
" Sini biar Papa jelasin yaa, kamu cuman boleh menikah satu kali, coba liat cincin di jari manis Papa. kamu cuman boleh memakai satu cincin saat menikah Daff " kata Afkar sambil memperlihatkan cincin pernikahannya yang melingkar di jari manisnya.
" Kita bisa pakai lebih dari satu, kan kita punya lima jari di setiap tangan " kata Daff polos, sehingga membuat Afkar tepok jidat mendengar penuturan putranya.
" Astagfirullah ini sih definisi pakboy sejak dini " kata Afkar sambil menggelengkan kepalanya.
Sementara di tempat Della dan Akhtar, Akhtar baru saja selesai membereskan semua pekerjaanya yang tertunda di ruang keluarga.
" Uhhhhh badan pegel banget udah lama nggak olahraga " kata Akhtar sambil merenggankan otot-ototnya.
" Makanya jangan ngantor teruss kerjaanya, sekali-kali olahraga " kata Della sambil meletakkan teh hangat di depan Akhtar, kemudian beralih memijit lengan Akhtar.
" Iyaa kalau ada waktu, tapi temenin yaa " kata Akhtar sambil beralih menatap wajah cantik Della.
" Okee " kata Della.
" Memangnya kamu mau olahraga apa ? " kata Akhtar.
" Hmmmm bulutang aja dehh Mas " kata Della, sehingga membuat Akhtar bingung.
" Maksudnya bulutangkis ? " kata Akhtar.
" Bulutang sayang " kata Della.
" Hahh bulutang ? kisnya mana ? " kata Akhtar heran.
" Ini kisnya " kata Della sambil mencium pipi Akhtar sekilas.
" Ehhhh " kata Akhtar sambil menyentuh pipinya.
Baru saja Akhtar ingin menimpali ucapan Della, namun terhenti karena kedatangan Gibran yang duduk di tengah-tengah keduanya.
" Gibran nggak suka yaa kalau Ayah dekat-dekat sama Tante janda " kata Gibran, sehingga membuat Akhtar dan Della bingung.
" Hahh Tante janda ? siapa ? " kata Della.
" Mamanya anak berisik itu Bun " kata Gibran.
" Oooo Mamanya Elsa " kata Akhtar yang diangguki oleh Gibran.
" Jadi dia janda ? tau dari mana kamu ? " kata Della.
" Daff yang bilang, pokoknya Gibran nggak mau yaa Ayah deket-deket sama Tante itu, Gibran nggak mau punya dua Bunda " celetuk Gibran.
" Maksudnya gimana sih ? " kata Della bingung.
" Tadi pagi Ayah ngajakin Tante janda sama anaknya berangkat sekolah bareng, karena mobilnya Tante itu bermasalah " kata Gibran.
" Iya bener, tapi niat aku cuman mau bantuin mereka nggak lebih sayang " kata Akhtar.
" Tetap aja Gibran nggak suka, apalagi tadi dia sempat maksa Gibran pulang bareng dan kata si Daff, Tante itu cuman mau modus deketin aku supaya bisa lebih deket sama Ayah " kata Gibran.
" Ooo jadi gitu kelakuan kamu di belakang aku ? sok nawarin tumpangan sama janda lagi, kalau kamu ke goda sama dia aku sama Gibran gimana ? " kata Della kesal.
" Astagfirullah, bakal panjang nih urusan " kata Akhtar dalam hati.
" Nggak gitu sayang, niat aku cuman tolongin dia nggak ada maksud lain " kata Akhtar.
" Mungkin niat Mas Avatar emang mau nolongin dia, tapi kita nggak tau niat dia apa setelah di tolongin sama kamu. bisa saja kan apa yang di katakan Daff bener " kata Della.
" Ayah tebakan Daff nggak pernah salah loh, kalau Gibran nemenin dia nonton sinetron azab dia selalu berhasil menebak jalan ceritanya " kata Gibran menimpali.
" Yaaa itu karena Daff nontonnya udah berkali-kali Gibran, astagaa ini kalian pada kenapa sih ? Ayah nggak ada yaa niat mau dekat-dekat sama Bu Riska i..." kata Akhtar terpotong oleh ucapan Della.
" Oooo jadi namanya Bu Riska ? hapal bener " kata Della semakin kesal, sehingga membuat Akhtar menghembuskan nafasnya kasar.
" Yaudah iyaaa Ayah minta maaf sama kalian " kata Akhtar pasrah.
" Bakal di maafin, tapi jangan sekali-kali Ayah ngasih tumpangan sama perempuan janda itu lagi, lain kali kalau mobilnya dia bermasalah suruh pesan taxi online aja " kata Della.
" Gibran setuju sama Bunda " kata Gibran menimpali.
" Iyaa iyaaa Ayah janji " kata Akhtar.
" Kita pegang janji Ayah " kata Della dan Gibran kompak, sehingga membuat Akhtar terkekeh dengan kekompakan istri dan anaknya.
" Ini nggak lucu yaa " kata Della dan Gibran yang lagi-lagi bersamaan.
" Bunda sama anak sama-sama posesif " kata Akhtar dalam hati.
" Iyaa sayang, lagian mana mungkin sih Ayah berpaling sama wanita itu. ingat Ayah itu udah punya kalian berdua yang membuat hidup Ayah lebih menyenangkan dan bermakna, jadi mana mungkin Ayah merusak kebahagiaan Ayah sendiri dengan mendekati wanita di luar sana " kata Akhtar.
" Gibran sayang sama Ayah tapi kalau Ayah buat Bundanya Gibran nangis, Gibran nggak mau dekat-dekat sama Ayah lagi " kata Gibran serius, sehingga membuat Akhtar bangga dengan penuturan putra kecilnya.
" Itu nggak akan terjadi Nak, tapi Gibran juga harus janji kalau Ayah nggak ada di samping Bunda, Gibran harus jagain Bunda dan Gibran harus jadi orang pertama yang nolongin Bunda kalau Bunda lagi butuh pertolongan. okeee " kata Akhtar serius.
" Okee Gibran janji " kata Gibran menimpali.
" Aaaa Sayangnya Bunda baik banget, makasih yaaa sayang " kata Della terharu.
" Bunda jangan nangis " kata Gibran sambil menghapus air mata Della.
" Nggak sayang Bunda nggak nangis tapi Bunda bahagia " kata Della.