Trouble Girl

Trouble Girl
47 Angga



Saat ini Gael dan keluarganya sedang makan bersama. Jarang-jarang mereka bisa seperti ini, apalagi papanya selalu saja pulang malam.


"Ericca, papa mau besok kamu tinggal saja bersama suami kamu. Jangan lagi bersikap manja dan selalu bergantung pada orang tua. Ikut ke mana pun suami kamu mengajak kamu tinggal."


"Apa, Pa?"


Bukan hanya Ricca saja yang kaget, tapi juga mamanya.


"Papa mengusir Ricca?"


"Bukan mengusir, tapi ingin kamu lebih mandiri dan menghargai suami kamu. Kamu tidak keberatan kan, Angga?"


"Tidak sama sekali, Pa." Angga tersenyum puas. Selama ini dia memang selalu mengajak istrinya itu untuk tingga terpisah dengan mertuanya, tapi Ricca selalu saja menolak.


"Pa, apa harus Ricca tinggal terpisah dari kita?"


"Apa harus ditanyakan lagi? Dia itu sudah menikah, sudah seharusnya mengikuti suami. Kalau mau ingin terus mengekor pada orang tua, ya berpisah saja dari suaminya!"


"Papa!"


"Bukan begitu, Angga?"


"Tepat sekali, Pa."


Ricca terlihat kesal, tapi dia juga tidak mau berpisah dengan Angga. Dia sangat mencintai suaminya itu, dan tidak mau jauh darinya, bisa-bisa nanti suaminya itu digaet perempuan lain.


Angga bernafas lega, akhirnya dia bisa juga tinggal terpisah dari rumah mertuanya.


Tinggal bersama orang tua Gael juga pasti tidak akan nyaman. Doa saja tidak betah karena sering mendengar pertengkaran kedua orang tua dia. Mengingat dia benar-benar serius dengan Ayah, dia jadi semangat untuk bekerja. Ingin membangun sebuah rumah impian gadis itu. Doa sangat tahu Qya menyukai kemewahan, jadi akan membaut rumah yang sangat mewah.


"Gael, kenapa kamu melamun?"


"Tidak apa."


Mereka akhirnya tiba di rumah yang Angga siapkan. Rumah itu tidak terlalu besar, tapi juga tidak kecil.


"Ricca, aku suka dengan tanaman, aku harap kamu juga mau menanam berbagai jenis tanaman agar rumah ini lebih sejuk."


Ericca mengeryitkan keningnya, dia tidak suka menanam tanaman, karena bagi dia itu sangat merepotkan.


"Aku juga tidak menyediakan asisten rumah tangga. Kamu tahu kan, aku tidak suka ada orang asing di rumahku."


"Jadi, maksudnya aku harus melakukannya sendiri?"


"Iya. Kalau aku libur, aku pasti akan ikut membantu juga. Itu sebabnya aku tidak membeli rumah yang terlalu besar, agar kita tidak terlalu repot membersihkan rumah. Oya, mulai sekarang belajarlah memasak, karena aku lebih suka masakan rumahan."


Ericca diam seribu bahasa. Semua itu tidak bisa doa lakukan sendiri. Selama ini semua dikerjakan oleh asisten rumah tangga, kenapa dia harus repot mengerjakan semuanya.


"Kita bisa menyewa asisten rumah tangga yang pulang pergi."


"Tidak, bukannya aku tidak bisa membayarnya, tapi aku ingin kamu yang melakukannya, seperti mamaku yang mengurus rumah dan suami serta anaknya."


Edward sebenarnya mendengar pembicaraan anak dan menantunya itu, tapi dia pura-pura tidak tahu. Ini mungkin lebih baik untuk Ericca, agar tidak lagi manja pada mamanya.