
Qya meletakkan barang-barang yang dibelikan oleh Gael di atas kasur. Bukan barang murah, tentu saja. Gadis itu lalu membersihkan diri dan segera tidur.
Pagi harinya, Qya pergi ke kampus dengan dijemput oleh Maura. Mereka tiba di kampus dan langsung menuju kantin, karena Qya belum sarapan. Qya dan Gael sama-sama ada di kantin, tapi keduanya bersikap seolah tidak saling mengenal.
Bukan karena Gael takut untuk digosipkan,hanya saja dia suka gugup jika dekat dengan gadis itu. Qya sendiri memang seperti itu, tidak akan memusingkan hal yang bagi dia tidak penting.
Para senior laki-laki mendekati Qya, mengusap kepala Qya seolah hal itu sudah biasa terjadi. Bisikan-bisikan kembali terdengar. Banyak yang iri, apa hanya karena Qya cantik, maka banyak yang suka? Mamah sih, gadis itu pintar, tapi bukan dari kalangan berada, tidak sejajar dengan mereka.
Hati Gael panas, ingin sekali Gael menghajar pria-pria itu, karena sudah berani menyentuh Qya.
Qya sendiri tidak merasa terusik saat temannya merangkul dia. Maura memperhatikan interaksi antara Qya dengan senior-seniornya. Tidak ada sikap risih, mereka terlihat terlah berteman lama.
"Qya, kamu mau ikut kami nonton?"
"Nonton apa?"
"Balapan. Nanti malam jam sepuluh. Kalau mau, nanti kami jemput."
"Kamu sudah pernah nonton, Maura?"
"Belum."
"Ajak Maura, ya?"
"Boleh."
Gael yang mendengar itu, langsung mengerti bakalan apa yang dimaksud. Mungkin kalo ini dia harus ikut dan Haris memenangkannya, agar bisa menarik perhatian Qya.
Malam harinya, Maura yang ada di kosan Qya, sudah selesai bersiap.
"Aku dengar ini bukan balapan biasa. Harga taruhannya enggak main-main, Qya."
"Serius?"
"Iya. Bahkan mereka bisa mempertahankan mobil keluaran terbaru. Dengar-dengar, ada yang sampai dari luar negeri juga, loh."
Suara klakson mobil terdengar. Qya dan Maura langsung keluar.
Suasana arena balap sudah sangat ramai. Qya melihat beberapa kelompok, entah apa yang mereka bicarakan.
Juan, Gael, Felix, dan Brandon.
"Wah, ada perempuan cantik. Bagaimana kalau dia yang menjadi taruhannya? Kalau aku memang, dia akan tidur denganku." Mata Brandon menatap liar pada tubuh Qya yang molek.
Gael ingin mengajar Brandon, tapi langsung ditahan oleh sahabat Gael.
Juan yang melihat itu, menyeringai. Dia bisa melihat gelagat Gael yang sepertinya menyukai Qya.
"Ayo kita cari tempat."
Qya dan teman-temannya mencari tempat yang nyaman untuk menonton.
"Sayang Bee tidak ada di sini."
"Lebah? Ya bagus dong, kalau tidak ada lebah. Bisa-bisa aku digigit."
"Bukan lebah, maksudnya BeeMee."
"Apa itu BeeMee?"
"Black Mask."
"BM itu salah satu pembalap di sini, tapi tidak jelas kapan dia akan ikut bertanding. Kehadiran dia yang paling ditunggu."
"Oh." Balapan dimulai, Gael sempat mencari di mana keberadaan Qya, berharap kalau gadis itu mendoakan kemenangannya. Bukan masalah hadiahnya, tapi ingin dianggap keren oleh Qya.
Qya dan Maura mulai memperhatikan jalannya balapan. Ternyata seri juga, menurut mereka. Suara decitan mobil yang sebenarnya membuat telinga ngilu, tidak lagi menjadi hambatan mereka menikmati kegiatan ini.
"Apa sih, taruhannya?" tanya Qya penasaran.
"Enggak tahu juga."
Gael berusaha mendahului lawannya. Dalam khayalannya, dia memenangkan bakalan ini dsn Qya berlari menghampiri dirinya lalu memeluk dirinya, kemudian mereka berciuman.
****!
Karena khayalannya itu, dia jadi kurang konsentrasi, menabrak pembatas jalan.
Kali ini Gael benar-benar fokus, ini momen penting, dia tidak mau mengecewakan Qya meski tidak tahu apakah Qya peduli padanya atau tidak.
Gael sudah melewati Felix dan Brandon, sedangkan Juan hanya jadi penonton saja. Dia tidak peduli siapa yang menang, toh bukan dia juga yang akan rugi atau untung.
Suara decitan panjang menandakan kalau balapan telah berakhir. Pendukung bersorak gembira saat Gael keluar dari mobil. Pria itu melirik Qya, yang memberikan senyuman untuknya.
Ini hadiah paling indah bagi pria itu. Rasanya seperti tebang ke awang-awang. Ya, memang Gael menang, meski tidak ada pelukan apalagi ciuman dari Qya.
Balapan selanjutnya dilakukan oleh pemain lain. Mereka menikmati makan dan minuman. Qya yang hanya menggunakan kaos lengan pendek dan rok sepaha merasa kedinginan.
"Lagian kamu kenapa pakai baju dan rok sependek itu?" tanya Maura.
Qya hanya mengedikan bahunya saja. Doa memang sudah terbiasa memakai pakaian seperti ini. Gael yang melihat Qya kedinginan, ingin sekali menghangatkan Qya. Pria itu menghela nafas. Sejak kehadiran Qya, pikirannya selalu saja liar.
"Toilet di mana, sih?"
"Mau aku temani?"
"Enggak usah, kasih tahu saja di mana tempatnya."
Cukup jauh untuk ke toilet. Gael yang melihat Qya jalan sendiri, langsung mengikuti gadis itu.
Qya merasa lega, dia langsung keluar dari dari toilet dan berteriak.
"Maaf, apa aku mengagetkan kamu?"
"Iyalah, pakai nanya, lagi!"
Gael tertawa, dia selalu suka ekspresi yang Qya berikan, kecuali mungkin ekspresi sedih dan marah.
"Selamat ya. Ngomong-ngomong, apa sih, taruhannya?"
"Mobil."
"Wah, orang kaya memang berbeda, ya. Tidak segan membuang barang mewah begitu saja."
Gael diam saja, tidak yakin apa itu sindiran atau pujian. Pria itu lantas memberikan jaketnya untuk Qya.
"Ayo aku antar pulang."
"Tapi aku ke sini sama teman-teman aku. Ada Maura juga."