Ustadz Idaman 2

Ustadz Idaman 2
PART 49



" Aaaa Sayangnya Bunda baik banget, makasih yaaa sayang " kata Della terharu.


" Bunda jangan nangis " kata Gibran sambil menghapus air mata Della.


" Nggak sayang, Bunda nggak nangis tapi Bunda bahagia " kata Della.


" Oiyyaa tadi Gibran belajar apa saja di sekolah ? " kata Della sambil mengelus kepala Gibran dengan sayang.


" Hmmm cuman perkenalan aja " kata Gibran.


" Oiyyyaa Gibran punya pertanyaan buat Bunda sama Ayah " timpal Gibran, sehingga membuat Dellah dan Akhtar saling pandang.


" Pertanyaan apa ? " kata Akhtar.


" Satu tambah satu berapa ? " kata Gibran.


" Dua " kata Della.


" Salah " kata Gibran.


" Terus berapa ? " kata Della.


" Sebelas " kata Gibran.


" Hahhh kok sebelas ? " kata Della bingung.


" Kan nggak ada sama dengannya " kata Gibran polos.


" Siapa yang ngajarin ? " kata Akhtar sambil terkekeh.


" Si Daff " kata Gibran.


" Emang si Daff orang terpintar se antariksa dehh " kata Della sambil menggelengkan kepalanya.


Baru saja Gibran ingin menimpali ucapan Bundanya, namun terhenti karena suara ketukan pintu dari luar.


" Bentar yaa " kata Della sambil berjalan kearah pintu.


" Assalamu'alaikum " kata seseorang di balik pintu tersebut.


" Wa'alaikumsalam ada apa yaa ? " kata Della tak suka saat melihat seseorang tersebut.


" Pak Akhtarnya ada Bu ? " kata Riska sambil mencari keberadaan Akhtar, sehingga membuat Della semakin tidak suka dengan Riska.


" Ada masalah apa ya ? " kata Della.


" Bu Della saya tanya Pak Akhtar ada di rumah atau nggak ? soalnya saya ada perlu sama Pak Akhtar bukan sama Bu Della " kata Riska.


" Tapi saya istrinya, jadi saya berhak tau dong Ibu ada perlu apa sama suami saya " kata Della penuh penekanan.


" Siapa Bund ? " kata Akhtar yang tiba-tiba berada di samping Della bersama Gibran.


" Ehhh Pak Akhtar, gini Pak saya mau minta tolong sama Bapak buat pasangin gas di rumah saya Pak, soalnya gas di rumah habis dan saya nggak tau cara pasangnya gimana. " kata Riska sambil merapikan rambutnya.


" Lohhh kenapa nggak minta bantuan dari tetangga yang lain aja ? " kata Della.


" Iyaa kenapa harus sama Ayah ? kenapa nggak minta bantuan dari tetangga yang lebih dekat dari rumah Tante ? Tante jalan ke rumah ini ngelewatin tiga rumah yang lebih dekat dari rumah Tante loh " kata Gibran.


" Tapi saya kan baru di komplek ini dan saya hanya kenal Bapak Akhtar, makanya saya minta tolong sama Pak Akhtar, Pak Akhtar bisa kan ? " kata Riska penuh harap.


Baru saja Akhtar ingin menimpali ucapan Riska, namun tidak jadi karena dari tadi Della dan Gibran tidak membiarkannya untuk angkat bicara.


" Nggak bisa, Ayah mau nemenin Gibran belajar " kata Gibran.


" Iyaaa bener tuhh " kata Della.


" Pak Anwar " teriak Della memanggil seseorang yang bernama Anwar tersebut.


" Ibu Della manggil saya ? " kata Pak Anwar yang kebetulan lewat di depan rumah Della.


" Iya Pak, ini Bu Riska minta tolong buat dipasangin gas di rumahnya, Pak Anwar bisa bantuin nggak ? " kata Della.


" Ooo bisa Bu, kenapa Bu Riska nggak minta tolong sama saya aja padahal kan rumah saya lebih dekat daripada rumah Pak Akhtar " kata Pak Ridwan sambil membenarkan rambutnya.


" Sialan nihh istrinya Pak Akhtar " kata Riska dalam hati.


" Ahhh saya nggak enak aja Pak, soalnya saya belum kenal sama Bapak " kata Riska.


" Ahhhh Ibu nggak usah sungkan kalau perlu bantuan, mari Bu saya pasangkan gasnya " kata Pak Ridwan yang diangguki oleh Riska.


" Permisi yaa Pak Akhtar, assalamu'alaikum " kata Riska sambil berjalan meninggalkan rumah Akhtar.


" Wa'alaikumsalam "


" Ayooo masuk, makanya muka Ayah tuhh jangan di buat ganteng-ganteng banget ngundang pelakor tau nggak " kata Della sambil berjalan masuk kedalam rumah.


" Dengerin tuh Yah " timpal Gibran sambil berjalan mengikuti Della, sehingga membuat Akhtar geleng-geleng kepala melihat tingkah Della dan Gibran yang sangat posesif terhadapnya.


" Kok mukanya pada di tekuk sih ? Ayah nggak ngomong apa-apa loh dari tadi " kata Akhtar saat menghampiri Della dan Gibran.


" Awas aja yaaa sampai Ayah kecentilan " kata Della sambil menatap tajam kearah Akhtar.


" Gibran berada di pihak Bunda pokoknya " kata Gibran menimpali.


" Harus ituu, tos dulu Nak " kata Della sambil mengarahkan tangannya kearah Gibran yang di sambut baik oleh Gibran.


" Kok kesalnya sama Ayah sih ? " kata Akhtar heran dengan tingkah istri dan anaknya.


" Kita nggak kesal sama Ayah kok, kita berdua cuman ngingetin plus jagain Ayah dari para pelakor yang berniat merebut Ayah dari kita berdua " kata Della yang diangguki oleh Gibran, sehingga membuat Akhtar tersenyum mendengar penuturan Della.


" Tapi kalian juga harus percaya sama Ayah, karena kepercayaan itu penting dalam sebuah hubungan " kata Akhtar.


" Kita percaya sama Ayah, tapi tidak dengan Tante yang tadi " kata Gibran.


" 100 buat anak Bunda " kata Della menimpali.


" Yasudahh terserah kalian berdua aja, Gibran ayoo belajar katanya tadi mau di temenin sama Ayah " kata Akhtar yang diangguki oleh Gibran.


___________


Jangan lupa like, comment, and vote ya guys🙂.