
" Mmmm nih Paa cobain udah nggak panas lagi " kata Daff sambil menyuapi Afkar.
" Aaaaa.... terima kasih anak ganteng " kata Afkar sambil mengelus kepala Daff.
" Tadi berantem sekarang suap-suapan, dasar anehhh " kata Ila dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.
Sementara di kediaman Akhtar, kini Gibran dan Akhtar sedang duduk di teras rumah sambil memperhatikan kendaraan yang lewat depan rumahnya.
" Ayah kenapa di hari minggu semakin banyak kendaraan yang lewat ? padahal kan hari minggu adalah hari libur " tanya Gibran.
" Yaa karena hari minggu itu hari libur, jadi banyak orang yang memanfaatkan hari minggu untuk liburan " kata Akhtar, sehingga membuat Gibran mengangguk paham.
" Kenapa ? Gibran mau jalan-jalan juga ? " kata Akhtar sambil menatap Gibran, sehingga membuat Gibran menggelengkan kepalanya.
" Kenapa ? Ayah bisa kok antar Gibran jalan-jalan hari ini " kata Akhtar.
" Nggak ahhh enakan di rumah " kata Gibran bertepatan dengan keluarnya Della.
" Dasar anehh diajak jalan malah nggak mau, emang Gibran nggak suntuk di rumah terus ? " tanya Della yang berdiri di samping Akhtar.
" Selama ada Bunda sama Ayah, Gibran lebih suka di rumah " kata Gibran, sehingga membuat Akhtar mengusap kepala Gibran.
" Owwhhh yaudah, oiyyaaa Yah tolong pasangin gas di dapur dong gasnya habis " kata Della yang diangguki oleh Akhtar.
" Gibran tunggu bentar yaa Nak " kata Akhtar yang diangguki Gibran.
Setelah kepergian Akhtar dan Della, tiba-tiba pandangan Gibran tertuju pada gadis kecil yang memasuki pagar rumahnya, kemudian berjalan kearahnya.
" Haiii aku Elsa salam kenal " kata gadis kecil bernama Elsa tersebut sambil mengulurkan tangannya kearah Gibran, sementara Gibran hanya melirik Elsa tanpa ada niat berbicara apalagi menerima uluran tangan gadis kecil tersebut.
" Umurkuu lima tahun, besok aku udah mau sekolah lohh " kata Elsa sambil menarik kembali uluran tangannya sambil duduk di kursi yang tadi di duduki oleh Akhtar.
" Kamu nggak bisa bicara yaaa, kok dari tadi diam mulu ? " celetuk Elsa, sehingga membuat Gibran hanya melirik gadis yang duduk di tempat Ayahnya.
" Ngapain dia duduk di situ sih ? itu kan tempat Ayah " kata Gibran dalam hati.
" Oiyyaa nama kamu siapa ? " kata Elsa yang lagi-lagi tidak mendapat jawaban dari Gibran.
" Huffffftttt kayak ngomong sama angin aja, untung kamu ganteng jadi Elsa suka sama kamu " cerocos Elsa.
" Berisik " kata Daff datar.
" Wahhh akhirnya kamu bicara juga " kata Elsa heboh.
" Bisa diam nggak sih, berisik banget " ketus Gibran.
" Heiiii aku tuhh nggak berisik yaaa yang namanya berisik itu teriak-teriak " kata Elsa.
" Terserah " kata Gibran datar.
" Dasar galak, Elsa kan cuman mau temenan sama kamu " kata Elsa sedikit kesal.
" Akunya yang nggak mau temenan sama kamu, pergi sana aku udah punya teman " ketus Gibran.
" Itu kan kata Mama kamu bukan kata Ayah Bundaku " kata Gibran datar.
" Kamu jahat banget sihh, padahal Elsa cuman mau temenan hiks...hikss " kata Elsa sambil menangis.
" Dasar cengeng " kata Gibran datar, sehingga membuat Elsa berlari pergi.
" Akhirnya pergi juga " gumam Gibran sambil masuk kedalam rumah.
" Ehhh baru aja Bunda mau panggil Gibran " kata Della yang baru saja ingin keluar.
" Kenapa Bunda ? " kata Gibran.
" Tadi Bunda habis bikin cheese cake kesukaan Gibran " kata Della.
" Beneran ? makasih Bunda " kata Gibran sambil tersenyum hangat kearah Della.
" Mmmm enak banget " kata Gibran yang tak berhenti menyuapi kue tersebut kedalam mulutnya, sehingga membuat Akhtar dan Della terkekeh melihat ekspresi Gibran yang sangat menggemaskan.
" Pelan-pelan sayang " kata Della.
" Alhamdulillah.." kata Akhtar.
" Kenapa Alhamdulillah Ayah ? " kata Gibran sambil menatap heran kearah Akhtar.
" Emangnya Ayah nggak boleh bersyukur ? " kata Akhtar.
" Siapa yang nggak bolehin ? Gibran kan cuman nanya kenapa Ayah tiba-tiba ucap Alhamdulillah " kata Gibran polos, sehingga membuat Akhtar maupun Della terkekeh dengan penuturan Gibran.
" Ayah bersyukur dan akan tetap bersyukur karena Allah telah memberikan makhluk cantiknya untuk melengkapi tulang rusuk Ayah dan Allah juga memberikan Gibran sebagai malaikat kecil untuk menambah kebahagiaan di hidup Ayah dan juga Bunda " kata Akhtar sambil tersenyum hangat kearah Della dan Gibran, sementar Gibran terlihat berpikir setelah mendengar penuturan Ayahnya.
" Kenapa Nak ? " kata Della saat melihat Gibran yang terlihat memikirkan sesuatu.
" Tulang rusuk Ayah nggak lengkap ? kok bisa sih ? tulung rusuknya pernah hilang ? kapan ? tapi sekarang udah sembuh kan Yah ? nggak sakit lagi kan Yah ? " tanya Gibran beruntun, sehingga membuat Akhtar maupun Della tertawa dengan pertanyaan polos anaknya.
" Kok Ayah sama Bunda ketawa ? Gibran serius tauu " kata Gibran heran saat melihat respon kedua orang tuanya.
" Tulang rusuk yang Ayah maksud itu Bunda sayang " kata Akhtar, sehingga membuat Gibran semakin bingung, kemudian beralih memandang Della dari atas sampai bawah.
" Kenapa lagi Gibran ? " tanya Della.
" Ayah, Bunda itu bukan tulang, Bunda itu manusia sama kayak kita " kata Gibran polos yang lagi-lagi membuat tawa Akhtar dan Della pecah.
" Kenapa ? Gibran bener kan ? " tanya Gibran.
Baru saja Akhtar ingin menjawab pertanyaan polos Gibran, namun terhenti karena suara ketukan pintu dari luar.
" Bentar yaa " kata Della yang diangguki oleh Akhtar dan Gibran.
_____________
Jangan lupa like, comment, and vote ya guys. supaya Author lebih semangat untuk update part-part selanjutnya.