
" Hahahahah lucu banget sih kamu Nak " kata Della terkekeh mendengar jawaban Daff.
" Owwhhhh jelas Bunda, semesta tau itu " kata Daff bangga.
" Percaya diri sekali epribadeehhh, ehhh Dell lu nggak ada niatan buatin gue minum gitu ? serek nihh " kata Afkar sambil melirik kearah Della.
" Upsss ya ampun, maaf yaa Adek ipar Della lupa " kata Della sambil berjalan kearah dapur.
" Di luar ada apaan tuh, kok Ibu-Ibu jalannya rame-rame begitu ? " kata Daff dalam hati saat melihat para Ibu-ibu tetangga Della dari jendela.
" Ehhhh Daff keluar sebentar yaa semuanya " kata Daff.
" Mau kemana lu ? " kata Afkar.
" Keluar bentar Pa " kata Daff sambil berjalan ke luar.
Setelah mendengar bisik-bisik para Ibu-Ibu, Daff memutuskan untuk kembali masuk kedalam rumah dan langsung mencomot kue yang ada di meja depan Afkar.
" Ehhhh Jamaluddin, kalau abis dari luar tuh cuci tangan dulu bukan langsung ngambil kue " kata Afkar sewot.
" Sebenarnya nama aku siapa sih Pa ? Jamaluddin, Jaenuddin, atau botol kecap ? heran banget " kata Daff.
" Papa panggil sayang aja mau nggak ? " kata Afkar, sehingga membuat Akhtar dan Della menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Afkar dan Daff.
" Awwww Papa cocwiiitt banget dehhh " kata Daff centil.
" Dihhh jijik banget sumpah " kata Afkar sambil bergidik ngeri.
" Habis ngapain di luar Daff ? " tanya Akhtar saat Daff duduk di sebelah Gibran yang sedari tadi fokus dengan mainanannya.
" Habis gibah Ayah " kata Daff enteng, sehingga membuat Akhtar menggelengkan kepalanya.
" Gibah mulu kerjaannya, kalau gede mau jadi apa kamu ? " kata Afkar sewot.
" Admin lambe turah " kata Daff, sehingga membuat Della ngakak mendengar ucapan bocah 5 tahun yang menjadi keponakannya.
" Hehhhh " kata Afkar sambil melotot kerah Daff.
" Canda Paaa, emangnya Papa maunya Daff jadi apa ? " kata Daff.
" Yang jelas yang bisa Papa banggain ke orang-orang, kalau anak Papa luar biasa " kata Afkar.
" Tunggu Daff besar Pa " kata Daff.
" Tunggu Gibran besar juga, akan Gibran tunjukkan kalau Gibran patut Ayah dan Bunda banggakan " timpal Gibran yang sedari tadi fokus pada mainannya, sehingga membuat Akhtar dan Della mengangguk dan tersenyum kearah putranya.
" Pasti Nak, kalau kami di beri umur panjang " kata Akhtar.
" Ya Allah berilah Ayah, Bunda, Papa, dan Mama umur panjang Ya Allah " kata Gibran sambil mengangkat kedua tangannya.
" Aamiin " kata Gibran dan Daff bersamaan.
" Aamiin " kata Akhtar, Afkar, dan Della menimpali.
" Oiyyyaa kalian tau nggak, tadi di rumahnya Tante Janda, suaminya datang mau ambil anaknya Tante Janda " kata Daff saat melihat mata Papa, Ayah, dan Bundanya berkaca-kaca.
" Terus-terus ? " kata Della antusias menanggapi ucapan Daff.
" Yaaa Tante Jandanya nggak mau lahh Bund, kan Tante Janda yang besarin anaknya " kata Daff.
" Yaaa ampun, anak gue tau berita begini dari mana sih ? " kata Afkar tepuk jidat.
" Dari tadi " timpal Daff sambil nyengir.
" Udahh-udahh mending balik, kasian Mama sendirian di rumah lagian udah mau magrib juga " kata Afkar yang diangguki oleh Daff.
" Nggak boleh, Daff nggak boleh pulang Daff di sini aja " kata Della, sehingga semua mata tertuju pada Della.
" Kayaknya Dedek bayinya mau di temenin Daff terus deh, Daff nginep yaa sayang " kata Della dengan tatapan memohon.
" Gimana Pa ? " kata Daff sambil memandang kearah Afkar.
" Bukan apa-apa nih yaaa, tapi rumah juga sepi kalau nggak ada nih bocil " kata Afkar sambil menunjuk Daff, sehingga membuat Della berkaca-kaca.
" Sehari aja nggak bisa Dek ? " kata Akhtar saat melihat mata Della berkaca-kaca.
" Ayolahhh Pa, supaya Gibran juga ada teman mainnya nanti Daff boboknya sama Gibran " celetuk Gibran.
" Hufftttt yaudah dehhh daripada ntar ponakan gue ileran, tapi jaga baik-baik yeee " kata Afkar.
" Pasti " kata Della senang.
" Hehhh Papa pulang yaaa " kata Afkar sambil menatap putra kecilnya.
" Hati-hati yaaa Papa brooo " kata Daff sambil menyalimi tangan Afkar yang di ikuti Gibran.
Setelah kepergian Afkar, Della tak henti-hentinya tertawa mendengar ocehan dari Daff.
" Udah yaaa ceritanya lanjut besok lagi, sekarang Gibran sama Daff ayo ke kamar udah waktunya tidur Nak " kata Akhtar yang diangguki Gibran dan juga Daff.
" Gibran, kamu udah tidur ? " kata Daff saat berbaring di samping Gibran.
" Belum " kata Gibran.
" Gibran kalau punya Dedek bayi jangan lupain Daff yaa " kata Daff, sehingga membuat Gibran merubah posisinya menjadi duduk dan di ikuti oleh Daff.
" Kamu kan juga Adek aku Daff " kata Gibran.
" Tapi kan orangtuanya beda " kata Daff.
" Iyaa tapi kan Papa adeknya Ayah, jadi kamu juga Adek aku dan selalu jadi Adek pertamanya Gibran " kata Gibran.
" Beneran yaaa " kata Daff yang duangguki oleh Gibran.
" Kalau Daff panggil Abang Gibran boleh ? " kata Daff.
" Boleh " kata Gibran, sehingga membuat Daff tersenyum.
" Makasih Abang " kata Daff yang diangguki oleh Gibran.
" Yaudah yuk sekarang tidur " kata Gibran sambil berbaring.
" Abang Gibran aku nggak bisa tidur kalau belum lihat wajah Papa " kata Daff, sehingga membuat Gibran mengubah posisinya menjadi duduk kembali.
" Beneran ? " kata Gibran yang diangguki oleh Daff.
" Iyaaa biasanya sebelum tidur Papa masuk kamar Daff atau Daff yang nyamperin Papa dulu " kata Daff.
" Gimana kalau kamu lihat foto Papa aja " kata Gibran.
" Memang foto Papa ada di sini ? " kata Daff yang diangguki oleh Gibran.
" Ayok kita ambil sama-sama " kata Gibran sambil memegang tangan Daff saat menuruni tangga.
" Nahhh ini dia tapi fotonya bareng sama Ayah, nggak papa kan ? " kata Gibran sambil memberikan bingkai foto tersebut pada Daff.
" Nggak papa yang penting ada mukanya Papa " kata Daff.
Sementara di tempat Afkar, dirinya juga tidak bisa tertidur karena memikirkan putra kecilnya.
" Mas kok gerak-gerak mulu sih ? " kata Ila terganggu dengan pergerakan Afkar yang tidak bisa diam.
" Hufftttt kangen Jaenuddin Maa " kata Afkar sambil menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
" Ini baru beberapa jam lo Paa " kata Ila yang ikut menyenderkan punggungnya di kepala ranjang.
" Tetap aja Ma, Daff di sana tidur dengan nyenyak nggak yaa ? Apa Daff bisa beradaptasi dengan kasurnya Gibran ? di sana Daff udah makan belum yaa ? terus makannya pakai telur ceplok dan sayur soup nggak yaa ? itu kan makanan favoritnya dia " kata Afkar sambil menghembuskan nafasnya kasar.
" Maaa jemput Daff yukk " kata Afkar sambil menatap Ila.
" Jemputnya besok pagi aja yaa Mas ini udah jam 2 pagi lo " kata Ila sambil melihat jam yang ada di dinding kamarnya.