
Kecerahan bumi terlihat jelas dengan pancaran surya yang menembus bumi, embun yang mencair menetes, langit-langit yang cerah, pohon-pohon menari-nari, kicauan burung yang merdu, nyanyian ayam jantan di setiap paginya yang bertugas membangunkan permukiman desa.
Jalan yang padat, klason mulai bersahutan, para pengendara mendapat langganan macet di setiap paginya kecuali pejalan kaki.
Kampus ternama yang mendapatkan akreditas A plus mendapatkan keceriaan pada mahasiswa dan mahasiswii lainnya, parkiran yang dipenuhi mobil dan motor, menjadi prioritas pertama tongkrongan anak yang bandel, setiap paginya meminta uang saku mereka yang tidak banyak bicara, takut, dancupu seperti Anita.
Tepat di depan gerbang, Anita sudah menyiapkan dirinya di caci maki dan di bully. Langkah yang pelan sambil merunduk membayangkan nasib yang akan dia terima.
"hey gembel" ucap pemuda yang menjadi ketua geng. "duit mana duit?" tanyanya seperti pereman di jalanan.
"a-aku..." ucapnya takut sabil meronta saat wajahnya di pegang sangat kasar.
"hey! Lepaskan dia! Apa apaan kalian, seperti pecundang saja menganiaya perempuan" ucap seseorang lelaki yang berada di belakang mereka yang tidak lain adalah Yuda.
"hey Yuda, muka kamu tidak akan bisa menolong kamu!" ucapnya sombong dan langsung menghajar Yuda tanpa banyak bicara.
Beberapa tendangan dan pukulan telah di layangkan, namun mendapatkan tangkisan dan balasan dari Yuda. Beberapa pukulan Yuda mengenai sasaran, dengan santainya tanpa banyak gerak dia mengalahkan pereman parkiran yang setiap paginya tidak jera di hajar oleh Yuda. Dapat dikatakan mereka sangat memusuhi Anita bahkan bersekongkol menyingkirkan Anita dari kampus itu.
"Yuda, kamu tidakk apa-apakan?" tanya Anita mendekat dengan kecemasan.
"tidak" balasnya membersihkan debu-debu yang lengket pada sweaternya. "wajah cemas ini...." batinnya menggantung sambil menatap wajah lugu Anita yang mencemaskan dirinya. Sentuhan Anita sangat lembut dan tulus membawanya hanyut dalam suasana karena baru pertama kalinya Anita mencemaskan dan memperhatikannya, padahal Yuda sama sekali tidak mengalami luka ataupun babak belur.
Seperti biasa bell pagi yang menandakam masuk telah berbunyi membuat pandangan mereka pecah dan tidak fokus satu sama lain. Merekapun masuk ke kelas untuk siap mengahadapi dosen yang berbeda karakter, wajah, cara bicara dan gaya mereka. Kali ini kelas sejarah dosen tidak masuk, hingga membuat jam kosong dan mahasiswa/mahasiswi bebas. Ada yang ke erpustakaan, ke ruangan kesehatan, dimana terdapat lapangan Badminton, fitness, senam, voli, takraw dan lapangan lain sebagainnya.
Yaaa,,, karena kampus ini kampus ternama, mereka memiliki ruangan-ruangan yang khusus untuk lapangan kesehatan, kesenian, keagamaan, dan lain sebagainya.
Tidak seperti yang lainnya, Anita selalu meluangkan waktunya di perpustakaan menjadi kutu buku, dan pemburu sejarah, tanyakan saja padanya tentang sejarah maka dia akan menjawabnya dengan panjang lebar. Tidak lupa dengan Yuda yang menjadi bodyguard barunya selalu membuntutinya kemanapun dia berada. Tentu saja, sebagai gadis kutu buku yang cupu di ikuti pemuda tampan yang menjadi duta model itu menjadi sorotan di kalangan remaja, merasa iri bahkan benci, dan juga berniat untuk menyingkirkan gadis kutu buku itu.
Suasana perpustakaan aman-aman saja dan tenang, namun menjadi ribut ketika datang Tiara, Melda dan Dianna yang memfitnah Anita mencuri buku perpustakaan. Mendengar hal itu, tentu saja sebagai pengawas perpustakaan langsung menggeleda tas Anita dan menemukan buku tentang laut dan bumi.
"percayalah aku tidak mengambil buku-buku itu" ucapnya begitu yang membela dirinya sendiri sambil di dorongi oleh mahasiswa dan mahasiswi yang lainnya.
"huuuu dasar pencuri" umpat mereka kepada Anita.
"Bu, saya bukan pencuri" ucapnya lagi membela diri. "Yuda" panggilnya dengan raut wajah yang ketakutan dengan ekspresi meminta tolong kepada Yuda.
"tunggu! Tunggu!" ucapnya mencoba menghentikan penjaga perpustakaan yang menarik Anita. "hentikaan" ucapnya memukul tembok menggunakan tanggannya hingga rentak dan mendapatkan tatapan dari semua mahasiswa dan mahasiswi disana, karena baru pertama kali ini dia melihatkan ekspresi kemarahannya. "lepaskan Anita tangkap saya saja, karena saya yang memasukan buku itu ke dalam tas Anita" ucap Yuda begitu.
"apa-apaan kamu Yuda?" tanya penjaga perpustakaan itu.
"Yuda, apa yang kamu lakukan?" tanya Anita dengan suara yang bergetar dan mata yang berkaca-kaca.
"kalian akan ibu bawa ke kepala kampus" ucapnya sambil menyeret Yuda dan Anita.
Perkataan Yuda terus saja bergema di telinga Anita seakan mencari jawaban yang sebenarnya karena batinnya mengatakan bukan Yuda yang melakukan hal keji semacam itu, memfitnah gadis polos dan meanfaatkan semuanya.
Sesampainya di sebuah ruangan terdapat lelaki paruh baya yang duduk santai di kursi miliknya, dan memandang tiga orang yang berada tepat di belakangnya seakan mencoba menebak laporan apa yang akan dia dengar.
"maaf saya mengganggu Pak, tapi saya ingin melaporkan Anita karena dia telah tertuduh dan terbukti bahwa dia mencuri buku sejarah" ucap penjaga perpustakaan tadi yang berdiri di antara Yuda dan Anita.
"terus, apa kepentingan Yuda kemari?" tanyanya lagi.
"Yuda mengaku bahwa dia yang memasukan buku sejarah itu ke dalam tas Anita pak" lanjutnya begitu.
"baiklah kamu boleh pergi" ucapnya kepada penjaga perpustakaan.
Setelah penjaga perpustakaan itu menghilang di balik pintu, kepala kampuspun menatap Yuda dengan teliti dan tersenyum.
"ayah itu semua bohong dan tidak benar, bukan aku yang melakukannya, aku hanya menyelamatkan Anita dari mereka" ucapnya begitu memanggil kepala kampus dengan sebutan ayah dan mendapatkan ekspresi terkejut dari Anita, sungguh semua orang hanya tau bahwa kepala kampus tidak ada hubungan apa-apa dengan Yuda, tapi kali ini berbeda, Yuda dan kepala kampus itu anak dan ayah.
"Anita tenanglah, kami menyembunyikan ini karena ada hal yang sangat penting" lanjut Yuda.
"iya Anita, kami merahasiakan ini karena ingin mencari...." ucap kepala kampus yang menggantung. "sudah lah, jangan pikirkan itu, ayah akan membebaskan kalian tentang tuduhan ini" lanjutnya menganbil sebuah alat untuk merekam sidik jari dari buku tersebut.
Kepala kampuspun mulai memasang sarung tangan pada kedua tangannya, dan mencoba merekam sidik jari terbaru yang ada di buku itu dan mengeteskan pada semua telapak tangan mahasiswa, mahasiswi dan hasilnya nihil, tidak ada satupun yang cocok. Sungguh aneh, tapi hal itu sudah di klarifikasi bahwa buku sejarah itu tanpa sengaja terjatuh ke dalam tas Anita, meski semua itu tidak di percayai oleh mahasiswa dan mahasiswi di sana namun tuduhan dan cerita itu semakin lama semakin tenggelam tanpa meninggalkan bekas. Kabar tentang Yuda dan kepala kampus ada hubungan darahpun di rahasiakan Anita karena Anita juga tidak mau ikut campur akan hal itu, karena sama sekali tidak ada hubungannya dengan Anita selama dia tidak terlibat.
Semakin lama, Anita juga semakin dekat dengan Yuda dan kepala kampus itu yang merupakan ayah kandung Yuda, tentu saja hal itu membuat mahasiswa di sana semakin iri dan tidak suka pemandangan yang tidak sedap itu, hingga pada akhirnya Tiara, Melda dan Anita membuat rencana yang sangat keji dan tidak bermoral.