
" Gibran juga ganteng banget kan anaknya Bunda " kata Della sambil berjalan menghampiri Gibran yang sedang tersenyum kearahnya.
" Anak Bunda ? terus anak Ayah mana ? " kata Akhtar sambil melirik Gibran.
" Gibran kan anak Ayah " kata Gibran sambil mendongak menatap Ayahnya.
" Anak Bunda juga " timpal Della.
" Iyaaa anak Ayah sama Bunda " kata Gibran, sehingga membuat Akhtar dan Della terkekeh.
" Yaudahh yuk masuk dahhh sore " kata Akhtar yang diangguki oleh Della dan Gibran.
Baru saja Akhtar ingin melangkahkan langkahnya, namun terhenti ketika Della tanpa sengaja tersandung bebatuan, sehingga membuat Akhtar dan Gibran segera menahan tangan Della.
" Innalillahi " kata Della sambil tersenyum kearah Akhtar dan gibran secara bergantian.
" Ayah ayoo pinggirin batunya, gara-gara batu ini Bunda hampir jatuh " kata Gibran.
" Hmmm sebenarnya Ayah juga emosi, karena batu itu hampir melukai Bunda " timpal Akhtar, sehingga membuat Della senyum-senyum sendiri.
" Hahahah kalian bisa aja, ini adalah definisi Bidadarinya yang hampir jatuh, tapi pangerannya yang emosi hahaha " kata Della cekikikan.
" Udah ahhh ayok masuk " kata Akhtar.
Saat memasuki rumah Gibran memandang wajah Ayah dan Bundanya sambil memikirkan perkataan Daff saat Daff menginap di rumahnya.
FLASHBACK ON...
" Bang Gibran seneng nggak mau punya Dedek bayi ? " kata Daff yang hanya diangguki oleh Gibran.
" Abang nggak takut ? " kata Daff.
" Takut kenapa ? " kata Gibran heran.
" Menurut hasil riset dari sinetron yang Daff tonton, kalau kita punya Adek nanti orang tua kita nggak akan sayang sama kita lagi lohh " kata Daff.
" Sayangnya lebih ke Dedek bayi nanti, emangnya Abang Gibran siap Ayah sama Bunda nggak peduli sama Abang lagi ? jujur yaa Daff tuh pengen jadi anak tunggal kaya raya aja supaya Papa sama Mama sayang sama Daff sepanjang masa " cerocos Daff, sehingga membuat Gibran terlihat berfikir.
FLASHBACK OFF...
Della yang melihat Gibran memandangi dirinya dengan tatapan yang sulit di artikan langsung mengelus kepala Gibran dengan sayang.
" Ada apa sayang ? " kata Della sambil memandang Gibran yang duduk di sampingnya.
" Kenapa kok gelisah gitu ? " timpal Akhtar, sehingga membuat Gibran menghembuskan nafasnya kasar.
" Gibran nggak mau punya Dedek bayi " kata Gibran, sehingga membuat Akhtar dan Della saling pandang.
" Lohh kenapa ? bukannya kemarin kamu senang mau punya Adek ? " kata Akhtar.
" Soalnya nanti Ayah sama Bunda nggak sayang lagi sama Gibran " kata Gibran.
" Siapa bilang, Ayah sama Bunda akan tetap sayang sama Gibran kok. kalau Gibran nggak mau punya Adek, terus Dedek di perut Bunda mau di kemanain ? " kata Della.
" Itu nggak akan terjadi Nak, ya kalii Ayah nggak sayang sama Anak Ayah yang paling baik ini " kata Akhtar.
" Kok tiba-tiba Anak Ayah mikirnya gitu ? " timpal Akhtar.
" Daff yang bilang, katanya dia liat di sinetron " kata Gibran polos, sehingga membuat Akhtar menggelengkan kepalanya.
" Aduhhhh sayangnyaa Bunda denger yaaa, Daff itu korban sinetron sayang, jadi nggak usah di pikirin yaa lagian Ayah sama Bunda akan tetap sayang sama kamu " kata Della yang diangguki oleh Gibran.
" Uhhhh Dedek bayinya sedih tauu, Abangnya bilang kayak tadi " kata Della sambil mengelus perutnya.
" Maafin Abang yaa Dedek bayi, Abang cuman keliru tadi tapi Abang sayang kok sama Dedek. jangan sedih yaaa " kata Gibran sambil mengusap perut Della, sehingga membuat Akhtar dan Della tersenyum.
" Okeee Dedek maafin " kata Della menirukan suara anak kecil.
" Dahh ahhh mandi dulu sana, Abang bau asemm " kata Della yang diangguki oleh Gibran.
" Gibran " panggil Della, sehingga membuat Gibran berbalik kearah Della.
" Iya Bunda ? " kata Gibran.
Ckrekkkk
" Omgggg ganteng banget, nggak papa sayang Bunda cuman mau pamer ajaa " kata Della, sehingga membuat Gibran bingung, namun tetap melanjutkan langkahnya ke kamar.
" Ganteng yaa Mas " kata Della sambil menunjukkan layar ponselnya ke Akhtar.
" Pamer ke Afkar ahhhh " kata Della sambil mengirim foto Gibran ke Afkar.
" Nulisnya apa yaa ? ahhhh gini aja ' Masya Allah Kar, anak gue ganteng banget nggak ada lawan " kata Della sambil mengirim pesan ke Afkar, sehingga membuat Akhtar menggelengkan kepalanya.
Sementara di rumah Afkar, Afkar sedang menonton film kartun dengan Daff, namun fokusnya teralih pada bunyi ponselnya, sehingga membuat Afkar segera mengecek ponselnya.
" Emang ganteng sih, tapi masih gantengan Jaenuddin lahh, enak aja bilangnya gak ada lawan padahal kan kadar kegantengan Daff masih di atas Gibran, bentar gue tunjukin ganteng yang sesungguhnya " kata Afkar dalam hati sambil berbalik menatap Daff.
" Astagfirullahh Udin lo ngapain ? " kata Afkar saat melihat tingkah Daff.
" Ini lohh ala-ala Putri duyung " kata Daff santai.
" Hehhh tu baju yang ada melar, Astagfirullah kelakuan " kata Afkar tepuk jidat.
" Sini ikut Papa bentar " kata Afkar sambil mengangkat tubuh Daff.
" Mau kemana sih ? " kata Daff heran.
" Udah nurut aja " kata Afkar sambil menurunkan Daff, kemudian beralih membuka lemari baju Daff.
" Nahhh pakai ini dulu Din " kata Afkar sambil memakaikan baju pada Daff.
" Kita mau kemana sih ? " kata Daff heran.
" Nggak kemana-mana Papa cuman mau foto kamu " kata Afkar.
" Hahhh maksudnya ? " kata Daff bingung.
" Udah nurut aja nggak usah banyak nanya, sekarang lihat kamera gayanya harus cool, jangan senyum petakilan harus cool okeeee " kata Afkar.
" Cool apaan Pa ? " kata Daff.
" Aelahhh pokoknya jangan senyum supaya kelihatan keren " kata Afkar sambil memotret Daff.
" Okeee mantap, sekarang kita lihat hasilnya " kata Afkar bersemangat.
" Lahhhh kenapa hasilnya begini ? " kata Afkar.
" Keren banget yaa Pa ? " kata Daff sambil menghampiri Afkar.
" Apanya yang keren, malah kelihatan tertekan tuh muka " kata Afkar.
" Kan Papa yang bilang nggak boleh senyum " kata Daff.
" Yaaa tapi mukanya jangan tertekan begini juga Jaenuddin " kata Afkar.
" Dahhh ahhhh terserah Papa aja, Daff nggak ngerti " kata Daff sambil keluar dari kamar.
_______
Jangan lupa tinggalin jejak ya guys.