
Sementara di kelas Daff dan Gibran, Daff sudah berkenalan dengan semua teman sekelasnya berbeda dengan Gibran yang hanya duduk tenang.
* Skip pulang sekolah *
" Mama " teriak Elsa saat melihat mamanya datang.
" Hai sayang " kata Riska sambil berjongkok, kemudian mencium kening Elsa.
" Lohhh Gibran ? Ayah kamu belum jemput Nak ? " kata Riska saat melihat Gibran dan Daff berdiri menunggu jemputannya.
" Belum " kata Gibran.
" Ikut Tante aja gimana sayang ? " kata Riska.
" Nggak, makasih " kata Gibran.
" Lohhh kenapa ? kita kan tetangga sayang " kata Riska sambil tersenyum manis kearah Gibran, sedangkan Daff hanya memperhatikan interaksi keduanya.
" Udah Ma biarin aja, orang galak kayak gitu nggak usah di baikin " kata Elsa, sehingga membuat Gibran menatap sinis kearah Elsa.
" Elsa nggak boleh gitu ahh, ayooo sayang pulang sama Tante " kata Riska.
" Eng......" kata Gibran terpotong oleh ucapan Daff.
" Tante mau modus yaa ? deketin anaknya dulu abis itu deketin Bapaknya, iyaaa kan ? " celetuk Daff di sertai dengan muka tengilnya, sehingga membuat Riska menatap tidak suka kearah Daff.
" Maksud kamu apa ? " kata Riska sambil beralih menatap Daff.
" Modelan kayak Tante gini mahhh banyak di sinetron azab " kata Daff.
Baru saja Riska ingin menimpali ucapan Daff, namun terhenti karena ucapan Gibran.
" Tante kita permisi ya udah di jemput, assalamu'alaikum " kata Gibran sambil menarik tangan Daff untuk menghampiri Akhtar yang baru keluar dari mobil.
" Assalamu'alaikum Ayah " kata Gibran dan Daff bersamaan.
" Wa'alaikumsalam " kata Akhtar.
" Papa mana Yah ? " tanya Daff.
" Kamu ikut Ayah pulang ya Nak, Papa Afkar lagi ada meeting yang nggak bisa di tunda " kata Akhtar, sehingga membuat Daff kembali teringat mimpinya.
" Tapi Papa nggak papa kan ? Papa baik-baik aja kan Yah ? " kata Daff khawatir, sehingga membuat Akhtar maupun Gibran heran.
" Papa kamu baik-baik aja Nak, dia nggak kenapa-napa. Papa kamu nggak bisa jemput karena memang ada kerjaan yang penting sayang " kata Akhtar meyakinkan Daff.
" Yaudah sekarang kita pulang yaaa ? " kata Akhtar, sehingga membuat Gibran dan Daff masuk kedalam mobil yang di susul oleh Akhtar.
" Lohh kok Ayah nggak nganter Daff pulang ke rumah ? " kata Daff saat menyadari mobil Akhtar tidak berhenti di rumahnya.
" Kamu tunggu Papa di rumah Ayah aja yaa, nanti di jemput Mama Ila ke sini. soalnya tadi Mama kamu sama Bunda Della lagi keluar bareng " kata Akhtar, sehingga membuat Daff mengangguk.
" Kok rumah rame Yah ? " kata Gibran saat masuk kedalam rumah.
" Mereka Ayah suruh untuk pasang wi-fi, kan Gibran belajarnya kebanyakan online " kata Akhtar.
Baru saja Gibran ingin menimpali ucapan Akhtar, namun terhenti karena kedatangan Della dan juga Ila.
" Mama....." kata Daff berlari kearah Ila.
" Haii sayang, kita pulang sekarang yaaa " kata Ila.
" Kak Akhtar makasih yaa udah jemput Daff. Della, Gibran, Aku pulang yaa " kata Ila.
" Buru-buru amat La " kata Della.
" Biasalah Dell, ibu rumah tangga banyak banget yang harus di kerjain " kata Ila.
" Yaudah, hati-hati yaaa " kata Della.
" Pamit dulu sama Ayah Bunda Nak " kata Ila yang diangguki oleh Daff.
" Pamit yaaa Ayah, Bunda, Gibran " kata Daff sambil menyalimi tangan Akhtar dan Della.
Setelah sampai di rumah, Daff langsung berlari kearah kamarnya untuk mengganti seragam sekolahnya.
" Daff jangan lari-lari sayang " kata Ila.
" Assalamu'alaikum Papa ganteng pulang...." teriak Afkar sambil berjalan memasuki rumah.
" Bisa nggak sih kalau pulang nggak usah teriak-teriak ? " kata Ila sambil berjalan menghampiri Afkar.
" Kebiasaan lama sayang, oiyyaa Daff mana ? " kata Afkar sambil mengedarkan pandangannya.
" Di kamar, anaknya lagi ngambek gara-gara pulang sekolah nggak di jemput Papanya " kata Ila.
" Serius ? sihh Jaenuddin bisa ngambek juga ? " kata Afkar terkekeh.
" Serius Paa, samperin sana " kata Ila yang diangguki oleh Afkar.
" Kata Mama ada yang lagi ngambek nih, gara-gara nggak di jemput Papanya di sekolah " kata Afkar ketika memasuki kamar Daff.
" Anda siapa ya ? " kata Daff sambil melirik Afkar yang duduk di sampingnya.
" Papamu !! aduhhh capek sekali epribadehhh " kata Afkar.
" Ohhhh Papa saya ternyata, hampir aja aku pecat jadi Papaku " celetuk Daff, sehingga membuat Afkar menyentil dahi Daff pelan.
" Sembarangan kalau ngomong " kata Afkar tak terima.
" Kenapa Papa nggak jemput ? " kata Daff kesal.
" Cieee ngambek nihh yeee " kata Afkar sambil mencolek dagu Daff, namun tak mendapat tanggapan apapun dari Daff.
" Maaf yaaa Papa tadi ada kerjaan yang nggak bisa di tinggal, makanya nggak jemput Daff " kata Afkar sambil mengelus kepala Daff.
" Daff khawatir tauu " kata Daff berkaca-kaca, sehingga membuat Afkar kaget.
" Ehhhh lu kenapa Jaenuddin ? " kata Afkar sambil menarik Daff kepelukannya.
" Daff takut mimpi Daff semalam jadi kenyataan " kata Daff sambil memeluk Afkar erat.
" Kan Papa udah bilang kalau itu cuman mimpi, udahh ahhh kamu nggak cocok kalau mewek-mewek begini " kata Afkar sambil menghapus air mata Daff.
" Nahhhh sekarang coba ceritain ke Papa pengalaman kamu di hari pertama sekolah " timpal Afkar antusias.
" Oiyyaaa hampir lupa, Papa tau nggak " kata Daff.
" Yaaa nggak tau lah " kata Afkar memotong ucapan Daff.
" Ihhhh Papa dengerin dulu " kata Daff kesal, sehingga membuat Afkar terkekeh.
" Yaudah iyaaa " kata Afkar.
" Tadi di sekolah ada 7 orang yang mau jadi pacarnya Daff " kata Daff bangga.
" Buset dahhh, serius luu Jenuddin ? " kata Afkar.
" Seriuslah " kata Daff.
" Pesona luu emang luar biasa Bro, teruss lu jawab apa ? " kata Afkar antusias.
" Yaaa Daff bilang kalau Daff nggak boleh pacaran sama Papa, ja...." kata Daff terpotong oleh ucapan Afkar.
" Bagus " kata Afkar.
" Ihhhh belum kelar Pa " kata Daff kesal.
" Yaudah lanjut " kata Afkar.
" Jadi Daff bilang kalau mereka boleh jadi istri Daff kalau Daff udah gede, terus Daff di kasi permen sama mereka " kata Daff sambil mengeluarkan beberapa permen lollipop dari dalam tasnya.
" Hahh ? lu ngomong apa tadi ? " kata Afkar kaget.
" Yaaa Daff bilang kalau mereka bertujuh boleh jadi istri Daff kalau Daff udah gede Papa " kata Daff.
" Astagfirullah Jaenuddin, lu mau nikahin mereka bertujuh ? " kata Afkar.
" Iya emang kenapa ? " kata Daff santai.
" Sini biar Papa jelasin yaa, kamu cuman boleh menikah satu kali, coba liat cincin di jari manis Papa. kamu cuman boleh memakai satu cincin saat menikah Daff " kata Afkar sambil memperlihatkan cincin pernikahannya yang melingkar di jari manisnya.
" Kita bisa pakai lebih dari satu, kan kita punya lima jari di setiap tangan " kata Daff polos, sehingga membuat Afkar tepok jidat mendengar penuturan putranya.