
" Ehhh bukannya orang hamil itu nggak datang bulan yaa ? " kata Mbak kasir bingung.
" Emang iyaa Mbak ? ahhhh terserah dehh Mbak mungkin nanti pakainya setelah lahiran " kata Daff.
" Totalnya 230.000 Mas " kata Mbak lasir, sehingga membuat Daff mengeluarkan dompetnya.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, kini Daff sudah berada dihalaman rumah Fiah, sambil memainkan kunci motornya hingga tanpa sengaja membuat kunci tersebut terlempar ke got.
" Waduhhh, apess banget sih gue " gumam Daff sambil berjalan kearah got tersebut.
" Dihhhh jijay banget " kata Daff sambil bergidik ngeri.
" Kakak Daff kenapa ? " tanya Dzamira yang tiba-tiba berada disamping Daff, sehingga membuat Daff tersenyum melihat bocah tersebut disampingnya.
" Ehhhh Dek, mau bantuin Kakak nggak ? " tanya Afkar sok manis.
" Bantuin apa ? " tanya Dzamira.
" Mira tolong ambilin kunci motor Kakak di sana dong Dek " kata Daff sambil menunjuk kunci motornya yang ada di got.
" Okedehhh " kata Mira yang diangguki oleh Daff.
Setelah mengambil kunci motor Daff, pakaian Mira sangat kotor bahkan baunya juga sangat menyengat, Akhtar dan Afkar yang baru kembali mengantar Syilla terkejut melihat anak perempuannya sangat kotor.
" Mira apa yang kamu lakukan ? " kata Akhtar kaget
Melihat ekspresi Ayahnya membuat Dzamira berkaca-kaca.
" Kenapa main disitu ? " kata Akhtar sambil berjongkok dihadapan Dzamira.
" Diajakin Kakak Daff " kata Dzamira sambil menunjuk Daff, sehingga membuat Afkar menatap tajam kearah anaknya.
" Daff sini biar Papa gorok kamu " kata Afkar yang kesal dengan anaknya.
" Berani kotor itu baik loh Pa, dan itu harus dimulai sejak dini kayak Dzamira ini " kata Daff.
Baru saja Afkar ingin menimpali ucapan anaknya, namun terhenti karena ucapan Fiah yang tiba-tiba keluar bersama dengan Gibran.
" Ada apa ini ? " tanya Fiah ketika mendengar suara ribut-ribut.
" Yaa ampun Mira kenapa bisa gini sih ? " kata Fiah kaget saat melihat Mira.
" Siapa lagi kalau bukan ulah Daff " kata Afkar.
" Yaaampunnn Daff, kamu ini bener-bener yaa !! " omel Fiah.
" Lahhh Daff cuman minta tolong kok malah Daff yang disalahin sih, Mira ikhlas kan Mir bantuin Kakak ? " kata Daff.
" Ikhlas " timpal Dzamira.
" Tuhhh denger sendiri kan, oiyyaa Mom ini pesenan Mommy kalau ini punya Kakak " kata Daff sambil memberikan baju Fiah dan memberikan kantong plastik yang berisi beberapa pack soptex pada Gibran, kemudian berjalan masuk kedalam dirinya kesal karena terus disalahkan.
" Lahhh ngambek tuh bocah " gumam Fiah.
Daff yang kesal langsung berjalan menghampiri Gus Fauzan yang terlihat baru keluar dari kamar.
" Abi " panggil Daff.
" Kenapa Nak ? " tanya Gus Fauzan bingung melihat wajah Daff yang tidak seperti biasanya.
" Bisa bicara sebentar nggak Bi ? " tanya Daff.
" Bolehh, kalau gitu kita ke ruang kerja Abi aja yaa " kata Gus Fauzan.
" Ada apa Nak ? " tanya Gus Fauzan.
" Hmmm menurut Abi, Daff ini gimana sih ? " tanya Daff, sehingga membuat Gus Fauzan bingung.
" Yaa Daff tau kalau Daff itu beda banget sama Kak Gibran yang serba bisa dan Daff juga tau kalau Daff nggak secerdas Kak Gibran, tapi kan nggak semua masalah selalu Daff yang disalahin " kata Daff kesal.
" Sebenarnya ada apa hmm ? " tanya Gus Fauzan sambil menepuk bahu cucunya, sehingga membuat Daff menceritakan semua kejadian yang membuatnya kesal.
" Jadi cucunya Abi cemburu ? " kata Gus Fauzan.
" Yaaa kalau sekali dua kali Daff bisa maklum Bi, tapi ini kan udah berkali-kali " kata Daff.
" Daff mereka bukan bermaksud menyalahkan Nak, kan mereka nggak tau kalau Daff memang minta tolong sama Mira. Daff tau nggak kenapa Mommy kamu bersikap begitu ? " tanya Gus Fauzan.
" Karena Mommy Fiah lebih sayang Gibran sama Mira " kata Daff, sehingga membuat Gus Fauzan menggeleng.
" Mommy seperti ini ke kamu bukan karena lebih sayang Gibran atau Mira, tapi Mommy merasa kalau kamu lebih enak diajak bercanda daripada Gibran, karena sikap kamu itu sefrekuensi sama Mommy " kata Gus Fauzan.
" Jadi nggak ada yang namanya pilih kasih atau apalah itu, kalian itu punya kelebihan masing-masing " timpal Gus Fauzan, sehingga membuat Daff tersenyum mendengarnya.
" Abi emang panutan Daff dehh " kata Daff sambil mengacungkan jempolnya kearah Gus Fauzan, sehingga membuat Gus Fauzan terkekeh mendengarnya.
" Assalamualaikum " kata Gibran yang tiba-tiba berdiri disana bersama Fiah dan Dzamira.
" Walaikumsalam " jawab Daff dan Gus Fauzan.
" Ehhh sayang sini duduk dekat Abi " kata Gus Fauzan pada Fiah.
" Iyaa Bi, ayooo cucu cantiknya Mommy " kata Fiah sambil mengangkat Dzamira kepangkuannya.
" Kalian ngobrolin apa ? kayaknya serius banget " tanya Fiah penasaran.
" Bukan apa-apa sayang, oiyyaa kebetulan Gibran juga disini, sini Nak Abi ada yang mau dibicarain sama kalian " kata Gus Fauzan.
" Apa Bi ? " tanya Daff penasaran.
" Kalian berdua kan udah dewasa, Abi boleh nggak tanya cita-cita cucu Abi apa ? dan setelah lulus sekolah rencananya mau ngapain ? " tanya Gus Fauzan.
" Kalau Gibran mau lanjut kuliah sekaligus bantuin Ayah diperusahaan Bi, kalau ditanya cita-cita sih Gibran mau kayak Ayah Bi, seorang pebisnis namun tetap menerapkan nilai-nilai syariat islam " kata Gibran yang diangguki oleh Gus Fauzan sambil beralih menatap Daff.
" Kalau Daff dari kecil pengen jadi anak tunggal kaya raya Bi " kata Daff cengengesan, sehingga membuat Gus Fauzan menggelengkan kepalanya sambil terkekeh.
" Ehhhh tapi itu cita-cita Daff yang nomor kesekian Bi " ralat Daff.
" Terus cita-cita yang utama apa ? " kata Gus Fauzan.
" Duhhh gimana yaa bilangnya, Daff nggak percaya diri Bi " kata Daff.
" Tumben banget " kata Gibran heran, karena biasanya adiknya itu selalu percaya diri.
" Abi juga jadi penasaran " timpal Gus Fauzan.
" Huffttt sebenarnya cita-cita Daff tuhh pengen kuliah di Mesir terus bisa gantiin Abi ngelolah pesantren Almarhum Abah di Bogor dan sekaligus jadi pengajar disana Bi, jujur aja panutanku itu Abi Fauzan " kata Daff.
" Masya Allah Abi seneng banget dengernya Nak " kata Gus Fauzan terlihat senang.
" Tapi masalahnya Daff bisa nggak yaa bersikap kayak Abi ? " kata Daff ragu.
" Abi yakin kamu bisa jauh lebih baik dari Abi " kata Gus Fauzan sambil menepuk bahu Daff.
" Gue juga yakin lo pasti bisa, tapi apa yang bikin lo jadi nggak percaya diri ? " tanya Gibran heran.
" Ntahlahh Daff kurang PD ajaa, jadi setiap orang nanya cita-cita Daff, Daff selalu jawab jadi anak tunggal kayak raya " kata Daff sambil terkekeh.
" Tumben banget cucu Mommy satu ini nggak PD, biasanya Mahhh selalu percaya diri. Seharusnya kamu tub percaya diri Daff kan kamu keturunannya Abi Fauzan " kata Fiah.
" Kalau Mira mau jadi apa Nak ? " tanya Fiah beralih pada cucu perempuan yang dipangkuannya.
" Mau jadi Hafidzah Mommy " kata Dzamira.
" Masya Allah " kata Gus Fauzan dan Fiah bersamaan.
Afkar dan Akhtar yang ingin mengajak anaknya pulang tak sengaja mendengar obrolan anak-anaknya.
" Bang, jujur gue nggak rela kalau Daff kuliah jauh-jauh " kata Afkar.
" Cita-cita Daff itu sangat muliah Kar, seharusnya kamu bangga dan mendukung dia. Sangat jarang anak muda zaman sekarang memiliki cita-cita sama seperti Daff " kata Akhtar sambil menepuk bahu adiknya.
" Tapi Abang tau sendiri kalau dari dulu gue nggak bisa jauh dari Daff " kata Afkar.
" Tidak ada orang tua yang ingin jauh dari anaknya Dek, tapi sebagai orang tua kita harus mendukung keinginan mereka " kata Akhtar.
" Hufffttttt kalau itu memang kemauan dia, insya Allah Afkar sama Ila akan dukung dan ikut ke mesir menemaninya " kata Afkar.
" Ingat kerjaan " sindir Akhtar.
" Lahhh Afkar kan bosnya, jadi bisa pantau dari mesir " kata Afkar enteng, sehingga membuat Akhtar menggelengkan kepalanya.
" Nggak nyangka yaa Bang, sekarang anak-anak udah dewasa dan udah bisa nentuin pilihannya masing-masing " kata Afkar sambil melihat Daff yang sedang bergurau dengan Abi dan Mommynya.
" Hmmm, bener banget Dek. sepertinya waktu begitu cepat berlalu yaaa " timpal Akhtar yang juga ikut memandangi kedua anaknya.
END........
______________
Udahhh End yaaa guys maaf banget kalau endingnya gak jelas begini. Jujur Author udah kehabisan ide buat novel ini, karena dari awal novel ini dibuat khusus tentang Akhtar dan Afkar. Sekali lagi maaf yaa jika endingnya tidak sesuai dengan ekspektasi kalian๐๐๐