Ustadz Idaman 2

Ustadz Idaman 2
PART 47



Sementara di kelas Daff dan Gibran, Daff sudah berkenalan dengan semua teman sekelasnya berbeda dengan Gibran yang hanya duduk tenang.


* Skip pulang sekolah *


" Mama " teriak Elsa saat melihat mamanya datang.


" Hai sayang " kata Riska sambil berjongkok, kemudian mencium kening Elsa.


" Lohhh Gibran ? Ayah kamu belum jemput Nak ? " kata Riska saat melihat Gibran dan Daff berdiri menunggu jemputannya.


" Belum " kata Gibran.


" Ikut Tante aja gimana sayang ? " kata Riska.


" Nggak, makasih " kata Gibran.


" Lohhh kenapa ? kita kan tetangga sayang " kata Riska sambil tersenyum manis kearah Gibran, sedangkan Daff hanya memperhatikan interaksi keduanya.


" Udah Ma biarin aja, orang galak kayak gitu nggak usah di baikin " kata Elsa, sehingga membuat Gibran menatap sinis kearah Elsa.


" Elsa nggak boleh gitu ahh, ayooo sayang pulang sama Tante " kata Riska.


" Eng......" kata Gibran terpotong oleh ucapan Daff.


" Tante mau modus yaa ? deketin anaknya dulu abis itu deketin Bapaknya, iyaaa kan ? " celetuk Daff di sertai dengan muka tengilnya, sehingga membuat Riska menatap tidak suka kearah Daff.


" Maksud kamu apa ? " kata Riska sambil beralih menatap Daff.


" Modelan kayak Tante gini mahhh banyak di sinetron azab " kata Daff.


Baru saja Riska ingin menimpali ucapan Daff, namun terhenti karena ucapan Gibran.


" Tante kita permisi ya udah di jemput, assalamu'alaikum " kata Gibran sambil menarik tangan Daff untuk menghampiri Akhtar yang baru keluar dari mobil.


" Assalamu'alaikum Ayah " kata Gibran dan Daff bersamaan.


" Wa'alaikumsalam " kata Akhtar.


" Papa mana Yah ? " tanya Daff.


" Kamu ikut Ayah pulang ya Nak, Papa Afkar lagi ada meeting yang nggak bisa di tunda " kata Akhtar, sehingga membuat Daff kembali teringat mimpinya.


" Tapi Papa nggak papa kan ? Papa baik-baik aja kan Yah ? " kata Daff khawatir, sehingga membuat Akhtar maupun Gibran heran.


" Papa kamu baik-baik aja Nak, dia nggak kenapa-napa. Papa kamu nggak bisa jemput karena memang ada kerjaan yang penting sayang " kata Akhtar meyakinkan Daff.


" Yaudah sekarang kita pulang yaaa ? " kata Akhtar, sehingga membuat Gibran dan Daff masuk kedalam mobil yang di susul oleh Akhtar.


" Lohh kok Ayah nggak nganter Daff pulang ke rumah ? " kata Daff saat menyadari mobil Akhtar tidak berhenti di rumahnya.


" Kamu tunggu Papa di rumah Ayah aja yaa, nanti di jemput Mama Ila ke sini. soalnya tadi Mama kamu sama Bunda Della lagi keluar bareng " kata Akhtar, sehingga membuat Daff mengangguk.


" Kok rumah rame Yah ? " kata Gibran saat masuk kedalam rumah.


" Mereka Ayah suruh untuk pasang wi-fi, kan Gibran belajarnya kebanyakan online " kata Akhtar.


Baru saja Gibran ingin menimpali ucapan Akhtar, namun terhenti karena kedatangan Della dan juga Ila.


" Mama....." kata Daff berlari kearah Ila.


" Haii sayang, kita pulang sekarang yaaa " kata Ila.


" Kak Akhtar makasih yaa udah jemput Daff. Della, Gibran, Aku pulang yaa " kata Ila.


" Buru-buru amat La " kata Della.


" Biasalah Dell, ibu rumah tangga banyak banget yang harus di kerjain " kata Ila.


" Yaudah, hati-hati yaaa " kata Della.


" Pamit dulu sama Ayah Bunda Nak " kata Ila yang diangguki oleh Daff.


" Pamit yaaa Ayah, Bunda, Gibran " kata Daff sambil menyalimi tangan Akhtar dan Della.


Setelah sampai di rumah, Daff langsung berlari kearah kamarnya untuk mengganti seragam sekolahnya.


" Daff jangan lari-lari sayang " kata Ila.


" Assalamu'alaikum Papa ganteng pulang...." teriak Afkar sambil berjalan memasuki rumah.


" Bisa nggak sih kalau pulang nggak usah teriak-teriak ? " kata Ila sambil berjalan menghampiri Afkar.


" Kebiasaan lama sayang, oiyyaa Daff mana ? " kata Afkar sambil mengedarkan pandangannya.


" Di kamar, anaknya lagi ngambek gara-gara pulang sekolah nggak di jemput Papanya " kata Ila.


" Serius ? sihh Jaenuddin bisa ngambek juga ? " kata Afkar terkekeh.


" Serius Paa, samperin sana " kata Ila yang diangguki oleh Afkar.


" Kata Mama ada yang lagi ngambek nih, gara-gara nggak di jemput Papanya di sekolah " kata Afkar ketika memasuki kamar Daff.


" Anda siapa ya ? " kata Daff sambil melirik Afkar yang duduk di sampingnya.


" Papamu !! aduhhh capek sekali epribadehhh " kata Afkar.


" Ohhhh Papa saya ternyata, hampir aja aku pecat jadi Papaku " celetuk Daff, sehingga membuat Afkar menyentil dahi Daff pelan.


" Sembarangan kalau ngomong " kata Afkar tak terima.


" Kenapa Papa nggak jemput ? " kata Daff kesal.


" Cieee ngambek nihh yeee " kata Afkar sambil mencolek dagu Daff, namun tak mendapat tanggapan apapun dari Daff.


" Maaf yaaa Papa tadi ada kerjaan yang nggak bisa di tinggal, makanya nggak jemput Daff " kata Afkar sambil mengelus kepala Daff.


" Daff khawatir tauu " kata Daff berkaca-kaca, sehingga membuat Afkar kaget.


" Ehhhh lu kenapa Jaenuddin ? " kata Afkar sambil menarik Daff kepelukannya.


" Daff takut mimpi Daff semalam jadi kenyataan " kata Daff sambil memeluk Afkar erat.


" Kan Papa udah bilang kalau itu cuman mimpi, udahh ahhh kamu nggak cocok kalau mewek-mewek begini " kata Afkar sambil menghapus air mata Daff.


" Nahhhh sekarang coba ceritain ke Papa pengalaman kamu di hari pertama sekolah " timpal Afkar antusias.


" Oiyyaaa hampir lupa, Papa tau nggak " kata Daff.


" Yaaa nggak tau lah " kata Afkar memotong ucapan Daff.


" Ihhhh Papa dengerin dulu " kata Daff kesal, sehingga membuat Afkar terkekeh.


" Yaudah iyaaa " kata Afkar.


" Tadi di sekolah ada 7 orang yang mau jadi pacarnya Daff " kata Daff bangga.


" Buset dahhh, serius luu Jenuddin ? " kata Afkar.


" Seriuslah " kata Daff.


" Pesona luu emang luar biasa Bro, teruss lu jawab apa ? " kata Afkar antusias.


" Yaaa Daff bilang kalau Daff nggak boleh pacaran sama Papa, ja...." kata Daff terpotong oleh ucapan Afkar.


" Bagus " kata Afkar.


" Ihhhh belum kelar Pa " kata Daff kesal.


" Yaudah lanjut " kata Afkar.


" Jadi Daff bilang kalau mereka boleh jadi istri Daff kalau Daff udah gede, terus Daff di kasi permen sama mereka " kata Daff sambil mengeluarkan beberapa permen lollipop dari dalam tasnya.


" Hahh ? lu ngomong apa tadi ? " kata Afkar kaget.


" Yaaa Daff bilang kalau mereka bertujuh boleh jadi istri Daff kalau Daff udah gede Papa " kata Daff.


" Astagfirullah Jaenuddin, lu mau nikahin mereka bertujuh ? " kata Afkar.


" Iya emang kenapa ? " kata Daff santai.


" Sini biar Papa jelasin yaa, kamu cuman boleh menikah satu kali, coba liat cincin di jari manis Papa. kamu cuman boleh memakai satu cincin saat menikah Daff " kata Afkar sambil memperlihatkan cincin pernikahannya yang melingkar di jari manisnya.


" Kita bisa pakai lebih dari satu, kan kita punya lima jari di setiap tangan " kata Daff polos, sehingga membuat Afkar tepok jidat mendengar penuturan putranya.