
Gael tiba di Australia, dia langsung ke perusahaan, tidak mau membuang-buang waktu agar bisa kembali pulang ke negaranya lebih cepat. Belum apa-apa saja dia sudah merindukan Qya.
Pria itu memulai membaca berkas, memeriksa laporan keuangan, laporan penjualan, dan kerugian yang diterima oleh perusahaan. Gael sangat fokus, hingga lupa untuk makan dan minum.
Seketika bayangan wajah Qya hadir, dan dia langsung mengambil ponselnya, mengirim pesan pada gadis itu.
[Sayang, maaf baru mengabari kamu. Aku sudah tiba dan langsung ke perusahaan. Kamu lagi apa? Jangan lupa makan dan jangan tidur terlalu malam. Love you.]
Gael melihat jam di ruangan kantornya. Sekarang jam tiga waktu setempat, jadi kira-kira di tempat Qya sekarang jam sebelas siang.
Belum ada balasan dari gadis itu, mungkin dia masih ada jam pelajaran. Gael memasukkan ponselnya dan kembali melanjutkan pekerjaan. Sejak kenal dengan Qya, dia mulai punya banyak perubahan. Tidak lagi hanya memikirkan tentang hobi-hobi dia dengan mobil-mobil mewah saja. Dia mulai memikirkan masa depan, ingin bekerja dengan serius agar bisa membahagiakan gadis itu.
...🌼🌼🌼...
"Kamu akhir-akhir ini jarang pulang," ucap Jesi pada suaminya—Erlan.
"Aku sibuk. Urus saja urusan kamu sendiri."
Jesi menghela nafas berat. Selalu seperti ini. Hubungan dia dengan suaminya tidak pernah ada kemajuan, sejak pertama kali mereka menikah. Hanya berpura-pura bahagia di depan orang-orang, dan anak-anak. Terasa sangat hambar, dan tentu saja sangat melelahkan, tapi tetap harus bertahan.
Terkadang, Jesi berpikir, apakah suaminya itu memiliki perempuan lain?
Erlan menutup pintu, tidak perduli dengan istrinya. Dia sedang banyak pekerjaan, dan harus segara diselesaikan.
Erlan tiba di salah satu restoran dan masuk ke ruangan privat.
"Om, lama banget."
"Maaf, ya. Kamu sudah lama menunggu?"
"Iya, Om."
Erlan tersenyum memandangi gadis di depannya. Ada perasaan senang setiap kali bersama gadis ini. Gadis yang lebih cocok sebagai anaknya, karena usianya bahkan lebih muda daripada anak laki-lakinya yang saat ini ada di Australia.
"Kamu sudah pesan makanan?"
"Sudah, Om."
"Ck, sudah berapa kali dikasih tahu. Jangan panggil om, panggil saja Daddy."
"Nanti kalau istri Om tahu, dia bisa marah."
"Tidak akan. Kamu jangan khawatir."
"Anak-anak om?"
"Benar, Om?"
"Daddy, Qya. Bukan om."
"Oke, Daddy."
Ponsel Erlan berbunyi.
"Ya?"
"Tuan, nona Ricca masuk rumah sakit."
"Apa? Ya sudah, saya ke sana sekarang."
"Kenapa, Dad?"
"Ricca masuk rumah sakit. Daddy pergi dulu, ya."
"Aw!" ringis Qya tiba-tiba. Dia memegangi perutnya.
"Qya, kamu kenapa?"
"Perut aku sakit banget."
"Daddy antar ke rumah sakit, ya. Ekakian melihat Ricca."
"Aku pulang saja Dad, aku tidak suka ke rumah sakit."
"Ya sudah, biar Daddy antar."
Qya mengulum senyum.
"Daddy enggak usah khawatir dengan anak Ricca, kan sudah ada mamanya." Qya mengusap lengan Erlan.
"Iya."
"Makasih ya Dad, Daddy sudah aku anggap sebagai Daddy aku sendiri. Sejak lahir aku sudah tidak memiliki ayah." Qya memeluk Erlan, dan pria itu mengusap punggung gadis itu.
Erlan tidak tahu, kalau ada yang memperhatikan mereka, dan memotret apa yang dia lakukan.
Orang itu segera mengirim pesan itu pada Jesi.
Do sana, Jesi menggenggam ponselnya dengan erat saat seseorang tak dikenal mengirimnya foto suaminya berpelukan dengan seorang perempuan. Wajah perempuan itu tidak terlihat, tapi dia bisa melihat jelas wajah suaminya yang sangat dicintainya itu terlihat sangat bahagia. Ada binar kehidupan yang selama beberapa tahun ini tidak pernah dia lihat.