Trouble Girl

Trouble Girl
55 Cemas



"Maaf, aku sampai harus melibatkan kamu, Qya," ucap Vano pada Qya.


"Ck, jangan mulai lagi deh, Van. Yang penting setelah semua ini selesai, juga Haris segera pergi dari negara ini."


"Iya, aku janji. Setelah semua ini selesai, kita akan hidup dengan tenang."


Di lain tempat, seorang pria itu sedang turun dari pesawatnya. Dia adalah Erlan—ayah Edward atau kakek dari Gael.


Pria itu akan menghadiri acara ulang tahun perusahaan rekan bisnisnya.


Sementara itu, Edward bertengkar dengan istrinya di dalam kamar. Suara teriakan dan barang-barang yang dibanting terdengar nyaring.


"Katakan, perempuan mana yang menjadi selingkuhan kamu itu!"


"Tidak ada."


"Jangan bohong. Ini buktinya!"


Jesi melemparkan lembaran-lembaran foto itu. Edward terdiam sesaat, lalu kembali menormalkan ekspresi dia.


"Dari mana kamu dapatkan foto-foto ini."


"Kamu tidak perlu tahu. Katakan saja yang sebenarnya! Apa perempuan ****** itu lebih baik daripada aku?"


"Jaga bicara kamu, Jesi! Dia itu gadis baik-baik."


"Bahkan kamu berani membelanya di hadapanku."


Jesi kembali melempar barang. Bisa-bisanya suami yang sangat dia cintai itu malah membela perempuan lain.


Tidak jauh berbeda dengan yang dialami oleh Ricca. Dia juga sedang bertengkar dengan dengan suaminya—Angga.


Pantas saja Ricca tidak pernah mengeluh lagi soal uang nafkah yang selama ini bagi dia itu sangat kecil. Tidak pernah mengeluh leleh membersihkan rumah, bahkan sering memakai baju baru yang membuat Angga curiga.


"Kamu memang susah ya dikasih tahu."


"Kamu yang seharusnya mengerti."


"Kalau memang kamu tidak suka dengan peraturan yang aku buat, kamu bisa kembali ke rumah orang tua kamu dan jangan pernah kembali ke sini lagi!"


Ricca langsung terdiam.


"A ... apa? Kamu mengusir aku?"


"Aku tidak mengusir kamu, tapi kalau kamu tidak menurut apa yang aku katakan, silahkan pergi dari rumah ini, dan bawa semau barang-barang kamu!"


Gael menghela nafas. Tadi di rumah orang tuanya, dia mendengar papa dan mamanya bertengkar. Sekarang di rumah kakaknya, dia juga mendengar pertengkaran suami istri itu.


Ada apa dengan pernikahan mereka?


Ada sedikit rasa cemas dalam diri Gael dengan pernikahan. Apa nanti nasib pernikahannya juga akan seperti ini? Dia jadi teringat dengan Qya, yang sifatnya keras dan pemberontak.


Tidak, apa pun yang terjadi, aku akan tetap menikahi Qya. Dia satu-satunya perempuan yang aku inginkan. Setidaknya dengan mengetahui sifat Qya, aku akan lebih banyak bersabar dalam menghadapi gadis itu.


Gael langsung pergi dari rumah kakaknya, meski belum sempat bertemu. Siapa yang sangka, kalau kakak dan kakak iparnya juga sering bertengkar. Pria itu lalu pergi ke kafe untuk menenangkan diri. Dipandanginya foto Qya, dan suasana hatinya sedikit tenang.


Kalau kamu menjadi api, maka aku akan menjadi air.


Gael mendapatkan notifikasi atas pembelanjaan di kartu kredit yang dia berikan untuk Qya.


Apa kalau aku tidak sekaya ini, aku tidak akan mendapatkan hati kamu, Sayang?