
"Entah mengapa, tapi aku merasakan istana ini tidak seperti yang aku lihat. Dan Ibu, dia juga tidak terlihat seperti Ibu ku. Ada yang aneh di sini" batin Yura.
Ke esokan harinya di istana Gosh...
"Yura kamu sudah bangun?" tanya Pangeran Odin yang masuk ke kamar Yura tanpa izin. "Yura? Kamu tidak tidur?" sekali lagi Pangeran Odin bertanya saat melihat mata Yura yang membentuk mata panda.
"Ya aku tidak bisa tidur. Aku ingin mengitari istana ini bersamu, apa boleh?" tanya Yura.
"Ya baiklah, tunggu apa lagi? Mandilah! Aku akan menunggumu di sini"
Di istana Viore...
Dian yang menyamar menjadi Yura yang telah siap dengan penampilan rambut birunya itu telah berada di tempat latihan bersama teman-temannya.
Seperti biasa mereka kembali latihan pedang, semenjak itu masing-masing dari mereka merasakan bahwa energi mereka semakin besar.
"Tingg.. Tingg... Tingg..." desingan pedang mereka yang berbenturan saat latihan.
Kembali ke istana Gosh...
Yura dan Pangeran Odin saat ini duduk di taman yang sangat indah dan penuh warna jika di mata Yura karena ilusi. Sedangkan di mata Pangeran Odin, mereka duduk di taman yang penuh dengan bunga-bunga yang hidup layaknya seperti monster bunga yang siap memakan semua musuh di hadapan mereka.
"Perasaanku mengatakan ada yang aneh di sekitarku, tapi aku melihatnya baik-baik saja" batin Yura.
"Yura, apa yang kamu pikirkan?" tanya Pangeran Odin.
"Aku memikirkan pernikahan kita" jawab Yura menyembunyikan kebenaran.
"Apa ibumu sudah memberitahumu?" tanya Pangeran Odin dengan dramanya.
"Ya Ibuku telah memberitahuku semalam"
"Ibumu juga memberitahuku semalam, keputusan ini ada di tanganmu Yura. Jika kamu menyetujuinya, maka akupun begitu" kata Pangeran Odin.
"Aku menyetujuinya" kata Yura dengan sedikit sedih.
"Jika itu mau mu baiklah. Yura kamu jangan sedih, anggap saja aku ini temanmu" kata Pangeran Odin sambil memeluk Yura. "Bagaimanapun kamu harus mencintaiku" batin Pangeran Odin sambil mengusap lembut kepala Yura
"Aku merindukanmu Clard" batin Yura membalas pelukan Pangeran Odin.
Pangeran Clard yang berada sangat jauh lebih tepatnya lagi di istana Viore, dia merasa Yura saat ini membutuhkannya.
"Ezra! Dimana Yura?" tanya Pangeran Clard kepada Ezra.
"Entahlah aku juga tidak melihatnya" jawab Ezra sambil menaikan ke dua bahunya.
Pangeran Clard pun menatap Roby dan Ragil dengan ekspresi bertanya, dan mendapatkan angkatan bahu dari Roby dan Ragil menandakan bahwa mereka juga tidak tahu dimana Yura.
Karena tidak mendapatkan jawaban, Pangeran Clard berlari menuju Novia, Diah, Sesilia, dan gadis berambut panjang dengan warna yang sama dengan Diah.
"Put... Ah percuma, mungkin mereka tidak melihat Yura" kata Pangeran Clard sambil berlari menuju istana.
Jam istirahat semasa latihan pun tiba, Ezra, Roby, dan Ragil pun menemui Yura, Novia, Diah, dan Sesilia.
"Ra... Tadi Clard mencarimu, apa kamu sudah bertemu dengannya?" kata Ragil.
"Tidak" jawab Yura simple. "Ngapain tu bocah nyari sosok Yura?" batin Dian yang menyamar menjadi Yura.
Di istana Gosh...
Yura dan Pangeran Odin masih berada di luar istana. Pangeran Odin sangat senang saat berada di samping gadis yang di cintainya.
"Odin, aku ingin ke sana" kata Yura sambil menunjuk suatu tempat dengan rumput hijau yang hanya memiliki satu pohon sangat besar.
"Ya, ayo kita ke sana"
***
"Huuufff... Jadi kita di sini itu bukan berlibur, tapi mencari tu anak sialan yang hilang ntah kemana" kata Fizi sangat sengit.
"Honey, aku capek. Mendingan kita gak usah nyari tu anak, nyusahin banget" kata Fenny yang duduk di dekan tendanya.
Memang kelompok Fizi adalah kelompok yang sangat terkenal akan kenakalan dan acuh tak acuhnya terhadap sesama. Mereka lebih mementingkan diri sendiri, sementara yang lainnya kering-kering tenggorokan mencari dan memanggil team penyelamat yang berharap ada balasan dari mereka.
"Yura... Novia... Ezra... Diah... Roby... Sesil... Ragil" teriak mereka yang mulai bergema di subuh menjelang pagi itu.
Kecemasan dan ketakutan kini terlihat di wajah Pak Rino, Bu Murni, Tuan Tio dan Tuan Rian.
Mereka memutuskan jika hari ke-2 mereka belum menemukan team penyelamat, Pak Rino akan menghubungi kepala sekolah, Polisi, serta orang tua mereka masing-masing.
Setiap pohon mereka memberikan tanda agar mereka bisa kembali kejalan yang mereka lalui. Dan juga menemukan kain kuning yang terikat di ranting pohon bekas jejak team Penjelajah. Pak Rino mengikuti jejak itu, tanpa mencopotinya.
Jejak itu menghilang di tanah yang sedikit lapang. Di sana terdapat tas masing-masing dari mereka yang berisikan alat penjelajah.
"Tidak ada jalan lain, kita harus menghubungi polisi" kata Pak Rino putus asa.
Kembali ke tempat perkemahan mereka dan membawa 7 buah tas, Pak Rino memutuskan untuk memulangkan murid-murid mereka ke rumah masing-masing dan kembali lagi bersama para polisi untuk melanjutkan pencarian.
"Pulang? Ya baguslah kita pulang, jika kita berada lama-lama di sini kita bakalan mati di gigit nyamuk tau gak" ketus leo.
Dengan secepatnya dan merasa lega karena akan keluar dari pulau itu, mereka (kelompok Fizi) mengemaskan barang-barang mereka terlebih dahulu dan menunggu yang lainnya di kapal.
"Huuufff... Di sini lebih tenang" ucap Ririn yang merenggangkan tubuhnya.
Dalam beberapa jam kemudian, Pak Rino pun datang bersama yang lainnya.
Sesampainya di pantai seberang Pak Rino pun mencoba untuk menghubungi polisi. Setelah mendapat jawaban dari polisi, Pak Rino pun kembali menghubungi kepala sekolah. Sementara Bu Murni sibuk mencari nomor orang tua team penjelajah di Hp mereka masing-masing.
"Assalamu'alaikum" kata Bu Murni yang mendapatkan jawaban dari telphonenya.
"Wa'alaikumsalam" jawab wanita yang berada di seberang Hp.
"Bu, mohon maaf bisa bicara dengan Ibunya Ragil"
"Ya saya sendiri" jawab Ibu Ragil dengan ekspresi khawatir.
"Sebelumnya saya meminta maaf, saya guru pembimbing tournya dia. Saya ingin mengatakan bahwa dia bersama team penjelajahnya, Yura, Novia, Diah, Sesilia, Ezra, dan Roby telah menghilang di pulau tersembunyi. Ibu mohon kerja samanya untuk memberitahukan kepada masing-masing orang tua mereka ya Bu" Bu Rini menjelaskan panjang lebar dengan sangat sopan.
Shock bukan main, telphone pun terputus. Ibu Ragil tergamam saat mendengar kabar bahwa Putranya telah menghilang.
"Ibu? Ada apa ibu" kata seorang gadis yang terlihat lebih tua dari Ragil yang melihat Ibunya tergamam dengan wajah cemas.
"Adikmu... Adikmu menghilang bersama sahabat-sahabatnya" jawab Ibunya sambil terisak.
"Apa? Yura, Novia, Diah, Sesil, Ezra, dan Roby? Ibu duduk dulu, Desi akan memberitahukan kepada Bibi dan Paman" kata Desi yang merupakan kakak kandung dari Ragil.
***
"Pak! Bagaimana bisa? Dia Putraku. Temukan dia Pak" ringisan wanita paruh baya kepada Pak Rino.
"Tenang" ucap Pak Rino menenangkan. "Apa kalian semua merupakan orang tua masing-masing dari mereka?" tanya Pak Rino kepada 7 pasang suami istri yang bersama keluarganya.
"Iya" jawab mereka serempak dengan kekhawatiran yang menghantui raut wajah mereka.
"Saya sudah menghubungi petugas kepolisian, sebentar lagi mereka akan sampai" kata Pak Rino.
Ibu dari masing-masing mereka terus saja menderaikan air mata sambil berdo'a akan keselamatan anak mereka. Dalam beberapa jam kemudian, polisi pun datang dengan jumlah 20 sampai 30 orang.
Pak Rino dan Bu Murni pun menjelaskan apa yang terjadi sebagi petunjuk para polisi. Dengan hari yang mulai memanas mereka semua pun menyiapkan kapal untuk menyeberang. Masa pencarianpun di mulai. Seluruh polisi yang ada telah di kerahkan ke pulau tersembunyi untuk mencari team penjelajah.
"Jika memang mereka sudah meninggal, mayat mereka harus di temukan dan bukti-bukti kuat untuk membuktikan bahwa mereka sudah tiada" ucap komandan polisi sebelum mulai mencarinya.