
Keesokan harinya, kini Afkar sudah berada di perjalanan untuk menjemput putra kesayangannya.
" Nggak sabar gue dengerin ceritanya si Jaenuddin " gumam Afkar.
" Gue yakin nih pasti ada hal lucu yang dia ceritain di hari pertamanya sekolah " kata Afkar sambil terkekeh.
Namun saat Afkar tengah memikirkan Daff, tiba-tiba saja sebuah truk menabrak mobil Afkar dari belakang, sehingga membuat Afkar membelokkan stirnya agar tidak menabrak mobil di depannya alhasil mobilnya malah menbrak tiang listrik.
Brukkkk....
" Al Qadafi " gumam Afkar, kemudian langsung tak sadarkan diri.
Sementara di tempat Daff dan Gibran, mereka menunggu Afkar untuk menjemput mereka berdua, karena Akhtar ada meeting yang tidak bisa di tunda, sehingga menitipkan Gibran pada Afkar.
" Kok Papa lama yahh ? " kata Daff.
" Macet kali " kata Gibran yang diangguki oleh Daff.
" Lohhh kalian berdua belum pulang ? " tanya salah satu guru yang menghampiri Gibran dan juga Daff.
" Papa belum jemput Bu Guru " kata Daff yang diangguki oleh Guru TK tersebut.
" Ehhhh itu Ayah " kata Gibran ketika melihat Akhtar berlari menghampirinya.
" Yaudah karena orang tuanya sudah jemput Bu Guru tinggal yaa " kata Guru tersebut.
" Iya Bu Guru " kata Gibran dan Daff bersamaan.
" Kok Ayah yang jemput sih ? " tanya Gibran.
" Iyaa tadi pagi katanya nggak bisa jemput, oiyyaa terus Papa mana Yah ? " timpal Daff, sehingga membuat Akhtar tersenyum kecut mendengar penuturan Daff.
" Udah yaaa sekarang kalian ikut Ayah, kita ke tempat Papa Afkar sekarang " kata Akhtar yang diangguki oleh keduanya.
" Emangnya Papa di mana Yah ? " tanya Daff saat menyadari ini bukan jalan menuju rumahnya.
" Issshhh Ayah kok diam aja sih, perasaan Daff nggak tenang ini " kata Daff.
*Skip sampai rumah sakit*
" Lohh siapa yang sakit ? " kata Daff ketika sampai di depan ruang UGD.
" Ma kok Mama nangis ? siapa yang sakit Ma ? terus Papa mana ? " kata Daff ketika melihat Ila menangis di pelukan Della.
" Mama jawab " kata Daff sambil menggoyangkan lengan Ila, sehingga membuat Ila langsung memeluk Daff erat, sementara Gibran hanya memperhatikan semua orang yang sedang menangis di hadapannya.
Cklek
Pintu di hadapannya terbuka menampilkan seorang Dokter dan dua perawat yang keluar dari ruangan tersebut, sehingga membuat semua orang menatap kearah Dokter tersebut.
" Gimana keadaan Adik saya Dok ? " kata Akhtar khawatir, sehingga membuat Dokter tersebut menghembuskan nafasnya kasar.
" Kami sudah berusaha sebaik mungkin, namun Tuhan berkehendak lain Bapak Afkar telah meninggal dunia " kata Dokter tersebut.
Degg
Mendengar ucapan Dokter tersebut Ila langsung berlari masuk kedalam ruangan tersebut, di ikuti oleh Della, sementara Daff yang mendengar nama Papanya di sebut langsung terduduk lemas dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya, sehingga membuat Akhtar langsung memeluk Daff erat.
" En....enggak mungkin " gumam Daff sambil mengumpulkan tenaganya bersusah payah bangun dan berjalan masuk mendekati Afkar yang sudah terbujur kaku di sertai dengan wajah pucatnya.
Akhtar yang melihat Daff berjalan mendekati jenazah Afkar, dirinya langsung mengangkat Daff dan mendudukkan Daff di bankar rumah sakit.
" Nggak mungkin " kata Daff lirih melihat Afkar dan juga Ila secara bergantian. air matanya berjatuhan tambah deras.
" Sayang " kata Ila sambil menarik Daff kedalam pelukannya.
" Mama ini bercanda kan ? Papa cuman mau ngerjain Daff kan Ma ? " kata Daff sambil melepaskan pelukan Mamanya, kemudian beralih menatap Afkar.
" Papa bangun... !! ini nggak lucu Pa ! Daff nggak suka " kata Daff sambil menggoyangkan lengan Afkar.
" Ikhlasin Papa sayang " bisik Ila dengan suara yang bergetar, walaupun sulit dirinya berusahah kuat demi putranya.
Daff menggeleng cepat setelah mendengar bisikan Mamanya.
" Papaaaaa !! " teriak Daff histeris sambil memeluk Afkar, Ila yang melihat hal itu semakin menangis.
" Dell tenangin Ila dulu " kata Akhtar yang diangguki oleh Ila.
" Daff sayang ikhlasin Papa Afkar ya Nak, Papa bakal sedih kalau liat Daff kayak gini. kasihan Papa Afkar nggak akan tenang perginya " kata Akhtar sambil menciumi puncak kepala Daff.
" Ada Ayah Nak, sekarang Papanya Daff adalah Ayah Akhtar " kata Akhtar.
" Ada Gibran juga, Gibran janji akan jadi Kakak yang baik buat Daff " celetuk Gibran yang berdiri disamping Akhtar.
" Nggak mauu !! Daff cuman mau Papa Afkar, Papanya Daff cuman Papa Afkar Ayah hiks..hikss " kata Daff yang masih memeluk Afkar erat sambil menciumi seluruh wajah Afkar.
" Ya Allah kembalikan Papa Ya Allah, Daff mohon hiks..hiks " kata Daff sambil mengangkat kedua tangannya, sehingga membuat Akhtar ikut meneteskan air matanya melihat Daff.
" Ayah tolong bantu Daff doa supaya Allah mengembalikan Papanya Daff " kata Daff yang tak henti-hentinya memohon agar Papanya di kembalikan.
" Ya Allah Daff janji nggak akan nakal, tapi tolong kembalikan Papa " kata Daff bertepatan dengan masuknya Fiah dan juga Gus Fauzan.
" Afkar " kata Fiah sambil berlari kearah Afkar dan langsung memeluknya.
" Abi hiks..hiks bantu Daff doa Abi, bantu Daff doa supaya Allah kembaliin Papanya Daff hiks...hiks " kata Daff ketika Gus Fauzan memeluk Daff erat.
" Ikhlasin Papa sayang " kata Gus Fauzan.
" Nggak !! nggak boleh !! Papa nggak boleh pergi " kata Daff sambil meronta-ronta di pelukan Gus Fauzan.
" Daff sayang ikhlasin Papa ya Nak " kata Ila sambil menghampiri putranya.
" Nggak Ma, Daff nggak mau " kata Daff.
" Maaf, jenazahnya mau di pindahkan " kata salah satu perawat, sehingga membuat Daff tersadar dan membenrontak.
" Baik " jawab Gus Fauzan.
" Ngggakkk !! nggak boleh " kata Daff sambil memeluk erat Afkar.
" Gibran bantu aku, Papa belum meninggal dia hanya tertidur hiks....hiks " kata Daff yang masih memeluk jenazah Afkar, sehingga membuat Akhtar mengangkat tubuh Daff yang berada di bankar rumah sakit.
" Sebentar " kata Daff menghentikan perawat tersebut saat ingin menutup wajah Afkar dengan kain putih.
" Daff mau cium Papa dulu " kata Daff senduh, sehingga membuat Akhtar mendudukkan kembali Daff di samping Afkar.
Daff memperhatikan wajah Papanya, wajahnya terlihat pucat, mata yang biasanya melotot dan menatapnya dengan binar kebahagiaan kini telah tertutup rapat, bibir yang selalu mengomelinya tentang banyak hal kini sudah kaku.
_________
Jangan lupa tinggalin jejak yaa guys.