Trouble Girl

Trouble Girl
37 Cemas



Mereka tiba di rumah sakit, Qya berjalan dengan pelan memasukinya.


"Ayo, kita ke sini."


Damian berjalan di depan, memasuki salah satu ruangan dokter.


"Bram, cepat periksa dia."


Pria berkacamata itu menoleh, melihat sahabatnya bersama seorang gadis muda yang sangat cantik.


"Siapa dia? Sugar baby kamu?"


"Sembarangan!" ucap Qya dan Damian.


Wajah Qya terlihat judes, tapi justru menggemaskan.


Dokter Bram segera memeriksa gadis itu.


"Tidak ada luka serius."


"Jadi dia baik-baik saja, kan?"


"Benar."


"Ya sudah, saya pergi dulu, Om."


Qya lalu berhenti, melihat Damian.


"Ayo saya antar. Kamu sekarang mau ke mana?"


"Enggak usah dia tar, nanti biar teman saya yang menjemput. Om ...."


"Ya?"


"Ada lowongan pekerjaan gak, di tempat Om?"


"Ada lowongan pekerjaan enggak, Om? Aku mau lamar di sana."


Damian dan Bram saling lirik.


"Kamu mau kerja? Memangnya usia kamu berapa?"


"Delapan belas tahun, masih kuliah."


"Mau kerja buat apa?"


"Ya biar punya uang lah, Om. Sama buat latihan kerja, kaki saja nanti aku lulus kuliah bosa langsung kerja di sana."


Damian menatap lekat Qya. Pembawaan Qya yang tenang, tidak terlihat takut padanya, dan berani.


"Ada."


"Benaran? Tapi ... jangan bilang jadi OG!"


Damian dan Bram tertawa. Gadis kecil di depan mereka ini benar-benar berani. Gadis kecil? Benar, karena Qya memang lebih pantas jadi anak mereka.


"Kenapa kamu mau kerja di sana?"


"Ya karena itu salah satu perusahaan besar."


"Kamu kirim saja lamaran ke sana."


"Oke, makasih, Om."


Begitu Qya keluar, Bram langsung fokus pada Damian.


"Bukannya tidak ada lowongan pekerjaan di tempat kamu?"


"Ya diadain saja."


"What? Jangan bilang kamu suka dengan gadis muda itu? Ck ck ck!"


Damian mendelik tajam pada Bram, lalu keluar tanpa mengatakan apa-apa.


"Kita ke perusahaan sekarang!" katanya pada asistennya.


"Baik, Tuan."


"Oya, buat satu lowongan untuk gadis itu. Hanya untuk dia saja."


"Baik, Tuan."


Qya dijemput oleh Vano.


"Apa sakit?"


"Ya sakit, lah. Lihat nih, muka aku, sama tangan dan kaki aku. Awas saja kalau luka-lukanya enggak bisa hilang. Aku porotin tuh om-om untuk perawatan aku!"


Vano langsung tertawa, lalu mengusap rambut Qya.


"Antar aku ke kontrakan."


Vano langsung mengantar Qya ke kontrakan. Begitu sampai, dia langsung mengganti bajunya dengan baju yang biasa saja.


[Daddy, aku keserempet mobil.]


Pesan itu dia kirim pada Edward. Edward yang menerima pesan itu, langsung merasa cemas.


[Daddy ke sana sekarang.]


"Pa, Lala mau ke mana?" tanya anak perempuannya.


"Kalau ada pekerjaan penting. Kamu di sini saja."


"Tapi aku sendirian, Pa."


"Nanti juga mama kamu datang." Tanka menunggu jawaban anaknya lagi, Edward langsung pergi. Dia sangat cemas dengan keadaan Qya.


Di lain tempat, Gael juga merasa cemas. Dia sejak tadi menghubungi Qya, tapi belum ada balasan juga. Ditelepon juga tidak diangkat-angkat.


"Kamu ke mana sih, Yang?"


Edward tiba di kosan Qya, melihat gadis itu yang terluka di wajah, kaki dan tangannya.


"Kamu tidak apa-apa?"


"Iya, tadi sudah diperiksa sama dokter."


Edward meletakkan akan yang dia bawa, yang dibelinya di restoran.


"Wah, Daddy baik benget. Tahu saja aku belum makan."


Sementara itu, Vano sedang tidur-tiduran dengan anteng di kamar gadis itu.