
" Selamat pagi netizen, ehhh Jaenuddin lu jangan ajak bini gue gibah mulu dehhh " kata Afkar saat melihat Ila dan Daff mengobrol di depan meja makan.
" Ehhh Bapak broo udah rapi aja nih. mari sarapan Pak, sayur soup campur roti panggang mau ? " kata Daff saat melihat Afkar berjalan menghampirinya.
" Perasaan dulu gue nggak ngidam yang aneh-aneh deh, kok yang keluar modelan begini ? " gumam Afkar sambil duduk di depan Daff.
" Widihhhhh kok Bapak gantengan sih ? " kata Daff sambil memperhatikan Papanya.
" Bukannya dari dulu yaa Papa ganteng ? " kata Afkar.
" Ganteng doang bagi duit kagak " kata Daff ngegas.
" Duit terussss " kata Afkar yang tak kalah ngegas.
" Ya iyalah jaman sekarang apa-apa pakai duit kagak ada yang gratiss " kata Daff.
" Bisa nggak sih sehari aja nggak usah ngegas ngomongnya ? nggak usah ribut " kata Ila.
" Mama modelan kayak Papa gini memang pantas di gas " kata Daff enteng.
" Sialan nih anak " gumam Afkar.
Sementara di rumah Akhtar, kini Akhtar sudah bersiap untuk mengantar Gibran untuk ke sekolah.
" Gibran belajar yang bener yaa, jangan nakal-nakal okeee " kata Della memperingati.
" Oke Bunda " kata Gibran sambil menyalimi tangan Della.
" Berangkat dulu yaaa " kata Akhtar sambil mencium kening Della.
" Iyaaa hati-hati " kata Della sambil menyalimi tangan Akhtar.
Namun saat di perjalanan, tiba-tiba Akhtar menghentikan mobilnya ketika melihat Elsa dan Mamanya berdiri di pinggir jalan.
" Kok berhenti Yah ? " kata Gibran bingung.
" Itu bukannya teman kamu ya ? " kata Akhtar sambil menunjuk kearah Elsa dan Mamanya.
" Ayah itu bukan teman Gibran " kata Gibran datar.
" Kamu tunggu sini dulu yaa " kata Akhtar sambil turun dari mobil.
" Ayah ngapain sih ? " kata Gibran kesal.
" Assalamu'alaikum, mobilnya kenapa Bu ? " kata Akhtar.
" Wa'alaikumsalam, nggak tau Pak tiba-tiba mogok di tengah jalan mana mau nganterin Elsa ke sekolah lagi " kata Mama Elsa sambil melirik jam yang melingkar di tangannya.
" Hmmm kalau Ibu nggak keberatan mending Ibu ikut saya aja, kebetulan saya juga mau nganter Gibran ke sekolah " kata Akhtar.
" Apa nggak ngerepotin Pak ? " kata Mama Elsa.
" Nggak kok Bu kan jalannya juga searah, mari Bu " kata Akhtar sambil berjalan kembali kearah mobilnya yang di ikuti oleh Elsa dan Mamanya.
" Halo Gibran " kata Elsa ketika naik kedalam mobil.
" Halo " kata Gibran datar sambil berbalik menatap malas kearah Elsa.
" Gibran nanti kita duduknya dekatan ya di sekolahnya " kata Elsa antusias.
" Nggak, aku mau sama Daff aja " kata Gibran datar.
" Yaaaa terus aku sama siapa ? " kata Elsa sambil memanyunkan bibirnya.
" Bodo amat " gumam Gibran, namun masih terdengar jelas di telinga Akhtar sehingga membuat Akhtar menggelengkan kepalanya.
" Oiyyaa Pak, masalah kemarin saya minta maaf yaa. saya terlalu emosi kemarin sampai nggak sadar nyakitin perasaan Bapak dan Ibu " kata Mama Elsa.
" Nggak masalah Bu, saya juga minta maaf " kata Akhtar.
" Makasih Pak, oiyyaa nama saya Riska saya belum lama pindah di kompleknya Pak Akhtar " kata Riska antusias.
" Bapak Akhtar suami idaman banget sih udah berwibawa, mapan, tampan lagi " kata Riska dalam hati sambil memperhatikan Akhtar.
Setelah menempu perjalanan beberapa menit akhirnya mereka sampai di parkiran sekolah bertepatan dengan sampainya Afkar dan Daff.
" Lohh itu kan Kak Akhtar, kok sama cewek sih ? " kata Afkar saat melihat seorang perempuan keluar dari mobil Akhtar.
" Lohhhh itu kan Tante janda tetangganya Ayah sama Bunda " celetuk Daff.
" Hahhh Tante janda ? maksud lu apeee ? " kata Afkar sambil beralih menatap Daff.
" Iyaa Tante itu janda Pa, tetangga barunya Ayah sama Bunda dan anak cewek itu anaknya Tante janda " celetuk Daff, sehingga membuat Afkar mengangguk.
" Wahhhh kok bisa yaa Kak Akhtar berangkat bareng janda, kalau si Della tau bisa ngamuk dia " gumam Afkar.
" Yaudahh ayoo turun kita samperin mereka " kata Afkar yang diangguki oleh Daff.
" Gibran....." pekik Daff sambil berlari menghampiri Gibran dan Akhtar.
" Hai Ayah " kata Daff sambil menyalimi tangan Akhtar, begitu juga Gibran yang langsung menyalimi tangan Afkar.
" Siapa ? pengganti Della ? " bisik Afkar ke telingan Akhtar, sehingga membuat Akhtar langsung menatap tajam kearah adiknya.
" Sembarangan kalau ngomong, dia tetangga baru dekat rumah. kebetulan mobilnya mogok makanya Kakak ajak berangkat bareng " kata Akhtar, sehingga membuat Afkar mengangguk.
" Hehehe kirain " kata Afkar cengengesan.
" Oiyyaa Bu Riska kenalin ini adik saya Afkar " kata Akhtar yang hanya diangguki oleh Riska.
" Salam kenal Bu Riska " kata Afkar.
" Iyaa salam kenal " kata Riska.
" Yaudah kalian bertiga masuk ke kelas gih, belajar yang rajin yaaa " kata Akhtar.
" Gibran jagain adik lu yeee " kata Afkar.
" Siap Papa " kata Gibran.
" Haiii aku Elsa temannya Gibran " kata Elsa sambil menyapa Daff.
" Bukan teman gue " kata Gibran tidak suka.
" Yang bener yang mana ini ? " kata Daff bingung.
" Percaya sama aku, aku kan Kakak kamu Daff " kata Gibran yang diangguki oleh Daff.
" Okeedehh, hai Elsa yang bukan temannya Gibran kenalin namaku Alqadafi adeknya Gibran " kata Daff.
" Ihhh kita temenan tauu " kata Elsa.
" Nggak " kata Gibran yang langsung menarik tangan Daff meninggalkan Elsa.
" Tunggu " kata Elsa yang berusaha menyamakan langkah kakinya dengan Gibran dan juga Daff.
Setelah melihat anaknya berjalan memasuki kelas, kini Akhtar dan Afkar bergegas untuk pergi ke kantor.
" Oiyyyaa Bu Riska mohon maaf sebelumnya karena saya tidak bisa mengantar Ibu pulang, nggak enak kalau hanya berduaan dalam mobil takut ada fitnah " kata Akhtar.
" Ahhhh nggak papa Pak Akhtar, saya bisa pesan taxi online kok " kata Riska kecewa.
" Kayaknya nihh orang ada rasa sama Kakak gue nih " kata Afkar dalam hati ketika melihat raut kekecewaan di wajah Riska.
" Kalau begitu kami permisi ya Bu, assalamu'alaikum " kata Akhtar.
" Wa'alaikumsalam " kata Riska.
Sementara di kelas Daff dan Gibran, Daff sudah berkenalan dengan semua teman sekelasnya berbeda dengan Gibran yang hanya duduk tenang.