
Langkah semangat dan percaya akan keberhasilan telah mereka perlihatkan dengan saling membentuk rantai tangan sambil melangkah bersama-sama.
Bermula dari cahaya yang terang menderang oleh sang surya, terbitnya kegelapan dan hawa yang mengerikan sangat mengerikan yang di hasilkan hutan kutukan. Suasana menjadi datar dan hening, tubuh mulai gemetar di karenakan tubuh yang mulai merasakan aura negatif yang sangat kuat dari yang mereka rasakan sebulumnya. Mereka ( Pangeran Clard, Pangeran Dilon, Ezra, Roby, Ragil, Novia, Diah, Sesilia, dan Vera) tidak dapat menahan aura negatif di hutan itu, sedangkan Yura merasakan seperti biasa karena di dalam tubuhnya juga mengandung element Dark yang bisa di katakan lebih mengerikan dari hutan ini.
Tubuh memang melemah karena tidak kuat menahan tajamnya aura negatif, namun mereka tetap memaksa masuk lebih dalam lagi.
Suasana hutan yang sangat mengerikan di bandingkan dengan apa yang telah mereka dengar, dengan suasana hening selain hembusan angin, asap-asap beracun yang menari-nari di sekitar pohon-pohon yang telah menghitam, entah mengapa asap beracun itu tidak bereaksi pada mereka. Sisa-sisa bunga kristal berserakan di tanah, pohon di penuhi duri, tanah gersang, suasana di penuhi asap kabut, yang penuh tanda tanya.
Karena takut kehilangan satu sama lain, mereka tidak melepaskan pegangan tangan mereka walau apapun yang terjadi. Langkah penuh hati-hati, mencoba untuk menerawang seisi hutan mencari jalan.
"Guys! Usahakan pegangan kita tidak akan lepas!" ucap Yura mendapatkan anggukan dari sahabat-sahabatnya.
"Tapi... Arrrrrrgghhh" teriak Vera hilang yang tertarik sesuatu.
"Vera?" gumam Pangeran Dilon sedikit kaget yang terasa sedikit tarikan saat Vera hilang di sampingnya.
"Vera menghilang" panik mereka sambil memegang satu-satunya senjata di bagian saku kiri mereka sebagai media pelindung mereka karena kekuatan yang saat ini tidak berfungsi, senjata masing-masing lambang dari element dari mereka. Pedang fire, rantai ice, kapak air, busur plant, palu Mjolnir electric, tombak kristal, trisula aqua, cambuk sunlight, dan cambuk elements milik Yura.
Penuh kewaspadaan membuat mereka membentuk sebuah lingkaran yang formasinya dapat saling melindungi. Kecemasan akan kehilangan satu anggota, membuat mereka takluk dalam kegelapan.
"Vera?" teriak mereka sambil berwaspada namun tidak ada jawaban maupun tanda-tanda dari Vera.
"Dear! Awas!" teriak Diah yang melihat Roby hampir terkena duri beracun.
"Hutan ini sangat jauh berbeda dengan cerita turun temurun" gumam Pangeran Dilon yang sempat di dengar sahabat-sahabatnya.
Rintangan-rintangan hutan itu mereka lalui bersama dengan tidak melukai atau menebang pohon beracun yang ada di sana.
"Rintangan di sini lebih sulit di bandingkan khayalan kita!" ucap Yura yang di sambut dengan teriakan dan hilangnya sosok Novia.
"Guuuys!!! Tolong aku!" teriaknya kemudian hilang.
Semakin panik akibat dua rekan yang hilang, mereka tidak tahu harus berbuat apa selain melanjutkan perjalanan yang extreem, di mana duri-duri dari pohon kristal hampir menggoresi tubuh mereka.
Berhubungan Yura yang paling penting di antara mereka, merekapun memutuskan untuk melindungi Yura walau apapun yang terjadi. Mata mulai menerawang seisi hutan sambil mencari sosok Vera dan Novia. Sedikit panik namun mereka tutupi dengan semangat mereka yang ingin menyelamatkan World Elements. Entah apa yang di rasakan Yura saat itu, tubuhnya mulai mengeluarkan banyak keringat.
"Yura? Kamu baik-baik saja?" Tanya Pangeran Clard sedikit cemas di raut wajahnya.
"Tidak, lanjutkan! Aku baik" jawabnya acakan namun tidak di ambil pusing oleh yang lainnya karena perasaan yang bercampur aduk.
Kini hawa yang panas berubah menjadi dingin yang sangat dingin bagaikan ribuan pisau yang menusuk tubuh. Bibir mulai membiru namun tetap mereka lanjutkan perjalanan yang menurut mereka sangat berarti dan memegang ribuan nyawa itu.
"Duh di sini dingin sekali, sangat tidak cocok untukku" keluh kesah dari Pangeran Clard yang memiliki Element fire.
Hari tampak semakin sore walaupun tidak ada sedikit cahaya matahari yang masuk ke hutan itu, mereka tetap bisa menerawang waktu tanpa sang Surya.
"Setidaknya kita cari tempat untuk beristirahat sejenak, aku sudah merasa lelah" keluh Diah yang menghempaskan tubuhnya tanpa berfikir terlebih dahulu di tanah yang sedikit lapang.
"Dear? Letakan kepalamu di pangkuan ku" tawar Roby pacarnya Diah.
"Baiklah, kita juga bukan robot melainkan kita sudah menjadi manusia biasa tanpa kekuatan kita, kita istirahat' di sini saja" ucap Ragil juga merasa lelah.
Keputusan mereka ambil bersama, kemudian mereka baring di tanah lapang. Saling mengeluh dan mengecoh hal yang tidak begitu masuk akal. Tidak untuk Yura, dia hanya terdiam sejak tadi, jangankan mengeluarkan suara berbicara kepada sahabat-sahabatnya, berkeluh saja tidak keluar dari sudut bibirnya yang seksi itu.
"Yura! Katakanlah sesuatu pada kami" ucap Sesilia.
"Apa yang harus aku katakan? Berkeluh kesah seperti kalian? Atau mengoceh hal yang tidak pantas? Setidaknya jangan membuang waktu hanya untuk hal-hal yang tidak penting!" Jawabnya ketus yang mendapatkan tatapan tajam dari sahabatnya.
Salah satu dari mereka mulai tertidur, dan kemudian di susul yang lainnya untuk mengistirahatkan tubuh dan mata yang mulai kelelahan akibat perjalanan yang penuh rintangan.
***
Di kegelapan yang masih dalam hutan kutukan, terdapat seorang pemuda yang tidak begitu jelas di lihat akibat gelapnya hutan itu. Pemuda itu berdiri tepat di samping pohong besar sambil memegang pedang yang berada di sakunya.
"Apa sudah sangat lama kamu disini?" Tanya seorang gadis yang baru saja datang dari arah belakang pemuda itu.
"Untuk menunggumu aku rela berdiri 100 hari hanya untukmu" jawab pemuda itu memutar tubuhnya untuk melihat gadis yang baru saja datang. "Bagaimana? Apa yang para kesatria bodoh itu lakukan?" Tanya pemuda itu.
"Mereka saat ini telah tertidur sangat pulasnya, bahkan rasanya ingin ku bunuh saat ini juga. Tapi di karenakan rencana yang telah sangat matang kita rencanakan, aku tidak ingin membuatnya mati dengan mudah" ujar gadis itu.
"Tetap awasi mereka, jika kamu berhasil mendapatkan permata kehidupan dan Dark langsung tinggalkan mereka dan kembali kepadaku" ucap pemuda itu.
"Aku mencintaimu" ucap gadis itu langsung pergi setelah pertemuan yang sangat singkat itu.
***
Tidak terasa waktu beristirahat sudah terasa lama, merekapun terbangun dari tidur dan melanjutkan perjalanan mereka.
Seperti sebelumnya dengan langkah penuh kewaspadaan dan hati-hati mereka berjalan terus memasuki hutan kutukan.
"Entah kapan kita dapat keluar dari hutan ini? Aku sudah tidak tahan berada di sini" keluh Ezra.
"Aku harap secepatnya dan mendapatkan permata-permata itu dengan cepat" ucap Yura.