
3 hari telah berlalu, kabar tentang Aries belum terdengan. Semua kerajan takut akan kehilangan penguasa mereka.
Di istana Zenna...
Queen Gloraris berada disana, agar dia tetap hidup, dia menyelimuti tubuhnya dengan air karena dia tidak bisa berubah menjadi manusia. Begitu juga dengan Queen Liana. Mereka berdua merasa cemas terhadap putri angkat mereka, bukan karena putri mereka, melainkan ratu dari segala ratu, pemimpin dari segala pemimpin yaitu Aries belum kembali sejak 3 hari yang lalu.
Telepati mereka tidak dapat menyambung ke Aries. Kegelisahan kini terlihat di wajah mereka.
"Queen? Apakah dia akan berhasil?" pertanyaan yang ragu dari Queen Gloraris.
"Dia pasti bisa, apa kamu lupa? Dia adalah storm..." belum sempat Queen Tara melanjutkan pembicaraannya Queen Liana memotongnya. "Tapi dia belum sepenuhnya mendapatkan identitasnya. Pencarian mutiara itu bukan menggunakan kekuatan melainkan kesabaran, kecerdasan. Hanya dirinyan sendiri yang dapat menolongnya"
Mendengar perkataan dari Queen Liana, keheningan mulai terjadi. Tak ada satu katapun yang terlontar di bibir mereka.
Di kerajaan Viore...
"Apa kamu mendapatkan tanda-tanda keberadaan Yura?" tanya pangeran Clard yang penuh harapan.
"Belum" jawab Diah yang sedang memejamkan matanya menerawang lautan.
Pangeran Clard selama di tinggal oleh Yura, sifatnya berubah menjadi dingin. Senyuman sama sekali tidak terlihat di wajahnya, hanya datar tanpa ekspresi. Jika hal yang menyangkut soal Yura, ekspresi wajahnya akan terlihat, kecemasan, kecewa dan rasa takut tidak dapat dia sembunyikan. Pangeran Clard sungguh menyesal bahwa dia tidak menyadari Yuralah yang selalu berada di sampingnya.
Di permukaan air, Diah membuat permukaan air dapat di injak para sahabatnya menggunakan elemen air. Posisi mereka berbentuk lingkaran. Ezra, Diah, Sesilia, mereka bertiga menerawang di sekitar mereka hingga ke batas pelindung itu. Penerawangan mereka tidak dapat menembus batas itu. Ezra menerawang melalui udara, Diah menerawang melalui air lautan dan sesilia melalui sinar matahari. Penerawangan itu, mereka dapat akibat persatuan elemen melalui ayah dan ibu mereka sejak 50 tahun yang lalu. Penerawangan berlangsung selama 1 jam, sementara yang lain mencoba untuk saling melindungi dan bersiap-siap untuk menghadapi bahaya. Di saat konsentrasi mereka berada di puncaknya dan membuat suasana hening, Sesilia berteriak histeris hingga membuat sahabat-sahabatnya kehilangan konsentrasi. Melihat Sesilia yang semakin berteriak kesakitan, mereka semua merasa cemas kecuali Pangeran Clard yang tidak melihatkan ekspresi apapum di wajahnya.
"Apa yang terjadi?" cemas Ragil yang mendengar teriakan pacarnya.
"Sesil, are you ok?" tanya yang lainnya.
"Mataku sakit!" jawabnya sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya.
Diah mengambil air suci milik keturunan elemen Aqua kemudian mengendalikannya dan menyelimuti mata Sesilia menggunakan air itu. Cahaya biru tua kini terpancar dan menyembuhkan rasa sakit di mata Sesilia.
"Yura tidak akan di temukan disini!" serunya yang mendapat tatapan tajam dari Pangeran Clard.
"Apa maksudmu?" tanya yang lainnya.
"Dengan bantuan cahaya matahari, aku dapat melihat sedikit suasan di balik batas pelindung itu. Aku melihat satu kerajaan. saat aku ingin melihat lebih dalam lagi, mataku merasakan sakit yang amat sakit karena batas pelindung itu dan membuat penerawangan dan konsentrasiku hilang" jelas Sesilia.
"Apa? Istana? Apakah istana itu milik bangsa Dark?" tanya Pangeran Clard angkat bicara.
"Tidak! Tapi istana itu memiliki lambang salju di bagian puncak istananya" jawab Sesilia.
"Tunggu dulu? Salju? Apa mungkin itu istana bangsa Frozen? Bukannya elemen Ice telah lama hilang?" tanya Novia yang menghujani pertanyaan.
"Sepertinya mereka bukan menghilang, melainkan terpisah" seru Pangeran Clard.
"Apa elemen lainnya juga ada disana?" tanya Roby.
"Entahlah, aku tidak dapat melihat sepenuhnya karena batas pelindung ini" jawab Sesilia.
Kembali ke Istana Zenna...
Di danau tepatnya di belakang istana Zenna, terlihat seorang pemuda yang memandang ke arah air danau yang tenang dengan penuh kecemasan. Pemuda itu mengekspresikan kekhawatiran yang begitu jelas diwajahnya. Dalam diamnya datang seorang gadis cantik berambut coklat dan mulai menyapanya dan memecahkan kehinangan pada pemuda itu.
"Dilon!" panggil seorang gadis dari arah belakang.
"Vera?" gumamnya. "Sejak kapan kamu kemari?dan bagaimana keadaan istana Jochas?"
"Ya... Seperti biasa, hanya saja ada sedikit konflik, tapi sudahku bereskan. Oh iya, dimana Aries? Apa dia belum kembali?"
"Belum Ver, entah mengapa aku sangat mencemaskannya. Andai saja Kenny berada disini, mungkin dia akan membuat suasana menjadi kalut" kata Pangeran Dilon.
"Aku harap dia baik-baik saja"
Perlahan mata mereka mulai tertutup dan tertidur. Posisi tidur mereka saling membelakangi dan menggunakan alas kepala menggunakan tanah yang sebelumnya telah di buat oleh Vera menggunakan elemen Earthnya.
***
Setelah tertidur sangat lama, Vera tersadar dari tudurnya dan melihat Pangeran Dilon dihadapannya.
"Dilon? Kamu memang tampan ya, aku baru menyadarinya" kata Vera.
"Terima kasih" jawab Pangeran Dilon mengangkat sudut bibitnya yang memperlihatkan senyumannya.
"Dilon? Kamu sudah bangun?" kaget Vera.
"Ya... Sejak tadi, hanya saja aku menutup mataku lagi mencoba untuk tidur" jawabnya yang bangkit dari baring merubah posisinya menjadi duduk sambil merenggangkan tubuhnya. "Sudah berapa jam kita tidur?" tanyanya.
"Em... I dont know" jawab Vera mengangkat kedua bahunya.
Sesaat suasana kembali hening, Vera yang berada 10 cm di belakang Pangeran Dilon menatapnya kagum.
"Sepertinya kamu menyukaiku Vera?" ucap Pangeran Dilon yang mengetahui bahwa Vera menatapnya sejak tadi.
"Ha? Suka? No, no, no..." jawab Vera.
"Hahaa... Aku hanya bercanda. Lagian mengapa kamu memandangku sejak tadi?"
"Huuuu dasar! Tampan-tampan kok fikirannya buntuh" ledek Vera.
"Sini kemarilah!" panggil Pangeran Dilon sementara Vera mulai mensejajarkan posisi duduknya dengan Pangeran Dilon.
"Dilon?" panggil Vera.
"Hm?"
"Aku takut, Aries meninggalkan kita sama seperti Kenny" ucapnya dan mengingat janji yang telah di buat oleh Putri Kenny
"Guys... Aku berjanji akan kembali" ucap Putri Kenny yang sudah menjadi seekor lumba-lumba.
"Aku yakin mereka akan kembali! Dan Kenny? Dia pasti memenuhi janjinya"
"Sudahlah, jangan sebut namanya lagi! Jika ada yang mendengar kita, kita bakalan di hukam dan di nyatakan penghianat"
Di istana Piston Sea...
Queen berenang mondar-mandir di depan singga sananya yang mencemaskan keadaan Putrinya yaitu Aries. Dia takut akan terjadi sesuatu kepada Aries, bahkan dia mencoba menyambungkan telapati ke Aries tapi, tidak kunjung berhasil.
"Aries... Kamu kemana nak? Di mana kamu sekarang?" cemas Queen Gloraris yang mulai berbicara sendiri. "Aries, putriku"
Seluruh kerajaan mulai cemas dengan keadaan Aries dalan pencarian mutiara pelangi itu. Sudah 5 hari berlalu Aries tak kunjung kembali. Bahkan telepati tidak dapat tersambung kepadanya.
Queen Gloraris, meminta para ikan-ikan untuk mencari Aries tapi tidak ada kabar baik, melainkan kabar buruk, kabar yang tidak di temukannya jejak Aries.
Sementara di kerajaan Viore semua orang sibuk mencari sosok Yura yang telah lama menghilang. Kesana kemari tak kunjung ketemu bahkan sejak darinyapun tidak berbekas. Hanya bekas darah Yura yang sekitar 101 tahun yang lalu mengering di pinggir jurang dimana dia jatuh kelautan dan menghilang.
Di istana Gadio...
Queen Liana mencoba untuk mencari keberadaan Aries menggunakan cermin awannya. Nihil. Hanya lautan yang terlihat di cermin itu. Sosok Aries telah di kunci, tak satupun dari mereka yang mendapat kabarmaupun keberadaan dari Aries.
"Aries, Putriku... Semoga kamu mendapatkan apa yang sudah kamu putuskan. Ibu berharap kamu pulang dengan selamat" batin Queen Liana penuh harapan.