Trouble Girl

Trouble Girl
62 Pewaris Sah



Gael meluapkan emosinya dalam ciuman itu. Dia ingin menegaskan pada Qya, kalau sampai kapan pun, Qya tetaplah miliknya. Tidak ada satu orang pria pun yang boleh memiliknya, menyentuhnya, bahkan merebut Qya dari dirinya.


Gael sudah jatuh. Jatuh dalam cinta yang begitu besar untuk gadis itu.


Bugh


Tubuh Gael terhuyung ke belakang saat seseorang menonjok wajahnya.


"Bangsat!"


Bugh bugh bugh


Gael yang dihajar seperti itu, tidak tinggal diam. Dia membalas dengan sama brutalnya.


"Berhenti!" teriak Qya, tapi baik Gael atau pun Vano tidak ada yang mau mengalah.


Reno dan Miko menahan tangan Vano hingga Gael bisa bebas memukuli Vano.


"Gael, jangan main keroyok!" teriak Qya.


Bugh


"Aw!" Qya meringis karena badannya yang kena pukul saat berusaha melindungi Vano.


"Sayang, maafkan aku ...."


"Kurang ajar!" Kini giliran Vano yang memukul Gael.


Keduanya kembali saling memukul.


"Vano, sudah," teriak Qya.


"Ayo kita pergi!" ajak Vano.


"Jangan, Qy! Tetaplah bersamaku."


Qya menatap Gael, lalu menggelengkan kepalanya.


Sekali lagi, Qya lebih memilih Vano daripada dirinya, dan itu terasa sakit.


Gael mengepalkan tangannya, lalu mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Pandangan matanya sangat nanar, melihat kedua muda mudi itu. Melihat Vano yang merangkul Qya, dan mengusap bibir gadis itu dengan tangannya.


Aku tidak akan pernah tinggal diam. Apa yang sudah menjadi milikku, akan selamanya menjadi milikku.


"Obati dulu luka kamu, Gael."


Reno merangkul pundak sahabatnya itu, mengajak Gael untuk ke apartemen.


...💦💦💦...


"Sudahlah, Ga. Buat apa juga kamu bersama perempuan tidak tahu diri itu?"


Gael menatap tajam pada Reno, tidak suka mendengar Qya disebut sebagai perempuan tidak tahu diri.


"Qya tidak seperti itu."


"Ya ampun, apa kamu buta? Atau bodoh?"


"Gini nih, kalau belum pernah dekat dengan perempuan. Sisinya jatuh cinta, mendadak bodoh. Qyara memang cantik, tapi dia penipu. Dia mendekati kau hanya ingin menyakiti kamu saja. Apa kamu tidak paham juga?" Kali ini Miko yang bicara.


Sebagai sahabat, tentu saja Miko dan Reno tidak mau Gael sampai membodohi dirinya sendiri. Berpikir kalau Qya benar-benar cinta padanya.


Di lain tempat


Pertengkaran masih saja terjadi antara Jesi dan suaminya. Apalagi kalau bukan karena Vano—anak Edward.


"Aku akan membawa Vano ke rumah ini."


"Tidak, itu tidak boleh terjadi."


"Apa gak kamu melarang aku membawa anak kandungku sendiri?"


"Tentu saja aku punya hak, karena aku istri kamu."


"Kalau kamu tidak setuju, kamu bisa pergi dari rumah ini sekarang juga."


"Apa? Kamu mengusir aku karena anak haram itu?"


"Jaga bicara kamu, Vano bukan anak haram. Aku menikah secara sah dengan mamanya."


Edwar meninggalkan rumahnya, lebih baik dia pergi daripada terus bertengkar dengan istrinya itu, yang makin hari semakin membuat kepalanya sakit.


Edward menghubungi anak buahnya, bertanya apa ada kabar tentang Vano dan Qyara.


"Kenapa belum ada perkembangan juga? Apa kalian tidak becus bekerja?"


"Maafkan kami, Tuan."


"Cari anakku sampai ketemu. Dia yang akan menjadi pewaris sahku, bukan yang lain."


"Baik, Tuan, saya mengerti."


Edward mencoba kembali menghubungi Qya, tapi ponsel gadis itu sudah tidak aktif lagi.


Ponsel Edward berbunyi, dan pria itu langsung mengangkatnya, berharap ada kabar dari orang suruhannya tentang Vano.


"Katakan!"