
...🌼🌼🌼...
Apa jadinya jika gadis itu tahu bahwa dia telah menjadi objek fantasi liar Gael? Pasti Qya akan berburuk sangka pada Gael.
Wajah Qya sama dengan yang Gael mimpikan, muka bantal dan terlihat lembab setelah mencuci muka dengan suara serak-serak basah.
Apakah Gael harus merealisasikan mimpinya itu agar menjadi nyata?
“Oya, aku bisa minta tolong satu lagi?”
“Apa?”
Tentu saja Gael akan senang hati menolong Qya.
“Tolong pesankan aku baju.”
“Oke.”
“Juga pakaian dalamnya, ya,” ucap Qya enteng.
Gael merasa wajahnya memerah.
“Maksudku, aku pinjam ponselmu saja untuk memesannya. Maaf ya, aku dan teman perempuanku biasanya seperti itu.”
Qya jadi bingung sendiri menjelaskannya.
Gael lalu memberikan ponselnya.
Selama menunggu pesanannya datang, mereka menonton film di ruangan teater milik Gael.
Jam sebelas, Gael mengantar Qya ke rumah temannya, lalu dia langsung pulang lagi. Di depan pintu apartemennya, Gael sudah melihat dua sahabatnya yang sudah merusak mimpi indahnya.
“Mau apa?”
Ternyata Gael masih merasa kesal. Dia langsung menuju kamarnya untuk tidur. Tadi dia hanya tidur kurang lebih satu jam saja, namun menghasilkan mimpi yang sangat indah sepanjang hidupnya hingga saat ini.
Kedua sahabatnya yang tidak tahu apa-apa itu hanya saling menatap.
“Gael kenapa?”
“PMS, mungkin.”
***
“Cantik, sini dong temani Abang!” ucap salah seorang mahasiswa senior. Pria itu tampan dan terkenal pembuat onar dan playboy. Qya melirik pria itu dan bersikap acuh, membuat sang pria semakin gencar menggodanya.
Qya tetap melangkahkan kakinya, tak peduli dengan ucapan pria itu.
Revanio Juan Abraham, salah seorang mahasiswa tingkat dua jurusan managemen bisnis. Pria itu terkenal playboy dan musuh bebuyutan Gael. Gael dan Juan selalu bersaing dalam hal apapun. Sama-sama tampan, kaya dan terkenal. Bedanya, jika Juan seorang playboy yang sering jalan dengan wanita yang berbeda setiap harinya, maka Gael lebih cuek terhadap perempuan. Juan juga terkenal sebagai pembuat onar, sering terlibat perkelahian. Juan dan Gael memiliki hobi yang sama, sama-sama penyuka mobil mewah dan balapan liar.
Gael melihat Juan yang menggoda Qya. Dia tahu Juan itu pria yang seperti aps. Dari sikap Juan, menunjukkan ketertarikan terhadap Qya. Untuk yang pertama kalinya, mereka akan bersaing untuk mendapatkan—minimal—perhatian Qya.
Gael pikir, setelah malam itu saat Qya menginap di apartemennya berdua saja dengan dia, maka hubungan dia dan Qya akan mengalami perkembangan, ternyata tidak. Pesona Qya yang semakin hari semakin bertambah, membuat banyak pria yang menggodanya secara terang-terangan, termasuk dua sahabat Gael.
[Ada job nanti malam.]
[Imbalannya apa? Kalau murah aku tidak mau.]
[Tiga ratus.]
[Kemurahan.]
[Ambil saja, dari pada kosong.]
[Malas.]
[Lumayan, buat beli bubur.]
[Lima ratus aku datang.]
[Tunggu, aku nego dulu sama dia.]
Qya sedang sibuk berkirim pesan pada Vano. Sekotak Pizza dan sekaleng minuman soda menemani kesendiriannya di apartemen pemberian salah seorang pria. Lima menit kemudian pesan dari Vano kembali masuk.
[Lima ratus. Gimana?]
[Oke, kamu memang yang terbaik. Jadi makin sayang.]
[Harus dong. Oke Honey, aku tunggu di tempat biasa, hati-hati ketahuan sama orang yang mengenalmu di kampus.]
[Santai, aku siap-siap dulu. Pesonaku harus selalu terjaga.]
[Kamu yang tercantik.]
[Pasti dong. Tidak ada yang boleh mengelaknya.]
[Hahaha dasar narsis.]