
"Kamu pasti akan memilih keluarga kamu. Kamu tidak mungkin menanggalkan semua fasilitas yang kamu dapatkan hanya untuk aku, kan?" Qya menunduk sedih,.
"Hei, kenapa kamu bicara begitu. Jangan mengkhawatirkan segala yang belum tentu terjadi, Sayang."
"Aku hanya tidak mau terlena saja. Orang-orang seperti kalian yang sejak kecil hidup dengan kemewahan, mana mungkin mau berkorban dan memilih hidup susah."
"Aku tidak seperti itu, Qy ...."
"Harta yang kamu miliki saat ini, memang bukan dari kerja keras kamu sendiri, kan?"
"Memang bukan, tapi bukan berarti aku juga tidak bisa bekerja. Aku selama ini sering membantu papa dan opa aku di perusahaan. Akan aku buktikan kalau aku bisa mencari uang sendiri untuk kebahagiaan kamu." Gael memeluk Qya, apa pun yang Qya inginkan darinya, maka akan dia lakukan.
"Mulai sekarang kamu akan tinggal di apartemen ini. Jadi kalau kita ingin bertemu, akan lebih mudah. Aku juga sudah membelikan kamu mobil."
"Apa? Mobil?"
"Iya. Mobilnya sudah ada di bawah."
Qya tentu saja sangat senang. Mau itu dibeli dari hasil keringat Gale atau kadang tuanya, terserah saja. Yang penting dia bisa punya mobil dan tinggal di apartemen mewah.
"Aku mau melihat mobilku." Qya menarik tangan Gael, sudah tidak sabar melihat mobil seperti apa yang akan dia dapatkan.
Gael tersenyum, dia senang jika melihat Qya senang. Pria tampan itu mengecup kening Qya.
"Ayo."
Qya berdecak kagum melihat mobil yang Gael berikan untuknya. Setelah puas melihat, mereka kembali ke apartemen.
"Ini surat-surat apartemen dan mobil. Jadi kamu tidak perlu lagi berpikir kalau aku akan meminta semaunya untuk dikembalikan. Semua Sidah atas nama kamu. Simpan yang benar."
Qya langsung mengecup bibir Gael. Gael yang kaget dengan apa yang Qya lakukan, tersenyum senang. Dia langsung membalas kecupan itu dengan ciuman yang dalam.
Do unitnya ini juga ada kolam renang, jadi tidak perlu ke kolam renang di luar unit. Semua perabotan juga mahal.
Qya memasuki kamar utama. Ada pintu yang bisa dipastikan itu adalah kamar mandi, juga ada walk in closet.
Banyak baju, sepatu, tas, bahkan perhiasan. Qya berdecak kagum, benar-benar senang bisa memiliki semua ini.
"Bagaimana, kamu senang?"
"Iya. Ini benaran buat aku, kan? Kamu tidak sedang menipu aku, kan?"
"Enggak, Sayang. Kan tadi aku sudah memberikan sertifikat apartemen ini. Semua ini sudah menjadi milik kamu sekarang."
Qya memeluk Gael dengan senang. Dia lalu duduk di atas kasurnya yang sangat empuk.
"Kamu juga tidak perlu repot-repot membersihkan apartemen ini, karena akan ada orang yang akan membersihkannya dengan rutin."
"Para perempuan pasti akan semakin iri denganku. Apalagi si Vanya itu." Qya mendengus saat mengingat Vanya.
"Jangan menyebut nama dia, itu akan membuat mood kamu jadi buruk."
"Kamu benar."
"Sekarang waktunya kita makan. Aku sudah memesan banyak makanan untuk kita."
Tidak lama kemudian bel berbunyi. Gael membuka pintu dan mengambil makanan yang sudah dia pesan.
Ada steak dan ayam bakar. Mereka makan dengan perasaan senang, apalagi Qya.