Trouble Girl

Trouble Girl
63 Tamparan



"Tuan muda Gael, tuan muda Vano, dan nona Qya terlibat perkelahian di kampus, Tuan."


"Apa? Apa yang terjadi? Lalu bagaimana dengan Vano dan Qya? Mereka baik-baik saja, kan?"


"Keduanya terluka. Tuan muda Vano sudah membawa nona Qya, sedangkan tuan Gael diobati oleh teman-temannya."


"Sekarang ada di mana mereka?"


"Kami kehilangan jejak tuan muda Vano dan nona Qya. Maafkan kami."


Edward mengeja nafas, lagi-lagi dia kehilangan jejak anak kandungnya. Sebenarnya, bagaimana cara Vano tumbuh besar? Sepertinya anak itu pandai menyembunyikan diri.


"Apa yang mereka ributkan? Apa mereka bertengkar karena kejadian malam itu?"


"Tidak, Tuan. Mereka memperebutkan nona Qya."


Edward menghela nafas, ternyata yang mereka ributkan itu Qya. Tapi kenapa harus Qya?


"Apa yang terjadi?"


"Tuan Gael mencium paksa nona Qya, dan tuan Vano marah, Tuan."


"Terus awasi kampus, dan kembali kalian cari Vano. Jangan lupa, cari juga istriku!"


"Baik, Tuan."


Edward kembali Kukang ke rumahnya.


"Suruh Gael pulang sekarang juga!" perintah Edward pada Jesi.


Ricca sendiri tidak perlu disuruh pulang, karena sejak malam itu, dia kembali pulang ke rumah orang tuanya.


Jesi—meskipun masih marah pada Edward—langsung meminta Gael pulang saat itu juga.


Dia tidak mau kalau sampai anak-anaknya ikut diabaikan oleh Edward, bahkan diusir dari rumah itu.


Hampir satu jam kemudian Gael pulang.


"Duduk kalian semua."


Mereka bertiga duduk di hadapan Edward, menatap pria yang menjadi kepala keluarga di rumah ini.


"Apa kamu bertengkar dengan Vano?" tanya Edward dengan tajam. Dia tidak mau berbasa-basi.


"Jangan pernah bertengkar dengan dia. Bagaimana pun juga dia anak papa, dan kakak kamu."


"Aku tidak akan mengakui dia sebagai kakakku."


"Kalau begitu, kamu bisa pergi dari rumah ini. Kembalikan semua fasilitas yang kamu miliki selama ini. Termasuk ponsel kamu."


"Pa, papa tega seperti itu pada anak papa sendiri?"


"Siapa pun yang tidak bisa menerima kehadiran Vano, silahkan angkat kaki dari rumah ini sekarang juga, dan jangan membawa apa pun!"


Edward tidak main-main dengan ucapannya, dia akan membawa Vano ke dalam rumah ini, dan akan mengusir siapa pun yang menggangu putranya itu.


"Jadi papa lebih sayang dia, daripada kami?"


"Tentu saja."


Sakit, itulah yang mereka rasakan. Kenapa anak yang baru mereka ketahui kehadirannya itu, malah menjatuhkan mereka sampai sejauh ini?


"Dia hanya anak haram, untuk apa ...."


Plak


Tamparan keras di wajah Jesi, menunjukkan kalau Edwar sudah sangat emosi.


"Papa!" teriak Gael dan Ricca.


Mereka mendekati mama mereka, sama sekali tidak menyangka kalau papa mereka tega berbuat seperti itu.


"Sekali lagi aku katakan, kalian bisa pergi dari rumah ini sekarang juga tanpa membawa apa-apa, atau menerima kehadiran Vano dengan tangan terbuka dan memperlakukan dirinya dengan tangan terbuka!"


"Ma, ayo kita pergi saja," ajak Gael.


"Tidak, mama akan tetap ada di sini."


"Ma, maksud mama apa? Sidah tidak ada gunanya lagi bertahan di rumah ini. Apa mama mau makan hati setiap hari dengan perlakuan papa?" tanya Gael.


"Iya, Ma. Apa mama tidak leha setiap hari selalu bertengkar dengan papa?"


"A ... apa?"


"Kami tahu, Ma. Kami tahu bagaimana Tinah tangga papa dan mama selama ini. Hanya saja kami pura-pura tidak tahu, agar tidak menambah kesedihan di hati mama."