
"tinggal beberapa jam lagi teleport akan di buka, lokasi teleport di halaman belakang dimana terdapat pohon mimpi" ucap Yura menyiapkan diri.
Keesokan harinya ketika matahari belum terlihat cahayanya, Queen Yura lebih awal telah berada di kamar King Clard namun tak memperlihatkan siapapun di sana. Dahi mulai berkerut mata yang mulai menerawang seisi kamar tidak menemukan siapapun kecuali seorang pelayan istana yang menghampirinya.
"hormatku yang mulia" ucapnya sedikit membungkuk memberi hormat. "sejak tadi subuh king clard sudah tidak berada di istana yang mulia" lanjutnya menunduk.
"oh begitu, terima kasih" balas Queen Yura dan pergi meninggalkan kamar itu.
Kabar King Clard yang tidak berada di istana membuat Queen Yura di hujani dengan kesedihan, sendu dan tidak banyak bicara. Semua orang telah mengetahui apa yang di rasakan Queen Yura hanya saja King Clard yang kadang hangat dan kadang dingin kepada Queen Yura.
Tiba saat dimana ribuan jiwa telah berkumpul untuk mengucapkan perpisahan pada Kings and Queens yang akan kembali ke bumi melalui pohon mimpi, kata perpisahan, tangisan, saling berpelukan menghiasi hari itu. Tepat di bawah 2 pohon yang yang menyatu membentuk pintu di sana tempat teleport mereka di buat oleh Queen Yura untuk mencapai bumi dengan cepat.
"guys, entah bagaimana kabar orang tua kita, hampir seribu tahun kita tinggal di world elements" kata Diah.
"tidak, mereka tidak melupakan kita, karena waktu di bumi telah berhenti saat aku menukarkan ingatanku saat berada di laut untuk menghentikan masa di bumi. Jadi kita tidak perlu khawatir"
"putra putriku" ucap raja dan ratu terdahulu yaitu Gloraris meldi sea, Tara crossiana dan Liana diori.
"terima kasih karena telah datang dan menyelamatkan world elements, memang sudah seharusnya kalian pulang sekarang. Ucap ibu dari kerajaan laut itu.
"kami pasti akan kembali ibu" ucap Queen Yura.
Mata Yura masih menerawang di sekelilingnya yang sangat dimengerti oleh siapapun yang melihatnya, kegelisahan bahkan dia mencoba mengulur waktu untuk kembali.
"Yura cepatlah apa yang kamu tunggu?" tanya Diah.
Wajah Yura tertunduk sedih memalingkan tubuhnya dan beranjak ke teleport yang dia buat, langkah kaki yang dengan terpaksa saat hendak menyentuh teleport itu dengan jemarinya saat itu juga dari kejauhan dia mendengar panggilan untuknya, diapun terhenti sementara yang lain melihat ke arah sumber dari suara itu. Dengan cepat tanpa berfikir panjang, Yura berlari mendekati pemuda merah yang memanggilnya tadi dan meninggalkan teleport yang dia sentuh tadi. Lariannya semakin kencang hingga sampai pada tujuan, Yura langsung memeluk pemuda merah itu, tentu saja dari jarak jauh dan berlari hingga memeluk mengeluarkan sedikit tenaga membuat mereka berdua sedikit bergerak dan hampir jatuh. Pelukan erat Yura dibalas dengan pelukan hangat dari pemuda itu.
"Clard" ucapnya menangis.
"hey, jangan menangis! Kalian Kan akan kembali ketempat kalian, tersenyumlah untukku" ucap King Clard.
"apa kamu tidak ingin mencegahku?" tanya Yura menatap kedua mata King Clard.
"untuk apa kami mencegahmu? Tempat tinggal mu di bumi bukan disini, lagiankan kalian bisa kembali sesuai kemauan kalian" ucapnya begitu. "sudah saatnya kalian kembali, kami tidak bisa menahan kalian lebih lama di sini" lanjut King Clard.
King Clardpun melanjutkan langkahnya, meninggalkan Queen Yura yang tetap berada diposisinya. Queen Yura hanya terdiam dengan butiran air mata yang mengalir deras di pipinya
"aku mencintaimu" ucap Yura yang terdengar oleh King Clard hingga menghentikan langkahnya. Jauh darinya Yura memalingkan badan dan kembali berlari memeluk King Clard dari belakang. "aku mencintaimu" ucapnya lagi tak berbalas karena semuanya membisu. "apa kamu tidak mencintaiku Clard? Bukankah selama ini kamu menungguku? Apa yang membuatmu menyangkal kebenaran yang ada?" lanjutnya lagi.
"Guys... Guys" ucap mereka segera bertidak dan menyatukan kekuatan membuat teleport lebih besar lagi untuk menyelamatkan yang lainnya. Kekuatan merekapun bersatu, sementara Yura mengatasi bencana yang terjadi menyelamatkan satu persatu makhluk hidup menggunakan kekuatannya. Tidak ada cara lain jutaan jiwa mereka kirim ke bumi satu persatu melewati telepati yang telah di sediakan. Lagi-lagi Queen Yura menggunakan element masa, dia pergunakan untuk memperlambat waktu bencana, sementara yang lain separuh telah berhasil di selamatkan. Keinginan untuk membantu ada, tapi mereka tidak memiliki element masa dengan terpaksa hanya bisa menyelamatkan diri dan membantu yang lainnya.
Setelah King Ezra, King Roby, King Ragil, Queen Novia, Queen Diah dan Queen Sesilia telah berada di bumi merekapun kembali seperti semula dimana usia mereka yang masih remaja sementara yang lainnya tetap pada penampilan mereka.
"masa remaja kita" girang Queen Sesilia sambil memeluk sahabat-sahabatnya.
Becana semakin tidak terkontrol kehancuran World Elements tidak dapat di elekan lagi, kini tinggal Queen Yura sendiri yang berada di world element bahkan tidak semua penghuni world element terselamankan sementara teleport masih aktif menunggu Queen Yura. King Clard yang melihat bencana semakin besar hendak menolong Queen Yura tapi dengan cepat Queen Yura menutup jalan teleport dan menguncinya dari dalam agar tidak ada yang bisa kembali lagi ke world Elements.
"Yuraaaa..." teriak mereka yang tidak dapat menggapai Yura. Berkali-kali mereka mencoba untuk membuat teleport tapi tidak berhasil, kecemasan mulai melanda semua kekuatan telah di gabungkan namun teleportpun tak kunjung terbuat.
"bagaimana ini, teleport telah di kunci" ucap Queen Diah.
"ibu ratu, Yura masih di sana" tangis Queen Novia.
Mereka semua merenungi nasib yang terjadi, pikiran kosong tak menentu. Tidak ada tujuan di dunia asing ini.
"sebaiknya kita bangun istana untuk tempat tinggal kalian" usul King Ezra.
"tapi dimana?" tanya Novia.
"ayahku memiliki tanah lapang yang sangat luas bagaimana kita buat istana yang hanya bisa di lihat oleh kita saja" usul Sesilia yang di setujui yang lainnya.
Mereka semuapun menuju ke lapangan luas yang di maksud sesilia dengan menggunakan balon ajaib milik elements aqua, mereka melayang ke udara tanpa ada yang melihat.
Pembuatan istanapun di mulai dengan bekerjasama. Dinding-dinding yang kokoh di buat oleh elements crystal, pepaduan pintu dan lantai dari element ice, pembuatan danau jernih dari elements Aqua dan earth. Istana besar nan megah telah selesai di buat selama setengah jam dan membuat perisai transparan agar manusia biasa tidak bisa melihat istana itu.
"Yura mungkin ikut tiada dengan dunia kita" sendu Ibu ratu Gloraris meldi.
"sudah saatnya kami kembali" ucap King Ezra angkat bicara sambil melepaskan mahkota yang berada di atas kepalanya dan di ikuti yang lainnya.
"kami akan mengunci kekuatan kami, dan iya kami mungkin tidak akan mengunjungi istana ini lagi karena manusia berbeda dengan kita, akan menjadi berita heboh jika kami sering mampir di sini" ucap Diah.
"kami akan mencari orang tua Yura bahwa dia tidak terselamatkan" kata Sesilia sambil menangis.
Mereka ber-enampun pamit dengan yang lainnya, penuh isakan karena tidak kembali bersama Queen Yura. Perpisahan yang terjadi membuat mereka lupa dengan kenangan indah di world elements, berlatih pedang, adu kekuatan, bertarung, bahkan mempertaruhkan nyawanya. Kenangan pahit dan manis telah hilang bersama hancurnya world Elements.