
"Kamu benar, dia sudah menikah dan seharusnya ikut dengan suaminya. Tidak lagi bersikap manja pada kedua orang tua."
"Tentu saja, masa dia kalah denganku. Aku saja bisa mandiri, tidak punya kedua orang tua sejak kecil, tinggal di rumah yatim piatu, mengandalkan beasiswa dan Haris bekerja sama sini untuk bertahan hidup." Wajah Qya terlihat sendu, ada gurat kekecewaan, sakit hati, amarah dan kesedihan.
Sekilas, Edward bisa melihat semua itu, sebelum akhirnya Qya kembali memasang wajah cerianya. Ada perasaan tidak nyaman dalam hati Edward melihat semua itu. Entah kenapa sejak pertama kali melihat gadis muda ini, dalam hatinya langsung timbul kasih sayang, ingin melindungi dan memberikan yang terbaik.
"Oya, ini untuk kamu." Edward memberikan black card pada Qya, tiga ATM dari tiga bank, dan uang cash dalam amplop coklat yang cukup tebal.
"Ini buat aku, benaran?"
"Iya."
"Makasih, Daddy."
Qya langsung memeluk Edward, sedangkan pria itu mengusap punggung Qya. Qya tidak akan bersikap pura-pura menolak atau sok jual mahal. Itu sama sekali bukan gayanya. Itu juga yang mungkin orang-orang suka dari gadis itu, sama sekali tidak munafik dan apa adanya.
Memangnya siapa di dunia ini yang tidak suka dengan uang dan barang-barang mewah? Bahkan banyak yang rela jadi pelakor hanya untuk kehidupan yang lebih baik.
"Jadi, Daddy akan menyuruh anak Daddy itu kekar dari rumah?"
"Iya, malam ini Daddy akan meminta Erica dan suaminya untuk pindah, agar anak iri bisa mandiri dan melayani suaminya dengan baik."
"Memangnya selama ini menanti Daddy itu tidak mau pindah?"
"Wah, dia tidak menghargai suaminya, ya. Seharinya jadi suami itu, Haris tegas sama istri, agar harga dirinya tidak diinjak-injak."
Edward tertegun, selama ini dia juga sudah terlalu lembek pada istrinya. Membiarkan istrinya sibuk menghamburkan uang miliknya dan menghantui hidupnya.
Qya mengulum senyum. Sepertinya dia berhasil memanasi hati Edward. Edward sudah seperti sumbu yang tinggal diberikan percikan api, lalu ... DUAR ... akan terbakar dan berkobar.
Begitu Edward pulang, Qya langsung tertawa sangat puas. Gadis itu lalu buru-buru kembali ke apartemen dari Gael.
...🌼🌼🌼...
"Kamu bisa tidak, jangan terus bersenang-senang dengan teman-teman kamu itu."
"Kamu sendiri, kamu tidak pernah memberikan waktu untuk aku. Kenapa sekarang kamu melarang aku berkumpul dengan teman-temanku?"
Gael mengenal nafas, kenapa selalu begini setiap kali dia pulang ke rumah besar ini? Memang, kedua orang tuanya bertengkar di dalam kamar mereka, tapi bukan berarti Gael tidak bisa mendengar suara ribut itu. Kamar yang kedap suaranya dimatikan, seolah ingin menunjukkan ke seluruh isi rumah kalau mereka sebenarnya tidak baik-baik saja.
Gael lelah, doa ingin menjauh dari semua ini. Bahkan di saat dirinya sudah rajin bekerja di perusahaan, tetap saja pertengkaran kedua orang tuanya tidak berakhir. Ada saja yang mereka ributkan, tapi apa?
Pertengkaran yang terjadi sejak dia masih kecil, tapi kenapa mereka masih bertahan dalam ikatan pernikahan? Demi apa? Apa itu demi dia dan kakaknya? Tidak, mereka berdua sudah dewasa, lebih baik mereka berpisah saja agar tidak lagi membuat hati Gael terluka. Dia akan baik-baik saja, hidup tanpa keduanorang tua yang utuh, jauh lebih baik daripada tersu mendengar pertengkaran mereka dari balik tembok.