
Awal dari perjalanan terlihat kondisi Yura yang entah bagaimana membuat mereka semua memandang ke arah yang sama di mana Yura melangkah. Kepucatan wajahnya sangat terlihat jelas yang menandakan bahwa dia benar-benar sakit, saat di tanya entahlah dia hanya menjawab baik. Untuk menjaga kepastiannya dan dirinya mereka memutuskan untuk berjalan dengan posisi Yura berada di tengah-tengah antara mereka.
Keringat Yura mulai menetes, pandangan mulai berkunang-kunang dan langkahpun mulai tidak stabil namun dia coba untuk tetap tegar dan menyembunyikannya. Sesekali dia mendapatkan pandangan yang menurutnya sangat mengerikan. Panggilan-panggilan rintihan mulai bergemah di telinganya.
'Jauhi dia! Dia bukan lagi sahabat kita, melainkan iblis!'
...
'istana saat ini dalam keadaan genting yang mulia!'
...
'aaarrrggghhkkk... aaaarrgghhkk... tolong! Aaaaarrrgghh...'
...
'apa yang kamu lakukan Yura?'
...
Suara-suara itu semakin jelas hingga membuat Yura merasakan sakit di bagian kepala dan kemudian tidak tertahankan hingga membuatnya menghempaskan kedua lututnya ke tanah, yang mendapatkan responan kaget dari sahabat-sahabatnya.
"Yura?" Panggil cemas mereka.
"Yura? What happen with you?" Tanya Diah sambil memegang pundak Yura dan mensejajarkan posisi mereka berdua, bisa di bilang sama-sama duduk di tanah yang lembab.
Pertanyaan itu tidak mendapatkan jawabannya, kecuali Yura yang berdiam dirinya sambil memandang ke arah tanah.
"Yura? Yura? Yura?" Panggilnya sambil mengguncangkan tubuh milik Yura.
"Aaaaarrrgghh..." teriaknya sangat mengerikan sambil memandang ke arah langit-langit hutan di ikuti dengan Mata yang mulai berubah menjadi hitam pekat bagikan iblis/dark dari segala iblis/dark di World Element.
Melihat perubahan itu, mereka semua semakin panik. Perubahan itu mereka anggap responan Element Dark yang ada dalam tubuhnya dari hutan kutukan yang kini perlahan menguasai Yura secara perlahan hingga gerhana bulan tiba. Namun, walaupun seperti itu, mereka tetap juga akan merasa panik dan cemas karena keadaan Yura yang saat ini. Kini tubuhnya mulai melemah dan sedingin es, tidak dapat di jelaskan oleh kata-kata saat itu Yura layaknya seperti seorang mayat hidup.
"Yura, bertahanlah!" Ucap mereka sambil mengelus-elus kepala milik Yura.
"Tidak ada waktu lagi, kita harus keluar dari hutan kutukan ini! Sebelum seluruh Element Dark menguasai tubuh Yura" ucap Pangeran Dilon mendapatkan anggukan dari yang lainnya.
Pangeran Clard memutuskan untuk menggendong Yura ala bridal dan melanjutkan perjalanan mereka. Tubuh yang tidak berdaya kini tergeletak di gendongan Pangeran Clard. Kepanikan, keresahan, semua mereka rasakan akibat tidak menemukan satu titik cahayapun di hadapan mereka.
Kepanikan telah menguasai tubuh mereka sehingga tidak sadar, mereka kehilangan satu anggota laki-laki lagi. Dengan ciri-ciri khas berambut ungu, tampan,keren tidak lupa dengan tanda electric di bagian dahi miliknya dan dia adalah pacarnya Sesilia, Siapa lagi kalau bukan Ragil si cowok cool. Entah pergi kemana setelah jauh melangkah mereka baru menyadari kehilangan sosok Ragil.
"Damn!!! Ketiga anggota kita sudah menghilang!" Sengit Ezra yang berhenti secara tiba-tiba saat melihat Ragil yang tidak ada lagi di antara mereka.
"Oh tidak, My Prince!" Gumam Sesilia panik.
"Ayolah! Jangan pedulikan mereka, mereka pasti terselamatkan bila kita mendapatkan permata kehidupan di Gunung air naga. Sebaiknya kita fikirkan apa yang akan terjadi pada Yura selanjutnya" ujar Pangeran Clard yang memperlihatkan ekspresi kecemasan yang telah lama hilang di wajahnya.
Dalam perbincangan mereka, suasana kembali hening sejenak saat melihat sanggul milik Yura terlepas dan membuat rambut emas yang sangat panjang melebihi tubuhnya itu terseret ketanah, kemudian di susul dengan berubahnya warna emas menjadi warna hitam secara perlahan. Lagi-lagi mereka di hantui dengan rasa takut. sedikit kesulitan dengan rambut yang sangat panjang, Diah dan Sesilia pun memutuskan untuk kembali menata rambut Yura dengan rapi seperti sebelumnya sementara warna rambut masih saja menghitam secara perlahan sehelai demi sehelai dan kembali melanjutkan perjalanan.
Pohon demi pohon mereka arungi, rumput-rumput tajam yang mengelilingi bahkan mampu menyobekkan kain yang mereka kenakan sebagai jubah adventure mereka.
"Yura? Apa yang terjadi padamu, aku mendapatkan kabar buruk dari perasaanku" batin Pangeran Clard yang sesekali memandang wajah Yura yang tidak sadarkan diriku sejak tadi.
***
Jauh dari hutan kutukan dimana terdapat bangunan es yang membentuk sebuah istana megah yang dihuni oleh bangsa Fairy yang berbeda-beda Element yang sebelumnya di kuasai oleh Queen Ice kini di ambil alih oleh Queen Storm yang telah kembali dari tempat dimana sejak kecil telah terpisah.
Terlihat semua penguasa dari kerajaan yang berbeda-beda telah berkumpul di sebuah ruangan yang terlihat seperti tempat pertemuan ya mungkin tempat itu memang tempat khusus pertemuan King and Queen, karena terdapat lambang masing-masing dari Element mereka di bagian pangkat kursi yang mereka duduki saat ini. King and Queen yang berkumpul tidak lain adalah Queen Liana dari kerajaan atas angin yang mewakili bangsa Fairy dan Elements electric, air, dan aqua. Queen Gloraris beserta putrinya mewakili bangsa Mermaids, Queen Tara mewakili bangsa Elements Ice, Queen Losiana mewakili bangsa Elements pengendali Sun Light, King Raggie beserta Veri mewakili bangsa Elements earth, King Jack mewakili bangsa Elements Fire dan Queen Ororo berada di singgah sana tertinggi dan terbesar.
King and Queen telah berkumpul karena mendapatkan undangan dari Queen Ororo Karen mendapat kabar bahwa para kesatria belum juga keluar dari hutan kutukan. Mereka tidak tahu harus berbuat apa, tapi setelah berdiskusi dan memikirkannya dengan sangat matang, Queen Ororo beserta Queen dan King lainnya untuk menyusul perjalanan ke hutan kutukan. Namun keputusan sang penguasa tidak di setujui oleh panglima-panglima masing-masing dari kerajaan, karena jika para penguasa tidak berada di istana maka mereka memberikan kesempatan bagus terhadap Bangsa Dark untuk menyerang yang lainnya.
Setelah berfikir panjang dan kembali berdiskusi Queen Ororo pun memutuskan untuk tetap berada di istana sambil menunggu kabar baik dari Para kesatria. Namun, keputusan yang telah di ambil, membuat Queen Ororo merasa cemas namun dia mencoba untuk menutupi kecemasannya itu agar tidak membuat keadaan menjadi keruh.
***
Kembali ke hutan yang di mana tidak ada sedikit cahayapun yang menerangi hutan tersebut. Terlihat Pangeran Clard masih dalam keadaan menggendong Yura ala bridal yang masih tidak sadarkan diri dengan warna rambut yang perlahan menghitam seperti warna rambut bangsa Dark. Semakin merambat warna hitam itu hingga sedikit demi sedikit menghilangkan warna emas rambut Yura, semakin panik pula mereka semua.
Kalung-kalung dimana terdapat kekuatan pilihan atau kekuatan pelindung yang mereka ( Yura, Ezra, Novia, Roby, Diah dan Sesilia dapatkan saat pertama masuk ke World Elements dari bumi tempat tinggal mereka, kecuali Pangeran Dilon dan Pangeran Clard) yang masing-masing mereka kenakan sama sekali tidak berfungsi.
Langkah mereka terhentikan saat melihat rambut Yura kembali berubah warna menjadi emas dan sesekali mengerutkan dahinya, kemudian di susul dengan bukanya mata Yura secara perlahan dan melihatkan mata yang normal.
"Clard?" Gumamnya sambil mengangkat sudut bibirnya hingga melebar. Entah apa yang di fikirkannya dengan beberapa menit tiba-tiba saja dia memberontak untuk di lepaskan dari Pangeran Clard namun mendapatkan penolakan dari sahabat-sahabatnya begitu juga dengan Pangeran Clard sendiri.
Semakin memberontak semakin erat pula Pangeran Clard memeluk tubuh Yura dalam gendongan ala bridal nya hingga membuat Yura menyerah kalah dan mendapatkan senyuman kemenangan dari Pangeran Clard.
"Jangan senang dulu Clard! Kamu tidak akan selalu menang dalam setiap hal!" Gumam Yura dengan wajah cemberutnya mengalah.
Mereka berdua memang tidak terlihat akur, tapi mereka dapat dikatakan sempurna bila menjadi pasangan. Namun, kehendak mereka berdua dan yang lainnya terlihat jauh berbeda saat Pangeran Clard menyatakan isi hatinya kepada Putri Kenny (eits... namun jangan salah, sekarang Putri Kenny dan Veri saudaranya Vera sudah pacaran loh... kasihan sekali kamu Clard)
"Seberapa jauh lagi kita berjalan?" Keluh Diah yang mendapatkan tatapan dari sang pacar.
"Entahlah, hutan ini sepertinya tidak memiliki ujung!" Jawab Pangeran Dilon yang menjadi kepala jalan.
"Sebaiknya kita istirahat di sini! Aku sudah mulai lelah" keluh Sesilia langsung duduk di sembarang tempat dengan bersandar di pohon tanpa seorang kekasihnya.
"Ya, kamu benar! Sebaiknya kita istirahat di sini" jawab Pangeran Dilon menyetujui keluhan Sesilia.
Mereka semuapun mengistirahatkan kaki yang telah pegal sambil meminum sedikit air dan memakan makanan yang mereka bekal kemudian membaringkan tubuh mereka ke tanah yang terasa kering dan gersang. Begitu juga dengan Pangeran Clard meletakkan Yura dengan hati-hati di dekat pohon agar Yura dapat bersandar tidak lupa dengan Pangeran Clard yang duduk di sampingnya dengan tujuan menjaga. Melihat Pangeran Clard yang kelelahan, Yurapun menyediakan pangkuannya sebagai alas kepala Pangeran Clard. Tanpa berfikir panjang Pangeran Clardpun meletakan kepalanya sambil di elus-elus lembut oleh Yura. Suasana menjadi hening, tidak terdengar lagi suara mereka karena telah terlelap tidur dengan posisi mereka masing-masing.