Trouble Girl

Trouble Girl
53 Membujuk



Qya mengambil barang-barang miliknya sendiri, yang bukan berasal dari Gael. Setelah itu, Qya langsung pergi meninggalkan apartemen tanpa menoleh lagi pada Gael.


"Qy, Qya!"


Qya tidak peduli dengan panggilan Gael, dia terus saja berjalan dengan cepat meski kakinya sangat sakit. Dia jadi teringat lagi kejadian di mall tadi. Yang sebabnya terjadi, bukannya dia berpelukan dengan Damian, tapi dia yang sedang jalan-jalan, ditabrak oleh seseorang sampai terjatuh, hingga membaut kakinya terkilir. Kebetulan dia bertemu dengan Damian, dan ditolong oleh pria itu.


Qya tiba di tempat Vano dengan wajah ditekuk.


"Kaki kamu kenapa?"


"Terkilir. Kamu urus tuh si Gael, aku sudah sebel banget sama dia!"


"Tenang saja, enggak akan lama lagi."


"Aku enggak mau lagi, dekat-dekat sama dia."


"Iya. Kamu enggak usah lagi dekat-dekat dengan dia."


Keesokan harinya, kampus heboh dengan kedekatan Qya dengan Juan. Gael mengepalkan tangannya. Baru kemarin dia bertengkar dengan Qya, bahkan masalah mereka saja belum selesai, tapi sekarang gadis itu malah dekat dengan musuh bebuyutannya.


Qya juga tidak peduli dengan Gael. Qya yang duduk di sebelah Juan, sesekali melirik kesibukan Juan dengan laptopnya. Gadis itu tersenyum saat melihat apa yang Juan kerjakan di laptop itu.


Qya berjalan menuju gerbang kampus, tiba-tiba saja tangannya langsung ditarik oleh seseorang.


"Apaan, sih. Lepaskan!"


"Masuk, Qy."


Begitu Qya sudah masuk ke dalam mobilnya, Gael langsung melajukan mobilnya ke apartemen.


Sesampainya di apartemen


"Kamu ada hubungan apa sama pria itu?"


"Juan."


"Bukan urusan kamu."


"Kalian pacaran?"


"Enggak."


"Sayang, tolong maafkan aku. Jangan marah lagi, jangan pergi dan jangan bersama pria lain."


"Enggak, pokoknya aku mau putus sama kamu."


"Sayang, tolong dengerin aku. Aku tahu aku salah, halo aku seperti itu karena aku benar-benar sayang sama kamu. Aku cemburu, dan aku tidak mau kamu dekat-dekat dengan pria lain."


"Kamu kan sudah tahu, aku tidak suka dibatasi. Toh sebelum kenal sama kamu, aku juga sudah kenal dengan teman-teman aku itu. Mereka yang selalu ada di saat aku susah."


"Tolong jadikan aku satu-satunya orang yang kamu butuhkan."


"Dih, kamu kira aku sebodoh itu, menjadikan seseorang jadi satu-satunya orang yang aku butuhkan."


Menjadikan seseorang sangat dibutuhkan olehnya, akan membuat dirinya sendiri yang hancur. Qya memang masih sangat muda, tapi pikirannya sangat terbuka dan realistis. Mungkin karena hidup tanpa kedua orang tua, jadi dia lebih dewasa dalam berpikir, dan melakukan apa saja yang terbaik untuk hidupnya.


"Oke, oke. Kamu boleh berteman dengan siapa pun, tapi jangan berpacaran dengan pria lain. Hanya aku yang boleh menjadi kekasih kamu, dan yang akan menjadi suami kamu."


Suami? Kapan aku mau dia jadi suami aku? Mimpi kamu terlalu tinggi, Gael.


Gael mengecup kening Qya, sedangkan gadis itu diam saja.


"Mulai sekarang jangan bilang putus. Nanti setelah aku lulus, aku akan segera melamar kamu. Kamu kan masih bisa kuliah meski sudah menikah. Aku juga tidak akan melarang kamu kerja, tapi jangan terlalu lelah. Aku yang akan memenuhi semua kebutuhan kamu, apa pun itu."


Qya bisa melihat keseriusan dalam mata Gael. Gadis itu lalu tersenyum. Gael pikir, itu senyuman karena Qya sudah tidak marah lagi.