
"Odin!" panggil Yura.
"Hm?" jawab Pangeran Odin mengangkat salah satu alisnya.
"Sebaiknya aku menyembunyikan hal ini. Anggap saja aku belum mengetahui bahwa dia merupakan bangsa Dark" batin Yura yang menatap wajah Pangeran Odin.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanyanya.
"Hm? Tidak. Aku hanya memikirkan pernikahan kita nanti malam" jawab Yura berbohong. "Oh ya, aku ingin mengitari istana sendirian tanpa ada pengawal atau siapa pun di samping ku" kata Yura yang di setujui Pangeran Odin.
Yurapun mulai mengitari istana tanpa di kawal oleh pengawal. Yura melihat seluruh istana memang berubah, 100% berubah. Kegelapan di mana-mana. Sebelumnya terlihat taman yang begitu indah, kini menjadi bunga-bunga hitam yang menjadi monster.
"Sebaiknya aku melarikan diri dari sini" batin Yura kembali menutupi kepalanya menggunakan penutup kepalanya.
Saat berada di ujung gerbang terlihat jelas para pengawal menjaga ketat gerbang itu.
"Pengawal itu menjaga ketat istana" batin Yura. "Ibu dimana kamu? Tolong aku Ibu, teman-teman? Clard? Semuanya tolong aku" batin Yura.
"Yura?" panggil seorang wanita di pikirannya.
Yura langsung mengenal suara itu. Suara itu adalah suara Ibunya, Queen Ororo.
"Ibu? Apakah ibu disana?" tanya Yura.
"Iya, ada apa? Bagaimana kamu bisa memanggil ibu dengan telepati nak?" tanya Queen Ororo.
"Sudahlah Ibu, itu tidak penting. Sekarang tolong aku, saat ini aku berada di istana Gosh" kata Yura yang membuat kaget Queen Ororo.
"Apa? Apa yang kamu maksud? Kamu di culik lagi oleh bangsa Dark?" tanya Queen Ororo bertubi-tubi.
"Ibu, sudah hampir 3 hari aku berada di istana ini. Tapi Ibu sama sekali tidak mencariku?" Kata Yura.
"..." hening tidak ada jawaban dari Queen Ororo.
"Yura?" panggil pemuda sambil memegang pundak Yura.
"Hm?" kagetnya.
"Kamu berbicara dengan siapa?" tanya Pangeran Odin.
"Aku? Aku berbicara dengan diriku sendiri" jawab Yura berbohong.
"Yura? Apakah itu Odin?" tanya Queen Ororo dengan telepatinya yang masih tersambung.
"Iya ibu" jawab Yura tanpa membuka sudut bibirnya.
"Yura, aku tidak ingin kehilanganmu" ucap Pangeran Odin yang memeluknya.
"Yura? Mencobalah untuk menghindar darinya, agar kamu bisa pergi dari istana itu" kata Queen Ororo.
"Lapor Pangeran" kata wanita yang tiba-tiba saja datang.
"Ada apa?" tanya Pangeran Odin melepaskan pelukannya kepada Yura.
"Ada yang harus ku bicarakan, tapi tidak di sini" jawab wanita itu tenang.
Dengan cepat Pangeran Odin bersama wanita yang merupakan kepercayaan pergi meninggalkan Yura sendirian.
"Ibu? Apa ibu masih di sana?" tanya Yura.
"Berbicaralah menggunakan batinmu, agar semua orang tidak mencurigaimu" perintah Queen Ororo.
Dalam telepati Queen Ororo memberikan aba-aba untuk membuat Yura berhasil pergi dari istana itu. Tepat di depan gerbang Yura sedikit mengeluarkan tenaga untuk bertarung melumpuhkan para pengawal itu.
***
"Pangeran, aku bisa merasakan kekuatan Queen Ororo berada disini" ucap Wanita itu.
"Apa? Bagaimana bisa?" bentak Pangeran Odin.
"Lapor pangeran, Yura telah melarikan diri dari istana bahkan dia juga membunuh pengawal yang menjaga gerbang" laporan seorang lelaki dengan rasa takut.
"Sial! Ternyata dia lebih cerdik dariku. Cari dia sampai dapat jangan biarkan dia lolos. Satu hal lagi, jangan biarkan dia terluka sedikitpun" perintah Pangeran Odin dengan amarahnya.
10 prajurit dan 5 orang kepercayaan istana di kerahkan untuk mencari Yura. Dengan menggunakan masing-masing dari kekuatan 5 orang itu dia mendenteksi keberadaan Yura tapi tidak juga menemukannya. Sementara Yura, Yura yang sangat jauh dari mereka bisa di bilang telah hampir mencapai gerbang istana.
"Ibu, aku hampir mencapai gerbang" ucap Yura yang masih menggunakan telepati.
"Baiklah! Ibu akan kesana" jawab Queen Ororo memutuska telepati.
Dengan cepet menggunakan kekuatannya Queen Ororo mencapai gerbang dan melihat Yura sedang kelelahan berjalan menuju gerbang. Karena tidak sabar, Queen Ororo memutuskan untuk menjemput Yura dan memastikan bahwa dia memang benar Putrinya Yura.
"Kamu memang benar Putriku" ucap Queen Ororo memeluk dan mengusap lembut kepala Yura. "Yura, My Princess" Queen Ororo melepaskan pelukannya dan kembali memeluknya lagi.
Air mata mereka berdua kini mulai menetes dan membasahi pipi mereka. Saat adegan pertemuan itu, mereka berdua juga melihan 15 orang berjubah hitam menuju mereka.
Karena sedikit marah, Putri kesayangannya telah di culik. Queen Ororo melepaskan pelukannya dan memutuskan untuk bertarung melawan 15 orang itu.
Pertarungan sengit itu di menangkan oleh Queen Ororo. Dengan kemarahan dan takut 15 orang itu pergi melarikan diri.
"My Princess" sekali lagi Queen Ororo memeluk putrinya. "Baiklah, sekarang kita harus mengakhiri drama ini" kata Queen Ororo melepaskan pelukannya beralih menarik tangan Yura.
Di dalam perjalanan masuk ke istana, Queen Ororo menjelaskan semua yang telah terjadi dan apa yang telah Yura palsu itu lakukan.
"Untuk sementara bersembunyilah di balik singgasanaku, setelah semuanya di ketahui yang lainnya barulah kamu keluar" kata Queen Ororo. "Prajurit!" teriak Queen Ororo yang di sambut dengan kedatangan salah satu prajurit yang menjaga pintu ruang rapat. "Aku ingin mengadakan rapat, pastikan semuanya hadir!" bunyi perintahnya.
Dengan menunggu beberapa menit, semuanya hadir di sana. Gemuruhan pertanyaan mulai terdengar dan berhenti saat Queen Ororo mengangkat tangan kanannya yang menandakan untuk diam.
"Yura!" panggil Queen Ororo kepada Yura yang sedang duduk bersama teman-temannya, lebih tepat lagi di samping Pangeran Clard. Semua yang berada di ruang rapat itu mulai menatapnya.
"Cambuk dia yang berdiri di tengah-tengah kita, yang mengenakan jubah putih dengan penutup kepala itu" peritah Queen Ororo sambil menunjuk Yura.
"Yang Mulia..." kata Novia hendak protes tapi di hentikan Queen Ororo.
"Keberatan!" teriak Pangeran Clard. "Apa yang terjadi yang Mulia? Kami semua sebagai sahabat Yura tidak mengizinkan Yura akan dicambuk" kata Pangeran Clard memberontak.
Bukan hanya sahabat Yura tapi semua seisi ruang rapat itu juga memberontak tidak setuju.
"Tidak! Aku akan menerimanya" Yura angkat bicara yang membuat suasana yang kalut menjadi hening.
Kini tatapan sedih, kecewa dan marah tertuju kepada Yura yang akan dicambuk.
"Aku akan menerimanya, aku tahu keputusan Ibuku, yang Mulia Ratu pasti ada alasannya" ucapnya. "Sial drama ini harus berhasil, tunggu apa lagi sahabat-sahabat Yura yang bodoh. Lindungi aku" batin Dian yang menyamar menjadi Yura.
Pencambukpun mulai mendekat dan mengarahkan cambuknya ke tubuh Yura. Semua yang berada disana memejamkan mata untuk tidak melihat penderitaan Yura. Entah mengapa bunyi cambukan belum juga terdengar, karena pernasaran mereka semua kembali membuka mata kecuali Queen Ororo yang menyaksikan semua.
Terlihat jelas, semua sahabat Yura mengelilinginya sementara Pangeran Clard menahan cambukannya menggunakan tangan. Karena sedikit marah, Pangeran Clard menarik cambuk itu dan menyerang si pencambuk.
"Apa yang kalian lukukan?" benar Queen Ororo sangat marah.
"Yura adalah sahabatku, jika ada yang berani melukainya kami tidak akan berdiam diri" ucap Diah yang berada di posisinya.
Yura yang merasa di bela, mengeluarkan senyuman liciknya yang di dapatkan Queen Ororo.
"Hiiiiaaakk" teriak Queen Ororo menyerang Yura dari kejauhan. Serangan tepat di jantung sasaran.
"Uhuk" Yura batuk mengeluarkan darah. "Sialan, dia benar-benar akan membunuhku" batin Dian.
Lemah tak berdaya sosok Yura kini berubah menjadi wanita yang tidak di kenal. Saat itulah Yura yang sedari tadi berada di balik singgasana dan hanya mendengar apa yang terjadi kini keluar dari persembunyiannya.
"Terima kasih belaannya teman-teman. Tapi yang kalian bela bukanlah aku, tapi mata-mata bangsa Dark yang menyamar menjadiku, yaitu Dian" ucap Yura yang keluar dari persembunyiannya.
Mulut ternganga mengekspresikan tidak percaya, bingung, bertanya-tanya, bahkan ada yang melotot. Yura menjelaskan apa yang sebenarnya yang terjadi sementara Dian, dia dengan diam-diam berhasil meloloskan diri dari sana.
"Yura? Jadi sekarang apa kamu baik-baik saja" tanya mereka semua.
Yura menjawabnya dengan anggukan kepala dan senyuman.
"Kalian semua boleh pergi!" peritah Queen Ororo.
"Guys, Odin dia yang menculikku. Wajahnya sangat mirip dengan Fizi" Yura menjelaskan tentang Pangeran Odin.
"Sudahlah, yang penting kamu selamat" seru Ezra.
Saat itu Yura mendapatkan pelukan hangat dari teman-temannya.
"Aku sayang kalian" kata Yura yang mendapatkan pelukan hangat.
_____________________________________
Horeeeeππππ
Akhirnya Yura berhasil kembali ke istana Viore...
Ngomong-ngomong apa yang terjadi kepada Pangeran Odin di istana Gosh ya???
Makanya baca terus ceritanya!
Jangan lupa Votmen yaaaa... π