
Daff memperhatikan wajah Papanya, wajahnya terlihat pucat, mata yang biasanya melotot dan menatapnya dengan binar kebahagiaan kini telah tertutup rapat, bibir yang selalu mengomelinya tentang banyak hal kini sudah kaku.
" Papa hiks..hiks " kata Daff lirih.
" Papa jangan pergi hiks..hiks " timpal Daff sambil menciumi seluruh wajah Afkar.
" Daff "
" Daff kenapa Pa ? " kata Ila khawatir saat melihat Daff mengigau sambil menangis sesegukan.
" Dafff bangun sayang " kata Ila khawatir sambil menepuk pipi Daff.
" Daff ehhhh bangun Nak " kata Afkar sambil menggoyangkan badan Daff, sehingga membuat Daff membuka matanya secara perlahan.
" Papa " gumam Daff saat melihat wajah Afkar.
" Iya Papa di sini sayang " kata Afkar, sehingga membuat Daff langsung bangun dan berhambur di pelukan Afkar.
" Hehh ada apa Nak ? " kata Afkar sambil mengusap punggung Afkar.
" Hiks...hiks Papa jangan pergi hiks..hiks " kata Daff sesegukan di pelukan Afkar.
" Paapa nggak akan pergi, Papa di sini sayang " kata Afkar sambil menenangkan Daff.
" Daff kenapa sayang ? " kata Ila sambil mengelus pundak Daff dengan sayang.
" Daff mimpi buruk hiks...hiks " kata Daff sambil menatap wajah Afkar.
" Itu cuman mimpi Jaenuddin, aelahhh bikin Bapak lu khawatir aja lihat lu nangis-nangis sambil tidur, ehhh tau-taunya cuman mimpi " kata Afkar berusaha mencairkan suasana sambil mengahpus air mata Daff.
" Emang mimpi apaansih ? " timpal Afkar yang juga penasaran.
" Kata Abi Fauzan, mimpi buruk nggak perlu di ceritain Papa " celetuk Daff yang sudah mulai tenang.
" Aelaahhh bikin gue penasaran aja nih anak " gumam Afkar yang masih terdengar jelas di telinga Daff.
" Yang jelas di mimpi Daff, Papa tuh jelek banget mukanya. kalau followers instagram Papa lihat beuuhhh sudah di pastikan followers Papa ngefollow Papa cuman mau lihat Daff bukan Papa " celetuk Daff.
" Beneran Papa jelek banget di mimpi lu Daff ? " kata Afkar.
" Iyaaa pakai banget lagi, hampir aja Daff mau ajak Papa oprasi plastik " kata Daff.
" Udah yaa debatnya di lanjut besok lagi, sekarang Daff tidur lagi ya sayang udah tengah malam besok kan sekolah " kata Ila tegas.
" Bentar Ma " kata Daff sambil memandangi wajah Afkar.
" Uhhhhh gara-gara nangis jadi laper " gumam Daff yang terdengar samar di telinga Ila dan Afkar.
" Kenapa lagi ? " kata Afkar.
" Paaaa pengen " rengek Daff, sehingga membuat Afkar mengangkat salah satu alisnya.
" Hahhh ? pengen apa tengah malam kayak gini ? jangan aneh-aneh yaa Papa ngantuk ini " kata Afkar.
" Pengen makan sayur soup, tapi di masakin Papa " kata Daff dengan wajah yang di buat selucu mungkin.
" Ihhh lucunyaaa " kata Ila gemas dengan wajah Daff.
" Berani bayar berapa kamu ? " kata Afkar.
" Nih buat Papa " kata Daff sambil membentuk love dengan kedua tangannya.
" Astagaa Ila anak kamu ngegombal " kata Afkar sambil tepok jidat.
" Kagak " timpal Afkar.
" Paaa buruuu, Daff lapar nihh " kata Daff merengek.
" Yaudah iyaa, ayooo ke dapur sama-sama " kata Afkar.
" Sini cium dulu dikit " kata Daff sambil mengecup pipi Afkar sekilas, sehingga membuat Ila terkekeh.
" Dihhh pas ada maunya " kata Afkar sambil mengangkat tubuh Daff sambil berjalan kearah dapur yang di ikuti oleh Ila dari belakang.
" Mama bantuin yaa Pa " kata Ila ketika Afkar mendudukkan Daff di kursi depan meja makan.
" Nggak yaaa, Daff mau masakan Papa tanpa campur tangan Mama, Mama duduk sini aja temenin Daff " protes Daff.
" Yaudah iyaa, Papa masakin nihh " kata Afkar yang mulai mengeluarkan semua bahan masakan dari kulkas.
" Waooowww gila sihh Bapak gue, masak doang aja ganteng " kata Daff sambil memperhatikan Afkar yang mulai berkutat dengan peralatan dapur.
" Owhhh jelas dong suami Mama gitu lohh " kata Ila menimpali.
" Dih Mama apaansih ? " kata Daff sambil melirik Ila.
" Apaan dah dih dah dih ? " kata Ila.
" Yaa Mama kenapa ? " kata Daff menimpali.
" Ya kamu yang apa ? " kata Ila.
" Apasihh Mama nggak jelas banget " kata Daff.
" Yaaa kamu yang nggak jelas Daff " kata Ila.
" Terussss geludd terusss, ini Papa bawa minyak panas " kata Afkar sambil membawa sayur soup ke hadapan Daff dan Ila.
" Jiwa psikopatnya keluar " kata Daff bergidik ngeri.
" Udah-udahh nih makan abis itu tidur " kata Afkar.
" Wahhhhh aku sudah tidak sabar, makasih Papa " kata Daff antusias, sehingga membuat Afkar terkekeh.
" Pelan-pelan Baby itu masih panas " kata Ila, sehingga membuat Daff meniup makanannya terlebih dahulu.
" Gemesshhh banget anak gue " kata Afkar dalam hati.
" Alhamdulillah kenyang " kata Daff sambil mengusap perutnya.
" Sekarang tidur yaaa " kata Afkar, sehingga membuat Daff memandangi wajah Afkar sambil berkaca-kaca karena teringat mimpinya tadi.
" Kenapa Nak ? " kata Afkar khawatir.
" Daff kenapa sayang ? " kata Ila menimpali.
" Papa jangan kemana-mana yaa, jangan ninggalin Daff " kata Daff sambil menatap Afkar dalam.
" Iyaaa Papa janji, ehhh Jaenuddin walaupun lu nyebelin Papa nggak akan ninggalin lu. lu itu anak kesayangan Papa " kata Afkar sambil membawa Daff kepelukannya.
" Udahhh yaaa itu cuman mimpi jangan terlalu di pikirin, sekarang tidur lagi yaaa ? " timpal Afkar.
" Tidur sama Papa Mama boleh ? " kata Daff sambil mendongak menatap Afkar dan Ila.
" Boleh dong, iya kan Pa ? " kata Ila yang diangguki oleh Afkar.