World Elements

World Elements
kematian Yura



Tubuh yang mulai memucat, kini disusul dengan dinginnya tubuh Yura yang mulai memati hingga menghitam. Nafas yang sulit untuk di deteksi kini menghilang dan di ikuti dengan detang jantung. Air mata kini mulai menetes dan tidak percaya hal ini akan terjadi Yura telah tiada bahkan tubuhnya mulai menghitam efek dari pedang dark itu.


"ini tidak mungkin, Yu-Yura meninggalkan raganya" ucap Diah menangis tersedu-sedu sambil memeluk Novia.


"Yura bangun, Yura bangun" ucap mereka mengguncang tubuh Yura menggunakan tangan mereka dan merasakan tubuh yang sangat dingin karena tidak bernyawa.


Sunggu mereka kini tenggelam dlm kesedihan, ketidakberdayaan untuk melindungi Yura kini membuat Yura kehilangan nyawa dan meninggalkan mereka semua. Diantara mereka semua Vera tidak melihatkan ekspresi apapun, hanya menatap kosong Yura begitu juga dengan Pangeran Dilon dan Pangeran Clard. Mata merah pangeran Clard molot tajam dan tidak percaya, tangan yang gemetar kini membelai lembut pipi yang telah dingin, kejadian ini layaknya seperti mimpi buruk yang nyata, kehilang Yura sekaligus Pengendali Storm yang tersisa setelah beberapa saat yang lalu Queen Ororo lenyap bersama Putri Kenny menjadi perisai anti Dark.


Diantara tangisan yang bergema, terdengar tawa yang keras di indra pendengar mereka dan segera melihat ke sumber suara itu dan mendapatkan Pangeran Odin, hingga tawanya itu menjadi tangisan.


"tolong buka perisain ini, aku ingin melihat keadaan kekasihku Yura. Aku akan menyembuhkannya" ucapnya memohon.


Semua orang tidak memperdulikannya dan membuat kedap suara agar suara diluar tidak menggangu mereka. Bagaikan tersayat-sayat melihat kejadian ini.


Di sebuah tempat nan indah wewangian bunga menyengat hingga ke rongga hidung, udara manja menggelitik lembut kulit seorang gadis yang terbaring dengan gaun emas bukan hanya gaun tapi gadis itu serba emas, bayangkan saja bulu matanya memiliki manik-manik emas. Perlahan mata yang tertutup itu, mulai terbuka dan memperlihatkan manik-manik mata yang indah, wajah yang polos, lugu bahkan kecantikannya sangat memukau.


"Dimana aku?" kata-kata yang pertama kali dikeluarkan diri bibir indahnya.


"terima hormatku yang mulia" ucap seorang lelaki yang membuatnya kaget.


"Dimana aku?" tanya gadis itu.


"Yura?" panggil seorang gadis yang lebih tua darinya dan segera memeluknya. "Yura apa yang kamu lakukan disini?" tanyanya.


"Entahlah aku juga tidak tahu" jawabnya membalas pelukan gadis biru itu.


"Yura ikut aku, aku akan memperlihatkan kamu sesuatu" ajaknya tanpa ditolak oleh Yura.


Gadis itu segera menarik tangan Yura dan membawanya kesuatu tempat,  dimana pemandangannya tidak kalah indah di tempat Yura baring sebelumnya. Disana terdapat air terjun dan para mermaids berkumpul disana, Yura disambut dengan hormat dan ramah tamah dari para mermaids dan vairys. Diantara mereka semua tidak ada satupun yang Yura kenal. Yura lebih terlihat seperti tidak terjadi sesuatu dengan wajah polosnya.


Satu persatu mermeids dan Vairys menunjukan jalan ke arah singgah sana dimana terdapat para Queens dan Kings yang menunggunya. Jauh dihadapan terdapat sebuah singgahsana emas yang sangat besar dan tidak lupa para pelayan yang memegang mahkota yang sangat megah.


"duduklah disinggah sana itu, karena kamu layak mendapatkannya" ucap gadis biru yang keramahannya seperti seorang kakak kepada adiknya.


Sungguh ribuan pertanyaan terkumpul di benak Yura.


Yura telah dinobatkan menjadi ratu tertinggi, semua orang bersorak senang. Yura merasa sangat tidak tenang namun tak dapat dia lukiskan dengan kata-kata, ketidaknyamanannya itu membuat gelisah. Sebuah bayangan kejadian mulai terlihat di matanya, kegerahan yang dia rasakan membuatnya tidak betah mengenakan mahkota itu hingga Yura lempar ke bawah singgah sana.


"Mahkota itu menyiksaku, aku tidak ingin mengenakannya" jawabnya dan pergi dari singgah sana itu, gaun yang terseret dan jubah yang melambai-lambai membuat mahkota tadi terbontang banting hingga menanggalkan satu permata. Oroma tubuh Yura dapat tercium siapapun yang dia lewati, wangi lembut dan sejuk.


"tempat apa ini? Aku tidak bisa berlama-lama disini.


Tiba-tiba ucapannya itu disambut dengan perpindahan posisinya yang berada dalam lautan, kaki putih dan jemari kakinya kini menghilang berubah menjadi ekor berwarna kuning keemasan. Rambut panjangnya kini basah dan menari-nari diperairan. Tak ada yang di fikirkannya, namun kepakan ekornya membawanya berenang menelusuri lautan yang entah berada dimana.


Ikan-ikan kini mengitari dirinya, Yura tampak tersenyum bahagia perkumpulan ikan di sekitar tubuhnya itu membuatnya berenang dan menari di dalam air. Tawanya, kini terlukis kedamaian. Tapi, semua itu hanya sesaat setelah Yura melihat bola es, bola es yang sangat besar dan tak asing dimata.


"ini sepertinya aku pernah melihat bola es ini, tapi dimana?" batinnya mendekat dan menyentuh bola es itu dengan jarinya, sengatan listrikpun terasa disekujur tubuhnya dan disambut dengan sebuah bayangan seorang gadis yang berlumuran darah membuat bola es ini sebelumnya. "oh tidak ada seseorang didalam sini" ucapnya mencoba untuk mencari kebenaran, alhasil dia melihat bayangan perempuan dengan tangan yang membentang dan penampilan serba putih. "bagaimana menghancurkan ini" tanyanya menggunakan kekuatannya, perlahan bola es itu retak kecil hingga besar dan kemudian berderai mengeluarkan dua perempuan yang salah satu serba putih dan satunya lagi serba biru.


"Yura" panggilnya bersamaan yang membuatnya bingung dan merasa wajah mereka sangat familiar.


"Siapa kalian?" tanya Yura.


"Yura putriku, aku Ibumu apa kamu lupa? Aku ada Queen Ororo monroe storm, aku ibumu" jawabnya dan mengaku sebagai ibu Yura.


"iya Yura, aku juga kakakmu, Putri Kenny yang kamu selamatkan saat aku mengalami hukaman menjadi lumba-lumba, apa kamu ingat Yura?" tanya gadis yang tidak jauh beda umurnya dengan Yura.


Yura terdiam sesaat hingga lautan berubah menjadi pemandangan yang indah, ekor mereka berubah menjadi sepasang kaki yang putih dan tertutup gaun yang sangat panjang bila berjalan terseret ketanah. Mereka saling menatap.


"apa ibu boleh menyentuh kepala mu nak?" tanya Queen Ororo langsung memegang kepala Yura, cahaya putih pun keluar dari telapak tangan Queen Ororo dan di sambut dengan cahaya hitam dari dahi Yura. Cahaya hitam itu adalah pengunci daya ingat  Yura akan masa lalunya, Queen Ororo hanya bisa menyerap kekuatan itu agar dapat menyelamatkan Yura. Mata yang tertutup mulai terbuka dengan perlahan mata yang serba emas itu sangat menakjubkan kilauan matanya, di lengkapi dengan surai emasnya yang sangat panjang melambai-lambai karena angin yang berhembus. Mata indah Yura menantap segerombolan orang yang penuh dengan kesedihan dan tangisan hingga membutnya pernasaran langkah kakinya semakin cepat, dia mencoba untuk bertany tetapi tidak dapat jawaban, bahkan Yura mencoba untuk menyentuh orang-orang yang dilihatnya tetapi tidak tak dapat disentuh bagaikan bayangan.


"apa yang terjadi?" tanda tanya besar kini menghujani pikirannya.


Yurapun melayang keudara menghampiri titik tengah diantara keramaian yang dia lihat, mata terbelalak saat melihat tubuhnya terbaring menghitam berlumuran darah, padahal dia ada di sana juga berdiri didepan mereka.


"a-apa yang terjadi? Si-siapa mereka? A-aku" ucapnya terbatah-batah merasa bingung. Langkahnya membawa kepada sosok yang sangat mirip dengannya yang dipangku oleh pemuda merah dan penuh dengan isakan tangis yang lainnya. Yura menatap tajam pemuda itu, wajahnya familiar sekali hingga membulat dengan sempurna lambang permata didahinya bersinar.


Keheningan menguasai tempat itu, menatap sedih sosok gadis storm yang kehilangan detak jantungnya. Kepasrahan kini terlihat di wajah mereka semua. Pngeran Clard setia memangkui kepala Yura yang terbaring tidak bernyawa.


"matahari sebentar lagi akan terbit" tangis sahabatnya pecah. Semua pejuang yang masih hidup menangiskan kematian Yura.


Matahari telah muncul di ufuknya dan di susul dengan tubuh Yura yang menghitam, kehilangan sosok Yura yang mereka cintai membuat air mata mereka dengan sesaat mengering sempurna. World elements terasa berbeda setelah kematian Yura. Sementara pangeran Clard dan yang lainnya melepaskan amarah dengan melawan kakak beradik dari bangsa Dark itu.


"deg... Deg.... Deg.... Deg...." tumpahan darah kini delengkapi dengan perginya Yura dari sisi mereka, para ratu dan raja hanya menyaksikan para kesatria bertarung membalaskan dendam yang telah gugur terutama Yura. Tentu saja melihat sosok yang dicintainya pergi, pangeran Odin mengamuk membabi buta menyerang lawannya seakan-akan tidak terima kepergian Yura padahal penyebab di balik itu adalah dia dan adiknya yaitu Putri Olin.