
Seisi kampus gempar hari ini. Bagaimana tidak? Sang primadona dengan sang most wanted hari ini terlihat memakai sesuatu yang sama.
Kaos, sepatu, jam tangan. Semuanya sama modelnya, dan warnanya.
Sebenarnya Qya dan Gael tidak janjian. Qya hanya ingin memakai semua pemberian Gael hari ini, dan ternyata pria itu punya pemikiran yang sama dengan gadis itu.
Dalam hati Gael merasa senang. Dia pikir ,Qya tidak mau memakai barang-barang pemberiannya, karena Qya memang belum pernah memakai ke satu barang pun yang Gael belikan.
"Wah, jangan-jangan jodoh!" celetuk sahabat Gael.
Gael memasang wajah datar, padahal dalam hati me-aamiin-kan perkataan itu
"Gila Qya, kamu sama Gael kaya couple banget." Wajah Maura sangat berbinar, seolah dia yang memakai pakaian yang sama seperti Gael.
"Kamu gak marah?"
"Marah kenapa?"
"Ya marah kaya cewek-cewek kebanyakan. Dibilang aku inilah, itulah."
"Dih, enggak lah!"
Para senior teman-teman Qya mendekat.
"Cie, ada yang lagi jadi pusat perhatian, nih."
Mereka juga biasa saja dengan pembicaraan itu. Senior-senior itu, adalah senior-senior yang terkenal dengan gaya hidup mereka yang waw.
Maura hingga saat ini masih merasa heran, dari mana Qya mengenal mereka. Bukannya mau merendahkan, tapi Qya yang bukan dari kalangan berada, kenapa bisa mengenal mereka, dari mana dan di mana?
Salah satu senior perempuan merokok. Qya terlihat biasa saja, bahkan sepertinya sudah sangat paham tentang karakter mereka.
Kalau yang lain mengindari orang-orang itu, maka Qya tidak. Bahkan ada yang ditindik.
"Pake apaan?"
"Taring buaya."
Mereka tertawa mendengar perkataan Qya.
Gael uang melihat interaksi Qya dengan orang-orang itu, merasa cemas. Dia tidak mau Qya sampai berhasil dengan anak-anak itu, yang reputasi mereka tidak baik.
Anak-anak di kampus itu, hanya sebagian kecil saja yang 'normal'. Gael sendiri dengan teman-temannya juga tidak lurus-lurus amat.
Di kampus ini, mereka yang tidak menonjol, baik dari segi kekayaan atau pun kekuasaan, akan terkucilkan dan tidak dianggap.
Itulah sebabnya Qya langsung menjadi sorotan.
"Jangan-doa memang simpanan pria-pria kaya. Lihat saja, barang yang dia bawa semau mewah. Orang tuanya saja tidak jelas siapa. Pejabat? Pengusaha? Artis? Dokter? Tidak ada yang tahu, kan?" ucap Vanya, mengompor-ngompori yang lain.
Gale yang mendengar itu mengepalkan tangannya. Dia memang tahu Qya bukan anak dari kalangan berada. Tinggalnya saja di kosan yang biasa-biasa saja, meski memang tidak jelek-jelek amat.
Membayangkan Qya menjadi perempuan simpanan dari pria kaya, hari Gael memanas. Dia tidak terima Qya disentuh oleh pria itu.
Lihat saja bagaimana sekarang Qya dirangkul oleh salah satu mahasiswi, yang terkenal playboy.
Apa benar dia gadis seperti itu? Tidak, Qyaku gadis yang baik.
"Pasti sudah tidak perawan, tuh. Jangan-jangan sudah pernah hamil. Baru lulus sekolah saja kelakuannya sudah seperti itu." Kembali Vanya menjadi kompor.
Tidak, Qya bukan perempuan seperti itu. Bahkan sudah dia kali Qya menginap di apartemen milikku, tidak pernah sekali pun dia menggodaku. Jangankan tidur dengannya, berciuman dengannya saja tidak pernah.
Bukannya Gael tidak mau membela Qya, hanya saja dia tahu bagaimana orang-orang di kampus ini. Mereka akan berpikir kalau Qya memang sudah menggodanya Samapi mau membela gadis itu mati-matian.
Gael menatap tajam Vanya, ingin sekali memberikan pelajaran pada perempuan bermulut comberan itu.