World Elements

World Elements
practice



Matahari pagi kini mulai bersinar. Istana yang megah dengan warna putih itu terlihat Indah dengan sinar pagi dengan dikelilingi oleh bunga-bunga segar ditaman. Suara kincauan burung mulai terdengar. Bisingan istana sudah mulai dimana-mana.


Disuatu kamar seorang gadis cantik sudah siap dengan kunciran rambut dan jubah tidak lupa dengan topi yang menutup seluruh rambut dan wajahnya hingga tidak terlihat lagi oleh cermin. Sementara gadis itu juga hanya bisa melihat jalan yang akan dia injak.


Kamar yang lainnya terlihat seorang gadis dengan rambut berwarna pink yang masih terdampar di tempat tidur.


"Tok-tok-tok" suara ketukan pintu yang menerobos sebanyak 3 kali sehingga membuat gadis berambut pink itu tersentak kaget dan segera bangkit dari baringnya yang kantuknya hilang seketika.


"Novia..." panggil seorang pemuda yang dari luar.


"Ezra" gumam Novia yang tersenyum. "Sebentar!" teriaknya sambil berlari kecil menuju pintu.


Senyum yang sangat lebar terlihat pada wajah gadis itu. Saat membuka pintu kamarnya telah terlihat sosok pemuda yang ada difikirkannya. Semakin lebar begitu lebarnya dia melihat sahabat yang lainnya ikut hadir di balik pintu besar itu begitu juga dengan sahabat barunya yaitu seorang Pangeran Fire.


Sahabat-sahabatnya terbelalak karena melihat penampilan gadis yang baru saja membuka pintu dengan gaya kusut baru bangun tidur. Rambut yang berantakan dan wajah yang kusam.


Senyum yang lebar kini memudar dengan pipi memerah merasa malu.


"Emang sikap lo tu lola banget ya Vi, jam segini lo baru bangun? Hadeeehh..." tegur Diah sambil menepuk keningnya sendiri.


"Kamu cepat siap-siap kami akan menunggumu, hari ini kita akan memulai latihan bersama" seru Pangeran Clard sambil melangkah masuk.


"Eeehhh.. Tunggu dulu, kalian gak boleh masuk. Kalian tunggu disini" kata Novia sambil merentangkan tangan untuk menghadang.


"Kita gak bakalan ngapa-ngapain kok. Di kamar mandi semua yang kamu butuhkan entah itu pakaian kamu akan mendapatkannya disana, karena ini adalah istana" jawab Pangeran Clard yang menerobos masuk dan diikuti yang lainnya.


Mereka semua mulai duduk, Diah dan Sesilia duduk di tempat tidur sementara Ezra, Roby dan Ragil duduk di tempat duduk yang ada di di dekat jendela. Pangeran Clard yang berdiri menyilangkan tangan di depan dadanya dengan wajah menunggu.


"Yura" panggil seorang wanita yang masuk tiba-tiba di kamar Yura.


"Ha?" kagett Yura sambil memalingkan tubuhnya.


Wanita yang baru saja memanggilnya tersentak mundur karena merasakan aura dari kekuatan Yura.


"Queen Irridesa? Ada apa?" tanya Yura.


"Karena terkejut gadis ini bisa mengeluarkan aura dari kekuatannya, jika dia mendapatkan identitasnya entah apa yang terjadi" batin Queen Irridesa.


"Queen?" panggil Yura sekali lagi karena melihat Queen Irridesa terdiam seperti memikirkan sesuatu.


"Ah tidak apa-apa. siapkan diri kamu karena hari ini kamu bersama ke-7 temanmu akan ikut latihan bersama pengendali yang lainnya" jawab Queen Irridesa menjelaskan tujuannya menemui Yura dan pergi meninggalkannya.


Setelah Queen Irridesa pergi, Yurapun kembali duduk didepan cermin sambil menunggu sahabat-sahabatnya datang menjemput.


Dengan rambut yang tertutup oleh topi dari jubah putihnya terus-menerus dia lihat dicermin, hingga seisi cermin itu berubah menjadi kegelapan. Yura melihat sekelilingnya, tapi dia masih berada di kamar sedangkan cermin yang berada di hadapannya mencerminkan suatu tempat yang sangat mengerikan.


"Yura" suara pria yang terdengar di dalam cermin.


Didalam cermin mengeluarkan asap hitam dan membentuk seorang manusia dengan penuh kegelapan. Wajah yang tidak dapat dilihat karena ditutup topi dari jubah hitam sekaligus tempat yang gelap.


"Kamu sangat cantik gadis kecil, aku akan membawamu ketempatku saat aku telah menemukanmu nanti" ucap pria itu membuat Yura ketakutan.


"Siapa kamu? Tolooooong" jerit Yura.


Suara jeritan bercampur dengan tawa pria itu.


"Ibuuuuuuu" panggil Yura yang kembali melihat keadaan cermin yang kembali normal mencerminkan sesisi kamarnya.


Pandangan Yura yang mulai buram dan kaki yang bergetar tidak memiliki tenaga kini mulai melemah dan terjatuh saat seorang pemuda menyambutnya agar tidak terjatuh kelantai.


"Yura!" panggil sahabatnya.


Wajah Yura yang tertutup topi tidak memberi tahukan bahwa bagaimana penampilan wajahnya. Karena penasaran dan panik melihat Yura yang tergeletak di pelukannya, Pangeran Clard memutuskan untuk membuka topi itu.


"Berhenti! Jangan dibuka!" perintah Queen Ororo yang berada dibelakang sedang berlari terbirit-birit membuat Pangeran Clard tidak jadi membuka topi Yura. "Letakan dia dia atas tempat tidurnya" lagi-lagi Queen kembali memerintahkan Pangeran Clard yang di sambut dengan anggukannya.


Pangeran Clard menggendong Yura ala bridal membawanya ke atas tempat tidur dan membaringkannya secara perlahan.


"What happen?" tanya Raja dan Ratu lainnya yang datang terlambat.


"Kalian semua keluarlah! Biar kami para Ratu dan Raja mengurus ini" perintah Queen Ororo.


"Putraku, jaga teman-temanmu. Karena mereka belum mengenal dunia ini" kata King Jack.


Dengan wajah yang begitu ketakutan dan cemas mereka keluar dari kamar itu. Topi yang menutup separuh wajah Yura hingga ke bawah hidung kini dibuka oleh Queen Ororo. Betapa terkejutnya mereka semua melihat dahi Yura mengeluarkan cahaya hitam membentuk simbol dark yaitu "mata".


"Oh tidak Yura telah melihatnya" gumam Queen Ororo sambil menutup cahaya yang berbentuk mata itu menggunakan telapak tangan kanannya.


Cahaya putih kini mulai menerangi dahi Yura dan menelan cahaya hitam itu.


"Clard! Apa yang terjadi pada Yura?" cemas Sesilia.


"Aku juga tidak tahu" jawab Pangeran Clard sambil memandang ke arah pintu kamar Yura.


"Kita hanya bisa menunggu mereka semua keluar" seru Ezra yang sedikit tenang.


Perlahan mata Yura mulai terbuka.


Yurapun segera bangkit dari baringnya dan berdiri disamping Queen Ororo. Raja dan Ratu yang lainnya merasa bingung kepadanya, seakan-akan dia tidak mengalami apa-apa.


Disaat Yura ingin melangkah maju menuju pintu secara tidak sengaja dia melihat cermin dan menghentikan langkahnya.


"Ibu... Tadi aku melihat seautu di cermin. Apa pria itu berasala dari bangsa Dark?" tanya Yura kepada Queen Ororo.


Belum sempat Queen Ororo menjawab Yurapun pergi meninggalkan mereka semua sambil menutup kembali kepalanya menggunakan topi jubahnya.


Pintu semakin lebar dan membentang memperlihatkan seisi luar kamar dan sahabat-sahabatnya yang sedang menunggu dengan cemas.


"Yura?" panggil mereka sambil berlari kecil.


"Apa kamu......" kata Diah yang menggantung saat melihat kode dari Ibunya yaitu Queen Claudia. "Apa kamu sudah siap?" sambung Diah merapihkan pembicaraan yang ditatap heran sahabatnya.


"Kalian semua pergi saja dulu. Yura akan menyusul" seru Queen Ororo yang mulai mendekat.


Mendengar perkataan Queen Ororo Pangeran Clard, Novia, Ezra, Diah, Roby, Sesilia, dan Ragil meninggalkan mereka menuju ke tempat latihan.


"Yura apa kamu ingat pada rambut biru yang ku berikan padamu waktu itu?" tanya Queen Ororo kepada Yura.


"Ya Ibu" jawab Yura teringat akan rambut yang telah diberikan pada Ibunya.


"Ambil dan pakailah, setiap kamu ingin keluar istana kamu harus memakai itu" kata Queen Ororo yang disambut anggukan Yura.


Yurapun kembali kekamar untuk merubah penampilannya. Rambut panjang yang ia miliki dia ikat menjadi pendek dan memasangkan rambut palsu berwarna biru yang di berikan oleh Queen Ororo untuk menutupi rambutnya.


"Baiklah kita mulai dari mana?" tanya Ezra kepada Pangeran Clard.


"Kita disini berbeda elemen. Untuk tahap pertama kita akan latihan mengendalikan elemen kita masing-masing. Kalian tinggal cari kelompok elemen yang sama seperti kalian" kata Pangeran Clard menjelaskan panjang lebar.


Mereka memutuskan untuk menghentikan Pembicaraan dan mulai latihan. Karena masih baru manusia bumi itu memulai dari level 1 sedangkan Alex diah sudah level 10 dan di level 11 lanjut ke latihan pedang.


Entah mengapa saat ini Pangeran Clard jadi teringat akan gadis elemen air itu dan membuatnya tidak fokus pada latihan. Kerena merasa tidak tenang Pangeran Alex memutuskan untuk beristirahat sebentar dan berjalan-jalan untuk menenangkan diri.


Karena jalan tidak melihat ke arah depan tanpa sengaja Pangeran Clard menabrak seorang gadis. Betapa terkejutnya dia saat melihat wajah gadis yang dia tabrak itu adalah gadis yang saat ini membuatnya merasa tidak tenang.


"Kamu?" seru Pangeran Clard yang memecahkan keheningan antara mereka.


Gadis berambut biru itu tidak menjawab sepatah katapun karena baru pertama kalinya dia melihat wajah Pangeran Clard sebahagia ini (bisa dibilang terpesona).


"Hallo?" panggil Pangeran Clard kepada gadis berambut biru.


"Ha? Ya?" jawabnya tersadar dari lamunanya kepada Pangeran Clard.


"Tidak disangka kita bertemu disini. Emmm ngomong-ngomong siapa namamu?" tanya Pangeran Clard.


"Hm... Aku Putri da..." jawab Yura yang terhenti tiba-tiba karena terdengar seseorang yang memanggilnya.


"Pangeran Clard? Apa bisa kita lanjutkan?" tanya seorang pemuda teman latihannya.


"Iya..." jawabnya singkat. "Setelah latihan kita ketemu disini" kata Pangeran sambil berlari menuju tempat latihannya.


Karena Yura belum mendapatkan identitasnya, Yura di perintahkan untuk latihan pedang.


Latihan pertama yaitu cara memegang pedang. Pedang yang lumayan berat kini berada ditangan Yura, perlahan dia memegang dengan benar dilatih oleh Tuan Bimo. Tuan Bimo sangat senang kepada Yura yang cepat paham akan ajaran yang ia berikan.


"Genggam di bagian ini dengan erat" kata Tuan Bimo.


Dengan cepat Yura sudah berada sangat jauh dalam latihan pedang ini. Dia mengikuti intruksi. Keringat demi keringat yang tertetes di wajah Yura. Kata lelah tidak ada dibibirnya melainkan nafsu akan berlatih dan ingin tahu. Dia terus memaksa Tuan Bimo untuk mengajarinya hingga sore, tapi permintaan itu tidak di penuhi oleh Tuan Bimo.


"Guru, ku mohon... Tolong guru ajari aku sampai sore" bujuk Yura dengan wajah memelas.


"Apa kamu tidak tahu peraturan? Kamu saat ini berada di level 11. Apa gurumu tidak memberitahukan tentang peraturan-peraturan yang ada?" bentak Tuan Bimo.


"Ada apa Tuan Bimo? Apa ada masalah?" tanya Queen Ororo yang tiba-tiba saja datang.


"Yang Mulia maafkan aku, tapi gadis ini terus menerus memintaku untuk mengajarinya hingga sore. Padahal yang Mulia telah memberikan peraturan pada latihan ini" jawab Tuan Bimo.


"Tuan Bimo turuti apa yang dia inginkan, karena dia belum latihan dasar. Dia adalah pengendali Storm" ucap Queen Ororo yang membuat Tuan Bimo terkejut.


"Apa?"


"Saat ini aku memerintahkannya untuk menggunakan rambut palsu agar bangsa Dark tidak muda menemukannya" jawab Queen Ororo.


Mendengar perkataan Queen Ororo latihan Yurapun kembali dimulai.


"Mengapa dia melanjutkan latihannya? kata semua prajurit dan sebagian penduduk yang ikut latihan.


"Hey! Mengapa Yura masih latihan ya? Bukannya tadi guru..." gumam Diah sambil menggantung perkataannya.


Pangeran Clard yang baru saja selesai latihan ikut terkejut.


"Kalian pasti bertanya mengapa gadis itu masih latihan. Ini keputusanku, tapi jika kalian juga ingin latihan dengan waktu yang sama tidak masalah" seru Queen Ororo yang membuat semua orang terdiam. "Novia, Ezra, Diah, Roby, Sesilia, dan Ragil temui orang tua kalian" sambung Queen Ororo sambil melangkah pergi.