Ustadz Idaman 2

Ustadz Idaman 2
Part 68



" Kali ini ulah apalagi Daff ? " kata Gibran.


" Nggak ada Kak, mulut si Amel aja tuhh yang lemes banget sampai-sampai kita di keluarin dari kelas " kata Afkar.


" Si Amel bilang apa ? " kata Gibran datar.


" Ngingetin guru kalau ada tugas, yaa gu...." kata Daff terhenti karena ucapan Gibran.


" Itu kesalahan lo " kata Gibran datar.


" Udah ahhh masuk aja Kak, nanti lo juga ikut-ikutan di hukum kalau di sini lama-lama. kan nggak lucu kalau ketua osis teladan sekolah ini ikut di hukum " kata Daff sambil mendorong Gibran masuk kedalam kelasnya.


" Cabut aja yukk daripada nggak ngapa-ngapain " kata Riyan.


" Setuju, mending kita ke markas ajaa " timpal Luki.


" Ihhh Ratna nggak mau ikut kalian ahhh, nanti hukumannya malah bertambah " kata Ratna sambil meninggalkan ketiga pria tersebut.


" Kepagian kalau ke markas sekarang pasti anak-anak lain juga blm pada di sana, mending main basket kuyy " kata Daff sambil mengajak kedua temannya.


Namun saat Daff melemparkan bola, tanpa sengaja bola tersebut mengenai kaca jendela guru BK, sehingga membuat Pak Tirta selaku guru BK keluar dan menghampiri ketiga murid badung tersebut.


" MUHAMMAD AL QADAFI "


" LUKI ABRAHAM "


" PUTRA IRIYANTO SANJAYA DIRGA "


Teriak Pak Tirta sambil menyebutkan ketiga nama tersebut.


" Buset dahhh hafal bener sama nama kita " bisik Luki pada kedua sahabatnya, sehingga membuat Pak Tirta menoleh pada Luki.


" GIMANA NGGAK HAFAL ? HAMPIR SETIAP HARI SAYA NGEHUKUM KALIAN BERTIGA!!! BIANG ONARNYA SMA LENTERA BANGSA YAHHH KALIAN INI !!! " kata Pak Tirta.


" SELALU AJA BIKIN ULAH ! MAU KALIAN ITU APASIH ? NGGAK CAPEK APA SAYA HUKUM TERUS ? SAYA YANG NGEHUKUM AJA CAPEK " timpal Pak Tirta.


" Kalau capek yaa nggak usah di hukum dong Pak, gitu doang kok repot " cibir Riyan.


" IRIYANTOOOO !!!! " kata Pak Tirta kesal.


" Ini kenapa baju nggak di masukin, kenapa ? " kata Pak Tirta sambil menunjuk baju Riyan sambil beralih ke Luki.


" Ini juga, kenapa dasi malah di lilitkan di tangan ? mau jadi petinju ? " kata Pak Tirta pada Luki sambil berjalan beralih ke Daff.


" Al Qadafi ! kamu ini rambut berantakan terus ! nggak punya sisir di rumah ? " cibir Pak Tirta.


" Tapi saya tetap ganteng kan Pak ? daripada Bapak udah sisran tapi nggak ganteng " kata Daff membalas ucapan Pak Tirta.


" AL QADAFI HUKUMAN KAMU SAYA TAMBAH MENJADI DUA KALI LIPAT " murka Pak Tirta.


" Yaelah bercanda Pak " kata Daff santai.


" Bercanda, bercanda ! memangnya pantas guru kamu jadi bahan bercandaan ? " kata Pak Tirta sewot.


" Maaf Pak " kata Daff.


" Saya nggak mau tau kalian bertiga harus gantiin kaca yang pecah sekarang juga dan kalian bertiga harus membersihkan ruangan guru selama satu minggu berturut-berturut " kata Pak Tirta.


" Siap Pak " kata Daff santai.


" Tumben nurut, mimpi apa kamu semalem ? " kata Pak Tirta, karena biasanya Daff selalu protes tentang hukuman yang di beri oleh Pak Tirta.


" Yaaa pastinya bukan mimpi ketemu Bapak " celetuk Luki.


" Saya tidak berbicara dengan kamu Luki " kata Pak Tirta, sehingga membuat Luki langsung diam.


" Yasudah mulai hari ini sebelum jam pulang sekolah, kalian harus membersihkan ruangan para guru dan uang ganti rugi kaca yang kalian pecahin saya tunggu sebelum jam pulang sekolah " kata Pak Tirta sambil meninggalkan ketiga manusia tersebut.


" Mampusshh gue lupa bawa dompet lagi, woii pinjem duit kalian dulu dahhh " kata Daff sambil melihat kearah Luki dan Riyan secara bergantian.


" Gue nggak bawa uang jajan, kan biasanya lo yang bayarin " timpal Luki santai.


" Huhhhh nggak guna lu pada " kata Daff sambil berjalan mendahului kedua sahabatnya yang diikuti oleh Luki dan Riyan.


" Mau kemana lu ? " kata Luki.


" Ke kelas Kakak gue " kata Daff.


Saat Daff ingin masuk kedalam kelas Gibran, Daff terlebih dahulu mengintip untuk memastikan ada guru yang mengajar atau tidak.


" Aman " kata Daff sambil berjalan masuk.


" Assalamu'alaikum " kata Daff sambil menghampiri bangku Gibran.


" Hai Samuel " kata Daff menyapa satu-satunya teman Gibran di kelas.


" Gibran air ini buat aku yaa ? " Kata Melisa berbalik kearah kursi Gibran sambil menunjuk air mineral yang berada di meja Gibran.


" Beli sendiri " kata Gibran datar.


" Tapi aku malas ke kantin " kata Melisa sok imut.


" Kalau gitu nggak usah minum " timpal Gibran, Elsa yang mendengar respon Gibran sontak tersenyum.


" Yaudah dehh kalau nggak mau, tapi kasih tips dong buat hilangin cegukan aku " kata Melisa penuh harap.


" Caper " gumam Luki.


" Biasalah " timpal Daff sambil memperhatikan Melisa yang caper dengan kakaknya.


" Tahan nafas aja " kata Gibran datar.


" Berapa lama ? " kata Melisa.


" Selamanya " kata Gibran tanpa melihat kearah Melisa.


" Ihhh nanti aku mati Gibran " kata Melisa manja.


" Setidaknya kamu berhenti cegukan " kata Gibran, sehingga membuat seisi kelas tertawa mendengar respon Gibran.


" Lo ngapain di sini ? " kata Gibran beralih menatap Daff.


" Pinjem motornya dong, barang gue ada yang ktinggalan. tadi kan di antar sama Papa dan nggak bawa motor " kata Daff.


" Bener ? " kata Gibran tang diangguki oleh Daff.


" Iyaa Kak bener " kata Daff, sehingga membuat Gibran memberikan kunci motornya pada Daff.


" Thank youu broo " kata Daff sambil berjalan keluar kelas Gibran.


" Lo berdua tunggu sini aja, gue cuman sebentar dan pastikan pak satpam tidurnya tetap pulas sampai gue kembali " kata Daff sambil mendorong motor Gibran keluar dari pekarangan sekolah.


" Okeee Pak boss aman " kata Luki.


Setelah beberapa menit Daff kembali dengan menaiki angkot, sehingga membuat Luki dan Riyan heran.


" Motor Gibran lu kemanain Daff ? " kata Ritan heran.


" Gue gadai in supaya bisa ganti rugi tuhh kacanya Pak Tirta " kata Daff santai.


" Buset dahhh lu Daff, tega bener sama Abang sendiri " kata Luki yang tidak abis pikir dengan pola pikir Daff.


________


Jangan lupa tinggalin jejak ya guys.