
"Kamu mau menginap di sini saja?"
"Apa?"
"Ini Sidah malam. Kalau kamu lelah, kamu bisa menginap di sini."
"Memangnya boleh?"
"Boleh, kan ini tempat ini juga kamu yang bayarin."
Gael tidak menjawab apa-apa, dia hanya masih mencerna saja perkataan Qya yang mengijinkannya menginap di sini.
"Aku tidur duluan ya, udah ngantuk banget."
Qya lalu beranjak ke kasirnya yang sangat empuk, dan tidak lama kemudian sudah nyenyak.
"Apa dia tidak takut? Apa dia juga sudah terbiasa membiarkan seorang laki-laki menginap di tempatnya?" tanya Gael pada dirinya sendiri.
Gael duduk di sofa. Sebisa mungkin menjaga jarak dari Qya, karena takut khilaf. Pria itu sulit untuk memejamkan matanya. Waktu di apartemen miliknya saja, berada di kamar yang berbeda dan tidak melihat Qya tidur, dia tetap gelisah. Apalagi ini, yang bisa melihat secara langsung Qya tidur, tanpa sekat apa pun.
Jangan sampai aku mimpi yang aneh-aneh lagi.
Hanya dengan mengingat mimpinya saja, Gael jadi panas dingin sendiri.
Ya ampun, aku merasa seperti masuk ke sarang harimau saja.
Pagi harinya, Gael membuka mata.
"Pagi, tidurmu nyenyak sekali."
Gael melirik jam tangannya, dan meringis. Sudah jam delapan pagi, dan dia baru bangun. Ini gara-gara semalaman dia susah tidur. Membayangkan dia akan satu kasur dengan Qya.
"Ayo sarapan," ajak Qya, menyadarkan Gael dari lamunannya.
"Kamu masak?"
"Hanya bikin roti bakar saja. Ngomong-ngomong, terima kasih karena sudah banyak membantu aku."
"Tidak masalah, aku senang kalau bisa membantu kamu."
Apalagi kalau bisa menjadi kekasih kamu, ucap Gael, tapi hanya dalam hatinya saja.
...💦💦💦...
Selama di kampus, Gael dan Qya terlihat biasa saja, seolah mereka hanya sebatas senior dan junior. Padahal kenyataannya, mereka sering jalan bersama. Gael sering memberikan barang-barang merah untuk gadis itu.
"Aku sudah ada janji dengan temanku, dia juga mau mengajak aku liburan ke luar negeri."
Gael jadi teringat pembicaraan Qya dengan pria saat awal kuliah dulu, yang mengatakan ingin mengajak Qya jalan saat liburan kuliah. Ingin sekali dia bertanya siapa pria itu, apakah pacarnya? Tapi dia tahu kalau Qya tidak suka dengan orang yang terlalu kepo.
Apa bisa aku memiliki hatinya? Sedangkan dia saja tidak suka dikekang.
...💦💦💦...
Hari ini Qya mengajak teman-temannya ke kosannya.
"Wah, ini kosan kamu yang baru?"
"Iya." Qya membuka satu kaleng minuman soda, meneguknya dengan cepat.
Teman-temannya merokok, membuat ruangan itu penuh dengan asap rokok.
"Ke club yuk, nanti malam."
"Hayu aja."
"Ikut, Qya?"
"Lihat gimana nanti."
"Ikutlah, ngapain kamu di kosan sendiri!"
"Okelah."
Malam harinya Qya pergi dengan teman-temannya ke klub malam. Di saat Qya di klub, Gael datang ke kosan gadis itu. Dia membuka pintu kosan Qya, karena memang memiliki kunci duplikatnya.
Pria itu mengibaskan tangannya, mencium aroma asap rokok dan minyak wangi pria. Belum lagi asbak yang penuh dengan abu dan puntung rokok. Kaleng minuman yang berantakan.
Ke mana dia?
Gael pergi meninggalkan kosan itu dengan perasaan campur aduk. Akhirnya Gael pergi ke klub malam bersama sahabat-sahabatnya.
Suasana klub malam sangat ramai malam ini. Qya dan teman-temannya asik menari mengikuti musik yang dimainkan oleh DJ.
Banyak pria yang mendekati gadis itu, memperhatikan lekuk tubuhnya yang memakai pakaian pendek dan ketat.
Gael dan kedua sahabatnya memasuki tempat itu, semakin masuk ke dalam dsn mengepakkan tangannya saat melihat gadis yang dia cintai sedang berjoget dengan luwesnya.