
Kembali ke tempat dimana Pak Rino, Bu Murni, Tuan Tio, Tuan Riyan dan yang lainnya berada.
"Yura! Novia! Ezra! Diah! Roby! Sesil! Agil!" teriak mereka bergiliran di kegelapan malam dengan lampu senternya masing-masing mencari team penjelajah.
"Iiiihhh... Nyusahin banget sih mereka!" kalut Fenny.
"Iya princess, pake acara ngilang lagi" sambung Ririn.
Mereka semua terus mencari team penjelajah itu tanpa henti.
***
Kembali ketempat dimana team penjelajah berada....
"Sekarang kita ada dimana lagi?"tanya Yura.
"Ezra, Roby, Agil" panggil Novia, Diah dan Sesilia ketakutan karena suasana hutan tadi. "Tempat apa ini?" tanya Yura sambil menerawang disekitarnya.
"Ayo kita kesana, mungkin kita akan menemukan jalan keluarnya" ajak Ragil.
"Sebaiknya kita lewat sana saja!" seru Novia lagi-lagi dengan sifat leletnya.
"Novia! Kita ini dalam masalah, tapi kenapa kamu..." seru Yura menggantung kata-katanya dengan sedikit jengkel.
"Tenanglah" kata Ezra mencoba untuk membujuk Yura. "Sebaiknya kita jangan berpencar, teruslah memengan tangan. Ingat jangan dilepas!" sambung Ezra.
Mereka ber-7 mulai melangkahkan kaki kearah yang ditunjuk oleh Ragil. Langkah yang penuh kewaspadaan, mata yang tak henti menerawang sekeliling, dan saling melindungi satu sama lain, itu semua mereka lakukan saat diperjalanan.
Udara yang dingin berubah menjadi sangat panas, seluruh tubuh mereka telah di bajiri oleh keringat.
"Duuuuhhh!!!" keluh mereka kepanasan.
"Disini panas sekali" gumam Diah.
Diah mulai mengibas-ngibaskan tangan kanannya didepan wajahnya. Tanpa disadari tangannya mengeluarkan sedikit demi sedikit air.
"Guys!!! Air" seru Diah.
"Tapi bagaimana bisa?" tanya Robi.
"Apa kamu ingat dengan ke-7 orang aneh tadi?" tanya Sesilia.
Mereka ber-7 teringat dengan perkataan ke-7 orang aneh tadi.
Diahpun mulai berkonsentrasi dengan dirinya, berharap dia bisa mengendalikan air. Kemudian ke-2 tangannya diulurkan keatas dengan rapat, perlahan merenggangkan tangannya. Tak disangka airpun keluar menyelimuti mereka. Hawa yang sedari tadi panas menjadi normal. Dahi Diahpun mengeluarkan sedikit cahaya biru dan membuat yang lainnya terkejut.
"Diah? Dahimu?" gumam Roby yang terdengar oleh yang lainnya.
"Dahimu memiliki lambang didahi wanita tadi, Aqua" kata Yura.
Dalam perbincangan mereka disekitarnya berubah menjadi tanah lapang yang tidak memiliki tanaman
Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba tanah yang mereka pijak mulai retak dan membuat sebuah lubang jurang. Yura, Novia, Ezra, Diah, Sesilia dan Ragil terperosok kebawah dan masing-masing mendapat pegangan dari bebatuan yang sedikit menonjol. Sementara Roby berada di atas dengan selamat.
"Tolong!!!" teriak mereka bergiliran.
Roby yang berada diatas wmerasa kebingungan. Dia mencoba untuk mencari pertolongan diatas, tapi tak satu orangpun yang ada disana.
"Guys bertahanlah!" teriak Roby yang berada diatas.
Diah yang bergantung paling ataspun berada sangat jauh darinya. Bahkan tangan Robypun tak dapat meraihnya.
"Apa kita akan mati disini?" tanya Yura yang berada paling bawah.
"Bertahanlah! Aku yakin kalian akan selamat!" teriak Roby.
***
Disuatu tempat dimana terlihat seorang Ratu dengan jubah putihnya bersama 2 pemuda yang melihat kearah cermin yang begitu besar. Kaca itu memperlihatkan apa yang telah terjadi kepada ke-7 sahabat itu.
"Yang Mulia, apa kita harus menyelamatkannya???" tanya salah satu pemuda itu yang berdiri di sisi kanannya.
"Biarkan mereka!" jawab sang Ratu.
***
Kembali ke posisi dimana ke-7 sahabat itu berjuang....
Roby mengulurkan tangannya mencoba untuk menggapai tangan Diah. Dengan perjuangnnya tanpa disadari, sebuah akar pohon yang sangat panjang yang keluar dari tangannya. Akar itu sangat panjang hingga melewati dimana posisi Yura yang terakhir.
"Guys! Raihlah akar pohon ini!" seru Roby.
Mereka berenampun mulai memegang akar tadi dan perlahan mereka tertarik naik keatas.
Dahi Roby mengeluarkan sedikit cahaya hijau, dalam beberapa detik cahaya itu menghilang dan terlihat lambang tanaman didahi Roby.
"Kamu memiliki tanda yang sama seperti Plant" gumam Diah.
"Kalian berdua memiliki kekuatan" kagum Yura.
Lagi-lagi tanah lapang itu berubah menjadi hutan. Tanah disekitar mereka mulai berguncang. Hujan Batu turun dari langit.
"Lari!" teriak mereka mulai berlarian mencari perlindungan.
Nasib baik, dalam pelarian mereka tidak satu batupun yang menimpa mereka. Mereka terus berlari dan menemuka sebuah gua yang sangat jauh dari mereka.
"Guys lihat gua yang ada disana! Kita harilus kesana dengan cepat untuk berlindung" kata Ragil.
Mereka terus berlari menuju gua itu. Sementara batu-batu kecil mengenai kepala dan tubuh mereka.
"Bagaimanapun juga kami harus secepatnya berada digua itu" batin Ragil.
Tanpa disadari, larian Ragil menjadi secepat kilat dan sampai terlebih dahulu didalam gua itu.
"Apa? Bagaimana bisa?" gumam Ragil merasa bingung.
Tanpa pikir panjang dia kembali berlari menuju teman-temannya dengan secepat kilat.
"Bagaimana mungkin?" bingung Sesilia.
Ragilpun memanfaatkan larian secepat kilatnya untuk membawa 1 per 1 temannya kedalam gua.
Pertama yang dilakukan Ragil adalah menggendong Sesilia ala bridal dan berlari menuju gua itu secepat kilat. Dia pun kembali lagi menuju teman-temannya. Satu per satu Ragil menyelamatkankan teman-temannya masuk kedalam gua.
Dahi Ragil juga mengeluarkan sedikit cahaya ungu dan menghilang meninggalkan lambang petir.
"Kamu memiliki tanda yang sama seperti Electric?" kaget Sesilia.
"Bagaimana mungkin? Kalian bertiga?" kata Novia dengan kagum.
"Jangan pikirkan itu, yang penting kita selamat!" kata Ragil.
"Rrrrrrrrgggg" suara yang terdengar ditelinga mereka.
"Apa kalian mendengarnya?" tanya Yura dengan berwaspada.
"Sebaiknya lari dari sini" ajak Diah
Mereka ber-7 berlari mencoba untuk menyelamatkan diri. Tapi larian mereka bukan untuk menyelamatkan melainkan semakin dekat dengan suara itu.
Larian mereka terhenti ketika tanah sedikit berguncang, sementara suara itu semakin keras.
Mereka ber-7 semakin takut. Dengan mendadak terlihat baruang raksasa dihadapan mereka.
"Aaaaaarrrgggg" teriak mereka sambil melarikan diri didalam kegelapan.
"Roby! Bukannya kamu tadi mengeluarkan akar ditelapak tanganmu? Sekarang coba kamu ikat raksasa itu dengan menggunakan akar" kata Ragil.
Robypun menghentikan dirinya dan mencoba berkonsentrasi lagi sambil mengulurkan kedua tangannya kedepan. Nihil tak ada apa pun yang keluar dari telapak tangan Roby.
Roby kembali berlari menyusul teman-temannya.
"Tidak bisa, akar itu tidak keluar dari tangan ku" kata Roby.
"Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Yura kebingungan.
Dalam larian mereka Sesilia tersandung akar pohon yang sedikit keluar.
"Aw" rintihnya.
Raksasa itu mengambil kesempatan untuk melukai Sesilia.
"Sesiiiiil!" teriak mereka ber-6.
Sesilia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia menyilangkan kedua tangannya kedepan wajahnya seperti berlindung. Dalam beberapa deting cahaya keluar dari telapak tangannya. Cahaya itu sangat terang dan menyilaukan membuat raksasa itu hangus terbakar menjadi abu. Hutan yang gelap menjadi terang karena cahaya itu. Dahi Sesilia juga mengeluarkan cahaya kuning dan meninggalkan tanda matahari didahinya.
"Lihat!" kata Novia menunjuk kearah dahi Sesilia.
Beberapa detik kemudian hutan itu berubah menjadi laut dan mereka berdiri dipasir putih yang tidak ternggelam. Tak ada satu pulau atau pun daratan disana, kecuali tempat yang sangat minim mereka pijak.
"Kini kita akan mendapatkan bahaya lagi" kata Roby.
"Kemana kita harus berjalan? Disekeliling kita hanya lautan" kata Yura.
"Kita tidak bisa kemana-mana Yura" kata Novia lagi-lagi dengan sifatnya.
Mereka semua hanya diam karena lemotnya Novia.
Ada yang jongkok dan ada yang berdiri melamunkan yang terjadi. Dalam lamunan mereka, ombak yang sangat besarpun datang menghampiri mereka.
"Kita akan mati, jika Diah tidak bisa mengendalikan air itu" kata Ezra.
Diah mencoba untuk mengendalikan ombak itu, alhasil tidak terjadi apa-apa. Ombak itu semakin dekat dan menenggelamkan mereka ber-7. Mereka mencoba untuk kepermukaan agar dapat bernafas, namun tidak berhasil.
Nyawa hampir habis karena berada didalam air. Keterpaksaan terlihat diraut wajah mereka. Detik-detik terakhir mereka sempatkan untuk berpegangan tangan membuat lingkaran.
"Kita akan mati disini" batin mereka.
***
Kembali ketempat dimana Ratu itu berada.
"Yang Mulia, tolonglah mereka" bujuk pemuda yang berdiri disisi kirinya.
Sang Ratu hanya diam tidak mengeluarkan 1 katapun dengan tatapan mengarah kecermin.
***
Wajah mulai memerah karena tidak dapat bernapas. Perlahan Ezra memejamkan matanya.
"Selamatkan mereka" batin Ezra tak berdaya.
Tiba-tiba muncul sebuah gelembung raksasa menyelimuti mereka.
"Hhhhmmm.... Huuuuuaaaa...." mereka membenarkan nafas secara bersamaan.
Gelembung itupun membawa mereka keatas. Perlahan sedikit cahaya abu-abu keluar dari dahi Ezra dan meninggalkan lambang angin.
"Lambang ini...." kata Yura menggantung perkataannya. "Ezra,,, Kamu yang menyelamatkan kami" sambung Yura.
Ezra tidak sempat menjawab karena sebelumnya mereka berada di gelembung, kini mereka berada didalam gua.
Lagi-lagi suasana gua yang sedikit menyeramkan, sepi dan juga gelap. Mereka ber-7 memutuskan untuk memasuki gua itu lebih dalam lagi. Mereka tidak menemukan apa pun didalam gua itu. Hanya suara kelalawar yang terdengar.
"Guys!!!" panggil Yura disambut dengan tatapan sahabat-sahabatnya. "Sebelumnya kita selamat dari kematian karena diselamatkan Ezra, tapi kali ini entah apa yang terjadi aku juga tidak tahu" sambung Yura.
Perkataan Yura tidak mendapatkan respon dari yang lainnya, karena merasa takut. Mereka terus berjalan menelusuri gua itu.
Dalam langkah mereka yang penuh kewaspadaan, mereka mendengar suara lebah yang bergemuruh membuat gua itu sedikit berguncang.
"Sebaiknya kita pergi dari sini, sebelum sesuatu yang terjadi pada kita" ajak Ezra.
Merekapun berlari masuk kedalam gua itu dan menemukan sebuah jalah keluar.
"Lihat! Disana ada jalan keluar" seru Diah dalang lariannya.
"Iya, kita harus kesana" sambung Roby.
Mereka terus berlari dan mencapai ujung jalan gua yang mengeluarkan cahaya. Sesampainya disana, bukannya mendapatkan jalan keluar melainkan jalan buntuh. Didepan mereka terdapat jurang dengan penuh bebatuan.
"Jalan buntuh" gumam Ragil.
"Bagaimana ini?" tanya Novia membawa wajah kebingungan.
Sementara para lebah mulai mendekat hingga mengelilingi mereka. Yura memutuskan untuk menerobos segerombolan lebah itu. Nasib baik berpihak kepada mereka sehingga tidak tersengat oleh lebah-lebah itu.
"Siu siu..." kata mereka ber-7 berniat mengusir segerombolan lebah itu.
Salah satu dari mereka yaitu Novia tersengat oleh lebah itu dibagian bahunya.
"Aaarrgg..." rintihnya.
Tidak ada satu orangpun yang menolongnya karena sibuk dengan lebah.
Dalam tunduknya sangat marah, Novia merentangkan kedua tangannya. seketika segerombolan lebah itu 1 per 1 diselimuti permata dan jatuh ketanah.
"Apa yang terjadi?" bingung mereka.
Dahi Noviapun mengeluarkan cahaya pink dan meninggalkan lambang permata.