World Elements

World Elements
kembalinya hutan damai



Perjalanan pulang mereka tidak memperoleh kemenangan, melainkan memperoleh kehilangan. Mereka tidak tahu harus bagaimana lagi, yang mereka lakukan hanyalah terus melangkah menuju hutan kutukan dan ingin mengembalikan hutan kedamaian seperti dahulu kala dengan bekal permata kehidupan di genggaman.


Suasana mereka di hiasi dengan kesunyian tak ada yang berkata-kata setelah mengingat kejadian di gunung air naga, sisi buruk Yura sepenuhnya kelihatan, Yura kali ini benar-benar mirip dengan iblis. Langkah kaki kini tidak semangat, karena kehilangan sosok Yura yang mereka sayangi.


***


Jauh dari tempat mereka berdiri, dimana kegelapan ada dimana-mana, suasana sangat mengerikan, hanya keheningan yang menghiasi tempat itu.


Terlihat gadis dengan serba emas melangkah menuju istana yang tak jauh darinya. Istana yang terlihat sangat mengerikan itu sama sekali tidak ditakuti gadis yang serba emas itu.


Perlahan gadis yang terlihat serba emas itu, mulai meredup dalam arti kata berubah dan menghilangkan warna emas yang dia miliki.


Langkah yang menuju istana kini terganggu dan terhenti saat satu mahkluk mendekatinya sambil mencium-cium sekujur tubuhnya seperti binatang. Yaa, makhluk itu memanglah binatang yang aneh, berkaki kuda, berkepala anjing, berbadan harimau. Ludah dari mulut makhluk itu menetes-netes dan menjijikan,entah bagaimana gadis itu bisa tahan melihat ledir yang keluar itu.


Setelah sekian kalinya makhluk itu mencium-cium gadis itu, gadis itupun mulai risih akan apa yang dilakukannya. Dia mulai mencengram makhluk itu di bagian leher dan mengangkatnya dengan sebelah tangan dengan posisi masih mencekik binatang itu. Tentu saja merasa di cekik binatang itupun mulai menggelepar menyakar tangan gadis itu. Hingga marah berada di ubun-ubun, gadis itu membanting makhluk itu dengan sangat keras hingga membuat remuk tulang-tulangnya.


"dengar! Aku adalah Ratu disini, jadi sebaiknya bersikap sopanlah kepadaku jika tidak kamu akan kehilangan nyawa" ucapnya tidak perduli dan pergi melanjutkan langkah kaki dan melihat pemuda berambut hitam dan gadis bersurai hitam.


"Yura? Akhirnya kamu sampai juga disini" ucap pemuda itu langsung memeluk Yura.


"kakak? Senang bisa bertemu kamu lagi" lanjut gadis bersurai hitam itu. "a-apa? Siapa yang membuat peliharaanku seperti ini?" tanya gadis bersurai hitam itu.


"Olin tenanglah! Setidaknya sambutlah Yura dengan hangat!" pinta pemuda berambut hitam itu.


"apa kamu marah?" tanya Yura kepada Putri Olin. "peliharaanmu telah melanggar batasnya saat menyambut Ratunya disini!" jelas Yura dengan sengit. "jika aku jadi kamu, akan ku perbudak binatang tidak berguna ini" lanjutnya mencekik hati Putri Olin. "Odin? Apakah peliharaan itu lebih berharga dariku?" tanya Yura kepada pemuda berambut hitam.


"Olin sudahlah, dia juga belum matikan?" bujuk Pangeran Odin.


"sudahlah, jika itu memang benar kesayanganmu aku akan menyembuhkannya" ucap Yura yang masih menyimpan sifat tidak tega lalu menggunakan kekuatan medis kepada binatang itu dan pergi bersama Pangeran Odin meninggalkan Putri Olin bersama peliharaannya.


***


"guys! Bagaimana cara menggunakan permata ini?" tanya Ragil kepada sahabat-sahabatnya yang telah sampai di perbatasan hutan kutukan dengan sayap besar mereka.


"entahlah, bahkan permata ini tidak bersinar" jawab Vera bingung.


Merekapun mencoba untuk menghidupkan cahaya dari permata itu dari tangan Ragil dengan menyuruhnya kesana sini mencari tempat yang gelap, barangkali mereka berada di tempat yang salah karena sebelumnya permata ini baik-baik saja dan bersinar saat berada di dahi Ice Dragon. Menggunakan telepati saat ini lebih sulit, entahlah bahkan telepati tidak dapat di gunakan saat itu.


"oh permata, tolong kami kenapa kamu tidak bersinar" ucap Novia berbicara kepada permata itu seperti orang **** itu. Saat Novia berpaling dan menghela nafas yang panjang karena telah merasa jenuh ujung rambutnyapun mengenai permata itu dan apa yang terjadi, permata itu pun bersinar dan kembali meredup.


"A-apa?" kaget mereka.


"Novia, cobalah sentuh permata itu" usul Diah yang memecahkan keheningan dan dituruti oleh Novia.


"mengapa tidak kepikiran dari tadi?" kata Ezra.


"tapi permata ini masih tidak berfungsi" kata Novia sambil memegang permata kehidupan yang dia ambil dari tangan Ragil.


Merekapun kembali berfikir dan sesekali meminta novia mengeluarkan kekuatannya pada permata kehidupan, namun nihil.


"apa?" tanya mereka serempak.


"Ragil Tidak dapat menyalakan cahaya dari permata kehidupan bukan? Aku fikir mungkin hanya mereka yang bisa menyembuhkan hutan ini adalah kalian karena elements kalian ada hubungannya dengan kerusakan ini kecuali aku dan Ragil" ujarnya dengan sebuah pemikiran yang masuk akal.


Merekapun menuruti perkataan Pangeran Clard dan mengarahkan kekuatan mereka ke permata kehidupan dan apa yang terjadi cahayapun semakin terang menderang hingga membuat mereka terangkat ke udara tanpa menggunakan sayap.


"hentikan!" kata seseorang yang baru saja keluar dari hutan kutukan membuat pandangan Pangeran Clard dan Ragil mengarah padanya.


"Yang mulia" ucap mereka sedikit tidak percaya karena Queen Ororo telah datang secepat ini.


"hentikan mereka!" ucapnya sekali lagi.


"yang mulia, apa yang membuatmu datang kemari?" tanya mereka bingung tanpa mendapatkan jawaban sementara Queen Ororo dengan cepat mengambil permata kehidupan yang telah berhasil mereka taklukan.


"yang mulia, apa yang terjadi?" tanya mereka lagi.


"bukan kalian yang akan mengembalikan hutan ini tetapi element stormlah. Berhubungan Yura telah di kuasai Odin maka aku akan menggantikan dia dan iya kita harus cepat karena malam ini adalah malam gerhana bulan merah terjadi, maka kekuatan Darkpun akan lebih besar" ujarnya dengan cepat.


Merekapun kembali masuk ke hutan kutukan mengikuti langkah Queen Ororo yang telah memegang permata kehidupan yang melayang ke udara tepatnya di atas tangannya. Hanya permata kehidupanlah menjadi lampu/cahaya di hutan kutukan itu. Kedatangan mereka dengan permata kehidupan kini di sambut dengan seluruh hewan buas di sana. Berwaspada hanya itu yang mereka lakukan, dan melindungi Queen Ororo serta permata kehidupan.


"berhati-hatilah, ingat jangan sampai melukai mereka karena mereka adalah sekutu kita, yang membuat mereka seperti ini karena kutukan dari Queen Jessy" kata Queen Ororo yang berada ditengah-tengah antara mereka yang akan memulai aksinya.


Permata kehidupan itupun dia layangkan ke udara tepat di atas kepala, kedua tangan Queen Ororo mulai menari-nari mengarahkan kekuatan dari permata kehidupan ke seluruh hutan. Cahaya kini bertebaran dimana-mana, bunga-bunga kini kembali mekar dan menghilangkan duri di setiap sisinya, pohon-pohon kini kembali hidup dan asap beracunpun hilang ditelan cahaya kekuatan dari permata kehidupan, tanaman kristal kini kembali mekar, hutan yang sebelumnya terlihat mengerikan kini menjadi indah dengan penuh warna-warni di setiap langkahnya, hewan-hewan buas sebelumnya kini berubah menjadi lembut dan sangat bahagia, saling memeluk dan bersuka cita, dan terakhir Queen Ororo meledakan kerlipan cahaya untuk hutan itu hingga melengkapi keindahannya.


"woow, hutan ini, hutan ini sangatlah indah" gumam mereka yang kini terdengar suara hewan yang bersahut-sahutan serta fairy mungil juga berada di sana.


Semua hewan di sana termasuk troll membungkuk memberi hormat kepada 10 kesatria yang di ramalkan serta Queen Ororo yang membantu mengembalikan hutan itu.


"terima kasih yang mulia, kalian telah mengembalikan kami setelah sekian lama" kata fairy mungil angkat bicara.


"karena kalian telah kembali maka jagalah hutan ini sebaik mungkin dan sebisa kalian" balas Pangeran Clard.


Dalam perbincangan mereka, ribuan kerlap kerlip kini menghampiri mereka dan membentuk seorang laki-laki dan seorang wanita yang tak lain adalah Tuan Gara/king Gara dan Queen Karin, mereka berduapun mendapatkan hormat karena mereka adalah Raja dan Ratu terdahulu.


"terima kasih kalian telah mengembalikan hutan ini yang telah lama hilang, kini waktu kami telah habis kami akan pergi" ucap King Gara.


"aku sangat berterima kasih kepada kalian, dan sebagai hadiahnya ku berikan hutan ini kepada para kesatria" kata Queen Karin dengan lemah lembut.


"terima kasih yang mulia" jawab mereka serempak.


"Ororo, di utara sisi hutan ini terdapat ratusan ribu pasukan siap tempur, kamu ajaklah mereka keistanamu untuk menegakan kebenaran dan mengalahkan kutukan Queen Jessy selanjutnya" kata Queen Karin dan menghilang di bawa angin.


Setelah mendapatkan kembali hutan damai, para kesatria dan Queen Ororo membuat perisai keamanan dengan menggabungkan kekuatan mereka


dimana hanya kekuatan kebaikan yang bisa keluar masuk kehutan itu dan kembali ke istana Zenna untuk menyiapkan perang.