas itu akan berharga di sini, bahkan bisa membeli rumah yang megah, sebelum menggunakannya tukarkan ke bank dan kalian bisa mencari seluk beluk bumi menggunakan kekuatan kalian" kata Diah.


"anak-anak para rakyat beri dia pendidikan tambahan, selain element dia juga bisa belajar tentang bumi di pendidikan di sini" usul Novia.


Setelah berbicara banyak dan menjelaskan semuanya, Raja dan Ratu muda pun ke kembali kerumah masing-masing melepas rindu selama ratusan tahun tidak bertemu yaaa karena waktu di world elements berjalan dengan cepat, bahkan mereka sudah mengijak umur melebihi kedewasaan di sana.


Sesampainya di rumah, tangisan terus mengalir karena sang ibu tidak mempercayai anaknya telah kembali, karena kabar kepergian mereka terlah di umumkan.


"putriku" ucap ibu sesil sambil memegang seluruh tubuhnya dengan mata yang berkaca-kaca.


***


"Kamu dari mana saja nak?" tanya orang tua Diah.


***


"Ntahlah, perjalanan kami sangat panjang dan aneh" jawab Ezra


***


"kami bertarung dengan kematian yang sangat panjang ayah" ucap Ragil.


***


"lihat luka di tubuhmu seperti bekas sayatan" ucap Ibu Novia karena mereka lupa menyembuhkan luka-luka mereka.


***


"iya, kami bertarung dengan makhluk yang sangat mengerikan yang ingin membunuh kami. Bahkan pertarungan itu membawa Yura pada takdirnya" jawab Robi karena orang tuanya mendapati luka-luka dan babak belur di tubuhnya.


"apa? Bagaimana bisa?"


"ceritanya sangat panjang ayah, bahkan kami tidak siap memberitahukan berita ini pada keluarganya"jawabnya tertunduk merasa bersalah.


"orang tuanya tidak bisa di hubungi, karena semenjak hilangnya kalian, mereka memutuskan untuk pergi dari sini" jelas ayahnya.


***


"ayolah bersihkan tubuhmu anakku dan segera makan, istirahat besok sekolah" ucap mereka para orang tua.


Percakapan mereka sama walaupun beda rumah. Lelah yang berkepanjangan setelah berperang tidak tidur semalaman merekapun membersihkan tubuh, makan dan beristirahat karena mata mereka sudah mirip dengan mata panda.


Keesokan harinya, sang surya mulai menyinari bumi, para ayam mulai bersahutan seakan hanya ayam yang ada di sana. Suasan World elements dan bumi terasa berbeda, para pelayan, melayang ke udara, bernafas di air, semuanya bisa mereka lakukan.


Tepat di depan cermin lemari yang besar, yaaaa besarnya lemari di bumi tidak mengalahkan lemari di world Elements mereka menatap pantulan bayangan mereka di cermin, mengingat akan kenangan di sana, mengenakan gaun, jubah kerajaan, menikmati salju, namun kini telah berbeda bahkan saat mandi kaki mereka tidak berubah, bahkan Yura, Yura adalah sahabat mereka yang paling baik tapi.... Dengan berat hati harus berpisah dan menerima kenyataan.


Jam setengah 7 sudah berlalu, Seperti biasa Diah menunggu para sahabatnya menjemput untuk pergi sekolah barengan. Dulu jika salah satu dari kami tidak menggunakan motor maka kami memutuskan untuk berjalan kaki bersama.


"Sudahlah, Kita juga tidak bisa membawa Yura kembali bersama kita, itu sudah dia putuskan karena menutup jalan teleport dari bumi ke world elements" ucap Roby merangkul Diah yang merupakan pacarnya.


"eh ngomong-ngomong apa kekuatan kita masih bisa dikendalikan?" tanya Novia mendapatkan tatapan yang lainnya. Tiba-tiba saja Diah mengarahkan tangannya ke arah yang basah kemudian menggerakkan tangannya betapa terkejut dan senangnya kekuatan mereka tidak hilang.


"guuuuuyss" teriaknya riang.


Melihat Diah, yang lainpun mencoba untuk menggunakan kekuatannya di bumi, Novia melayangkan kekuatannya, Ezra membuat angin sedikit kencang, Roby mengendalikan tanaman, Sesilia begitu juga dan Setelah Ragil mengeluarkan kekuatannya membuat semuanya berantakan karena sedikit mengeluarkan ledakan. Setelah percobaan mereka mengendalikan kekuatannya di sekitar merekapun berantakan hanya mendapatkan tertawa lepas dari mereka dan kembali bersedih sesaat mengingat Yura.


"Guys, hampir jam 7 gimana ni? Pake motor juga gak mungkin tepat waktu" ucap Ragil sambil melihat kearah jam tangan miliknya.


"iya ni gara-gara Novia ngingatin elements kita,  jadi kita terhipnotis" kata Diah yang menyalahkan Novia.


"sudah jangan berdebat, kita coba buat teleport di belakang rumah mu deh, ntar kita masuk pake motor! Ayo cepat, keburu terlambat" usul Ragil.


Merekapun bergegas membuat teleport dan akhirnya berhasil, kemudian masuk kedalamnya dan berhasil sampai di depan parkiran untuk saja tidak ada yang melihat ucap mereka memarkirkan motor.


"Eh bukankah mereka Tim Penjelajah" ucap siswa siswi SMK Panca Karsa.


"iya-iya loe bener" lanjut yang lainnya.


Tak seperti biasanya mereka kali ini ke sekolah menjadi sorotan para murid di sana, tentu saja begitu karena kabar kematian mereka sudah di siarkan setelah pencarian mereka yang tidak di temukan.


"Kalian?" ucap bu Murni yang melihat mereka.


"iya bu, apa kabar bu" ucap Diah tersenyum sambil mencium tangan bu murni.


"seharusnya ibu yang bertanya, bagaimana kalian selamat, bahkan polisi sudah mengerahkan tenaganya untuk mencari kalian tapi tidak di temukan" balas bu Murni.


"kami tersesat dan hanyut ke pulau lain, bertarung dengan kematian atas pembelajaran dari materi penjelajah dan bertahan hidup kami selamat, tapi Yura tidak terselamatkan karena menolong kami" ucap Ragil.


"Sudahlah sebaiknya kalian berkumpul di halaman karena kepala sekolah akan mengumkan sesuatu" ucap Bu Murni.


Setelah mereka menyimpan tas ke kelas, merekapun berkumpul di halaman belakang untuk mendengarkan pengumuman.


"selamat pagi anak-anak" kepala sekolah membuka pembicaraan.


"pagi Pak" ucap mereka.


"Berhubungan kelas 12 akan menghadapi ujian maka sekolah di liburkan selama 1 minggu, Senin depan masuk kembali seperti biasa. Dan ada kabar gembira dan sedih lagi, Tim penjelajah telah kembali tapi salah satu di antara mereka tidak terselamatkan" ucapnya begitu.


Para murid pun mulai berbisik-bisik berduka karena kepergian teman mereka Yura, terutama teman dekat Yura. Semenjak itu, Geng Fizipun tidak lagi menganggu mereka karena sangat merasa bersalah saat dulu sering membully Yura.


Waktu yang berlalu tidak terasa, hari yang selalu berganti, hingga 1 tahun telah berlalu mereka berada di masa ketegangan, dimana keputusan kelulusan di umumkan di depan orang banyak dan dihadapan orang tua. Tangan yang mulai berkeringat, tidak tentu arah, berdiri mondar-mandir dan sesekali menjenguk ke arah ruangan dimana terdapat orang tua dan guru.


"Siswa siswi SMK Panca Karsa 100% lulus" ucap salah seorang guru yang berbicara menggunakan mic.


Tepukan gemuruhpun terdengar, teriakan kegembiraan mulai di umbar, tangisan dan tawa semuanya menjadi satu.


"guys! Kurasa hari ini terakhir kita bertemu karena kita akan berbeda arah" ucap Diah menunduk sedih.


"tidak apa Diah, kita memang berpisah, tapi kita mempunyai kontak agar bisa saling komunikasi" ucap Roby yang masih berstatus pacarnya Diah.


Hari itu benar-benar hari terakhir mereka bertemu karena, masing-masing dari mereka juga ingin mengejar cita-cita dan masa depan yang cerah.