Trouble Girl

Trouble Girl
49 Uang Belanja



"Apa ini?" Ricca melihat uang yang diberikan oleh Angga.


"Untuk belanja kebutuhan sehari-hari dan memasak. Dihemat, ya."


"Apa? Hanya segini?"


"Nanti kalau memang kurang, aku kasih lagi."


Angga memang mau istirnya itu belajar berhemat. Bukan karena Angga pelit atau tidak punya banyak uang, tentu saja uangnya banyak. Pria itu hanya ingin istrinya bisa mengatur keuangan dengan bijak. Membeli sesuatu sesuai kebutuhan, bukan keinginan. Toh barang-barang branded-nya sudah sangat banyak, lebih dari empat lemari panjang hanya untuk punyanya saja.


"Kita kan juga tinggalnya hanya berdua saja. Aku tidak pernah ribet dengan makanan, tidak pemilih."


Angga lalu meninggalkan istirnya hanya diam. Uang segitu apa cukup, pikirnya.


Angga berpamitan kepada istrinya, saat Ricca masih saja diam di tempat.


"Aku ada urusan, kamu kalau mau tidur, duluan saja. Jangan menunggu aku."


Begitu Angga pergi, Ricca baru tersadar dari lamunannya. Dia langsung menghubungi mamanya, berkeluh kesah dengan hati pertama dia berada di rumah ini.


"Ma, Mama suruh orang buat masak dan bersih-bersih rumah, deh. Tapi Mama yang bayarin, ya. Jangan sampai Angga tahu."


"Kamu tenang saja, mama tidak akan membiarkan kamu susah. Si Angga juga, kak bisa-bisanya ngasih kamu uang sedikit begitu."


"Ya uang yang ini bisa buat aku shoping, Ma. Pokoknya Angga jangan sampai tahu. Mama juga belikan kebutuhan rumah tangga dan sehari-hari. Besok saja dikirimnya, saat Angga sudah pergi kerja."


"Ya, mama tahu."


Setelah menghubungi mamanya, Ricca merasa lega. Untung saja dia cerdik, jadi tidak perlu repot-repot membersihkan rumah apalagi memasak, juga tidak usah belanja kebutuhan sehari-hari.


Sementara itu, Angga tiba di salah satu kafe yang menjadi langganannya.


"Halo Cantik, sudah lama nunggu?"


"Udah. Lama banget, sih. Lihat nih, minuman aku sampai sudah habis dua gelas."


"Maaf, ya."


Angga duduk di hadapan gadis itu.


"Ganti rugi."


"Nah, gitu dong."


"Gimana pindahan rumah barunya?"


"Biasa saja, enggak ada yang istimewa."


"Dia enggak protes, tinggal di rumah kecil kaya begitu?"


"Enggak. Dia harus terima, lah, Daripada papanya marah."


Mereka akhirnya memesan makanan yang biasa mereka pesan kalau berada di kafe ini.


Angga lalu mengambil ponselnya.


"Aku baru saja kirim uang ke kamu."


"Berapa?"


"Sepuluh juta."


"Oke. Kamu kasih berapa uang ke dia?"


"Tiga juta."


"Enggak usah banyak-banyak kasih ke dia, paling juga nanti dia minta sama mamanya. Perempuan manja kata begitu mana bisa ngatur uang. Kamu kok betah sih, punya istri kaya begitu."


Angga hanya mengangkat bahunya. Dia juga sebenarnya jengah dengan sikap manja istirnya itu, apa-apa maunya langsung dituruti. Mungkin dengan pindah ke rumah yang bagi istirnya itu kecil, bisa membaut istrinya itu lebih dewasa dan mandiri.


"Eh, itu si Qya sama cowok lain lagi?" tanya Reno.


"Lah, iya. Ito cowok kaya pernah aku lihat, di mana, ya?"


Kedua pria yang menaksir sahabat Gale itu diam-diam memperhatikan Qya dengan Angga.


"Yang jelas bukan anak kampus. Kelihatan lebih dewasa. Siapa, ya?"


"Nih si Qya benar-benar jadi sugar baby, kayaknya."


"Ya siapa juga yang enggak mau punya Sigar baby kaya begitu. Cantiknya enggak kaleng-kaleng."