World Elements

World Elements
war



Hanya tinggal menunggu malam dan gerhana bulan Yura sudah siap dengan apa yang terjadi.  Saat ini Yura memiliki 2 lapisan lingkaran manusia yang membantunya. Lapisan pertama tedapat Pangeran Clard, Novia, Ezra, Diah, Roby, Sesilia dan Ragil. Lapisan ke-2 terdapat Queen Ororo, King Jack, Queen Pinkki, King Calvin, Queen Claudia, King Glend, Queen Irridesa dan King Fitz.


Saat itu Yura tidak menggunakan penutup kepalanya, rambut hitam dan putih terlihat jelas di depan mata Pangeran Clard karena Yura yang membelakanginya.


Mereka semua saling berpegangan tangan dan mengeluarkan aura dari kekuatan elemen masing-masing untuk menyambut gerhana bulan.


Satu jam telah berlalu, gerhana bulan telah mulai di posisinya. Takut, kepercayaan diri, saling melindungi, dan saling menjaga. Di saat sinar gerhana bulan penuh mengenai tubuh mereka, mereka merasakan getaran ribuan pasukan yang menuju istana. Queen Ororo menyempatkan dirinya menggunakan telepati ke salah satu pimpinan pasukannya untuk siap siaga dan kembali berkonsentrasi pada sinar gerhana bulan.


Cahaya masing-masing dari mereka mulai terang tapi tidak seterang dengan cahaya yang Yura miliki. Cahaya itu sangat terang hingga mereka tidak berani membuka mata. Bahkan saat menutup mata saja cahaya itu masih bisa menembus.


Gerhana bulan sudah berakhir tapi cahaya mereka belum menghilang. Cahaya itu semakin terang dan membentang ke langit, saat itu energi yang besar dapat di rasakan pasukan Dark.


Cahanya pelangi yang memiliki 8 warna dengan 2 lapisan terlihat seluruh kerajaan yang ada di World Elements. Bahkan energi dari cahaya itu dapat di rasakan sejauh apa pun. Sementara pasukan iblis yang di pimpin bangsa Dark bergerak cepat untuk menyerang. Jauh di depan, pasukan dari kerajaan Viore juga sudah terlihat dan siap siaga karena perintah dari Queen Ororo.


"Pemanaaah!" teriak satu-satunya pemimpin pasukan itu yang mengacukan pedang ke atas. "Seraaaaaaaang" perintahnya dengan mengacukan pedang ke atas.


Pasukan pemanah mulai melesatkan ribuan panahnya dan mengenai tepat kesasaran. Walau puluhan panah yang tertancap ke tubuh, tapi Pasukan iblis itu tidak terlihat lemah. Tiada henti, sebelum anak panah habis pasukan pemanah tidak menghentikan panahannya.


"Elemen Sunlight" teriak pemimpin itu lagi. "Lesatkan cahaya kalian" perintah pemimpin itu.


Pasukan elemen Sunlight mulai mengarahkan telapak tangan mereka kedepan dan mulai mengeluarkan elemen mereka masing-masing bersamaan. Cahaya seterang matahari melesat ke pasukan lawan, tapi cahaya itu tidak juga dapat menghentikan pasukan itu.


"Kalian semua akan mati" batin Pangeran Odin. "Pasukan percepat langkah kalian" perintah Pangeran Odin.


"Odin, Ayah dan Ibu menyerahkan pasukan ini kepadamu. Untuk sementara Ayah dan Ibu akan melawan 16 orang penting itu" ucap King Zigaz.


"Ayah! Ibu! Pastikan Yura dalam keadaan selamat. Aku tidak ingin dia terluka" pesan Pangeran Odin kepada orang tuanya.


Di halaman belakang di mana Yura dan yang lainnya berada. Karena kehilang tenaga Yura mulai kehilangan keseimbangannya berdiri.


"Aakhh..." rintihnya sambil memegang kepalanya menahan sakit.


"Yura?" panggil mereka bersamaan.


"Bersabarlah, sinarnya hampir menghilang Yura" ucap Queen Ororo.


Demi keselamatan Yurapun mulai menegarkan tubuhnya dan menahan pusing di kepalanya. Sinar telah kembali ke tubuh mereka masing-masing. Sementara Yura yang berada di tengah-tengah antara mereka sudah tidak bisa menahan sakit dan terjatuh di pelukan Ezra.


"Yura?" panggil mereka panik.


"Elemen yang memiliki energi panas sebaiknya jangan menyentuh tubuhnya" kata Queen Irridesa mencegah agar yang lain tidak mendekat.


"Serahkan Yura kepada kami, atau kalian semua akan mati" seru seorang wanita yang berada di belakang mereka.


"Queen Tara?" gumam mereka kecuali para munusia yang berasal dari bumi karena tidak pernah melihat bangsa Dark kecuali Yura.


"Ezra, jaga Yura. Baik-baik biar kami semua yang melawan mereka" ucap Novia.


"Tidak! Kalian semua pergi dari sini! Biar kami yang mengurus ini. Sebelum Yura sadar tetaplah bersamanya apa pun yang terjadi" kata Queen Ororo yang di sambut anggukan dari para kesatria.


Pangeran Clard yang berada sedikit jauh darinya kesusahan untuk melihat wajah Yura yang tergeletak di pelukan Ezra yang menggendongnya ala bridal. Tidak ada pilihan lain, mereka membawa Yura menuju kamarnya dan membaringkannya ke tempat tidur sambil memasangkan topi di kepalanya.


"Mengapa rambut Yura belum berubah seutuhnya ya?" tanya mereka kebingungan.


"Apa yang kamu lihat?" tanya Ragil yang tak sengaja melihat Pangeran Clard selalu menjengukan matanya ke Yura.


"Aku hanya merasa cemas terhadapnya" jawab Pangeran Clard.


"Buku itu hanya menjelaskan saat elemen Storm mendapatkan identitas sepenuhnya. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya" jawab Sesilia karena hanya dia dan Yura yang mengetahui apa yang di jelaskan buku itu.


"Mmmbbarrr" suara pintu kamar yang terbanting membuat mereka semua terkejut.


"Odin?" gumam Pangeran Clard.


"Fizi" gumam mereka saat melihat wajah Pangeran Odin yang mirip dengan Fizi temannya yang di bumi.


"Ngapain kamu ke sini? Tidak di bumi tidakk di World Element kamu terus saja muncul sebagai penghalang" bentak Ragil kepada Pangeran Odin.


"Hm.. Dasar manusia bumi!" cetus Pangeran Odin. "Sebelum kalian ada di sini aku sudah duluan di sini, karena aku buka Fizi tapi Odin! Pangeran Odin yang menjadi maut kalian karena telah memisahkanku dengan Yura"


"Kami tidak akan membiarkan kamu mengambil Yura dari kami" seru Novia.


"Jangankan mengambil, menyentuhnya saja kamu tidak akan bisa selagi kami ada di sini" sambung Ragil.


Mereka ber-6 mulai bertarung dengan Pangeran Odin, kecuali Ezra.


"Yura sadarlah" ucap Ezra yang mulai cemas.


"Aakkhhh..." rintih Yura yang mulai sadar. "Ezra?" panggil Yura.


"Yura?" ucap Ezra. "Guys, pancing Odin ke luar dan bergabung dengan pasukan!" ajak Ezra yang melarikan diri bersama Yura.


Tiba di tempat pertarungan sengit antara bangsa Dark dan para Elemen. Yura bergabung bertarung melawan pasukan iblis dengan ahli pedangnya. Tanpa membuka penutup kepalanya, dengan cepat pedang Yura mengenai sasaran dengan tepat. Dalam kemenangannya dalam bertarung tapi tubuhnya mengalami luka-luka dan memar tanpa di sentuh dan di serang oleh siapapun. Dari kejauhan Queen Ororo mencoba mengamati apa yang telah terjadi kepada Yura, dan kedapatan bekas luka dari serangan Pangeran Odin ke tubuh Pangeran Clard menghilang. Sementara Yura mendapatkan luka tanpa di serang.


"Aaakkhh" rintih Sesilia dan Roby saat pedang Pangeran Odin menembus tubuh mereka berdua.


"Dua telah mati!" ucap Pangeran Odin dengan senyuman kemenangan.


"Sesil... Roby" teriak mereka serempak saat melihat Sesilia dan Roby terjatuh tak bernyawa.


Tubuh yang di mandikan dengan darah kini tak dapat lagi bernafas. Setelah Sesilia dan Roby, kini giliran Novia dan Ezra. Melihat kematian sahabatnya kekuatan mereka semakin melemah. Hanya Pangeran Clard, Ragil, dan Diah yang tahu bahwa ke-4 sahabat mereka telah tiada.


"Ternyata sihir perjanjian itu ada pada Clard dan juga Yura" batin Queen Ororo. "Clard! Jangan biarkan dirimu terluka" teriak Queen Ororo dari kejauhan.


"Srrrrikk" sekali lagi ke-2 pedang Pangeran Odin menembis tubuh Diah dan Ragil.


"Matilah kalian. Sudahku bilang kalian bukanlah tandinganku" gumam Pangeran Odin.


Saat itu Yura melihat dengan ke-2 mata kepalanya sendiri Diah dan Ragil terbunuh.


"Tidaaaaakkk" teriaknya dari jauh dan berlari sekencang mungkin menghampiri sahabatnya.


Melihat teman-temannya tidak bernyawa, Pangeran Clard tidak tinggal diam. Dia menyerang Pangeran Odin bertubi-tubi sehingga dia tidak bisa membalas serangannya.


"Teman-teman bangun..." tangis Yura pecah. "Diah... Novia... Sesil... Bangun! Ezra... Roby... Ragil... Bagaimana caranya aku memberitahukan kepada orang tua kalian di bumi" ocehan Yura yang melihat sahabatnya sudah tidak bernyawa.


Dalam tangisnya dia mengingat saat mereka masih bersama, tertawa, sedih dan berakhir di batu besar tempat mereka masuk ke World Elements.


"Tidak... Kalian tidak boleh pergi! Bangun, guys bangun! Jangan menghukumku seperti ini. Bukankah kita bersahabat sejak kecil?" Yura terus saja menanggis.


Saat itu satu orangpun tidak bisa menyentuhnya karena terdapat perisai yang sangat kuat melindunginya. Entah siapa yang membuatnya tidak ada yang tahu. Bahkan Pangeran Clard pun tidak dapat menembusnya. Yura terus saja mengingat akan kebersamaanya terhadap sahabatnya itu.


"Ini semua salahku! Ini semua salahkuuuuu!" teriak Yura yang membuat angin yang tenang menjadi kencang. Topi yang sedari tadi menutupi kepalanya kini terbuka lebar. Perlahan rambut hitamnya berubah menjadi putih seutuhnya. Perubahan warna rambut Yura kembali mengeluarkan cahaya yang sangat terang bahkan menembus langit.