World Elements

World Elements
Mirror mist



Di dasar laut dimana terdapat seekor mermaid berwarna merah yang tidak lain adalah Aries bersama seekor lumba-lumba yaitu Pino. Mereka terus berenang tanpa henti dengan mengikuti petunjuk peta.


"Aries? Lihat di depan sana terdapat lembah! Apa kita harus berenang masuk ke dalam?" tanya Pino.


"Ya aku rasa begitu" jawab Aries kembali menggulung peta air.


Mereka berdua mulai berenang menuju lembah itu, saat mereka berada di dalam sana hanya kegelapan yang terlihat. Namun keberanian mereka tidak membuatnya patah semangat.


Aries merasa ada yang aneh pada tumbuhan-tumbuhan di sekitarnya. Pada akhirnya datang beberapa rumput laut menyerang mereka dan mulai melilit ekor Aries hingga ke pinggang. Aries berteriak kesakitan meminta tolong kepada Pino agar dapat membantunya, namun usahapun gagal. Karena Pino tidak memiliki cukup tenaga untuk menolong Aries.


Aries semakin di tarik dan terus ditarik hingga terkurung di dalam rumput laut yang panjang. Rumput laut itu sangat kuat seperti besi bahkan Ariespun kekuatannya pun tidak dapat menolong untuk mendorongnya.


Elemen Air, aqua, ice bahkan blink telah dia coba untuk melepaskan diri, sementara ekor nya masih dalam keadaan di liliti oleh rumput laut.


"Pino? Tolong aku!" teriak Aries sambil menarik-narik rumput laut agar tercabut dari akarnya.


"Aries! Aku tidak bisa! Aku tidak bisa melakukan apapun! Saat ini aku seekor lumba-lumba, bukan diriku sendiri!" Pino putus asa dan kemudian menangis.


"Pino! Pino! Tenang! Tenang! Bukannya kamu bangsa mermaidkan? Mendekatlah!" kata Aries mencoba menenangkan Pino.


Tanpa berfikir panjang Pino pun mulai mendekat sesuai dengan apa yang di ucapkan Aries.


"Tolong! Gigitlah jari manisku" pinta Aries yang membuat Pino kaget.


Dengan cepat Pino mengatakan tidak dengan di ikuti gelengan kepalanya sementara Aries terus-terusan memaksa Pino melakukannya yaitu menggigit jari manisnya.


"Pino, pleassseee. Lakukanlah sebagai kakakku bukan teman/sahabat ku!" bujuk Aries.


"Aku tidak akan melakukannya. Biarkan aku tetap menjadi seperti ini!" jawab Pino tetap pada keputusannya.


"Apa kamu akan membiarkan aku mati disini?" tanya Aries yang tidak mendapatkan jawaban. "Jika kamu tetap menolak, maka aku terpaksa melakukan ini! Sebagai Ratu dari segala Ratu aku memerintahkan kamu untuk menggigit jari ku sekarang! Jika tidak, kamu akan melihat mayatku disini" itu adalah pertama kalinya Aries memerintahkan seseorang.


Karena perintah ini yang pertama, World Elements memdapatkan badai. Petir mulai bersahutan dan kemudian di sambut dengan angin yang sangat kencang. Semua pemimpin dari kerajaan yang berbeda-beda merasakan apa yang telah terjadi, badai itu terjadi karena perintah dari Storm. Cuaca di sana menjadi dingin karena turunnya hujan. Sementara di lautan di mana Aries dan Pino berada, mendapatkan arus air laut yang sangat deras.  Karena kejadian itu, Pino dengan terpaksa menggigit jari manis Aries hingga berdarah. Darah itu tanpa sengaja masuk dalam tubuh Aries dan di ketahui sang pemilik darah, karena itu memang yang di inginkan Aries sendiri. Sementara badai yang melanda World Elements berhenti seketika.


"Sekarang pintalah agar kamu mnjadi mermaid sekarang sebelum kekuatannya hilang!" perintah Aries.


"Tapi?" ragu Pino.


"Sekarang!"


Dengan cepat Pino meminta apa yang telah hilang darinya. Perlahan cahaya biru tua mulai mengelilingi Pino hingga tidak memperlihatkan sosok Pino lagi. Dalam beberapa menit ekor Pino mulai terlihat dan memanjang kebawah. Tidak lama kemudian perubahan Pino menjadi Putri Kenny sempurna.


"Kamu cantik sekali" kagum Aries. "Sekarang tolong aku" pintanya.


Pino alias Putri Kenny menarik rumput laut itu hingga tercabut, kemudian menarik lengan Aries. Usaha Pino/Kenny kini berhasil dan membebaskan Aries.


"Terima Kasih!" ucap Aries memeluk saudara angkatnya. Dalam pelukannya cahaya biru tua kembali menyinari tubuh Putri Kenny dan mengembalikannya menjadi sosok Pino yaitu lumba-lumba.


"Maafkan aku, kamu menjadi mermaid hanya untuk sementara"


"Tidak masalah! Yang penting kamu selamat!" balas Pino.


Karena telah bebas dari masalah, mereka berdua pun kembali melanjutkan misinya dan memasuki lebih dalam. Dalam renang mereka hingga sampai keruang yang berbentuk lingkaran siapapun tidak terlihat di sekitarnya bahkan petapun tidak memperlihatkan siapapun disana. Dalam penerawangan mereka tiba-tiba ada suara wanita yang mengagetkannya.


"Siapa di sana?" suara wanita yang tidak tahu dari mana asalnya.


"Aku Aries dan ini saudara sekaligus sahabtku Pino!"


"Kenny? Pino? Putri Kenny yang di beri hukuman kutukan itu bukan?" tanya seara itu.


"Bisakah kamu menunjukan wujudmu?" pinta Aries dengan sopan.


Dalam hitungan menit, permintaan Aries terpenuhi. Di arah depan muncul pusaran air kecil yang tidak berbahaya dan mengeluarkan seekor ikan berwarna hijau dan sedikit warna pink di bagian sirip. Ukaran ikan itu lebih kecil dari ukuran Pino bahkan 4 kali lipat.


"Hm... Storm? Pantas saja kamu bisa sampai di sini!" ucapnya yang berenang mulai mendekati Aries dan Pino.


"Jangan basa-basi lagi! Tujuan kami datang ke sini untuk mencari di mana letak mutiara mutiara pelangi" ujar Pino.


"Aku tidak akan memberitahumu!" kata Clo si ikan kecil yang Indah itu.


"Apa? Tapi mengapa?" tanya Aries.


Clo memutar balikan arah tubuhnya dengan posisi membelakangi mereka berdua sambil berenang mendekati cangkang tiram itu dan di ikuti oleh Aries dan Pino.


Sesampainya di depan cangkang tiram,  Clo membacakan sesuatu yang tidak begitu jelas di telinga Aries dan Pino. Perlahan setelah Clo berhenti, tiram itupun terbuka lebar dan memperlihatkan sebuah cermin selebar tiram itu dan sebuah mutiara laut berwarna biru tua terletak di depan cermin itu. Cermin itu di namakan cermin kabut, dimana seseorang/sekelompok orang dapat meminta sesuatu.


"Dengar! Kalian hanya dapat 1 permintaan,  tidak lebih. Jadi, apa kalian yakin ingin melihat letak mutiara pelangi? Pino, apa kamu tidak ingin meminta sesuatu? Seperti cintamu? Atau kamu Aries? Apa kamu tidak ingin melihat masa lalumu?" ucap Clo yang menawarkan permintaan lainnya sehingga membuat Aries dan Pino sedikit tertarik dan mulai mendekati cermin kabut.


"Tidak! Kami tidak membutuhkan itu" ucap Aries yang hampir saja terhipnotis.


"Ya kamu benar Aries, kita akan tetap pada tujuan kita" sambung Pino yang mendapatkan senyuman dari Clo.


"Perlihatkan dimana mutiara pelangi berada" ucap mereka serempak.


Cermin itupun memperlihatkan kabut yang sangat tebal. Kabut tebal itu mulai menghilang hanya mutiara berwarna putih susu yang terlihat di cermin itu. Mutiara berwarna putih susu itu tak lain adalah mutiara pelangi.


"Mutiara pelangi" ucap mereka berdua kagum saat melihat keindahan mutiara itu.


"Clo? Dimana kami bisa menemukannya?" tanya Aries tergesah-gesah.


"Dimana tidak akan kamu temukan keberadaannya" jawab Clo menggunakan teka-teki.


"Maksudmu?" bingung mereka.


"Pergilah kelaut mons. Disana kamu akan mendapatkan jawabannya" jawab Clo.


Dalam sekejap Clo menghilang dari sana tidak melihatkan ikat hijau bersirip pink itu. Dengan cepat, mereka berdua keluar dari tempat itu. Sementara Aries lagi-lagi dia mengalami perubahan warna, sebelumnya berwarna hijau kini berubah menjadi warna merah. Hal itu tidak begitu asing lagi di mata Pino, karena dia sudah melihatnya berubah warna berkali-kali.


Seperti biasa suasana mereka tidak pernah melewatkan hening, melainkan penuh tawa dan gembira. Mereka berdua sama sekali tidak mengambil pusing ataupun serius tentang tujuan mereka ke mutiara pelangi, melainkan menganggapnya biasa saja dan tetap akan melanjutkan pertualangan mereka.


Mereka kembali melanjutkan misi melewati laut yang tidak pernah mereka kunjungi bahkan mamalia lautpun belum terlihat di sana. Hanya kegelapan mengitari mereka, cahaya matahari tidak mampu menembus lautan itu. Kecuali cahaya aura dari Ariel dan cahaya yang dia buat sebelumnya untuk melihat arah jalan yang ada di depan mereka.


"Lihat! Ada hiu di bangkai kapal itu" seru Pino yang melihat 2 ekor hiu berada di bangkai kapal yang tergelam.


Dengan cepat, merekapun berenang menuju hiu-hiu itu. Dari kejauhan mamalia laut yang di kenal ganas itu telah menatap mereka tajam. Walaupun sedikit gugup dan takut, Pino mencoba untuk memberanikan diri dan berenang agak menempel di lengan Ariel. Melihat kelakuan Pino, Aries terkekeh geli karena baru kali ini melihat Pino ketakutan.


Sesampainya di bangkai kapal...


"Hei saudaraku? Berapa hari kamu belum makan? Ada dua mangsa di depan kita" seru hiu berwarna hitam di bagian sudut bibirnya hingga ke sirip dan warna putih di bagian bawah.


"Enatahlah saudaraku, aku sudah lapar saat ini" jawab hiu yang warnanya kebalikan dengan warna hiu yang bertanya kepadanya.


"Hey? Apa yang kalian katakan? Kalian ingin memakan kami? Coba saja hadapi... Ariel ya Ariel, dia bisa saja berubah menjadi paus dan memakan kalian" seru Pino mencoba untuk berana.


"Tidak! Tenanglah! Apa kalian bisa di ajak kerjasama? Aku Ariel dengan elemen storm dan dia? Dia Pino" kata Aries mencoba untuk membenarkan situasi disana.


"Pino? Pino yang dikutuk bukan?" ejek ke-2 hiu itu.


"Namaku Karlo" balas hiu dengan warna hitan di bagian ats dan putih di bagian bawah.


"Dan aku Kirlo" sambung hiu dengan warna kebalikan dari Kirlo.


"Saudara? Kalian saudara?" tanya Aries.


"Ya bisa di katakan seperti itu" jawab Karlo.


"Apa kalian akan tetap memakan kami?" tanya Pino sedikit gugup.


"Hahaa... Apa kamu gila? Kami adalah hewan terhormat, kami tidak memakan mahkluk hidup kucuali yang telah mati" jawab Kirlo.


"Ya baguslah, tapi kami disini ingin menanyakan ke mana arah laut mons?" tanya Ariel.


"Laut mons? Kalian sekarang tidak berada jauh dari laut mons. Dari sini berenang lurus kemudian kalian akan menemukan 10 Batu, disanalah perbatasannya" jawab Karlo.


"Hm... Terima Kasih telah memberitahu kami" ucap Aries kemudian memeluk Karlo dan Kirlo.


"Tunggu dulu? Di antara kalian siapa yang lebih tua?" tanya Pino.


"Aku" jawab Karlo.