Ustadz Idaman 2

Ustadz Idaman 2
PART 55



" Hahahahah lucu banget sih kamu Nak " kata Della terkekeh mendengar jawaban Daff.


" Owwhhhh jelas Bunda, semesta tau itu " kata Daff bangga.


" Percaya diri sekali epribadeehhh, ehhh Dell lu nggak ada niatan buatin gue minum gitu ? serek nihh " kata Afkar sambil melirik kearah Della.


" Upsss ya ampun, maaf yaa Adek ipar Della lupa " kata Della sambil berjalan kearah dapur.


" Di luar ada apaan tuh, kok Ibu-Ibu jalannya rame-rame begitu ? " kata Daff dalam hati saat melihat para Ibu-ibu tetangga Della dari jendela.


" Ehhhh Daff keluar sebentar yaa semuanya " kata Daff.


" Mau kemana lu ? " kata Afkar.


" Keluar bentar Pa " kata Daff sambil berjalan ke luar.


Setelah mendengar bisik-bisik para Ibu-Ibu, Daff memutuskan untuk kembali masuk kedalam rumah dan langsung mencomot kue yang ada di meja depan Afkar.


" Ehhhh Jamaluddin, kalau abis dari luar tuh cuci tangan dulu bukan langsung ngambil kue " kata Afkar sewot.


" Sebenarnya nama aku siapa sih Pa ? Jamaluddin, Jaenuddin, atau botol kecap ? heran banget " kata Daff.


" Papa panggil sayang aja mau nggak ? " kata Afkar, sehingga membuat Akhtar dan Della menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Afkar dan Daff.


" Awwww Papa cocwiiitt banget dehhh " kata Daff centil.


" Dihhh jijik banget sumpah " kata Afkar sambil bergidik ngeri.


" Habis ngapain di luar Daff ? " tanya Akhtar saat Daff duduk di sebelah Gibran yang sedari tadi fokus dengan mainanannya.


" Habis gibah Ayah " kata Daff enteng, sehingga membuat Akhtar menggelengkan kepalanya.


" Gibah mulu kerjaannya, kalau gede mau jadi apa kamu ? " kata Afkar sewot.


" Admin lambe turah " kata Daff, sehingga membuat Della ngakak mendengar ucapan bocah 5 tahun yang menjadi keponakannya.


" Hehhhh " kata Afkar sambil melotot kerah Daff.


" Canda Paaa, emangnya Papa maunya Daff jadi apa ? " kata Daff.


" Yang jelas yang bisa Papa banggain ke orang-orang, kalau anak Papa luar biasa " kata Afkar.


" Tunggu Daff besar Pa " kata Daff.


" Tunggu Gibran besar juga, akan Gibran tunjukkan kalau Gibran patut Ayah dan Bunda banggakan " timpal Gibran yang sedari tadi fokus pada mainannya, sehingga membuat Akhtar dan Della mengangguk dan tersenyum kearah putranya.


" Pasti Nak, kalau kami di beri umur panjang " kata Akhtar.


" Ya Allah berilah Ayah, Bunda, Papa, dan Mama umur panjang Ya Allah " kata Gibran sambil mengangkat kedua tangannya.


" Aamiin " kata Gibran dan Daff bersamaan.


" Aamiin " kata Akhtar, Afkar, dan Della menimpali.


" Oiyyyaa kalian tau nggak, tadi di rumahnya Tante Janda, suaminya datang mau ambil anaknya Tante Janda " kata Daff saat melihat mata Papa, Ayah, dan Bundanya berkaca-kaca.


" Terus-terus ? " kata Della antusias menanggapi ucapan Daff.


" Yaaa Tante Jandanya nggak mau lahh Bund, kan Tante Janda yang besarin anaknya " kata Daff.


" Yaaa ampun, anak gue tau berita begini dari mana sih ? " kata Afkar tepuk jidat.


" Dari tadi " timpal Daff sambil nyengir.


" Udahh-udahh mending balik, kasian Mama sendirian di rumah lagian udah mau magrib juga " kata Afkar yang diangguki oleh Daff.


" Nggak boleh, Daff nggak boleh pulang Daff di sini aja " kata Della, sehingga semua mata tertuju pada Della.


" Kayaknya Dedek bayinya mau di temenin Daff terus deh, Daff nginep yaa sayang " kata Della dengan tatapan memohon.


" Gimana Pa ? " kata Daff sambil memandang kearah Afkar.


" Bukan apa-apa nih yaaa, tapi rumah juga sepi kalau nggak ada nih bocil " kata Afkar sambil menunjuk Daff, sehingga membuat Della berkaca-kaca.


" Sehari aja nggak bisa Dek ? " kata Akhtar saat melihat mata Della berkaca-kaca.


" Ayolahhh Pa, supaya Gibran juga ada teman mainnya nanti Daff boboknya sama Gibran " celetuk Gibran.


" Hufftttt yaudah dehhh daripada ntar ponakan gue ileran, tapi jaga baik-baik yeee " kata Afkar.


" Pasti " kata Della senang.


" Hehhh Papa pulang yaaa " kata Afkar sambil menatap putra kecilnya.


" Hati-hati yaaa Papa brooo " kata Daff sambil menyalimi tangan Afkar yang di ikuti Gibran.


Setelah kepergian Afkar, Della tak henti-hentinya tertawa mendengar ocehan dari Daff.


" Udah yaaa ceritanya lanjut besok lagi, sekarang Gibran sama Daff ayo ke kamar udah waktunya tidur Nak " kata Akhtar yang diangguki Gibran dan juga Daff.


" Gibran, kamu udah tidur ? " kata Daff saat berbaring di samping Gibran.


" Belum " kata Gibran.


" Gibran kalau punya Dedek bayi jangan lupain Daff yaa " kata Daff, sehingga membuat Gibran merubah posisinya menjadi duduk dan di ikuti oleh Daff.


" Kamu kan juga Adek aku Daff " kata Gibran.


" Tapi kan orangtuanya beda " kata Daff.


" Iyaa tapi kan Papa adeknya Ayah, jadi kamu juga Adek aku dan selalu jadi Adek pertamanya Gibran " kata Gibran.


" Beneran yaaa " kata Daff yang duangguki oleh Gibran.


" Kalau Daff panggil Abang Gibran boleh ? " kata Daff.


" Boleh " kata Gibran, sehingga membuat Daff tersenyum.


" Makasih Abang " kata Daff yang diangguki oleh Gibran.


" Yaudah yuk sekarang tidur " kata Gibran sambil berbaring.


" Abang Gibran aku nggak bisa tidur kalau belum lihat wajah Papa " kata Daff, sehingga membuat Gibran mengubah posisinya menjadi duduk kembali.


" Beneran ? " kata Gibran yang diangguki oleh Daff.


" Iyaaa biasanya sebelum tidur Papa masuk kamar Daff atau Daff yang nyamperin Papa dulu " kata Daff.


" Gimana kalau kamu lihat foto Papa aja " kata Gibran.


" Memang foto Papa ada di sini ? " kata Daff yang diangguki oleh Gibran.


" Ayok kita ambil sama-sama " kata Gibran sambil memegang tangan Daff saat menuruni tangga.


" Nahhh ini dia tapi fotonya bareng sama Ayah, nggak papa kan ? " kata Gibran sambil memberikan bingkai foto tersebut pada Daff.


" Nggak papa yang penting ada mukanya Papa " kata Daff.


Sementara di tempat Afkar, dirinya juga tidak bisa tertidur karena memikirkan putra kecilnya.


" Mas kok gerak-gerak mulu sih ? " kata Ila terganggu dengan pergerakan Afkar yang tidak bisa diam.


" Hufftttt kangen Jaenuddin Maa " kata Afkar sambil menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.


" Ini baru beberapa jam lo Paa " kata Ila yang ikut menyenderkan punggungnya di kepala ranjang.


" Tetap aja Ma, Daff di sana tidur dengan nyenyak nggak yaa ? Apa Daff bisa beradaptasi dengan kasurnya Gibran ? di sana Daff udah makan belum yaa ? terus makannya pakai telur ceplok dan sayur soup nggak yaa ? itu kan makanan favoritnya dia " kata Afkar sambil menghembuskan nafasnya kasar.


" Maaa jemput Daff yukk " kata Afkar sambil menatap Ila.


" Jemputnya besok pagi aja yaa Mas ini udah jam 2 pagi lo " kata Ila sambil melihat jam yang ada di dinding kamarnya.